
Kabar baik telah tersebar luas sampai ke seluruh penjuru negeri, tentang kemenangan pasukan kekaisaran menguasai kembali negeri selatan. Suasana mencekam perlahan mulai membaik, terlebih masyarakat kini tengah antusias menunggu kedatangan kaisar mereka dan menyambutnya. Perginya Kaisar Zhou tentu membuat keadaan semakin gonjang-ganjing, ditambah dengan mereka yang enggan menerima dengan lapang hati bahwa pemerintahan dipegang oleh Zhou Ming Hao. Banyak kubu saling berpendapat dan belum juga lama waktu berjalan, sudah muncul benih kudeta dari berbagai klan.
Sayangnya itu tidak akan berlangsung dengan mudah karena nyatanya kaisar telah kembali, dia telah sampai tidak jauh dari negeri ini. Jika semuanya berjalan dengan lancar, mungkin sore atau malam nanti rombongan sampai di pusat kota.
“Ku dengar kaisar telah kembali.” Ujar Yang Zhen menjatuhkan tubuhnya di dipan kayu sembari menatap Heng Jing Xuan, kipas yang selalu ia bawa dikibaskan untuk mengipasi lehernya.
“Akan kembali.” Koreksi Jing Xuan. “Kaisar masih berada di negeri tengah, kata orang-orang rombongan kekaisaran akan kembali petang atau mungkin malam nanti.”
“Apa menurutmu ini tidak terlalu mudah?”
“Apa maksudmu?” Jing Xuan mengerutkan keningnya.
“Cepat sekali kaisar memenangkan pertarungan, yaaa, ku pikir pemberontak itu orang yang hebat, ternyata biasa saja.”
Xu Ling Mei dengan cepat memukul kepala sang tuan muda Klan Yang dengan kipas miliknya, dengan tatapan galak dia memukulnya dua kali. “Jaga ucapanmu, kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, boleh jadi kita sebagai rakyat biasa tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagi pula ini bukan urusanmu, kalau sampai ada orang dalam istana yang mendengar, sudah pasti kau akan mendapat masalah besar.”
“Kau ini takut sekali, mereka tidak akan berani macam-macam. Aku ini kerabat dekat permaisuri tahu.”
“Permaisuri sedang menjalani pengasingan, lagi pula kita juga tahu bagaimana perangainya.”
“Berani sekali kau Nona Xu!” sentak Yang Zhen tidak terima, “Kau telah menodai nama Permaisuri Yang Jia Li di depan kerabatnya sendiri, lihat saja apa yang akan terjadi kepadamu setelah ini.”
“Sudah!!”
Heng Jing Xuan menengahi perdebatan yang mulai memanas seiring dengan percakapan berbahaya mereka, “Sebaiknya kita jangan membahas ini, terlalu berbahaya untuk kita. Hidup dengan baik saja sudah cukup, kita harus lebih banyak belajar dan memahami kehidupan lagi.”
“Kakak Jing Xuan benar.” Ujar Xu Ling Xi yang sejak tadi diam di samping kakaknya, “Guru selalu berpesan agar kita menjaga ucapan dan tingkah laku.”
Keempatnya sama-sama terdiam untuk beberapa saat, mereka duduk berteman hening di bangsal pendidikan. Sayangnya sejak kaisar pergi meninggalkan istana, Guru Zhang begitu sibuk mendampingi Putra Mahkota Zhou di istana. Hal itu tentu membuat mereka bertanya-tanya tentang siapa putra mahkota dan mengapa dia tidak pernah menunjukkan dirinya di depan umum.
“Omong-omong, kemana perginya Xiao Yin? Atau pemuda tampan yang selalu bersama Xu Ling Xi itu?” tanya Yang Zhen tiba-tiba.
Pertanyaan itu jelas membuat Jing Xuan atau Ling Xi menjadi muram. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng, “Aku tidak tahu kemana perginya Xiao Yin, dia menghilang setelah hari itu.”
“Tuan Wu pun juga demikian, dia juga pergi dan tidak pernah datang menemuiku lagi.” Jawab Ling Xi muram.
