
Lu Yan mempercepat langkahnya untuk sampai di paviliun selir agung, pagi sekali bahkan matahari belum menampakkan sinarnya. Gadis muda itu bernapas lega saat mendapati Wu Li Mei masih ada di kediamannya, sekali lagi tiap penghujung minggu sang junjungan akan pergi. Lu Yan memberi hormat kepadanya, jemari sang dayang kecil saling memilin di balik hanfu sederhananya.
Saat mendapat kode mata dari Dayang Yi, Lu Yan memberanikan diri untuk bertanya.
“Apa anda akan pergi ke pasar lagi, Yang Mulia? Ke toko obat?” tanya Lu Yan.
Melihat Wu Li Mei sudah bersiap dengan hanfu sederhana dan cadar di pagi hari, itu artinya dia akan pergi ke suatu tempat. Dan tempat itu pastilah toko obat, dimana dia akan mengabdi disana selama satu hari.
“Ya.”
“Bisakah anda tidak perlu pergi?” tanya Lu Yan lagi.
“Kenapa?”
“Ku dengar ada wabah penyakit di pasar, Yang Mulia. Saya takut anda jadi tertular nanti, tidak bisakah anda tetap tinggal saja? Berbahaya karena nantinya akan banyak orang yang berobat kesana kan.”
“Bukannya bagus jika banyak orang pergi berobat, aku jadi punya kesibukan di penghujung minggu dan rakyat dari sehat kembali.” Jawab Wu Li Mei. “Sudah lama sekali aku tidak pergi ke toko obat, apa kabarnya Suo bersaudara, mereka pasti merindukanku.”
“Tapi, Yang Mulia … bagaimana nanti kalau … “ Lu Yan berkelit.
Wu Li Mei menatap Lu Yan dan Dayang Yi yang terlihat gusar, takut jika sang junjungan terkena wabah itu dan menjadi sakit. Ada wabah di pasar dan menyebar hingga ke pemukiman, sebisa mungkin mereka mencegah karena jika Wu Li Mei sampai sakit mereka akan dihukum oleh Kaisar Zhou.
Selir agung yang telah selesai memasang cadar di wajahnya menoleh dengan tatapan bingung, “Memangnya wabah apa yang sedang terjadi? Dan seberapa parah?”
“Bisa dibilang wabah tahunan, Yang Mulia, karena setiap tahun pasti ada dan biasanya di pertengahan tahun.” Jawab Dayang Yi, “Kami tidak tahu pasti, tapi setiap tahunnya akan ada yang meninggal karena wabah itu, kami takut anda akan ikut sakit, Yang Mulia.”
“Seberapa parah? Gejalanya seperti apa?”
“Emm … “ Dayang Yi menatap Lu Yan yang mengedikkan bahunya, “Sakit perut, demam tinggi dan muntah.”
__ADS_1
“Muntaber ya.” Guman Wu Li Mei.
“Maaf, Yang Mulia?”
Wu Li Mei menggeleng, “Tidak, yaa, aku akan tetap pergi ke toko obat hari ini. Paling tidak aku harus memeriksa stok obat dan apa yang kurang hari ini, jadi aku tetap akan pergi.”
Wu Li Mei berdiri dari duduknya, ia merapikan kembali cadar yang menutupi wajah cantiknya. Kali ini hanfu yang dipakai Wu Li Mei jauh lebih sederhana dengan tusuk konde berbentuk angsa, semua orang di pasar mengenalnya sebagai Nyonya Wu, pemilik toko obat yang pandai mengobati penyakit. Beberapa hari ini memang Lan Suo mengirimkan surat kepada Wu Li Mei bahwa banyak orang datang ke toko obat dan menanyakan kepadanya kemana sang dokter pergi, tapi kedua bersaudara itu jelas tidak mudah untuk menjawab.
Dayang Yi dan Lu Yan hanya bisa pasrah mengikuti apa kata sang junjungan, melarang selir agung itu sangat sulit apalagi jika tidak sesuai dengan kemauannya. Lu Yan tetap tinggal di paviliun sementara Dayang Yi mendampingi Wu Li Mei.
Berjalan mengedap karena tidak ingin dipergoki Kaisar Zhou, Wu Li Mei berhasil sampai di gerbang samping dengan aman. Disana sudah ada dua orang yang menunggunya, siapa lagi jika bukan anak-anak tersayangnya. “Ibu kan sudah bilang kalian tidak perlu ikut, kalian harus tetap berada di istana agar kaisar tidak curiga!” ujarnya seraya menghela napas.
