Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Catatan herba beracun


__ADS_3

“Kau tidak menemukannya? Bagimana bisa? Buku itu sudah jelas ada disana Jia’er, kau yakin sudah mencari dengan sungguh-sungguh?”


Yang Jia Li merotasikan bola matanya, ini sudah pertanyaan yang kesekian kali sang ayah tanyakan. Ia sudah mengobrak-abrik perpustakaan istana dan rak penyimpanan buku-buku lama, tapi hasilnya sama sekali tidak menemukan catatan tentang ramuan herbal apalagi catatan herba beracun yang dimaksudkan oleh sang ayah. “Tidak ayah, sudah kubilang aku tidak menemukan apapun disana. Aku sudah mencari satu demi satu rak dan barisan buku tapi tidak ada satu pun catatan tentang herba beracun, lagipula mengapa kau menyuruhku untuk mencarinya, suruh saja Jian Zhu untuk melakukannya. Dia tidak berguna dan hanya duduk manis di kursi kepala departemen tanpa melakukan apapun.” Kesal wanita itu.


“Jian Zhu mungkin bisa, tapi ia tidak akan dengan leluasa mencari Jia’er. Prajurit penjaga perpustakaan akan mencurigainya dan rak buku lama sudah jelas dijaga dengan ketat.”


“Lalu bagaimana? Apa buku itu tidak ada yang lain lagi?” tanya Yang Jia Li, “Aku tidak mau kembali ke tempat itu dan mencarinya untuk kedua kali, bau buku-buku itu membuatku pusing ayah.”


“Bagaimana lagi, tabib itu memerlukan catatan yang ada di perpustakaan untuk membuat racun paling mematikan. Bukankah kau ingin selir agung segera mati?!”


“Aku ingin dia mati, tapi aku tidak mau repot-repot!” ujar Yang Jia Li, wanita dengan hanfu biru itu melipat kedua tangannya lalu bersandar pada dinding pembatas aula timur. Sang ayah yang meminta mereka untuk bertemu disana karena takut kaisar akan curiga jika ia kerap mengunjungi permaisuri, sebagai mantan pemberontak tentu gerak geriknya akan selalu diawasi oleh kekaisaran.


“katakan padanya ayah, sebaiknya dia membuatkan racun yang paling ampuh untuk membunuh Wu Li Mei atau aku yang akan membunuhnya!” tambah Yang Jia Li.


Yang Zuo hanya bisa terdiam, sejak dahulu putri tersayangnya itu tidak pernah mau repot untuk melakukan sesuatu, ia lebih senang menyuruh orang lain. Berada di tahta tertinggi bagi wanita di Dinasti Ming ini juga merupakan keinginannya tapi ia tidak mau berusaha sendiri, akhirnya sang ayah turun tangan dengan membuat kekacauan bersama para pengikutnya dan meminta kaisar terdahulu meminang Yang Jia Li untuk Kaisar Zhou. Disaat seperti ini tentu saja yang terpikir olehnya adalah Yang Jian Zhu, sang kepala departemen yang tidak bisa diandalkan. Tapi mereka tetap membutuhkannya untuk jadi boneka yang bisa mereka kendalikan sesuka hati.


Yang Zuo meminjat pangkal hidungnya, “Hanya mencari buku saja kau tidak bisa, lalu apa yang bisa kau lakukan Jia Li?”


“Apa maksud ayah? Jadi ayah meremehkanku, iya, begitu?”

__ADS_1


“Karena kau memang tidak bisa diandalkan Jia Li, semua ini juga untuk kebaikanmu, tapi mengapa kau tidak bisa melakukannya.” Ujar Yang Zuo penuh kecewa, tapi sang putri tetap merasa bahwa ini bukan salahnya. Dia adalah permaisuri Dinasti Ming, dan seberapa pentingnya sebuah buku padahal hanya membuat racun saja.


Wajah sang permaisuri merah padam, ia menarik napas kasar. “Jika ayah benar-benar menginginkan buku itu maka carilah sendiri, aku yang tidak bisa diandalkan ini mana mungkin bisa untuk menemukan buku itu. Sudah ku bilang sejak awal untuk menyuruh kakak mencarinya. Ingatlah bahwa aku tidak membutuhkan racun itu, aku bisa memenggal kepala selir licik itu tanpa campur tangannya.”


