
Tersisa satu hari lagi sampai toko obat Nyonya Wu kembali dibuka. Ini akan menjadi awal yang baik karena seluruh pasar, bahkan seluruh negeri sudah menantikannya. Toko yang baru jauh lebih luas dan tertata, banyak rak yang dipesan oleh Wu Li Mei datang kemarin dan sekarang sudah penuh dengan stok obat, bantuan herbal kering dari kekaisaran sangat membantu dan bisa cepat disalurkan pada rakyat yang membutuhkan.
Wu Li Mei menepuk telapak tangannya yang sedikit berdebu, "Hmm, sebentar lagi toko ini akan bisa dibuka kembali. Besok, kalian semua harus bersiap karena kita mungkin akan sangat sibuk."
"Kami akan berusaha keras, nyonya!" jawab Lan Suo bersemangat.
"Apa besok nyonya juga akan membuka praktek?" tanya Meng Suo, ia menoleh sekilas sebelum tangannya kembali fokus pada bungkusan obat yang dirangkai menjadi satu.
"Ku harap besok nyonya datang, karena besok penghujung minggu dan sudah pasti sangat ramai. Aku mendengar kabar dari pedagang di pasar kalau banyak utusan bangsawan dari seluruh negeri akan datang kemari besok, mereka pasti sangat menantikan untuk bertemu dengan nyonya!"
"Apa itu benar?" tanya Zhou Ming Hao, ia menoleh ke sang adik dan tersenyum bangga. "Wahh, ibu ternyata sangat terkenal ya."
"Kalau benar mereka datang untuk membeli obat, itu bagus, semoga saja tidak ada yang mengacaukan pembukaan toko obat besok." Zhou Fang Yin harap-harap cemas karena dia juga merasa sedih akan toko obat lama yang terbakar.
Suo bersaudara juga ikut menunduk cemas, "Semoga saja semuanya baik-baik saja, kami jadi takut kalau penjarahan dan kebakaran itu terulang kembali."
"Aku masih takut, kakak."
Wu Li Mei menghembuskan napas pelan, dia bisa mengerti traumatik yang dialami para remaja ini. Mereka semua dan Wu Li Mei sudah mendedikasikan diri setulus hati untuk toko obat, dan melihatnya hancur lalu jadi abu di depan mata sendiri membuat semangat yang membara itu patah. Wanita itu jadi mengingat kembali pada hari pertama dia menjadi seorang dokter, semuanya berada dalam kendali hingga seorang pasien tidak berhasil dia selamatkan hingga menyebabkan trauma yang mendalam.
Perasaan itu kini muncul lagi, diselingi was-was dan takut akan kegagalan. Tapi sebagai pejuang, dia tidak boleh memiliki perasaan itu.
Wu Li Mei menghampiri Suo bersaudara yang sedang menunduk sendu sembari berkutat dengan obat, sang nyonya menepuk bahu kedua pemuda itu. "Kalian tenang saja, apapun yang terjadi besok atau lusa. Semuanya sudah digariskan oleh Tuhan, yang penting kita sudah berusaha keras untuk melakukan yang terbaik dalam membantu sesama."
"Kerugian, kerusakan, dan semua hal buruk yang terjadi harus kita jadikan pengalaman untuk lebih maju dan bangkit dari keterpurukan!"
"Lihatlah! Bahkan kekaisaran sudah mendukung kita dengan memberikan suplai obat yang cukup untuk rakyat di tengah wabah, Besok kita harus bekerja keras untuk membagikan obat dari kaisar secara gratis untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkan, para bangsawan akan tetap dikenakan biaya, meskipun hanya satu keping logam." jelas Wu Li Mei panjang lebar untuk memberikan semangat.
__ADS_1
Kedua anak itu tersenyum cerah dan mengangguk, "Baik nyonya!"
"Siap, nyonya!"
"Bagus! Harusnya begitu jangan patah semangat, karena semangat kalian sangat dibutuhkan di toko ini. Dan jangan sampai sakit, selalu ingat untuk menjaga kesehatan ya." pesan Wu Li Mei.
Suo bersaudara, kakak beradik Zhou, Dayang Yi dan Lu Yan. Mereka semua bekerja keras hari ini untuk kembali dibukanya toko obat. Kembali lagi berkutat dengan obat yang tersisa sedikit sebelum stok terakhir dari herbal kiriman kekaisaran berhasil dibungkus seluruhnya. Wu Li Mei memulainya dari penyakit yang sedang marak terjadi, wabah muntah dan demam tinggi. Seharusnya rajin meminum obat ini selama dua sampai tiga hari akan membuat mereka sembuh, tapi setiap orang punya gejala berbeda-beda dan lagi sedang krisis bahan pangan karena gagal panen.
***
"Sebenarnya apa yang sedang kita cari tuan, bukankah ini sudah hari kedua kita menyusuri pasar. Kalau nyonya sampai tahu maka tidak hanya saya, tapi tuan juga akan dalam bahaya!"