Yang Zhen menganggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah puas, “Aku sudah menduga kalau mereka pasti bukan orang baik-baik, mereka hanya ingin memanfaatkan kalian saja. Sudah pasti itu, buktinya mereka segera pergi dan tak kembali. Kasihan sekali kalian ini.”
***
“Ibu suri!!”
“Ibu suri!!”
“Ibu suri!!”
Pintu kamar sang ibu suri diketuk berkali-kali oleh sang dayang, begitu mendengar jawaban dari seseorang di dalamnya. Sang dayang langsung masuk ke dalam.
“Salam, Yang Mulia.” Ujarnya sambil bersimpuh di depan ibu suri.
“Katakan, ada apa sampai kau harus mengetuk pintu sedemikian keras.” Ibu suri yang sedang duduk sembari menikmati tehnya menatap sang dayang bingung, “Dimana sopan santunmu dayang!”
“Maafkan saya ibu suri, tapi ada kabar yang seharusnya saya sampaikan dengan sangat cepat.”
“Apa itu?”
Sang dayang mendongak dengan tatapan mata berkaca, “Selir Agung Wu!! Selir Agung … “
Ibu suri tergopoh-gopoh untuk pergi ke paviliun selir agung, dia mendapatkan kabar bahwa dia harus sesegera mungkin datang ke menemui Wu Li Mei, entah apa yang terjadi. Kabarnya pagi tadi Wu Li Mei mengalami kejang hebat dan demam tinggi untuk kesekian kalinya, tapi siang ini, wanita tua itu hampir meneteskan air matanya melihat dengan mata kepala sendiri siapa yang sedang duduk sembari meminum obat itu.
Obat apa kali ini yang berhasil untuknya, setelah sekian banyak obat dan sekian banyak tabib mencoba menyembuhkannya. Sungguh semua keajaiban. Setelah sampai di dalam paviliun, banyak orang rupanya telah berkumpul disana dan benar-benar menatap dengan tatapan lega dan bahagia.
Wajah pucat yang sudah berhari-hari menutup mata itu kini telah kembali, dengan tubuh yang masih sangat lemas. Wu Li Mei berusaha keras untuk tersenyum kepada ibu suri yang membeku di depan pintu. “Me-me-mei’er.” Panggilnya lirih.
“Oh, apa aku tengah bermimpi, aku melihatmu telah sadarkan diri? Apa aku sedang bermimpi, oh dewa, ini keajaiban.” Ujar ibu suri.
“Ibu, ini aku.” Jawab Wu Li Mei lirih.
Perlahan ibu suri mulai melangkahkan kakinya dengan penuh kelegaan. “Bagaimana ini bisa terjadi dalam satu malam yang begitu menyesakkan Mei-mei, kau tidur dan tidak bangun dalam beberapa hari. Apa yang terjadi kepadamu?”
__ADS_1
Wu Li Mei menggeleng, “Aku tidak ingat apapun ibu, aku masih sangat lemas dan tidak bertenaga. Aku harus mengembalikan tenagaku dulu.”
“Daya ingat, Yang Mulia Selir Wu belum kembali sepenuhnya karena telah menjalani waktu yang lama untuk sadarkan diri, ibu suri.” Ujar Tabib Zhong, “Seiring berjalannya waktu nanti, pasti bisa kembali mengingat apa yang telah terjadi hingga kemalangan ini terjadi. Beruntung sekali selir agung bisa kembali sadar.”
Dua anak Wu Li Mei pun menganggukkan kepalanya, raut wajah bahagia tergambar dengan jelas di wajah mereka. Tak ingin jauh dari sang ibu, Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin tetap berada di dekat sang ibu untuk memberikan apapun yang dibutuhkannya. Memijit kakinya, memberikan minuman dan obat, semuanya dilakukan oleh keduanya dengan telaten. Andai ada yang bisa mengukur bagaimana leganya menjadi mereka, pasti sudah tidak bisa dilukiskan lagi.
