Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Salju pertama


__ADS_3

Pagi ini cuaca terasa sangat dingin, Wu Li Mei bahkan harus mengenakan dua baju hangat sekaligus untuk menghalau dingin. Karena kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih, wanita cantik itu harus pandai-pandai menjaga diri. Wu Li Mei menata riasannya sendiri, kali ini ia tidak ingin para dayang meriasnya.


"Yang Mulia?" Dayang Yi menghadap sang junjungan dengan nampan berisi teh bunga melati dan beberapa hidangan kecil.


Dayang Yi meletakkan tehnya di nakas kecil dekat meja rias sang selir agung, kebiasaan Wu Li Mei sejak dulu untuk memulai hari dengan secangkir teh hangat. Wu Li Mei bahkan tidak pernah sarapan pagi, ia hanya meminum teh yang ditemani oleh hidangan pembuka ringan. "Apa anda yakin ingin mengunjungi Putri Xie Ling hari ini? Maksud saya, anda masih harus melakukan pemulihan."


Wu Li Mei tersenyum sambil menatap pantulan dirinya di cermin, "Tenanglah, Dayang Yi." ujarnya.


"Aku sudah baik-baik saja, lagipula, paviliun putri hanya berjarak beberapa meter saja. Itu tidak akan membuatku kelelahan, justru aku harus lebih banyak bergerak agar lebih cepat pulih." lanjutnya.


"Apa saya harus menyiapkan tandu?" tanya sang dayang.


"Tandu?" Wu Li Mei mengerutkan keningnya, ia menoleh pada sang dayang.


Dayang Yi mengangguk, "Ya, Yang Mulia. Tandu atau mungkin kereta kuda?"


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk anda, Yang Mulia. Agar anda tidak terlalu lelah."


Wu Li Mei menggeleng sambil beranjak dari meja riasnya, "Tidak perlu, kakiku ini kuat, masih sanggup untuk berjalan kesana!"


"Baiklah, Yang Mulia." pasrah sang dayang.


Wu Li Mei melangkahkan kakinya keluar dari paviliun selir agung, dan benar seperti dugaannya, udara di luar sangatlah dingin. Wu Li Mei sampai memeluk tubuhnya beberapa saat, ia menatap ke langit, sepertinya salju akan segera turun.


Beberapa dayang dan pengawal mengikuti di belakangnya, untuk pergi mengunjungi Zhou Xie Ling. Pagi tadi, wanita itu mendapat kabar jika sang putri sudah mulai membaik. Jadi, ia harus memastikan bahwa hal itu benar.


Wu Li Mei menoleh ke arah danau barat saat mendengar canda tawa, sang selir sampai mengerutkan keningnya melihat pemandangan itu. Kaisar Zhou sedang bercanda gurau dengan tiga selir cantiknya di tepi danau. Oh, yang benar saja!


Mencoba acuh, selir agung itu terus memaksakan langkahnya, sebisa mungkin menjauh dari situasi yang mungkin akan membuatnya canggung.


"Mei-er?"


Wu Li Mei terhenti, ia menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik. Selir agung itu terpaksa untuk mendekati sang kaisar dan tiga selirnya. Wu Li Mei menunduk hormat, "Salam, Yang Mulia."


"Bangkitlah, Mei-er!" titah Kaisar Zhou.


"Salam, Yang Mulia Selir Agung." Wu Li Mei hanya tersenyum lembut saat tiga selir kekaisaran menyapanya.


"Apa kau sudah lebih baik?" tanya sang kaisar. "Kau seharusnya menggunakan tandu jika ingin pergi."


Wu Li Mei menggeleng pelan sebagai jawaban, wanita itu masih enggan untuk menarik sudut bibirnya. Entah apa, tapi sang selir merasa ada yang mengganjal di dalam hatinya. Seperti marah dan sesak, mungkin ini adalah rasa yang dimiliki oleh sang pemilik raga yang asli. "Tak apa, Yang Mulia. Saya bisa pergi sendiri tanpa tandu."


"Memangnya, kemana kau akan pergi?"


"Paviliun putri."


Kaisar Zhou merasa ada yang aneh dengan Wu Li Mei, tentu saja, karena sejak tadi sikap selir agung menjadi sangat dingin. Sang kaisar memberikan perintah pada ketiga selirnya untuk meninggalkan mereka berdua. Para dayang dan pengawal pun diperintahkan untuk berbalik arah.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja, Mei-er?" tanya sang kaisar.


Wu Li Mei mengangguk, "Tentu, Yang Mulia."


"Mengapa kau menjadi amat dingin?"


Wu Li Mei terdiam, sang selir tak berniat menjawab karena ia pun tak memiliki jawaban. Ia hanya merasa marah, sesak, sedih dan kecewa saat ini. Tapi, ia pun tidak tahu apa penyebabnya.


"Apa ada yang salah diantara kita?" tanya sang kaisar lagi, semakin dibuat penasaran dengan diamnya Wu Li Mei.


Sang selir pun kembali menggeleng, "Tidak ada."


"Lalu apa yang membuatmu begitu dingin kepadaku?"


"Maaf, Yang Mulia. Saya tid----"


Grreeepppp......


