
Panglima Hao mengeryit, melihat ada seekor elang terbang berputar tepat di atas mereka. Elang itu seperti terbang dalam kebingungan. Karena jaraknya yang cukup tinggi, sang panglima pun kesulitan melihat rupa elang itu dengan jelas. Sejauh yang ia tahu, bentang alam di lembah utara memang hamparan luas dan berbatu, jadi sangat wajar jika elang berkeliaran disana. Memilih abai, Panglima Hao kembali mengalihkan pandangannya pada sang kaisar.
Sang panglima tetap setia berdiri di sisi sang kaisar, rapat dengan penduduk dari lembah utara akan segera dimulai. Rapat kali ini adalah untuk menyelesaikan masalah gagal panen dan lumbung padi yang kurang.
Musim dingin telah datang dan negeri utara tidak memiliki cukup persediaan bahan pangan, hal inilah yang membuat sang kaisar harus pergi, padahal suasana istana sedang sangat kacau.
Kaisar Zhou tak sengaja menatap ke langit, dan ia langsung mengerutkan keningnya. "Apa elang memang sering terbang disekitar sini?" tanyanya pada penduduk desa yang sedang berkumpul.
Salah satu ketua desa mengangguk, "Benar, Yang Mulia. Elang biasa membuat sarang di lereng pegunungan Xi." ia menunjuk deretan pegunungan yang ditutupi salju.
"Ada banyak elang bersarang disana."
"Tapi, elang disana biasanya berwarna putih." ujar salah satu yang lain.
"Ya, kau benar!" setuju yang lain. "Aku juga baru pertama kali melihat elang berwarna coklat berkeliaran disini." ucapnya kagum.
Elang berwarna coklat? Panglima Hao membulatkan matanya, bagaimana ia bisa lupa. Sang panglima segera berlari menuju tempat yang lapang, kaisar dan orang-orang disana sampai terheran melihatnya.
Panglima Hao membuat peluit dengan jarinya, untuk memanggil elang itu.
Suiiiiittttt...........
Mendengar itu, beberapa elang yang terbang di atas langit langsung bermanuver untuk turun. Para prajurit dengan sigap memberikan lengan mereka untuk tempat elang bertengger, begitu juga sang panglima.
Dugaannya tak meleset sedikit pun, elang-elang itu adalah elang penyampai pesan milik Guru Zhang. Tangan Panglima Hao bergerak mengambil sebuah gulungan yang diikat di salah satu kaki elang, pria itu segera membukanya.
'Eksekusi akan dilakukan besok, Departemen Kejaksaan memajukan harinya.'
Itu adalah sederet kalimat yang tertulis disana, para prajurit lain pun bergegas memberikan gulungan kecil dengan tulisan yang sama.
"Panglima!"
Kaisar Zhou berjalan menghampiri sang panglima, "Ada apa?"
Panglima Hao segera menunduk hormat, ia memberikan gulungan kecil yang dibawa elang pada kaisar. "Ampuni saya, Yang Mulia. Saya terlambat menangkap pesan dari elang itu."
Kaisar Zhou mengetatkan rahangnya, "Belum, panglima. Kita belum terlambat, kita harus kembali secepatnya."
"Tapi perjalanan tidak akan bisa sampai tepat waktu, Yang Mulia."
"Kita harus tetap pergi."
Salah satu ketua desa yang tak sengaja mendengar percakapan kaisar pun mendekat, "Maaf, Yang Mulia. Ada apa?"
__ADS_1
Kaisar pun menoleh pada pria tua itu, "Aku harus segera kembali ke istana, istana sedang kacau."
"Oo, begitu rupanya."
"Adakah jalan lain untuk menyintas waktu, aku sampai di istana malam ini."
Para penduduk desa saling tatap, satu-satunya jalan yang mudah untuk dilewati adalah jalan melalui lembah. Tapi itu membutuhkan waktu setidaknya dua hari. Sebenarnya ada jalan lain, tapi harus melewati pegunungan Xi yang curam. Mereka tidak yakin untuk menyarankan jalan itu.
"Sebenarnya ada, Yang Mulia."
"Benarkah?"
Para ketua desa mengangguk, "Benar." ujar salah satunya. "Tapi jalan itu sangat berbahaya."
"Katakanlah!' titah Kaisar Zhou.
"Jalan itu membelah pegunungan Xie yang curam dan berbahaya, Yang Mulia." jelas sang ketua desa. "Tidak bisa membawa kereta kuda untuk melewatinya."
Panglima Hao dan Kaisar Zhou saling tatap, mereka butuh untuk cepat sampai di istana apapun caranya. "Apa kuda bisa melintas?"
"Kuda?"
"Ya."
"Tunjukkan aku jalannya!"
...****************...
