Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Mengetahui rencana


__ADS_3

Setelah Yang Jia Li pergi, Zhou Fang Yin akhirnya bisa bernapas dengan lega. Syukurlah kali ini dewa masih menyelamatkannya dari kekejaman permaisuri, dia sudah takut setengah mati jikalau Yang Jia Li akan melukainya seperti saat ia mendorongnya ke danau. Saat itu sudah sangat jelas jika Yang Jia Li mendorongnya dan tidak membantunya sama sekali, ia justru sibuk berdrama bahwa Zhou Fang Yin terjatuh karena terpeleset.


Ingatan penuh trauma itu terus terbayang bahkan setelah waktu yang lama ini, bahkan saat Zhou Fang Yin sudah tidak takut melihat danau. Dia masih ketakutan melihat Yang Jia Li. Salah memang jika ia berpikir permaisuri akan baik hati kepadanya, menganggapnya seperti putri kandungnya sendiri dan menyayanginya. Yang Jia Li hanya membutuhkan Zhou Ming Hao untuk naik tahta menjadi ibu suri nantinya.


“Kau tak apa, putri?”


Zhou Fang Yin menoleh kepada sang nenek, ia mendekat dan merangkul lengan ibu suri mencari perlindungan. “Iya, aku tidak apa-apa nenek, aku hanya merasa takut saat melihat ibu permaisuri.”


“Kau tidak perlu cemas, dia tidak akan bisa mengganggumu lagi.”


“Terima kasih nenek, anda datang tepat waktu.”


Ibu suri mengajak Zhou Fang Yin untuk masuk ke dalam aula timur, ada satu ruangan di aula megah itu yang menjadi tempat rahasia bagi ibu suri. Ruangan itu dibangun khusus oleh kaisar terdahulu untuk dirinya, di dalam sudah ada Zhou Ming Hao dan Guru Zhang yang menunggu sambil membaca buku. Ruangan itu terdapat dua rak besar yang berisi ribuan buku dari berbagai dinasti yang berisi tentang banyak hal, salah satunya adalah buku-buku tentang sejarah dan kesehatan.


Pintu berderit saat ibu suri membukanya, setelahnya wanita tua itu masuk bersama sang putri.


“Salam, Yang Mulia.” Ucap Guru Zhang.


“Bangkitlah!”

__ADS_1


“Apa sesuatu terjadi sehingga anda pergi terlalu lama?” tanya Guru Zhang.


Ibu suri duduk di antara Guru Zhang dan Zhou Fang Yin, ia menyeduh teh yang ada di meja lalu diberikan kepada sang putri. “Yang Jia Li memarahi Zhou Fang Yi di samping aula timur, apa kalian tidak mendengarnya? Dia marah-marah layaknya orang kesetanan, bahkan mengancam akan membunuh cucu tersayangku.”


“Memangnya apa yang anda lakukan sehingga permaisuri begitu marah, putri?”


“Apa kau melakukan sesuatu yang salah? Apa kau baik-baik saja, Xiao Yin?” tanya Zhou Ming Hao, sang putra mahkota menutup buku yang sedang ia baca dan beralih pada sang adik yang tampak pias, wajahnya masih pucat dan ketakutan. Wajar saja, karena saat permaisuri marah dia memang sangat menakutkan. Pemikiran implusif dan tak berbelas kasihan membuat permaisuri sangat mudah menghukum bahkan membunuh orang yang dipikirnya bersalah.


Zhou Fang Yin mengambil napas dalam, ia mulai menenangkan diri untuk bisa bercerita dengan baik. Cangkir teh yang ia genggam kini sudah tandas karena isinya sudah ditenggak habis tak bersisa, guna membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Sekalipun tampak tenang tapi degup jantungnya masih berpacu dengan hebat, belum lagi saat ingatan tentang kejadian terjatuh di danau berputar di ingatannya. “Aku… aku tidak sengaja mendengar ibu permaisuri berbicara dengan…”


“Dengan siapa?” desak Zhou Ming Hao.


“Lalu apa yang mereka bicarakan?” tanya Guru Zhang.


Sang putri menggelengkan kepala, sejujurnya ia tidak terlalu yakin dengan apa yang ia dengar karena tidak mendengar sejak awal dan tidak tahu pula apa maksudnya. Beberapa waktu lalu, Zhou Fang Yin berjalan-jalan di sekitar aula timur, ia ingin beberapa buah yang ada di belakang aula timur bersama dengan para dayangnya. Tapi, dari kejauhan ia melihat permaisuri mengendap-endap tanya pengawal ataupun dayang bersamanya. Gerak geriknya tampak mencurigakan, sehingga Zhou Fang Yin memilih untuk mengikutinya, tanpa dayang dan pengawal.