Tadi, saat seorang utusan mengabarkan kepada mereka tentang Wu Li Mei yang sudah terbangun dari tidur panjangnya. Tanpa memikirkan apapun mereka langsung berlari untuk menemui Wu Li Mei, menangis tersedu melihat sang ibu yang sudah membuka mata. Meskipun pada menit-menit awal kesadarannya, Wu Li Mei hanya terdiam.
Ibu suri membawa tangan dingin nan halus yang pucat itu ke dalam hangat genggamannya, “Terima kasih telah kembali Mei-mei, sebentar lagi kaisar akan kembali dan datang untuk menemuimu.”
***
“Hentikan kegilaanmu ini, Yang Jia Li!!”
Sang permaisuri yang terbuang itu merotasikan bola matanya, apa lagi yang bisa mengganggunya jika bukan kehadiran kakaknya sendiri. Yang Jia Li bangkit dari ranjang dan bergegas untuk memakai kembali hanfunya, pemuda yang bersamanya juga segera pergi tanpa diminta dua kali.
Yang Jian Zhu menatap sang adik jengah, dia muak melihat perangainya.
“Tidak adakah hal lain yang bisa kau lakukan selain melakukan hal ini? Apakah pantas bagi seorang permaisuri berbuat sesuatu yang begitu menjijikkan, kau sudah gila Jia Li. Bagaimana kalau rakyatmu tahu kau sering bercinta dengan pria yang bukan suamimu.”
“Jangan salahkan aku, suamiku saja tidak pernah menyentuhku.” Ketus Yang Jia Li.
“Kenapa kau datang? Kau sangat mengganggu.”
“Aku pun juga tidak berniat untuk tinggal lebih lama.”
Yang Jian Zhu mengikuti langkah sang adik yang hendak meraih cangkir porselen berisi teh yang sudah dingin, “Aku hanya ingin mengabarkan kalau Wu Li Mei sudah sadar.”
Yang Jia Li menatap sang kakak dengan tatapan datar, lalu mengendikkan bahunya acuh. “Ya, aku sudah tahu.”
“Lalu?”
“Lalu apa?”
Jian Zhu terdiam, adiknya itu memang tidak bisa dianggap remeh dia selalu merencanakan sesuatu yang tidak biasa dan tentu saja jahat. “Apa yang kau rencanakan?”
“Uhhhukk … uhhhuukkk … uhhukkk … “
“Uhhuk … “
Jian Zhu mengerutkan keningnya, “Kau sedang sakit?”
“Uhhukk … uhhukkk … tolong tol-tolong ambilkan air… uhhukkk!”
“Uhhukk … “
“Hei, apa yang terjadi?” tanya sang kepala departemen kejaksaan, dia meraih bahu sang adik yang terbatuk hebat. Meraih cangkir berisi teh dan memberikannya untuk diminum Yang Jia Li. “Kenapa kau terbatuk begitu hebat?”
Darah segar keluar bersamaan dengan batuk yang tak kunjung reda, Jian Zhu sudah mendengar dari ayahnya kalau sang adik akhir-akhir ini sakit. Tapi dia tidak tahu apa kalau sampai separah ini. “Kau batuk darah? Apa yang terjadi kepadamu, Jia Li?”
“Sudah, sudah pergilah sana! Uhhukk … “ ujarnya sambil mendorong sang kakak agar menjauh.
Sesuai dengan ucapannya tadi yang tidak ingin berlama-lama, sang kepala departemen kejaksaan segera pergi sebelum dia meminta Dayang Yue untuk melihat Yang Jia Li di dalam kamarnya. Kamar yang dia sediakan untuknya selama pergi dari istana, karena sang permaisuri tidak mau kembali ke pangasingan, dan dia juga telah diusir dari istana.
Hingga, malam dingin yang ditunggu Yang Jia Li pun tiba. Cahaya bulan tengah penyorot menerangi cakrawala bersama dengan bintang-bintang terhampar luas di angkasa. Tapi angin dingin itu berhembus dengan kencang hingga menerbangkai helaian hanfu berwarna merah yang dikenakan seorang wanita cantik. Tengah menunggu kehadiran seseorang yang begitu ingin ditemui, dia menunggu dengan sabar.
