Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Efek demam


__ADS_3

Wu Li Mei kembali memukul kepalanya, selir agung itu merutuki kebodohannya sejak ia bangun.


Demam tinggi yang diderita oleh Wu Li Mei, pagi ini mulai membaik. Pening dan lemas tidak lagi mengganggu wanita itu untuk beraktivitas seperti biasanya.


Tapi, ada satu hal yang sangat Wu Li Mei sesali. Yaitu sikap anehnya saat bertemu kaisar di tepi danau, sang selir berpikir itu adalah efek dari demam yang membuat jalan pikirannya berbelok-belok tak tentu arah. Wu Li Mei kembali menghela napas sambil mengusap wajahnya kasar. "Tidak! Itu bukan aku!" sangkal sang selir, ia berbicara pada pantulan dirinya di cermin.


"Tidak! Itu jelas bukan aku." tolaknya. "Aku tidak mungkin bersikap konyol seperti kemarin, tidak, tentu saja tidak."


"Pasti ada penjelasan yang tepat untuk sikap gila ku kemarin."


Sang selir agung menjentikkan jarinya, "Efek demam! Ya, itu pasti hanya efek demam. Aku mana mungkin bersikap konyol dalam keadaan sadar."


"Oh! Kau sungguh bodoh."


"Apa yang kau lakukan, Wu Li Mei!"


"Kau seperti budak cinta yang bodoh." sang selir terus saja merutuki dirinya sendiri. Bahkan, ia sampai berpikir jika kemarin jiwa asli sang pemilik raga merasukinya. Bisa jadi bukan? Wu Li Mei yang asli memang sangat mencintai kaisar lebih dari apapun. Tapi, yang ada di dalam tubuh ini sekarang adalah Risa, bagaimana mungkin sang dokter cantik telah jatuh hati pada kaisar.


Wu Li Mei menggeleng keras untuk menepis pikiran buruk yang mendera kepalanya.


Dayang Yi hanya bisa menghela napas pelan, ia menatap Lu Yan yang berdiri di dekatnya. Wu Li Mei selalu menjadi aneh setelah bangun dari sakit. Saat insiden di danau dan saat ini, selir agung itu sibuk berbicara dengan dirinya sendiri di depan cermin.


Sejujurnya, tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi kemarin selain Kaisar Zhou dan sang selir sendiri. Karena para dayang dan pengawal diperintahkan untuk menghadap ke belakang.


Ketika Wu Li Mei bertanya pun, Dayang Yi hanya bisa menggeleng, sejauh yang ia lihat adalah Wu Li Mei jatuh pingsan dan para pengawal segera membawanya kembali ke paviliun selir agung.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"


Dayang Yi hanya bisa tersenyum miris, lagi-lagi Wu Li Mei memukuli kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Yang Mulia?" panggil Dayang Yi, "Apa anda ingin membersihkan diri, berendam di air hangat mungkin bisa membuat anda lebih tenang." saran sang dayang.


Lu Yan dan dayang lain mengangguk setuju, "Apakah anda ingin memakai banyak aroma mawar?" tanya Lu Yan.


Sang selir agung terdiam sejenak, benar juga, ia belum menyentuh air sejak kemarin. Wu Li Mei mencium hanfu yang sedang ia kenakan, tidak ada bau menyengat yang berarti memang, karena Wu Li Mei sendiri jarang berkeringat. Tapi, hanfu biru langit yang ia kenakan sudah lusuh dan sedikit kotor.


"Baiklah." Wu Li Mei bangkit dan berjalan mendekati para dayang. "Aku akan berendam."


...****************...


Wu Li Mei menapaki paviliun putri yang sepi dan sunyi, sekalipun ada banyak dayang dan pengawal, tapi masing-masing dari mereka menjaga ketenangan agar Zhou Xie Ling tidak terganggu.


Saat pertama kali memasuki kamar sang putri setelah sekian lama, bau obat-obatan langsung menyeruak, menyengat indra penciumannya. Wu Li Mei jadi rindu dengan aroma ini, sekalipun berbeda, tapi aroma obat selalu mengingatkannya pada rumah sakit.


Suasana kamar itu masih sama, temaram dan hangat. Wu Li Mei menunduk sekilas saat Tabib Zhong dan beberapa dayang membungkuk padanya.


"Bagaimana keadaan Xiao Ling?" tanya sang selir.


