Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Para pemuda


__ADS_3

“Yang Mulia, anda yakin ingin ikut, tapi jalan menuju kesana sangat sulit.” Ujar Xing Yu sembari menggendong bakul besar berisi hanfu kotor milik Yang Jia Li.


“Iya, Yang Mulia, nanti anda bisa terpeleset.” Tambah Xin yang berulang kali harus berpacu jantung karena Yang Jia Li hampir terjatuh.


“Kami takut anda menjadi kelelahan, Yang Mulia.”


Sang permaisuri berjalan di depan dengan langkah angkuhnya, dia membawa sebuah tongkat dari kayu sebagai alat bantu untuk berjalan. Menuju ke mata air, hanya ada jalan setapak yang tersusun dari batu, sedikit sulit bagi yang belum terbiasa untuk berjalan disana. Tapi, Yang Jia Li tidak mau diremehkan, dia hanya ingin memastikan bahwa ketiga dayang itu tidak berhalusinasi melihat pemuda-pemuda sedang mandi, mana mungkin karena mereka berada di bukit terpencil. Orang-orang yang datang kesana hanya mampir untuk berdoa di kuil.


Yang Jia Li menatap ketiganya dengan tajam, “Kalian terlalu meremehkan aku ya, aku bisa hanya berjalan seperti ini saja!” ketusnya.


“Tapi, perjalanannya masih panjang Yang Mulia.”


“Biar saja, aku juga ingin mencari udara segar.” Alibi Yang Jia Li.


“Apa tidak masalah kalau kita pergi tidak bersama dengan Dayang Yue, Yang Mulia?” tanya Lu Yi, berulang kali menengok ke belakang pun tetap tidak ada tanda-tanda sang kepala dayang datang menyusul.


Jujur saja, ketiga dayang kecil itu sudah kelimpungan karena belum tahu pasti apakah para pemuda itu datang lagi. Atau mungkin apakah para pemuda itu nyata atau tidak. Pasalnya, saat mencuci dulu mereka memang menemukan beberapa pemuda juga tengah mandi, berbadan kekar dan tampan,


Kalau kali ini mereka tidak datang, bisa gawat mendapatkan hukuman dari Yang Jia Li.


Sang permaisuri dengan hanfu sederhana itu menghembuskan napas, “Sudah kubilang tidak ada masalah, kalian tenang saja, bukannya kita pergi ke mata air untuk mencuci pakaian kan.”


“Ya, Yang Mulia.”


“Kalau begitu ceritakan kepadaku bagaimana mata air itu!” ujar Yang Jia Li.


Ketiga dayang saling melirik, mereka meminta Lu Yi untuk menjelaskan bagaimana rupa dari mata air. Dalam hati mereka merutuki permaisuri kejam itu yang tidak pernah mengetahui sudut tempat ini, padahal dia sudah berada di pengasingan lebih dari satu bulan.


Kabarnya, Yang Jia Li bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Biara Heng Shui. Sungguh tidak menjalankan hukuman dengan baik.


“Emm, mata air itu seperti sungai kecil, Yang Mulia. Di hulu ada air terjun yang biasanya digunakan untuk mandi karena airnya jernih.”


“Lalu?”


“Lalu … “ Lu Yi melirik ke kanan dan ke kiri mencari jawaban, “Lalu ada pohon-pohon rindang dan disepanjang alirannya ditumbuhi bunga-bunga dan semak setinggi pinggang. Karena itu jalan menuju kesana cukup sulit, tidak ada yang merawat tempat itu sehingga tidak banyak diketahui orang.” Jawabnya lagi.


“Lalu para pemuda itu?”

__ADS_1


“Ada apa dengan para pemuda, Yang Mulia?”


“Ck.” Yang Jia Li memukulkan tongkatnya pada punggung Lu Yi, “Ceritakan tentang para pemuda itu, apakah mereka nyata atau hanya ilusi kalian saja. Disini mana ada pemuda-pemuda mandi di sungai.”


***


Matahari sudah semakin condong, tidak terlalu terik dan angin senja yang sejuk mulai berhembus. Rencananya Yang Jia Li juga ingin mandi di mata air yang katanya sangat menyegarkan, bermain di air terjun pasti sangat menyenangkan. Dan kali ini Yang Jia Li sudah mendengar aliran sungai yang tidak begitu deras, tapi semakin dekat hanya sepi, tidak ada para pemuda yang diceritakan tiga dayang barunya.