Tatapannya tak lepas dari pantulan sinar rembulan dia atas air danau, riaknya ringan dan tidak menyakiti telinga. Hanya ketenangan yang tampak dari luar, padahal mungkin di dalamnya begitu dingin dan tak tersentuh.
Keyakinannya sudah mantap, dia yakin orang yang ditunggunya akan datang, meskipun butuh waktu yang lama untuk menunggu disini. Tidak masalah, selama apapun itu dia bisa menunggu. Hingga suara derap langkah terseok itu terdengar oleh telinganya. Dia yang sedang berdiri di depan Aula Utara segera membalikkan badannya, “Sudah ku duga kau akan datang, Wu Li Mei.”
“Yang Jia Li?”
“Kenapa? Kau terkejut ya?”
Yang Jia Li terkekeh melihat ekspresi wajah Wu Li Mei yang kaget dan bingung melihatnya, “Kau pikir siapa lagi jika bukan aku, ah, kau pasti masih ingat dengan tempat ini bukan?” tanyanya.
“Di hari dimana kau bersama dengan anak kecil itu?”
“Atau malam dimana kau hampir saja mati?”
__ADS_1
Wu Li Mei tetap diam di tempatnya, tidak mau pergi terlalu dekat pada ujung aula yang mengarah langsung ke danau. Tadi dia mendapatkan pesan dari seorang dayang yang mengatakan bahwa surat ini dari kaisar, tanpa pikir panjang Wu Li Mei langsung bergegas menuju danau utara meskipun langkahnya begitu ringkih. Harapan bertemu dengan kaisar sirna ketika dia mendapati wanita licik itu ada di hadapannya, sedang menatapnya dengan begitu puas karena telah berhasil membuatnya berkali-kali menderita.
Sungguh Wu Li Mei sudah lelah, dia baru bangun dari pertarungan hidup dan mati yang begitu sulit. Bangun dari koma baginya begitu ajaib, dan dia tidak ingin menyia-nyiakan itu. “Aku sudah lelah dengan semua ini, Yang Jia LI. Bisakah kita berdamai saja?”
“Berdamai?”
“Ya.”
Yang Jia Li menghadap Wu Li Mei sepenuhnya dengan senyuman paling tulus di wajah cantiknya, dia mengangguk dua kali. “Tentu saja Wu Li Mei, kau pikir aku datang kemari untuk apa kalau bukan untuk mengajakmu berdamai juga.”
“Be—benarkah?” tanya Wu Li Mei tidak percaya.
“Iya, benar.” Jawabnya. Yang Jia Li menjalan untuk menyentuh pagar pembatas menuju danau dan bertumpu kepadanya, “Apa kau pikir aku tidak lelah, Li Mei? Aku juga sudah sangat lelah dengan semua ini, aku terus sakit dan menyakitimu. Padahal tujuan kita hanya satu kan, untuk membuat kaisar mencintai kita.”
“Setelah aku diasingkan, aku jadi banyak berpikir bahwa hidup ini seharusnya bisa dijalani dengan damai tanpa adanya permusuhan, jika kita mau saling mengalah dan mengerti. Untuk apa kita terus berlomba-lomba saling menjatuhkan, jika pada akhirnya yang ditemui hanya permusuhan dan pertikaian. Padahal hidup damai bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan.”
“Aku minta maaf atas segala kesalahanku Wu Li Mei, atas semua yang telah aku perbuat kepadamu dan kepada orang-orang disekitarmu.”
Yang Jia Li berbalik, dia menitikkan air mata tanpa sadar namun segera ia seka. “Maukah kau memaafkanku?” tanyanya dengan tatapan berkaca.
Wu Li Mei tidak tahu harus menjawab apa, jujur saja dia juga bingung, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Yang Jia Li. Tapi melihat bagaimana dia sampai meneteskan air mata karena menyesali perbuatannya, sungguh membuatnya tersentuh.
Sang permaisuri mengulurkan kedua tangannya, “Maukah kau memaafkanku, Li Mei? Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Kita bisa hidup dengan damai bersama-sama di istana ini.”
“Mau kah?”
