
Pagi ini salju kembali turun, bahkan jauh lebih deras daripada beberapa hari lalu. Tapi, sekalipun di luar sedang sangat dingin. Di dalam kamar sang putri kecil akan selalu hangat.
Wu Li Mei dengan telaten menyeka keringat yang membanjiri dahi sang putri, entah ia sedang bermimpi buruk ataukah sedang menahan sakit. Wu Li Mei menatap iba pada Zhou Xie Ling, bahkan dalam tidurnya, anak itu masih merasakan sakit.
Wajah pucat tak berseri itu kini hanya bisa terbaring di ranjang, jangankan untuk berjalan, bangkit dari tidurnya saja ia sangat sulit. Setelah kejadian itu, sang putri kecil menjadi tak bertenaga dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Boleh jadi efek dari merkuri sangat mempengaruhi kesehatan sang putri yang memang sudah lemah. Minum obat sebanyak apapun tidak ada efeknya, justru Zhou Xie Ling menjadi semakin sakit dan ketergantungan.
Wu Li Mei terhenyak saat jemari kecil menyentuh lengannya, "Xiao Ling?"
Mata cantik itu perlahan terbuka, tanpa binar berseri, tampak kosong dan hampa. "Ibu?"
Wu Li Mei meraih tangan mungil putri kecilnya, ia menggenggamnya erat. "Ya sayang, ini ibu."
"Benar, ibu?"
Wu Li Mei mengangguk, "Benar."
"Bukan mimpi?"
Wu Li Mei menggeleng pelan, "Bukan, ini sungguh ibu. Mulai sekarang ibu akan selalu menemanimu sampai kapan pun, jadi cepatlah sembuh, ibu ingin memetik peony lagi denganmu."
Kedua mata sang selir memanas, tapi dengan sekuat tenaga ia tahan. Wu Li Mei tak mau sang putri menjadi ikut bersedih. Tangannya terulur untuk mengusap surai halus sang putri kecil. "Apa ada yang sakit? Dimana?"
Zhou Xie Ling menggeleng lemah, bahkan hanya untuk tetap terjaga saja rasanya sangat sulit.
"Tapi....musim semi masih lama, bu."
"Tidak akan terlalu lama sayang, kita akan melewati ini bersama-sama."
Sang putri kecil menatap sekeliling kamarnya, lalu ia kembali terpaku pada jendela kecil di sisi ruangan. Jendela itu dulunya selalu terbuka, Dayang Hong yang membukanya agar cahaya matahari dan angin bisa masuk ke dalam kamar. "Dimana, Dayang Hong?" tanya sang putri pelan.
"Dayang Hong?" Wu Li Mei mengerutkan keningnya, ia lupa dengan nasib Dayang Hong dan dayang paviliun putri lainnya. "Kau ingin bertemu Dayang Hong?"
Zhou Xie Ling mengangguk perlahan, matanya sendu mengingat sang pengasuh yang tidak berada di sampingnya. Dayang Hong tidak pernah pergi saat sang putri sakit, selayaknya ibu, sang dayang menyayangi Zhou Xie Ling seperti anaknya sendiri. Selama beberapa minggu belakangan, dayang tua itu lama tidak terlihat. Sang putri jelas merindukan dan membutuhkannya, memang benar ada Wu Li Mei. Tapi, ikatan antara gadis itu dengan Dayang Hong pasti jauh lebih kuat.
"Kalau begitu, ibu akan memanggil Dayang Hong untukmu, tunggu sebentar ya." ujar Wu Li Mei.
Mendengar jawaban sang ibu, gadis kecil itu merasa senang. Ia menarik ujung bibirnya untuk tersenyum, sekalipun tidak ada tenaga yang tersisa.
__ADS_1
...****************...
"Panglima Hao!"
Panglima Hao menoleh saat ia dipanggil, oleh suara halus yang khas. Sang panglima menunduk hormat, "Salam, Yang Mulia Selir Agung!"
"Bangkitlah!" titah Wu Li Mei.
Sang selir datang menghampiri Panglima Hao di pelataran paviliun, kebetulan sekali saat berkunjung ke paviliun putri kemarin, ia tak sengaja melihat sang panglima. Panglima Hao sendiri memang ditugaskan langsung oleh kaisar untuk berjaga di paviliun putri, sebagai upaya agar kasus racun merkuri tidak terulang kembali.
"Bagaimana kabar para dayang paviliun putri?" tanyanya langsung.