Celingukan mencari, tidak juga ditemukan tanda-tanda ada manusia disana. Entah mengapa Yang Jia Li merasa sangat marah, seperti tengah dibohongi oleh mereka. “Mana?! Kalian bilang ada pemuda disini? Mana? Aku tidak melihat ada pemuda disini!”


“Maaf, Yang Mulia, mungkin hari ini mereka tidak berkunjung ke mata air.” Jawab Xing Yu.


“Tidak berkunjung bagaimana? Kalian sengaja menipuku ya?!”


“Awas kalian! Akan aku berikan pelajaran.”


Yang Jia Li memukul ketiga dayang dengan tongkatnya sekuat tenaga, hingga mereka bersujud di kakinya pun Yang Jia Li tetap memukuli mereka. Agar mereka jadi jera dan tidak lagi berbohong tentang pemuda-pemuda desa sebelah yang mandi di mata air.


Buggh …


Buggghh …


“Ampun Yang Mulia, ampuni saya!”


“Ampun, Yang Mulia.”


“Ampun, Yang Mulia.”


Yang Jia Li berkilat marah, “Ampun katamu, Yang benar saja!”


“Yang Mulia jangan marah dulu, kita kan belum ke air terjun, siapa tahu mereka ada disana.”


Ucapan Xin membuat Yang Jia LI berpikir sejenak, benar juga, mereka belum menjelajah jauh aliran sungai kecil itu. Barangkali para pemuda itu memang ada disana.


Yang Jia Li pun menghentikan hukumannya dan menyuruh mereka untuk memandu jalan menuju ke air terjun, mereka berjalan menyusuri anak sungai melawan arus hingga tiba di sebuah tempat yang begitu indah pikir Yang Jia Li. Mereka bersembunyi dengan menunduk di balik semak belukan yang tinggi, Xing Yu memberikan kode untuk diam karena benar sekali. Ada segerombolan pemuda tengah mandi di air terjun seraya bermain air dan berenang.


“Bagaimana kalau kita melihat mereka dari sini dulu saja, Yang Mulia?” tawar Lu Yi.

__ADS_1


“Ya.”


“Kami tidak berbohong Yang Mulia, memang ada pemuda yang mandi disini.”


“Diam kalian, aku ingin melihat mereka!” desis Yang Jia Li.


Perbuatan tidak pantas ini dilakukan Yang Jia Li di depan para dayangnya karena sudah tidak tahan lagi menahan gejolak dalam dirinya. Sebagai permaisuri jelas tidak pantas bagi Yang Jia Li untuk mengintip para pemuda yang sedang mandi, terlebih mereka tidak mengenakan sehelai kain pun di tubuh mereka.


Tak hanya ketiga dayang yang dibuat gila dengan pemandangan di balik semak belukar itu, bahkan Yang Jia Li mendesah tanpa sadar. Jemari lentiknya ia gunakan untuk mengusap bagian tubuhnya yang paling sensitif, hingga tanpa sadar menusuknya dengan tongkat yang ia gunakan untuk membantu berjalan. Xing Yu dan kedua temannya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala, ini akan menjadi laporan paling baik yang bisa mereka laporkan pada Wu Li Mei.


Lu Yi menyenggol lengan Xing Yu, “Apa?” desisnya.


“Yang Mulia, sudah mulai gila! Cepat cegah dia.” Bisik Lu Yi.


“A-akk—aku tidak mau.”


“Ayolah cepat!”


Tapi bukannya berniat menyadarkan sang permaisuri, Xing Yu justru terpikir ide yang lain. “Yang Mulia, lihatlah senjata pusaka miliki pemuda yang sedang berdiri itu. Gagah, besar dan lebat sekali.”


Yang Jia Li mengangguk setuju, “Kau benar, dia yang paling besar diantara yang lain.”


“Kenapa tidak adan dekati saja, Yang Mulia.”


“Kalau benda itu tegang dan keras, pasti bisa berdiri tegak dan menantang.”


“Anda tidak ingin mencobanya, Yang Mulia.”


Ide gila yang sempat diragukan itu terbukti berhasil membuat Yang Jia Li belingsatan, tongkat yang ukurannya tidak terlalu besar itu sanggup keluar masuk untuk dimainkan, tanpa pemuda rasa sakit akibat benda tumpul itu.


“Ahhhh … “


Xing Yu mendekatkan bibirnya ke telinga Yang Jia Li, “Mendekatlah Yang Mulia, minta dia memuaskan anda. Bukannya anda butuh pelepasan.”


“Aaarrrgggghhhhh!!!”


“SIAPA ITU?!”

__ADS_1


__ADS_2