“Kami bosan kalau hanya berdiam disini saja bu, tidak ada latihan dengan Guru Zhang hari ini, jadi kami bebas melakukan apa saja.” Jawab Zhou Ming Hao.
“Xiao Yan bilang ada wabah di pasar, kalian harus hati-hati kalau tidak mau sakit.”
“Dimana cadar kalian?” tanya Wu Li Mei.
***
Lan Suo dan Meng Suo menyambut kedatangan Wu Li Mei dan rombongannya dengan gembira, nyaris dua bulan atau lebih, mereka tidak melihat Wu Li Mei. Semua keperluan toko obat memang sudah diurus oleh Tabib Zhong, tapi peran Wu Li Mei selalu saja menjadi yang paling mereka segani.
“Selamat pagi, Nyonya Wu!” sapa Lan Suo.
“Bangkitlah!”
“Sudah lama sekali tidak bertemu dengan anda, kami sampai takut kalau toko obat ini sepi pembeli karena mereka hanya menanyakan anda.” Ujar Lan Suo mewakili keresahan mereka, “Sedang ada wabah, nyonya, dan kami tidak tahu pasti obat mana yang cocok. Jadi kami hanya memberikan resep yang diberikan oleh Tabib Zhong saja.”
Selir agung mengangguk, “Apa saja obat yang diresepkan Tabib Zhong?”
__ADS_1
Lan Suo membimbing Wu Li Mei untuk pergi ke tempat penyimpanan obat, disana sudah ada bungkusan obat yang mereka siapkan, ada banyak sekali dan bermacam-macam. Gudang penyimpanan begitu kosong saat ini, pasti beberapa herbal sudah habis dan sekarang saatnya untuk membeli yang baru.
“Ini, nyonya.” Lan Suo memberikan obat herbal kepada Wu Li Mei.
“Ya, tetap berikan ini saja untuk sementara, aku masih belum tahu separah apa penyakit yang ada di masyarakat. Mungkin setelah menemui pasien aku akan tahu apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya.”
“Baik, nyonya.”
Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yi mendekat ke arah sang ibu, “Apa yang bisa kami bantu untuk sekarang ini bu?”
“Kalian akan membantu ibu untuk mendata semua stok obat yang habis, beberapa herbal juga sudah menipis. Untuk sementara waktu sebelum matahari meninggi, kita harus menyelesaikan ini, jadi bersiaplah karena kalian akan sibuk!” ujar sang ibu menyemangati.
Dua anak remaja yang tingginya hampir melebihi Wu Li Mei itu tersenyum lebar, kesibukan adalah satu hal yang mereka sukai. Dengan cekatan mereka membantu Wu Li Mei menulis semua obat yang habis. Tidak sulit dan tidak butuh waktu lama karena mereka punya catatan obat apa saja yang sudah habis, terlebih keterangan dari Suo bersaudara sangat membantu.
Semakin matahari meninggi, semakin ramai juga orang yang datang membeli obat, dari berbagai kalangan mereka mengantre untuk mendapatkan obat herbal. “Apa ibu ingin membuka praktek? Aku akan siapkan papan penanda kapanpun ibu siap.”
“Xiao Yin, kau sudah siap dengan bukumu?” tanya Wu Li Mei pada sang putri yang nantinya akan sibuk mendata satu persatu pasien yang datang, sejak hari pertama praktek dibuka, sistem antre tanpa pandang bulu sudah diberlakukan oleh Wu Li Mei. Awalnya para bangsawan jelas menolak, mereka merasa rendah saat disamakan dengan rakyat biasa, semoga saja sekarang sudah lebih baik.
“Sudah bu.” Balas sang putri dengan anggukan pasti.
“Kalau begitu sekarang saja, Xiao Ming, minta bantuan Suo bersaudara untuk membuka papan penanda kalau kau kesulitan.” ujar Wu Li Mei,
“Biar aku saja yang membantu.”
Zhou Fang Yin dan sang kakak keluar dari dalam toko untuk membuka papan penanda bahwa Wu Li Mei sudah membuka praktek, orang-orang yang datang ke pasar langsung menyerbu mereka. “Apa Nyonya Wu sudah datang?”
“Apa Nyonya Wu sudah membuka pengobatan lagi?”
“Hei lihat, Nyonya Wu sudah membuka pengobatan!!”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Ayo kita kesana!! Cepat!!”