"Mereka masih ditahan di Departemen Kejaksaan, Yang Mulia."
Wu Li Mei mengerutkan keningnya, "Mengapa? Bukankah mereka terbukti tidak bersalah?"
"Mereka memang terbukti tidak bersalah, Yang Mulia."
"Lalu?"
Panglima Hao menghela napas pelan, "Kepala Departemen Kejaksaan belum membebaskan mereka, Yang Mulia. Penyelidikan masih berlanjut dan mereka akan diselidiki lebih lanjut."
Terkait dengan Yang Jia Li, Departemen kejaksaan belum melakukan apapun. Mereka sepertinya sengaja mengulur waktu untuk mencari kambing hitam agar sang permaisuri tetap selamat.
"Panglima Hao, tidak bisakah kita membebaskan Dayang Hong?"
"Dayang Hong?" Panglima Hao mengerutkan keningnya, "Apakah dia kepala dayang paviliun putri?"
Wu Li Mei mengangguk, "Xiao Ling membutuhkannya, kau tahu sendiri, Dayang Hong yang merawatnya sejak kecil." jelas sang selir.
"Ya, Yang Mulia. Saya akan berusaha untuk membebaskan Dayang Hong." ujar sang panglima. "Tapi, jika ada campur tangan kaisar pasti akan lebih mudah."
Wu Li Mei dan Panglima Hao sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
Panglima Hao melirik ke kanan dan ke kiri, "Bagaimana, Yang Mulia?"
"A..a..apa?"
__ADS_1
"Apakah tidak sebaiknya anda berbicara dengan kaisar?" saran sang panglima.
Wu Li Mei membulatkan matanya, "Aku?"
"Ya."
"Aku tidak bisa!" tolak Wu Li Mei.
"Mengapa tidak? Bukankah ini demi tuan putri?"
Bertemu dengan kaisar? Yang benar saja, ia tidak bisa menghadapi pria itu setelaj tindakan konyol yang dilakukannya di tepi danau. Entah itu murni dirinya sendiri, atau mungkin jiwa Wu Li Mei yang asli sedang merasuk. Tapi apapun itu, itu sangat menyebalkan.
Memikirkan lagi bagaimana ia mendesak kaisar untuk menyatakan cintanya sungguh membuat wanita itu bergidik, jika dipikir lagi Wu Li Mei serupa dengan anak-anak remaja yang baru mengenal cinta.
Anggaplah saat itu ia sedang terkena efek demam.
"Salam, Yang Mulia. Semoga kaisar hidup seribu tahun!"
"Salam, Yang Mulia Kaisar!" Panglima Hao menunduk hormat.
Sang kaisar berjalan pelan menghampirinya, "Bangkitlah!"
"Apa yang kau lakukan di luar? Bukankah cuaca sedang dingin?" tanya kaisar saat mendapati Panglima Hao berdiri di pelataran paviliun putri.
Panglima Hao dengan cepat mengangkat kepalanya, pria itu menoleh ke kanan. Ia lalu mengerutkan keningnya saat tidak mendapati siapapun bersamanya, tunggu! Bukankah Wu Li Mei tadi sedang berbicara dengannya.
"Sa...saya...."
Kaisar Zhou menaikkan alis kanannya menunggu jawaban.
"Tadi....tadi Selir Agung ada disini." ujarnya.
"Tidak ada siapapum disini." balas Kaisar, ia melihat sekeliling dan tidak mendapati Wu Li Mei. Yang ada hanya para prajurit dan dayang yang sibuk berlalu lalang.
Kaisar Zhou menggosokkan kedua tangannya saat angin musim dingin kembali berhembus kencang, hanfu berwarna coklat yang ia kenakan sudah tertutup butiran salju.
"Ayo masuk, kita akan menjadi boneka salju jika terus disini."
__ADS_1
Kaisar Zhou melangkah bersama rombongannya, dan sang panglima hanya bisa terdiam sambil mengikuti dari belakang. Ia masih penasaran dengan Wu Li Mei yang bisa menghilang dalam sekejap.
Di sisi lain, Wu Li Mei menghela napas lega karena berhasil menghindar dengan cepat. Sang selir menyandarkan punggungnya pada dinding, apa lagi selanjutnya? Rasanya tidak mungkin jika ia harus ikut masuk ke dalam, tapi tidak mungkin juga untuk meninggalkan sang putri sendirian.