
Hari penobatan telah tiba, semuanya begitu sibuk tak terkecuali dengan paviliun Dinasti Ming. Kereta kuda sudah disiapkan dengan arak-arakan yang meriah di depan paviliun, para kaisar tamu undangan itu akan bersama-sama menuju aula besar istana untuk menyaksikan secara langsung penobatan kaisar baru Kekaisaran Hang. Dia yang telah dipilih dan diberkati oleh dewa, akan menjadi kaisar suci yang memimpin sebuah negeri adidaya. Meneruskan mandat dari para leluhurnya untuk menjaga tanah yang diberkati agar tetap makmur dan sejahtera. Memikul jabatan sebagai kaisar tidaklah mudah, hanya untuk berdiri tegak di tahta itu juga membutuhkan banyak pengorbanan.
Wu Li Mei telah siap dengan hanfu berwarna putih dengan sentuhan warna emas di beberapa bagiannya, senada dengan hanfu yang akan dikenakan Kaisar Zhou hari ini. Mereka sengaja memilih warna hanfu yang sama agar terlihat serasi. Dua pasang tusuk konde berbentuk burung phoenix dan bunga-bunga peony, tersemat indah di gelungan rambut panjang sang selir. Tusuk konde itu adalah pemberian dari ibu suri yang agung untuknya, diberikan sehari sebelum keberangkatannya menuju negeri ini. Ibu suri memberikan warisan dari selir agung terdahulu yang diturunkan kepadanya dan kini sampai pada Wu Li Mei, konon, yang boleh mengenakan tusuk konde burung phoenix hanyalah seorang ratu. Jika seorang selir mengenakannya, maka ia dinilai telah lancang dan berencana menggulingkan tahta ratu. Tapi, memang itulah tujuannya. Sayangnya Yang Jia Li tidak ada disini, jadi sah saja ia mengenakan tusuk konde itu karena dia adalah pendamping kaisar.
“Anda sangat cantik, Yang Mulia.” Puji Lu Yan, dia dan Dayang Yi telah selesai menyematkan tusuk konde indah itu kepada sang junjungan. “Anda sangat pantas menjadi seorang ratu, Yang Mulia.”
“Benarkah?” Wu Li Mei tersenyum miring.
“Ya, Yang Mulia, anda jauh lebih anggun dan mempesona menggunakan tusuk konde ini dibandingkan permaisuri.” Balas Dayang Yi. “Bahkan, para ratu dari dinasti lain akan terkalahkah kecantikannya dari anda, sungguh Yang Mulia, anda sangat cantik.”
Wu Li Mei tersenyum simpul, ia melihat pantulan dirinya dari kaca dan benar saja jika dirinya sangatlah cantik. Tusuk konde itu cocok untuknya. “Sepertinya, memanglah aku yang seharusnya memakai tusuk konde ini di istana.”
Dayang Yi dan Lu Yan saling tatap, mereka tentu dapat memahami arti kalimat itu. Wu Li Mei menginginkan kekuasaan, dia ingin lebih dari sekedar selir agung. Satu hal yang dulu tidak pernah dia inginkan, Wu Li Mei yang dulu hanya ingin dicintai saja oleh kaisar dan semuanya akan tetap baik-baik saja. “Benar, Yang Mulia. Anda yang seorang putri kekaisaran lah yang jauh lebih pantas bertahta sebagai ratu dibandingkan dengan permaisuri, dia hanya seorang gadis bangsawan biasa, putri dari seorang pemberontak.”
“Hush! Pelankan suaramu!” ujar Wu Li Mei seraya terkekeh jenaka, “Jangan sampai Yang Jia Li mendengar ini, atau rencanaku tidak akan berjalan dengan baik. Aku masih harus menyusun banyak rencana untuk menunjukkan kepada wanita tidak tahu malu itu, bahwa tempatnya berada bukanlah disana, dia tidak akan pantas mendapatkan tahta itu.” Bisik sang selir agung.
Wu Li Mei bangkit, ia meninggalkan cermin dengan senyuman manis terpatri di wajah cantiknya. Tidak mau membuat kaisar menunggu terlalu lama. Dia harus bisa menundukkan pria itu dan membuatnya menuruti semua perintahnya, jika kaisar tak punya pendirian yang kuat, maka dia akan menunjukkan rambu untuknya. “Salam, Yang Mulia!”
“Kau sangat menawan, Mei’er.” Puji kaisar sesaat setelah Wu Li Mei datang menghampirinya. “Ku pikir kau tak perlu merasa rendah lagi sekarang, kau bahkan sangat pantas mengenakan tusuk konde phoenix itu.”
__ADS_1
Sang selir tersenyum malu-malu, “Terima kasih untuk pujiannya, tapi anda juga terlihat jauh lebih berwibawa hari ini, Yang Mulia.”
“Baiklah, kalau begitu kita langsung naik kereta kuda dan menuju aula utama. Banyak tamu yang lain sudah berangkat menuju kesana.”
“Baik, yang Mulia.” Wu Li Mei meraih lengan sang kaisar dan menggandengnya untuk berjalan bersama, mereka masuk ke dalam kereta kuda indah dengan arak-arakan yang sangat meriah.