Wu Li Mei menegang, ia sampai menahan napasnya sepersekian detik. Dengan gerakan tiba-tiba, kaisar memelukanya erat. Wu Li Mei dapat merasakan usapan halus di punggungnya, satu hal yang sanggup membuatnya tenang dalam sekejap.


"Maaf." lirih sang kaisar.


"Untuk?"


"Karena terlambat menyelamatkanmu." jujur pria dewasa itu.


Butiran halus es turun dari awan-awan yang beberapa hari ini menyelimuti Dinasti Ming, Wu Li Mei sedikit mendongak agar salju terjatuh di wajahnya.


Pelukan sang kaisar terurai, mereka sama-sama diam untuk waktu yang lama. "Bolehkan saya bertanya satu hal?" tanya Wu Li Mei.


"Apa, Mei-er?"


"Apa yang kau lakukan untuk menyelamatkanku?"


Kaisar Zhou mengerjap bingung, "Apa maksudmu?"


"Mengapa kau amat diam, kaisar?" tanya Wu Li Mei. "Ada dimana kau saat aku kedinginan di dalam penjara?"


"Dan, apa yang kau lakukan untuk menyelamatkanku?"


Sang kaisar tidak langsung menjawab, ia membenarkan jika Wu Li Mei pasti merasa kecewa dengan sikapnya selama beberapa hari terakhir. Kaisar bukan tidak ingin menyelamatkan Wu Li Meu, tapi ia pun harus mengurus masalah istana yang lain. Ini bukan berarti nyawa sang selir tidak lebih penting dari kekurangan persediaan musim dingin para rakyat, tapi tugasnya yang utama adalah untuk mengabdi pada rakyat Dinasti Ming.


Sang kaisar pun merasa telah banyak mengambil peran dalam rencana penyelamatan Wu Li Mei, salah satunya adalah mengutus Guru Zhang untuk menangkap penjual merkuri di perbatasan.


Kaisar meraih telapak tangan Wu Li Mei yang terasa dingin, "Ayo kita kembali, salju akan membuatmu kembali sakit."


Wu Li Mei bergeming, "Apa kau tidak ingin menyelamatkanku?"


Satu pertanyaan yang lolos dari sang selir kembali membuat kaisar mengerutkan keningnya, pria itu tak pandai untuk merangkai kata-kata penenang jika itu yang dibutuhkan oleh Wu Li Mei.

__ADS_1


"Mei-er, apa maksudmu?"


"Mengapa kau hanya diam saat aku dipersalahkan?" tanya Wu Li Mei lagi.


"Mengapa kau tak mencegah saat aku ditangkap Yang Jian Zhu?"


"Dimana kau saat aku bergetar ketakutan karena eksekusi sudah di depan mata?"


Kedua mata Wu Li Mei mulai memanas, ia pun tidak tahu mengapa ia harus mengikuti egonya dengan bertanya lebih jauh. Seperti efek demam tinggi semalam memang belum sepenuhnya hilang, sehingga Wu Li Mei menjadi lebih sensitif.


"Mei-er, kita bicarakan ini di aula barat saja. Salju turun semakin deras, kau akan kedinginan."


Wu Li Mei menyentak tanganya agar terlepas dari genggaman kaisar, sang selir berkaca-kaca menatap pria di hadapannya. "Apa kau sungguh tidak mencintaiku?"


Salju turun semakin deras, tepi danau yang tadinya kering karena musim gugur kini telah tertutup salju sepenuhnya. Di tengah hujan salju itu, kaisar dan selirnya tengah terdiam dengan kecamuk di pikiran satu sama lain.


Diam diantara mereka membuat Wu Li Mei semakin kecewa, sang selir melangkah mundur dengan langkah goyah. Ia mencengkram dadanya yang terasa sesak, seperti inikah perasaan sang pemilik raga selama ini? Sedetik pun selir malang itu tidak pernah mendapatkan cinta dari sang kaisar.


"Mei-er!" kaisar mengulurkan tangannya, namun Wu Li Mei kembali mundur.


"Mei-er?"


"Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu." ujar sang kaisar.


Wu Li Mei menunduk karena air matanya meluruh, bersamaan dengan itu pandangannya mulai kabur dan berkunang-kunang. Tapi, sang selir tetap memaksakan diri untuk bertahan. "Kau tidak.... mencintai...ku?" lirihnya.


"Jawab aku!" pekik Wu Li Mei.


"Mei-er?"


"Jawab!"


"Aku mencintaimu!" Kaisar Zhou berhasil meraih lengan sang selir sebelum wanita itu limbung ke tanah, kaisar segera menggendong Wu Li Mei menuju aula barat. Ia membaringkan sang selir di sebuah dipan kecil.


Tangan pria itu terulur menyentuh dahi sang selir, panas, pasti Wu Li Mei masih demam namun memaksakan diri.


"Mei-er?" panggil kaisar.


"Day----" Tangan halus sang selir terangkat untuk menyentuh rahang tegas kaisar, menghentikan pria itu untuk memanggil para dayang.


"Katakan sekali lagi?" pinta Wu Li Mei lemah.


"Apa?"


"Katakan kau mencintaiku."


Kaisar Zhou meraih tangan halus yang menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya erat. "Aku mencintaimu, Mei-er!"


Wu Li Mei tersenyum kecil sebelum kedua matanya kembali tertutup, "Temani aku, aku ingin tidur sebentar." gumannya.

__ADS_1


__ADS_2