
Jeruji besi itu menjadi semakin dingin, bukan hanya karena musim dingin, tetapi juga seorang wanita di dalamnya. Wu Li Mei tak bicara lagi sejak kembalinya ia ke tempat terkutuk itu, sejak pengadilan yang dijatuhkan kepadanya.
Wu Li Mei terbukti bersalah, setelah departemen kejaksaan menemukan serbuk merkuri di dalam paviliun selir agung. Penggeledahan paksa yang mereka lakukan, berhasil menemukan serbuk merkuri yang tersimpan dalam kantung. Serbuk itu disembunyikan di dalam rak buku milik sang selir. Wu Li Mei semakin dipersalahkan oleh pengakuan Yang Li saat dayang itu diadili. Dan, yang lebih mengejutkan adalah lima dayang yang muncul entah dari mana, mengaku diperintah oleh sang selir.
Tempo dari masalah ini berlangsung sangat cepat, seolah sudah diatur sesuai rencana. Tapi, itu justru semakin menimbulkan kecurigaan dari banyak pihak. Rencana yang rapi ini, justru lebih mudah untuk dibuat berantakan.
Ada satu pertanyaan dari orang-orang di istana, tentang motif Wu Li Mei meracuni Zhou Xie Ling. Sedangkan mereka bisa melihat sendiri bagaimana sayangnya selir itu pada sang putri. Tapi, lagi-lagi departemen kejaksaan menutup diri, seolah mereka ingin menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri.
Wu Li Mei tersenyum miring, cahaya telah datang. Sang selir duduk mendekat pada batas jeruji besi, ia tenang dan anggun seperti biasa.
"Salam, ibu." ujar seorang pemuda berpakaian prajurit departemen kejaksaan.
"Bagaimana caramu masuk?" tanya Wu Li Mei penasaran.
"Tidak ada yang mengenaliku dengan kumis tipis dan tahi lalat ini, bu." jawab Zhou Ming Hao, sang putra mahkota dengan sengaja menyamar agar bisa bertemu Wu Li Mei. Karena keluarga kekaisaran tak diperbolehkan menemui Wu Li Mei tentu saja.
Sang ibu tersenyum lembut, "Anak pintar!"
"Terima kasih, ibu."
"Jadi? Bagaimana keadaan Xiao Ling? Apa Guru Zhang sudah kembali?"
Zhou Ming Hao menggeleng, ia menunduk penuh penyesalan. "Belum bu, guru masih belum tahu kapan akan kembali. Tidak ada kabar sama sekali."
"Keadaan adik belum bisa sepenuhnya dikatakan baik, tapi syukurlah Xiao Yin tidak pernah pergi dari paviliun putri. Para dayang utusan Ibu Permaisuri sangat tidak berguna, Dayang Hong pun belum dibebaskan padahal sudah terbukti tidak bersalah."
Wu Li Mei meresapi keadaan istana yang sedang kacau, masalah datang tanpa celah untuk membalikkan keadaan. Tapi, bukan Wu Li Mei namanya jika tidak bisa membalikkan keadaan. "Aku punya tugas untukmu, sayang."
"Katakan bu, apapun akan aku lakukan." balas sang putra mahkota, "Kami pun melakukan yang terbaik untuk membebaskanmu, tapi departemen kejaksaan bergerak terlalu cepat."
"Tak apa jika mereka berlari terlalu cepat, kita bisa pelan-pelan dan mengatur strategi. Mari simpan tenaga, dan temukan celah untuk menyalip mereka."
Zhou Ming Hao mengangguk, "Baik bu."
__ADS_1
Wu Li Mei memberikan kode pada sang putra untuk mendekat, Zhou Ming Hao pun menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan keadaan. Baru setelah dirasa aman, ia. mendekat pada sang ibu.
Wu Li Mei membisikkan deretan kalimat yang dengan mudah sang putra mahkota pahami, Zhou Ming Hao pun tersenyum senang mendengarnya.
Sang putra mahkota mengangguk, "Aku mengerti ibu."
"Pergilah, nak. Waktumu tidak banyak, hanya seminggu sebelum hukuman gantungku dilaksanakan."
Zhou Ming Hao meraih telapak tangan sang ibu, mencium dan menggenggamnya erat. "Aku akan mengeluarkan ibu dari sini, bersabarlah, bu."
...****************...