Hening untuk beberapa saat, dan itu membuat Yang Jia Li mencelos. “Baiklah, Wu Li Mei, aku tahu kesalahanku begitu besar hingga kau tidak mau memaafkanku, tapi aku sungguh tulus dengan ini. Tidak apa, aku paham ini pasti berat bagimu.
“Aku memaafkanmu.”
Kedua tangannya disambut oleh Wu Li Mei, dengan senyuman paling tulus dan sorot mata teduh bagai ibu peri. Kelembutan dan kerendahan hati membuat Wu Li Mei tergerak untuk memaafkan, Yang Jia Li.
“Terima kasih, terima kasih Wu Li Mei.”
“Terima kasih.”
“Terima kasih, sekali lagi terima kasih.”
“Iya.”
Sang selir agung ingin melepaskan tangannya, tapi tidak kunjung dilepaskan oleh Yang Jia Li. Justru kedua lengannya dicengkeram kuat olehnya, Wu Li Mei pun seketika panik karena dia telah berdiri sangat dekat dengan pagar pembatas.
Belum lagi saat ia mendongak, senyuman Yang Jia Li yang semula terlihat begitu tulus kini berubah menjadi seringai iblis yang begitu kejam. “Lepas!! Lepaskan aku!!”
“Apa menurutmu ini bisa semudah itu, kau telah tertipu Wu Li Mei!!”
“Lepas! Lepaskan aku!!”
“Tidak!!” tolak Yang Jia Li.
“Lepaskan aku!!”
Keadaan Wu Li Mei yang masih begitu lemah dimanfaatkan dengan baik oleh Yang Jia Li untuk mendorongnya lebih dekat ke pagar pembatas, meskipun sempat kewalahan karena selir agung terus memberontak. Tapi amarah dan rasa benci yang begitu dalam telah menguasai dirinya, tidak ada lagi yang terlihat selain kegelapan di matanya. Setelah mengumpulkan tenaga yang cukup dan waktu yang tepat, Yang Jia Li berhasil melempar Wu Li Mei ke dalam danau untuk kedua kalinya, sama seperti waktu dimana dia juga menenggelamkan Wu Li Mei ke dasar danau.
Sayangnya, kali ini berbeda karena Wu Li Mei berpegangan erat kepadanya sehingga dia juga ikut terlempar.
Byuuuuuuuuurrrrr …
Suara deburan itu begitu kencang tapi tidak ada siapapun yang mendengar karena malam hari dan danau utara memang selalu sepi. Riak air muncul bersamaan dengan kedua wanita istana itu yang mencoba untuk menyelamatkan dirinya masing-masing, sayangnya tidak semudah itu karena danau yang luas dan dalam.
Wu Li Mei seharusnya bisa berenang, tapi mendadak tenaganya yang belum sepenuhnya pulih habis untuk meronta melawan Yang Jia Li. Saat Wu Li Mei hendak mencapai permukaan, selalu saja tubuhnya ditarik oleh Yang Jia Li yang panik karena tidak bisa berenang.
Cukup lama mencoba untuk meraih permukaan, hingga akhirnya Wu Li Mei menyerah. Air sudah masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Pandangan mulai memburam dengan Yang Jia Li yang juga mulai tenggelam ke dasar.
Disini, di bawah sini, cahaya bulan tampak lebih redup namun indah dan perlahan mulai mengecil. Kedua tangannya terulur untuk meraih cahaya itu namun yang ada tubuh semakin jatuh ke dalam. Dingin sekali di dalam sini, kedua telinganya berdenging dan udara sudah tidak lagi memenuhi paru-parunya.
Wu Li Mei terbatuk, dan itu adalah udara terakhir yang tersimpan di tubuhnya.
Rasanya kedua matanya begitu berat, seperti mengantuk tapi dengan ujung nyawa yang sudah begitu tipis. Perlahan, mata indah itu mulai menutup bersama dengan usainya kisah Wu Li Mei. Ah, jadi seperti ini akhir kisah Wu Li Mei ya? Begitu memilukan padahal Risa tertekad untuk merubah akhir dari cerita ini. Tapi apa daya kala takdir berkata lain.
__ADS_1