“Benarkah?” Yang Zuo menaikkan alis kanannya, “Jangan terlalu percaya diri karena meskipun hilang ingatan dia tetaplah Wu Li---”


Brakkk…


Yang Jia Li dan sang ayah sontak menoleh ke arah belakang, samar mereka melihat bayang seseorang berlari menjauh setelah menjatuhkan tembikar tanah liat tanpa bertanggung jawab. “Siapa disana?!”


Yang Jia Li segera melangkahkan kaki untuk pergi melihat siapa yang telah menguping pembicaraan mereka, bisa gawat jika ada yang melaporkan percakapan mereka kepada Wu Li Mei, Kaisar Zhou atau ibu suri. Bisa-bisa gagal sudah rencana yang sudah disusun jauh-jauh hari itu. Samar, ia menangkap perawakan seorang wanita dengan hanfu berwarna merah muda yang menghilang di balik bangunan besar aula timur.


“Sial!” umpat Yang Jia Li, ia mengepalkan tangan dan mengambil arah yang berlawanan dengan orang itu. Sang permaisuri harus mencegatnya dan memastikan tidak ada apapun yang didengar olehnya.


“Kau!” tunjuk Yang Jia Li tepat di depan wajahnya, “Apa yang kau dengar di belakang aula timur tadi?! Katakan atau aku akan menghukummu.”


“Sa-saya tidak mendengar ap-apapun, Yang Mulia.” Jawabnya terbata.


“Bohong! Tidak mungkin kau tidak mendengar apapun, sudah jelas-jelas kau menguping pembicaraan tadi, sangat tidak sopan, aku akan menghukummu!”

__ADS_1


“Tidak, saya tidak mendengar apapun, Yang Mulia. Saya hanya berniat menguping, saya hanya lewat tanpa mendengar apapun.” Ujarnya dengan pembelaan, Zhou Fang Yin melirik ke kanan dan ke kiri untuk mencari alasan atau pun cara agar bisa selamat dari permaisuri.


Yang Jia Li berkilat marah, ia bisa melihat kebohongan dalam sorot mata penuh ketakutan itu. Ah, melihat Zhou Fang Yin membuatnya muak karena anak itu sangat mirip dengan ibunya, bahkan sifat dan perilakunya juga nyaris sama. Sekeras apapun ia mencoba untuk merubah sang putri menjada apa yang dia inginkan, tetap saja Zhou Fang Yin berpihak pada Wu Li Mei. Sungguh menyebalkan!


Sang permaisuri melangkah maju, tapi Zhou Fang Yin segera mundur untuk menghindari sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya. Ia pernah dicekik dan didorong ke dalam danau oleh permaisuri, tapi kali ini tidak akan terjadi lagi. Zhou Fang Yin bersiaga sekalipun ia sangat ketakutan, terlebih kejadian saat tenggelam di danau itu seolah terputar lagi di kepalanya. Sejak saat itu pula Wu Li Mei melatihnya berenang dan segala hal untuk bertahan hidup seperti berkuda, memanah, dan berpedang untuk bela diri. Seharusnya putri kekaisaran tidak mempelajari hal itu, tapi Wu Li Mei dan Guru Zhang mengajarinya secara diam-diam.


“Lalu apa yang kau lakukan disana?!” tanya Yang Jia Li, “Katakan apa yang kau dengar tentang pembicaraanku, atau aku akan membunuhmu seperti hari itu.” Bisik sang permaisuri dengan tatapan bengis.


“Saya tidak mendengar apapun!” sanggah Zhou Fang Yin.


“Bohong! Kau pembohong! Katakan atau aku akan membunuhmu!”


“Cepat katakan apa yang kau lakukan di belakang aula timur!” teriak Yang Jia Li marah.


“Dia tidak melakukan apapun.” Suara itu berhasil membuat Yang Jia Li juga sang putri menoleh, Zhou Fang Yin merasa lega karena penolongnya datang tepat pada waktunya. “Aku yang memintanya untuk mencari tembikar, aku membutuhkan tembikar kecil karena kami ingin membuat manisan dari buah. Tapi sayangnya tidak ada.”


Yang Jia Li mengatur ekspresi wajahnya agar lebih tenang, “Benarkah itu?!” tanyanya kepada Zhou Fang Yin.


Sang putri pun mengangguk, “Benar, Yang Mulia.”

__ADS_1


“Memangnya ada apa, Jia Li?”


“Tidak!” Yang Jia Li menggeleng, “Tidak ada apa-apa, ibu suri.” Jawabnya, wanita itu pun menundukkan kepalanya dan segera melangkah pergi sebelum ibu suri bertanya macam-macam.


__ADS_2