Aula utama sangatlah luas dan penuh dengan dekorasi meriah, tamu undangan terhormat mendapatkan jamuan makan yang sangat banyak dan enak. Para petinggi istana, bangsawan, saudagar, dan cendekiawan hadir di sudut yang berbeda. Juga para rakyat yang antusias melihat penobatan kaisar baru mereka. Pagi yang cerah ini adalah berkat dari dewa untuk kaisar yang baru, semuanya dipersiapkan dengan baik dan penuh perhitungan. Dari awan-awan yang beterbangan di angkasa, sepertinya hari ini tidak akan turun hujan, tidak ada badai dan petir yang dapat merusak acara.
Wu Li Mei duduk bersama dengan kaisar, di sudut khusus untuk tamu kehormatan. Ada banyak kaisar yang membawa serta permaisuri dan selir terbaik mereka, tujuannya sudah jelas untuk menyombongkan diri. Wu Li Mei bergidik ngeri melihat kaisar dari negeri seberang yang sudah tua dengan perut membuncit, membawa selirnya yang masih seusia Zhou Fang Yin, sungguh ironis.
“Dia adalah kakakmu, Mei’er!” bisik kaisar pada Wu Li Mei, wanita itu segera menghadap ke depan untuk melihat putra dan putri mahkota berjalan bersama menuju altar dengan pakaian raja dan ratu. Diiringi dengan banyak dayang dan prajurit sebagai simbol pengabdian. “Yang disebelahnya itu adalah calon permaisuri, Yu Xie Yang.”
“Mereka putra dan putri mahkota?”
“Apakah mereka baik kepadaku?” tanya Wu Li Mei.
Kaisar menyesap kembali aroma harum dari teh yang disajikan untuknya, wajah tampan yang dingin itu tersenyum menyeringai. “Tentu saja tidak Mei’er.”
“Maksudmu?” Wu Li Mei mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
“Tidak ada satu orang pun dari mereka yang bertahta, ingin saudara dan saudarinya mengambil alih tahta mereka. Setiap tahta membutuhkan pengorbanan yang besar untuk mendapatkannya, begitu juga kakakmu. Dia berhasil menyingkirkan semua saudaranya untuk sampai di titik ini, sama seperti ibu suri yang menyingkirkan Zhou Xing Huan dan mengasingkan selir agung terdahulu.” Jawab sang kaisar dengan sendu, kenyataan pahit dalam monarki sangat mencekam dan penuh pertumpahan darah.
Wu Li Mei menoleh sepenuhnya, dia mengabaikan penobatan yang masih diisi dengan pidato dari kaisar baru itu. “Bisakah kau ceritakan padaku tentang keluarga ini?” tanyanya.
Sang kaisar tentu tidak keberatan karena dia tahu dengan baik seluk beluk perang kekuasaan sebelum akhirnya Wu Zhen bertahta. “Kau anak terakhir dari lima bersaudara Mei’er, kakak pertamamu adalah Wu Zhang, lalu Wu Yang Hao dan Wu Xien Li, mereka adalah saudara kembar. Selanjutnya Wu Zhen, dan yang terakhir kau Wu Li Mei.”
“Lalu kemana dua kakak laki-lakiku yang lain? Bukankah seharusnya Wu Zhang bertahta? Dia adalah anak pertama.”
“Sayangnya tidak Mei’er, bertahta tidak semudah itu hanya karena kau terlahir sebagai yang pertama. Kau harus terlahir sebagai yang terkuat untuk menjadi pewaris tahta itu. Wu Zhang tewas dalam sebuah perjalanan menuju kuil saat mengunjungi ibunya yang diasingkan oleh Permaisuri Liu Yang Li.”
“Ibuku?” sela Wu Li Mei cepat, sang selir menutup mulutnya saat dia berbicara terlalu keras.
“Ya, sepertinya ibumu juga dalang dibalik Wu Yang Hao, anak laki-laki kedua kaisar yang menjadi gila tanpa sebab.” Kaisar Zhou menatap lurus ke depan, melihat wajah bahagia dan penuh bangga dari Wu Zhen dan istrinya yang berhasil naik tahta setelah sekian lama menunggu.
“Lalu apa yang terjadi dengan Wu Xien Li?”
Kaisar Zhou menunjuk seorang wanita yang duduk bersama dengan seorang kaisar, wanita itu memakai tusuk konde burung phoenix dan hanfu yang terbuat dari serat emas. Wu Li Mei tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena terhalang beberapa tamu yang lain, tapi dari sekilas yang terlihat dia tidak mirip dengan sang ibu. “Ku pikir nasibnya cukup baik karena menjadi permaisuri kekaisaran, meskipun Kaisar Yang terkenal kejam dan tamak, tapi dia tidak terbunuh atau dibuat gila, itu sudah sangat baik.”
“Apakah ketiga anak pertama itu bukan darah daging ibuku, Yang Mulia?”
__ADS_1
“Tentu saja bukan.” Jawab kaisar cepat, “Tidak ada seorang ibu yang rela anaknya terbunuh dan gila hanya untuk anak lainnya, Mei’er.”
Wu Li Mei menghela napas dalam-dalam, tidak disangka bahwa dunia selalu memiliki sisi kelam di balik wajah baik nan menyenangkan itu. Menilai seseorang tanpa melihat sisi lainnya itu salah, buktinya Wu Li Mei keliru menilai sang ibu sendiri. Apa yang dilakukan oleh Liu Yang Li tidak akan pernah dibenarkan, tapi hal itu sudah sangat biasa untuk terjadi di lingkungan istana. Wu Li Mei ikut menatap lurus ke depan, “Apakah aku juga harus melakukannya untuk tetap bertahan?”