"Uhhukk.... uhhukkkk..... " putri kecil itu kembali terbatuk, cairan berwarna merah membekas di sapu tangannya. Zhou Xie Ling kembali terbatuk darah, padahal beberapa hari lalu kondisi kesehatannya sudah membaik.
Zhou Fang Yin memberikan ramuan herbal pemberian Tabib Zhong untuk sang adik, selama Wu Li Mei dan Dayang Hong belum dibebaskan, ia lah yang merawat Zhou Xie Ling.
"Ayo, minumlah, adik." ujarnya lembut, ia duduk di pinggir ranjang untuk membantu adiknya minum obat.
"Lagi?"
"Ya." jawab Zhou Fang Yin, "Agar kau lekas membaik, ayo minumlah."
"Tidak mau."
"Mengapa?"
"Obat itu sangat pahit." jawab Zhou Xie Ling lesuh, tubuhnya tak bertenaga lagi karena terbatuk semalaman.
__ADS_1
Kedatangan Guru Zhang kembali ke istana tak hanya membawa saksi kunci untuk eksekusi Wu Li Mei esok hari, tapi juga obat bagi Xie Ling. Herba langka yang hanya tumbuh di pegunungan Negeri Su, herba itu dipercaya bisa menyembuhkan seseorang yang terkena racun merkuri. Tapi, herba itu sangat pahit dan berwarna gelap.
Mendengar jawaban sang adik, Zhou Fang Yin hanya bisa menarik kembali cawan kecil berisi obat yang ia berikan. Ia menunduk, karena matanya mulai terasa memanas. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Zhou Xie Ling selain meminum obat, obat yang pahit dengan bau menyengat racikan Tabib Zhong.
"Maafkan, aku." ucap sang putri setengah tercekat, ia menghapus kasar air mata yang perlahan turun. "Maaf, tidak ada yang bisa kulakukan selain memaksamu minum obat."
"Kakak, mengapa kau menangis?" tanya Xie Ling, wajah pucat tak berseri itu semakin sendu. Ia ingin mengangkat tangannya untuk menghapus air mata sang kakak, tapi rasanya sangat sulit. Sang putri kecil hanya bisa terbaring di ranjang.
Sang kakak menggeleng, ia tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja."
"Tapi kau menangis."
"Aku tidak menangis."
Zhou Fang Yin mengusap surai halus sang adik, ia lalu menaikkan selimut sampai sebatas dada. Agar sang adik merasa lebih hangat. "Tak apa jika kau tidak ingin meminum obatmu, kau istirahat saja sekarang."
Xie Ling mengangguk, dan segera memejamkan matanya yang terasa berat.
Zhou Fang Yin menggenggam tangan sang adik dan menunggunya sampai tertidur. Hal yang biasa Wu Li Mei lakukan untuk Zhou Xie Ling, sebisa mungkin ia contoh. Sang adik selalu menanyakan keberadaan Wu Li Mei dan Dayang Hong, tapi Zhou Fang Yin hanya bisa terus berbohong dengan mengatakan mereka pergi ke suatu tempat.
Setelah sang adik tertidur, Zhou Fang Yin segera pergi dari kamar itu. Ia tak bisa lagi menahan air matanya yang memaksa untuk keluar, ia merasa bingung dan takut. Besok adalah hari eksekusi Wu Li Mei, hanya tinggal menghitung jam. Sekalipun mereka sudah memiliki cukup bukti untuk membela Wu Li Mei, tapi tetap saja, sang kaisar belum kembali untuk menjadi pelengkap rencana penyelamatan sang ibu.
Zhou Fang Yin terduduk di pelataran paviliun putri yang sepi, ia menangis sambil membekap mulutnya. Melihat kesehatan sang adik yang semakin menburuk, menbuatnya pilu.
Derap langkah pelan yang datang, disusul sapuan halus dipunggungnya membuat sang putri mendongak.
"Kakak?"
Zhou Ming Hao ikut bersimpuh, ia meraih bahu sang adik untuk direngkuh. Ia pun sama kalutnya dengan Fang Yin, tapi berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Pelukan hangat dari sang kakak tak kunjung membuatnya tenang, sang putri menenggelamkan wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan segala keluh kesah yang mendera hatinya.
"Aku takut....... hiks....... aku takut kehilangan ibu."
"Aku bingung.... tidak tahu harus melakukan apa."
"Semakin hari kesehatan adik, semakin memburuk."
"Ia terbatuk darah lagi, seperti dulu."
"Apa yang harus aku katakan pada ibu, jika. aku gagal menjaganya."
Tangan sang putra mahkota mengelus pelan puncak kepala Zhou Fang Yin, "Kau sudah melakukan yang terbaik, Xiao Yin!"
__ADS_1