
Secangkir teh itu terasa sangat menyegarkan di sore yang hangat ini, bersama dengan angin musim semi yang dingin. Wu Li Mei meletakkan cangkir tehnya, pikiran wanita itu melayang pada percakapannya dengan ibu suri tempo hari. Politik kerajaan sama seperti hukum rimba, siapa yang lebih berkuasa dialah yang ditaati. Menjadi permaisuri mungkin terdengar menarik, tapi cara untuk sampai di posisi itu pasti akan jauh lebih menarik.
Ia sudah menerima takdirnya menjadi sang selir agung, dan bersiap untuk menulis kisahnya sendiri sebagai Wu Li Mei. Ia juga sangat mempertimbangkan saran untuk mengambil hati kaisar dan mengendalikan pria itu, itu tidak sulit, Wu Li Mei hanya perlu memberikan rayuan seperti tempo hari. Dan kaisar akan tunduk kepadanya.
"Dayang Yi!" panggil Wu Li Mei.
"Ya, Yang Mulia."
"Apa kaisar ada di paviliunnya?"
"Ada, Yang Mulia. Saya mendengar kabar, bahwa malam ini kaisar akan bermalam bersama Yang Mulia Permaisuri, itu sudah dijadwalkan sejak lama."
Wu Li Mei mengerutkan keningnya, bermalam? Bukankah kaisar tidak suka bermalam dengan para istrinya. Mungkin ini akan menjadi satu hal yang menarik.
Rute paviliun raja dengan kediaman Yang Jia Li selalu melewati paviliunnya, terbesit ide di kepala sang selir untuk menggagalkan keinginan Yang Jia Li. Wanita licik itu pasti sangat senang karena kaisar datang mengunjunginya, tapi tentu tidak akan jadi semudah itu.
Wu Li Mei bangkit, "Dayang Yi, siapkan air dengan banyak taburan bunga mawar di dalamnya."
"Anda ingin membersihkan diri, Yang Mulia?"
"Ya, tentu."
"Baik, akan saya siapkan."
"Cepatlah dayang! Aku tak punya banyak waktu."
Wu Li Mei tersenyum penuh arti, Dayang Yi dan yang lainnya sibuk mempersiapkan air dan bunga untuknya berendam. Wanita istana itu melangkahkan kakinya menuju ke dalam paviliun, tujuannya adalah lemari tempat penyimpanan hanfu milik sang selir. Ia ingat bahwa ada satu lemari yang tidak pernah ia buka, karena warna hanfu di dalamnya hanya didominasi warna merah.
Tapi kali ini, merah akan membuatnya lebih membara.
"Xiao Yan, bukalah lemari di kiri itu!"
Lu Yan mengangguk dan segera membuka lemari yang ditunjuk Wu Li Mei, di dalamnya ada banyak sekali hanfu sutra. "Ini kumpulan hanfu anda yang jarang dikenakan lagi, Yang Mulia."
__ADS_1
"Beberapa bahkan masih baru."
"Apa aku sesuka itu dengan warna?" tanya Wu Li Mei.
Lu Yan mengangguk, "Ya, Yang Mulia. Anda pernah berkata bahwa warna merah selain melambangkan keberuntungan, juga merupakan lambang dari cinta."
"Yang Mulia, air anda sudah siap."
Sang selir menoleh dan segera memerintahkan para dayang untuk melepas hanfunya. Sejak ia terbangun disini, rasanya semua kemudahan ada untuknya. Hal kecil seperti melepas pakaian pun tidak ia lakukan sendiri, Dayang Yi bilang, itu adalah bagian dari tugas dayang untuk melayani junjungannya.
Wu Li Mei tak masalah dengan itu, walaupun awalnya merasa aneh dan malu saat tubuh polosnya dilihat oleh para dayang. Tapi tak apa juga, tubuh selir ini sangat bagus dan tidak ada cacat. Konon katanya, Wu Li Mei ini putri bungsu kekaisaran tetangga, jadi ia pasti dibesarkan dengan baik. Ia harus merencanakan sebuah kunjungan ke kampung halamannya untuk melihat betapa indahnya negeri itu. Ah, benar juga, mengapa pula ia tidak meminta pada kaisar malam ini.
"Apa yang akan anda lakukan setelah ini, Yang Mulia?"