Jing Xuan menghembuskan napas kasar karena Long Bao terus saja menggerutu, memang sudah dua hari ini ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke pasar saat makan siang. Tujuannya hanya satu, karena dia masih penasaran dengan seorang gadis yang cantik jelita bernama Xiao Yin itu. Mencari ke seluruh pasar dalam dua hari ini tidak membuahkan hasil sama sekali, padahal Jing Xuan sudah memasang mata dengan sangat jeli guna melihat apakah gadis itu ada di sekitarnya atau tidak.
"Kalau kau terus menggerutu di telingaku, maka sebaiknya kau pulang saja!" ketus sang tuan muda.
"Saya tidak bisa pulang kalau tuan belum pulang." jawabnya.
"Tapi aku lelah, tuan!"
Heng Jing Xuan mendelik tajam ke arah penjaganya yang selalu setia itu, dia tidak tahu kenapa Long Bao cepat sekali lelah dan berpeluh padahal hanya berjalan pelan. Mata elang sang tuan muda menyapu sekitar lagi dan tidak mendapati gadis itu ada disana, boleh jadi dia tidak datang ke pasar atau sengaja menghindar.
Sayangnya, paras ayu itu tidak bisa lepas dari ingatan Heng Jing Xuan barang sejenak saja. Tiap malam langit-langit kamarnya selalu penuh dengan wajah cantik nan rupawan itu. Seseorang yang mengaku sebagai orang biasa, tapi terdidik layaknya bangsawan. "Kau berhenti disini saja, aku akan mencarinya sen---"
"Siapa yang ingin kau cari, Jing Xuan?"
Jing Xuan menoleh dan mendapati seorang pemuda sebayanya telah memotong ucapannya, Jing Xuan membuka kipas di tangannya guna ia sapukan pada tubuhnya yang terasa sedikit gerah. "Apa yang sedang kau lakukan disini Yang Zhen? Bersama dengan dua nona muda Xu pula, kau pasti sangat beruntung hari ini karena dikelilingi dua bidadari ya."
__ADS_1
"Begitulah seperti yang terlihat." Yang Zhen, tuan muda dari Keluarga Yang, dia adalah putra termuda Yang Hong Hui. Sama seperti Jing Xuan, semua anak bangsawan pasti punya seorang budak yang dijadikan penjaga, karena keluarganya sudah mengabdi pada keluarga bangsawan mereka.
Yang Zhen datang bersama penjaganya, dan dua nona muda Keluarga Xu yang kebetulan berpapasan dengannya. Karena saling mengenal di bangsal belajar, maka ketiganya memutuskan untuk berjalan-jalan di pasar bersama-sama. "Jadi, siapa yang kau cari di pasar ini, Jing Xuan?"
"Ah, bukan siapa-siapa. Aku hanya sedang mencari pedagang bakpao keliling."
"Bakpao?" Yang Zhen mengerutkan keningnya, "Sejak kapan kau suka bakpao, kita sudah berteman sejak kecil dan aku tahu kau tidak suka kue itu."
"Emm ... sekarang suka."
"Kenapa?"
"Karena penjualnya cantik." jawab Jing Xuan asal.
Mendengar penuturan asal dari Jing Xuan membuat nona muda Xu Ling Mei mendelik tajam, sejak lama ia menyimpan hati untuk Jing Xuan tapi pemuda itu malah tertarik pada penjual bakpao. Xu Ling Mei mendekat, "Kakak, kau mau kemana?" tanya Xu Ling Xi, adik dari nona muda itu.
Tapi sang kakak tidak mau mendengar, dia menjalan dengan anggun menghampiri Jing Xuan dan Yang Zhen. "Apa aku tidak salah dengar tadi, tuan muda Heng mencari gadis menjual bakpao hanya karena dia cantik?" sarkasnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Jing Xuan seraya memutar bola matanya malas.
"Apa yang salah dengan penjual bakpao." tambah Yang Zhen.
Xu Ling Mei mengendikkan bahunya, "Jelas salah, bangsawan seperti kita seharusnya bergaul dengan sesama bangsawan juga bukan dengan penjual bakpao atau apalah itu. Semua orang juga tahu kalau penjual bakpao itu pastilah seorang rakyat biasa atau bahkan budak."
"Xu Ling Mei, kau tidak tahu apa-apa tentang dia." sentak Jing Xuan.
"Memangnya kau lebih tahu?" tanyanya. "Kalau kau tahu seharusnya kau tidak perlu mencarinya. Jing Xuan, sebaiknya kau lupakan saja gadis penjual bakpao itu dan pergilah bersamaku."
__ADS_1
Jing Xuan memutar bola matanya malas, sudah pasti arah pembicaraan mereka adalah ini. Sepertinya semua orang tahu, bahkan keluarga keduanya juga sama tahu kalau sang nona menyukai Jing Xuan, tapi mereka juga tahu jika Jing Xuan tidak.
"Ayo Long Bao, kita pergi saja!" ujar sang tuan muda Heng.