Zhou Fang Yin sempat tersesat saat sedang mengikuti permaisuri, langkah wanita itu terlalu cepat sehingga ia hampir kehilangan jejak. Syukurlah ia mendengar suara orang bercakap-cakap di belakang aula timur, bangunan paling dekat dengan gerbang masuk. Dari yang tertangkap indera pendengarnya, Zhou Fang Yin mendengar Yang Zuo sedang memarahi Yang Jia Li karena tidak bisa menemukan sesuatu.


“Apa yang tidak bisa ditemukan permaisuri, putri?” tanya Guru Zhang.

__ADS_1


Tapi gadis muda jelita itu menggeleng, “Maaf guru, aku tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas. Yang pasti sebuah buku di perpustakaan, di rak buku lama yang dijaga oleh pengawal istana.”


“Buku lama?” beo ibu suri, ia berpikir untuk apa Yang Zuo menginginkan catatan buku lama, sedangkan buku-buku itu termasuk ke dalam arsip paling penting di kekaisaran. “Kira-kira apa yang sedang mereka rencanakan?”


“Untuk…” Zhou Fang Yin ingin menjawab tapi tercekat, ia memejamkan mata kuat-kuat saat perasaan takut dan sedih bercampur menjadi satu di hatinya. Tadi pun, saat pertama kali mendengar percakapan mereka, sang putri sampai bergetar hebat sehingga ia tidak fokus dan tidak sengaja menjatuhkan tembikar yang kebetulan diletakkan tempat di sampingnya. “Untuk membunuh ibu.”


“Apa? Untuk membunuh ibu selir?”


Zhou Fang Yi mengangguk, “Kalau aku tidak salah mendengar, begitulah rencana mereka, tapi sayangnya mereka belum menemukan apa yang dicari di perpustakaan istana. Sehingga mereka belum bisa membunuh ibu, Yang Zuo bilang akan menyuruh kepala departemen kejaksaan untuk mencari buku itu di istana.”


“Gawat! Pasti mereka ingin melukai ibu lagi.” Sang putra mahkota mendadak kesal dengan informasi yang baru saja mereka dapatkan, rupanya Yang Jia Li benar-benar ingin menghancurkan orang-orang yang berpontensi menghalangi langkahnya. Tak terkecuali dengan Wu Li Mei yang sejak dulu telah menjadi musuhnya, dalam cinta maupun kekuasaan. “Apa permaisuri tidak merasa berdosan dengan meninggalnya Zhou Xie Ling, mengapa masih saja ingin membunuh ibu, padahal ia masih berdiri di tahta.”


Guru Zhang terdiam, sepertinya ia tahu apa yang mereka cari, tapi tetap saja ia harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya sedang dicari Yang Jia Li dan Yang Zuo hingga melibatkan Yang Jian Zhu. Jika dihubungkan lagi, permaisuri memang selalu menyimpan dendam dan mencari kesempatan untuk membunuh Wu Li Mei.


Ibu suri dan Guru Zhang saling tatap, mereka menyiratkan pikiran masing-masing lewat tatap mata. “Ku pikir kita haru melakukan sesuatu untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi. Kita tidak bisa membiarkan seseorang terbunuh karena ulah Yang Jia Li.” Ujar ibu suri.


“Tapi bagaimana nenek? Ibu permaisuri adalah orang yang cerdik dan licik, dia selalu punya segudang rencana untuk melakukan kejahatan.” Balas Zhou Ming Hao, sejauh yang ia tahu permaisur bukanlah orang baik, dia punya rencana, pendukung dan orang-orang yang setia. Meskipun semua itu adalah berkat pengaruh dari ayahnya, tapi tetap saja Yang Jia berkuasa.


“Lalu apa yang bisa kita lakukan, Yang Mulia?” tanya Guru Zhang.

__ADS_1


“Memanggil selir agung dan menyusun rencana untuk berperang, jika memang pasukan Yang Jia Li sudah menyerbu dari timur, maka kita harus bersiap untuk melawan.” Ujar ibu suri, tangan wanita tua itu terangkat untuk memanggil Wu Li Mei, “Kita harus berdiskusi dengan Wu Li Mei, panggilkan ia sekarang juga untuk datang tanpa dayang dan prajurit!"


__ADS_2