Semua orang yang dibutuhkan dalam rencana penyelamatan Wu Li Mei sudah berkumpul, di sebuah tempat rahasia di istana. Di dalamnya ada Kaisar Zhou, ibu suri, Panglima Hao, dan dua anak kembar Wu Li Mei. Dayang Yi dan Kasim Hao akan turut ambil bagian dalam rencana kali ini.
"Apa Yang Jia Li lagi kali ini?" tanya ibu suri.
Kaisar Zhou mengangguk, "Benar, ibu. Dugaanku kuat mengarah pada permaisuri. Karena memang tidak ada orang lain lagi selain wanita itu."
Ibu Suri mengerutkan keningnya, "Zhou Xing Huan?"
"Benar, Yang Mulia."
"Dia ada disini?" tanya Ibu Suri pada sang kaisar, pasalnya, hampir dua bulan Zhou Xing Huan berada di istana. Dan ia sama sekali tidak menghadap Ibu Suri.
Kaisar Zhou mengangguk, "Ia datang sebelum aku kembali dari Negeri Su."
Ibu Suri berdecak, "Cihh, dasar anak selir murahan. Ia bahkan tak tahu sopan santun. Mengapa kau mengangkat menjadi pangeran, itu terlalu berlebihan untuknya."
Zhou Xing Huan adalah anak dari seorang selir yang paling dibenci Ibu Suri, karena selir itu licik dan tamak. Ia tidak tahu dimana seharusnya ia berada, jadi ibu Zhou Xing Huan merencanakan kudeta untuk melengserkan ibu suri.
Namun, sayangnya rencana itu dapat dibaca dengan jelas oleh Ibu Suri. Kesialan justru berbalik, dan selir itu menerima hukuman pengasingan. Pengasingan adalah hukuman yang biasanya dijatuhkan untuk keluarga kekaisaran yang membelot, melakukan kejahatan, atau bahkan membunuh.
Tapi untuk kasus Wu Li Mei, sangat jelas jika selir itu dari awal memang hendak dimusnahkan.
__ADS_1
"Nenek." Zhou Fang Yin menggengam tangan keriput sang nenek, "Bantulah kami untuk menyelamatkan ibu, dia tidak bersalah dalam hal apapun."
"Aku tahu putri." jawab Ibu Suri. "Tapi apa yang bisa wanita tua renta ini lakukan? Aku tidak akan bisa ikut bertarung."
"Tak perlu bertarung, nenek." Zhou Ming Hao mendekat pada Ibu Suri.
"Lalu?"
Zhou Ming Hao menyampaikan sebuah rencana yang dituturkan oleh Wu Li Mei, sebelumnya sang pangeran telah melakukan diskusi alot dengan kaisar dan Panglima Hao.
Rencana Wu Li Mei memang satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan wanita itu, tapi jika melibatkan ibu suri, awalnya Kaisar Zhou tidak berpikir jika sang ibu itu akan ikut membantu Wu Li Mei.
"Jadi, aku harus mendekati Zhou Xing Huan dan Yang Jia Li?"
Ming Hao mengangguk, "Benar, nenek."
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk mencari informasi, nenek. Mereka pasti menyembunyikan sesuatu yang menjadi kunci kesalahan mereka."
"Cihh, tidak sudi!" tolak Ibu Suri mentah-mentah, ia paling anti untuk berhubungan dengan dua orang itu. Yang Jia Li yang menyebalkan, dan Zhou Xing Huan anak selir terkutuk.
Ming Hao dan Fang Yin saling tatap, mereka lalu merengek sambil menggoyangkan lengan hanfu sang nenek. "Ayolah, nenek. Itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ibu."
"Nenek hanya perlu mengalihkan perhatian mereka sejenak, agar mereka tidak melihat rencana lain yang tengah kita siapkan."
"Nenek, ibu adalah orang baik. Percayalah, dia tidak akan menyakiti Xiao Ling." bujuk Zhou Fang Yin. "Adik sangat membutuhkan ibu di sisinya."
"Setiap hari, tidak pernah terlewati tanpa pertanyaan tentang ibu. Adik sudah sangat menderita dengan sakitnya, dan kini Ibu justru tidak ada di sampingnya."
Ibu Suri melunak mendengar penuturan Zhou Fang Yin, ia pun tidak buta, ia sering berkunjung dan melihat sendiri keadaan Zhou Xie Ling tanpa Wu Li Mei. Sangat kacau!
"Baiklah, aku akan melakukannya." putus Ibu Suri
__ADS_1