"Emmm.... Yang akan ku lakukan?"
"Ya."
"Aku ingin bermalam dengan kaisar."
Para dayang pun tersenyum penuh arti, "Apa anda ingin menyela permaisuri, Yang Mulia."
"Itu akan menarik bukan."
"Kalau begitu, kami harus bekerja keras untuk membuat anda lebih menawan, Yang Mulia."
Wu Li Mei tersenyum manis, ia memainkan kelopak demi kelopak bunga yang memenuhi bak airnya. "Pasti akan menyenangkan bermalam dengan kaisar, bukan?"
Dayang Yi mengangguk, "Saya akan perintahkan dayang lain untuk merapikan tempat tidur anda."
"Apa anda ingin menjadi permaisuri, Yang Mulia?" tanya Lu Yan, ia merasa sangat penasaran hingga pertanyaan tidak sopan itu terlontar begitu saja. Syukurlah Wu Li Mei tidak marah, sang selir justru tersenyum semakin cerah.
"Sepertinya menjadi permaisuri bukan hal yang sulit untukku."
__ADS_1
Dayang Yi dan semua dayang disana menunduk hormat. "Kami bersumpah akan melayani anda hingga akhir hayat, Yang Mulia."
Acara mandi itu selesai, tubuhnya terasa lebih segar dan harum mewangi. Wu Li Mei berbalut hanfu satin tipis tengah sibuk memilih hanfu yang cocok untuk ia kenakan malam ini, yang mana kiranya.
Tangannya terulur memilih hanfu berwarna putih dan transparan, ini cocok karena ia harus memamerkan tubuh indahnya. Biarlah ia jadi wanita nakal malam ini, jika dengan menjual tubuhnya kaisar akan tunduk, mengapa tidak? Lagipula ia adalah salah satu istrinya. Tubuh selir ini sepenuhnya milik kaisar.
Wu Li Mei mengenakannya, "Anda terlihat sangat cantik, Yang Mulia." puji Dayang Yi.
"Hanfu putih ini membuat anda semakin bersinar, tapi....."
"Tapi aku terlihat seperti hantu." tambah Wu Li Mei, wanita itu tidak suka, ia meminta dayang untuk melepasnya lagi. "Aku ingin warna lain."
"Mengapa anda tidak memilih warna merah, Yang Mulia? Anda pasti akan beruntung dan penuh cinta kasih malam ini." ujar Dayang Yi.
Lu Yan mengangguk antusias, ia cekatan membuka lemari kiri dan memperlihatkan helaian hanfu berwarna merah itu. Meskipun ragu, tapi Wu Li Mei tetap mencobanya.
Warna merah sangat cocok di tubuhnya yang seputih susu, keindahan lekukan tubuh itu semakin tercetak jelas. Yang disayangkan adalah hanfu ini terlalu tertutup, mungkin ia butuh sedikit perubahan agar terlihat lebih menarik.
Wu Li Mei melepas satu lapisan hanfunya, kali ini warnanya sedikit lebih transparan. Tidak buruk juga, tapi ia ingin lebih totalitas.
Wu Li Mei merendahkan potongan dadanya lalu mengikatnya lebih kuat, itu bagus, memberikan kesan lebih besar dan padat.
"Apa itu akan baik-baik saja, Yang Mulia? Saya takut anda akan kesulitan bernapas."
"Tak apa, Dayang Yi, percayalah padaku."
"Tapi, itu terlalu kuat."
Wu Li Mei tersenyum cerah, "Ini tak akan lama, setelah kaisar masuk ke kamarku, ia akan menanggalkan semua pakaian ini."
Rasanya masih aneh mendengar sang selir berbicara sesantai itu, padahal yang tengah mereka bicarakan seharusnya lebih rahasia.
Dayang Yi ikut membantu persiapan Wu Li Mei, ia ikut membubuhkan bedak dan perona bibir agar sang junjungan lebih menawan. Dayang Yi juga memilihkan tusuk konde berbentuk burung phoenix yang seharusnya hanya boleh dikenakan oleh permaisuri.
__ADS_1
"Yang Mulia, rombongan kaisar sudah terlihat." ujar Lu Yan dengan napas terengah karena berlari secepat mungkin.
Wu Li Mei pun bangkit, ia menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. "Aku akan menang, Jia Li." gumannya.