Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Pembukaan toko baru


__ADS_3

Mengendap-endap bagai pencuri, selalu seperti ini saat hendak meninggalkan istana. Karena seorang kaisar memang tidak boleh pergi tanpa pengawalan, tapi Kaisar Zhou sudah sangat biasa melakukan ini sejak masih menjadi pangeran dulu. Baginya pergi ke pasar atau kemana pun yang penting keluar dari istana adalah sebuah kebahagiaan dan kebebasan.


Salah satu yang paling disukai adalah bisa berbaur bersama rakyat dan mengetahui tiap sendi kehidupan yang berbeda dari kehidupannya, disana dia bisa menjadi dirinya sendiri.


Kaisar Zhou sampai di paviliun sederhana yang masih berada di lingkungan istana, seorang pria yang beberapa tahun lebih tua darinya tengah mengasah pedang kebanggaan yang sudah meregang nyawa banyak orang demi tujuan kebaikan.


"Panglima Hao!" panggilnya.


"Yang Mulia, apa yang anda lakukan disini?" tanya sang panglima kebingungan.


Kaisar Zhou hanya tersenyum tipis, "Aku ingin mengajakmu menyamar ke pasar hari ini, katanya ada pembukaan untuk toko obat Nyonya Wu yang baru, dan aku ingin melihat secara langsung."


"Menyamar?"


"Iya."


Sang panglima menyimpan kembali pedang yang belum sepenuhnya selesai terasah itu, hanfu sederhana dan penampilan yang biasa saja. Kaisar sudah sangat siap untuk menyamar tapi, hari ini seharusnya dia juga datang ke toko obat untuk melihat langsung. Sayangnya di dalam rencananya tidak bersama dengan kaisar.


"Tapi ... " Panglima Hao berusaha keras memutar otak untuk mencari alasan agar kaisar tidak keluar dari istana. "Tapi di luar sedang ada wabah yang semakin bertambah parah, sebaiknya saya saja yang pergi sendiri dan anda tetap berada di istana. Percayalah kepada saya, Yang Mulia."


"Aku percaya kepadamu, panglima." jawab sang kaisar seraya mengangguk dua kali, "Tapi aku juga ingin melihat langsung apa yang terjadi di luar, bagaimana dengan nasib toko obat hari ini dan apakah Yang Zuo akan kembali membuat ulah."


"Bukannya itu justru berbahaya untuk anda?"


"Tidak apa, aku bukan orang yang buta akan bela diri."


Panglima Hao tidak bisa menjawab lagi karena fakta itu adalah benar, dulu pun saat masa peperangan kekaisaran terdahulu. Mereka adalah kombinasi yang menakutkan bagi musuh karena kepiawaiannya dalam berperang dan berpedang.


Masa akhir kepemimpinan kaisar terdahulu menjadi sangat pelik karena pemberontakan dari negeri lain yang menginginkan wilayah kekuasaan mereka lebih luas lagi. Zhou Xiu Huan yang saat itu menjadi pangeran, ikut berperang memimpi pasukan bersama dengan Panglima Hao yang saat itu juga belum menjadi panglima tertinggi. Dua pemuda yang mengadu nasib dengan pedang, bersama-sama saling melindungi dan memenangkan pertarungan agar tidak ada yang mengganggu kekaisaran mereka lagi.


Panglima Hao menghela napas pelas, "Baiklah, Yang Mulia."


"Cepatlah bersiap panglima, ini sudah terlalu siang, takutnya aku tidak bisa bertemu dengan Nyonya Wu seperti tempo hari. Aku sangat ingin menemuinya."


"Menemui Nyonya Wu?"


"Iya, memangnya kenapa?" tanya kaisar.

__ADS_1


"Tidak masalah, Yang Mulia." jawab Panglima Hao tidak tenang, "Tapi biasanya Nyonya Wu sangat sulit untuk ditemui secara langsung jika tidak ingin berkonsultasi masalah kesehatan, dia sibuk melayani rakyat yang ingin berobat tapi tidak tahu apa sakitnya."


"Kalau begitu aku akan menunggu."


***


Pembukaan toko obat benar-benar berlangsung dengan sangat ramai dan mengantre sampai panjang sekali, sebagian besar orang yang datang ke pasar hari ini pergi untuk membeli obat di toko obat Nyonya Wu. Kali ini sangat ramai hingga semuanya hampir kewalahan, tapi karena bantuan dari Dayang Yi, Lu Yan, dan beberapa orang yang dikirim oleh Tabib Zhong, semuanya bisa terkendali dengan baik.


Khusus untuk praktek Nyonya Wu, antreannya memanjang sampai memenuhi jalanan. Wabah memang belum berakhir, bahkan bisa dikatakan tiba di fase puncak. Lebih dari lima puluh orang dan dua puluh anak-anak dikabarkan meregangnya nyawa karena wabah berkepanjangan di seluruh bagian negeri.


"Aku datang dari negeri selatan yang jauh, kemarin keponakanku dan banyak orang lainnya meninggal karena wabah ini. Katanya ada obat yang baik disini, jadi aku pergi kesini untuk mencarinya." ujar seorang pria bertubuh kurus dengan hanfu sederhana, dia lusuh dan telah menempuh perjalanan jauh untuk sampai di kota.