"Apa herba dari Guru Zhang tidak cukup berkhasiat?"


Tabib Zhong kembali menggeleng, "Beberapa hari lalu memang menunjukkan tanda-tanda akan sembuh, tapi setelahnya putri kembali sakit. Padahal, kami tidak mengurangi obat yang diberikan."


Wu Li Mei bisa mengerti, tidak semua penyakit bisa disembuhkan dengan mudah sekalipun sudah berusaha dengan semaksimal mungkin. Terutama untuk Zhou Xie Ling yang terlahir dengan anti bodi lemah dan beberapa penyakit bawaan.


Apakah ini saatnya untuk menyiapkan hati? Seperti yang Risa lakukan saat pasien kecilnya tidak sanggup bertahan lagi.


Wu Li Mei menatap sendu pada putri kecilnya yang terbaring lemah di ranjang, Zhou Xie Ling sudah tidur karena hari memang sudah larut. Yang lebih menyayat hatinya lagi adalah dua anak kembarnya, Wu Li Mei tahu mereka selalu menjaga sang adik siang dan malam untuk menggantikan peran sang selir dan Dayang Hong.


Wu Li Mei mengusap kepala Fang Yin dan Ming Hao, kedua anak itu tidur sambil bertumpu pada meja.

__ADS_1


"Xiao Ming? Xiao Yin?" panggilnya lembut.


Kedua anak itu pun segera terbangun, memaksakan kedua matanya untuk terbuka padahal mereka sangat mengantuk.


"Ibu?" ujar sang putra mahkota.


"Apa ibu sudah sembuh?" tanya Zhou Fang Yin.


Wu Li Mei tersenyum lembut, ia mengangguk dua kali. "Ya, ibu sudah sembuh. Ibu akan bergantian berjaga malam ini, kalian kembalilah paviliun dan tidur." ujarnya.


"Apa ibu yakin sudah baik-baik saja?" tanya sang putra. "Aku akan tetap disini untuk menemani ibu."


Wu Li Mei menggeleng tegas, "Tidak perlu, ibu akan menjaga Xiao Ling malam ini. Kalian harus beristirahat dengan baik, ibu tidak mau kalian jatuh sakit karena kelelahan."


Kedua anak itu saling tatap, memang benar mereka lelah, tapi mereka tidak bisa meninggalkan sang ibu sendirian.


"Bagaimana kalau kita tidur disini saja?" tawar Zhou Fang Yin. "Kita bisa meminta para dayang membawakan alas untuk tidur." tambahnya.


"Kita tidak mungkin meninggalkan ibu berjaga sendirian."


Wu Li Mei menatap tak tega pada kedua anaknya, tidur dengan aroma obat yang menyengat itu sangat tidak enak. Biar bagaimana pun, seseorang yang sehat tidak akan suka dengan itu. Apalagi, Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin sudah melakukannya selama berhari-hari. Wu Li Mei merasa bersalah saat melihat lingkaran hitam di sekitar mata mereka, sebagai bentuk kesungguhan kedua anaknya untuk menjaga Xie Ling.


Wu Li Mei memanggil Dayang Yi, sang selir bertanya apa ada ruangan kosong di paviliun putri. Syukurlah ada ruangan kecil di samping kamar Zhou Xie Ling, dan itu kosong. Tanpa pikir panjang lagi, sang selir agung segera memerintahkan dayang dan pengawal untuk mempersiapkan alas tidur yang nyaman untuk kedua anaknya.


"Baiklah jika kalian memaksa." ujar Wu Li Mei. Ia kembali membelai puncak kepala kedua anaknya, "Para dayang akan menyiapkan alas tidur di ruangan samping. Kalian bisa beristirahat disana."


"Apa tidak bisa disini saja?"


Wu Li Mei menggeleng, ia menarik kedua anaknya untuk bangkit. Membimbing mereka menuju ruangan kecil di samping kamar Zhou Xie Ling.

__ADS_1


"Ibu tidak mau tahu, kalian harus beristirahat dengan baik." ujarnya, Wu Li Mei memeluk kedua anaknya bersamaan dan pelukan itu pun dibalas dengan suka cita.


Wu Li Mei mencium kening mereka bergantian, "Kalian adalah harta yang paling berharga milik ibu. Jika terjadi sesuatu yang buruk, maka ibu tidak akan memaafkan diri ibu sendiri."


__ADS_2