Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Terlalu sering keluar


__ADS_3

“Salam, Yang Mulia!”


“Siapa kau?” tanya Yang Jia Li saat mendapati dayang baru yang belum pernah ia tahu wajahnya.


Sang dayang dan kedua temannya menunduk hormat, “Kami adalah dayang baru sebagai dayang pengganti.”


“Apa maksudnya?!”


Dayang Yue maju menghadap sang junjungan, “Mereka adalah dayang pengganti, Yang Mulia. Setiap satu bulan sekali, selalu ada dayang baru yang akan menggantikan dayang lama selama masa pengasingan anda. Mereka dipilih langsung oleh ibu suri dan akan berganti lagi bulan berikutnya.”


“Kenapa ada aturan seperti itu dan kenapa aku tidak pernah tahu?”


“A-anda bukan tidak pernah tahu, tapi anda kan tidak mau tahu.” Lirih sang dayang.


Yang Jia Li kembali menghadap ketiga dayang yang baru saja sampai itu, mereka masih muda dan polos. Setelah diminta memperkenalkan diri, Yang Jia Li akhirnya tahu nama dari ketiga dayang muda itu. Lu Yi, Xing Yu, dan Xin. Sang permaisuri yang sedang menjalani pengasingan itu juga memberitahukan apa saja yang tidak boleh mereka lakukan dan apa saja yang akan membuatnya marah, menyebalkan sebenarnya karena harus mengajari mereka lagi dan lagi.


Kehidupan di pengasingan ini sebenarnya berlangsung bagai lambat sekali, Yang Jia Li tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan dan lagi dia selalu bermalas-malasan. Dayang yang ditugaskan untuk melayaninya hanya tiga orang saja, tiga prajurit pengawal, dan satu dayang utama yakni Dayang Yue.


“Kalau begitu, kalian! Cepat buatkan aku teh hangat, aku mau teh yang baru, pemberian dari ayahku!” titahnya.


“Dayang Yue, tunjukkan kepada mereka!”


“Baik, Yang Mulia.”


Ketiga dayang itu mengikuti Dayang Yue menuju ke dapur yang ada di paviliun itu, mereka harus menyalakan tungku dan perapian agar bisa memasak dan Yang Jia Li selalu merasa hangat. Setelah diberikan arahan oleh Dayang Yue, sang dayang utama pergi untuk menghadap Yang Jia Li lagi.


Xin menoleh ke kanan dan ke kiri, “Apa dia benar sudah pergi?” tanyanya.


Xing Yu menganggukkan kepalanya, “Iya, dia sudah pergi.”

__ADS_1


“Sebaiknya kita tetap melakukan pekerjaan dayang seperti seharusnya, sembari tetap mencampurkan serbuk itu dalam teh dan makanannya.” Ujar Lu Yi, “Jangan sampai ketahuan dan jangan membuat gerakan yang mencurigakan, kita hanya bertiga disini, kalau sampai permaisuri tahu maka dia akan membunuh kita saat itu juga.”


“Iya, sebaiknya kita cepat melakukan pekerjaan kita.”


Ketiga dayang muda itu segera bergotong-royong menyalakan perapian, memasak, dan yang utama adalah menyiapkan teh herbal untuk Yang Jia Li.


Air sangat cepat mendidih karena kayu bakar di hutan dekat biara Heng Shui cukup mudah terbakar. Xin meletakkan serangkaian cangkir yang biasanya dipakai untuk minum teh, menyeduh sebagian teh dalam teko yang lebih kecil sembari mencampurkan sesuatu yang diminta oleh tuannya. Sebuah serbuk berwarna putih kekuningan, sedikit sekali, hanya sejumput saja karena pesannya begitu. Mereka juga dipesankan tidak boleh meminum teh khusus yang diberikan Yang Zuo itu, jika ada anggota kekaisaran lain yang berkunjung mereka juga tidak boleh diberikan teh itu.


“Sudah selesai?” tanya Lu Yi.


Xin mengangguk.


“Biar ku antarkan, kau … sudah … “


Xin mengangguk lagi dan menempelkan telunjuknya di depan bibirnya. “Sudah.” Jawabnya tanpa suara.


“Baiklah, kalau begitu, aku akan pergi mengantar ini dulu!”