"Benarkah? Jadi wabah itu benar menyebabkan orang meninggal?"


"Iya, sangat parah di negeri kami kekeringan berkepanjangan."


"Kalau begitu kita juga harus hati-hati dengan ini."


Yang lainnya mengangguk, semakin was-was dengan wabah muntah dan demam yang sampai membuat sebagian orang meregang nyawa. "Iya, maka dari itu aku membeli obat disini. Aku sengaja membeli banyak karena harus membaginya dengan orang-orang di kampungku juga."


"Kami tidak seberuntung orang di kota yang bisa mendapatkan obat dengan mudah, kami pernah mencoba meracik herbal dan ternyata itu beracun dan berbahaya."


Zhou Fang Yin mendengar percakapan mereka dengan seksama, artinya jika wabah ini terjadi di seluruh negeri dan berkepanjangan maka akan banyak orang yang menjadi korban. "Kau mendengarnya?" tanya Zhou Fang Yin kepada sang kakak.


"Iya, aku mendengarnya." jawab sang kakak.


Sang putri memeluk buku bertuliskan urutan orang-orang yang akan dipanggil setelah konsultasi selesai, mereka juga bertugas membantu rakyat yang merasa kesulitan. "Lalu, apa yang kiranya bisa kita lakukan untuk membantu mereka?"


"Aku juga tidak tahu, kita mana bisa membantu semua orang.


"Andai kita bisa memberikan obat itu satu persatu kepada mereka ya." ujar Zhou Fang Yin menunduk lesuh, seketika tersadar dengan ucapannya dia pun membulatkan mata. "Bagaimana kalau kita mulai dengan membantu ibu membeli herbal yang lebih banyak, sehingga kita bisa menyalurkan obat lewat orang-orang terpercaya dan rakyat bisa mendapatkan obat juga."


"Kedengarannya sulit, tapi kalau tidak mencoba tidak akan tahu ya."


"Kita harus coba dulu kakak." bujuk sang putri lagi, "Daripada kita terus berpangku tangan begini, aku yakin kau dan aku punya uang yang cukup untuk membeli obat sebanyak ibu membelinya."


"Layak dicoba, Xiao Yin!" jawab Zhou Ming Hao yang mulai merangkai rencana juga di dalam otaknya, mereka memang punya harta benda yang banyak, tapi kekuasaan mereka sangat terbatas, sang ibu adalah kuncinya.

__ADS_1


Kedua anak itu kembali fokus memanggil satu persatu orang yang ingin bertemu dengan Wu Li Mei untuk berkonsultasi masalah kesehatan mereka. Beberapa yang sudah pernah bertemu, memilih untuk langsung membeli obat karena merasa cocok. Pada dasarnya sama saja obat pemberian Wu Li Mei dengan obat herbal yang dibeli kepada Suo bersaudara, hanya saja Wu Li Mei terkadang memberikan obat tambahan yang dibutuhkan untuk cepat sembuh.


"Cheng Yu!"


"Cheng Yu!"


"Aku disini!"


Zhou Ming Hao memanggil nama yang tertera disana, seorang wanita bangsawan dengan anaknya yang masih kecil langsung masuk ke dalam ruang praktek Wu Li Mei. "Silahkan masuk!"


"Terima kasih."


"Selanjutnya, Feng W---"


Panggilan Zhou Ming Hao terhenti saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenali ada disana, berpakaian hanfu sederhana bersama satu lagi pria yang menatap memberi kode untuk lari kepadanya. Astaga! Kaisar ada disini, dan untuk apa? Beberapa waktu lalu saat di toko lama kaisar juga datang.


Sang putra mahkota bergegas menemui adiknya, dia berdiri di depannya guna menghalangi penglihatan kaisar dari mereka. "Kakak, apa yang kau lakukan?"


"Lihatlah, ada ayah dan Panglima Hao."


"Lagi?"


"Iya." Zhou Ming Hao mengangguk.


"Kita harus bagaimana? Bagaimana kalau kita ketahuan?"


"Aku juga tidak tahu, tapi untuk sementara ini jangan panik karena banyak pasien yang datang dan ayah tidak akan punya kesempatan untuk menemui ibu atau kita. Dia tidak akan menunggu sampai sore untuk bertemu ibu pastinya!"


Pukk ... pukk ...


Zhou Ming Hao membeku di tempat, "Permisi, apa aku bisa bertemu dengan Nyonya Wu?"


Suara tegas dari arah belakangnya membuat sang putra mahkota berkeringat dingin, Zhou Fang Yin sudah menunduk dan memilih untuk lari memanggil pasien yang lain. Dengan terpaksa pemuda itu berbalik, semoga saja cadar hitam yang ia kenakan bisa membantu.


Zhou Ming Hao terus menunduk, menatap ubin dan berpura-pura sibuk. "Maaf tuan, sayangnya ibu masih sangat sibuk. Ada banyak sekali antrean yang belum terpanggil. Mungkin anda harus menunggu sampai sore."


"Baiklah!" ujar kaisar Zhou seraya menatap ke sekitar, pemuda itu hadapannya ini sangat aneh dan terus menunduk tapi seperti tidak asing. "Aku akan menunggu sampai sore hari." pungkasnya.

__ADS_1


__ADS_2