Istana menjadi cukup tenang tanpa adanya Yang Jia Li, semuanya tanpa bahagia dan harmonis, Wu Li Mei sering bersantai minum teh bersama Ibu Suri dan Kaisar Zhou. Pertumbuhan Jiang Wu yang semakin hari semakin cepat membuat mereka gemas sendiri dengan sang pangeran kecil, dia sudah bisa mengatakan ibu dan beberapa kata sederhana lain meskipun tidak terlalu jelas.


“Kemarilah sayang!” ujar Wu Li Mei, Zhou Jiang Wu yang berada dalam dekapan Dayang Yi pun segera merentangkan tangannya untuk digendong oleh ibu selir tercinta.


“Sususu … sus u suuusuu.” Racaunya.


“Hmm, kau mau susu?” tanya Wu Li Mei.


Anak laki-laki itu tersenyum cerah, dia memainkan kakinya yang dibalut kaos kaki sederhana rajutan dari Wu Li Mei sendiri. “Sususus … susususu … “


“Dayang Yi, tolong ambilkan susu untuk Jiang Wu!”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia.”


“Bagaimana keadaannya? Terakhir aku mendengar kabar, dia sangat kurus saat masih berada di paviliun selir Ho, tapi sepertinya sekarang sudah jauh lebih baik.” Ibu suri memperhatikan dengan seksama anak laki-laki yang sedang bermain di pangkuan Wu Li Mei itu.


“Dia sudah jauh lebih gemuk ibu.” Jawab Kaisar Zhou, “Bersama Mei’er, aku yakin dia akan jauh lebih baik dari sebelumnya.”


“Aku yakin juga begitu.”


“Aku hanya melakukan sebisaku untuk mengurusnya, semuanya juga tidak lepas dari peran para dayang yang mengasuhnya dengan sepenuh hati. Kadangkala Putri Fang Yin dan putra mahkota juga menyempatkan diri untuk bermain bersama Jiang Wu.”


“Ah, begitu ya.” Ibu suri menganggukkan kepalanya paham, “Tapi, kemana perginya dua anak itu, aku jarang sekali melihat mereka berkeliaran di istana.”


“Mereka ada.” Jawab Wu Li Mei.


“Dimana?”


Ah, benar juga, dimana kedua anak itu karena sudah dua hari berlalu Wu Li Mei tidak bertemu dengan mereka. Terlalu sibuk mengurus Jiang Wu dan toko obat secara diam-diam, sampai membuatnya lupa untuk mengurus dua anak tersayangnya yang sudah beranjak dewasa itu.


“Putra mahkota sangat senang berburu di hutan, dan Putri Fang Yin senang berkuda dan memanah.”


Kaisar Zhou memberikan jawaban atas penilaiannya terhadap kedua anaknya yang menyenangi bidang berbeda, tapi itu tidak menjadi masalah. Karena pola pendidikan mereka nantinya akan menentukan bagaimana keduanya tumbuh menjadi pemimpin yang besar. Sang kaisar jarang sekali terlibat langsung dalam pendidikan mereka tapi ia mengamati dari jauh.


“Sayang sekali, sepertinya mereka sedang pergi hari ini.”


“Apa itu benar?” tanya Wu Li Mei, dia sibuk dengan anak laki-laki kecilnya yang sedang meminum susu pemberian para dayang. “Sudah dua hari ini aku tidak melihat mereka sebenarnya, apa mereka pergi atau bagaimana aku tidak tahu juga.”


“Biarlah Mei’er, mereka sudah tumbuh dewasa, bisa saja mereka sedang mencari sesuatu yang menarik di pusat kota.”


Wu Li Mei langsung mendongak, benar juga, terakhir ia mendapati kedua anaknya pergi dan ternyata dia mendapat laporan dari Lan Suo bahwa kedua anaknya ada di pasar. Apakah Wu Li Mei terlalu melonggarkan penjagaan, apakah ini artinya dia telah lalai? Tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk kepada keduanya, putra mahkota dan putri kekaisaran seharusnya tidak boleh terlalu sering meninggalkan istana.

__ADS_1


“Apa mereka pergi ke pasar?” tanya Ibu suri. “Itu berbahaya, mereka tidak boleh dikenali dan mendapat masalah.”


“Aku sedang berusaha untuk menjaga mereka dari jauh ibu.”


__ADS_2