Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Sang dokter


__ADS_3

Wu Li Mei melangkah masuk, diikuti dengan pria tua pedagang tembikar dan kedua anaknya yang saling tatap karena bingung. Sang ibu memasuki toko obat dengan langkah pasti, dan itu mengundang tatapan penuh tanya dari orang-orang disana.


"Salam, Nyonya Wu." sapa Lan Suo, pemuda dengan rompi putih itu tergopoh-gopoh keluar guna menyapa Wu Li Mei. Adiknya, Meng Suo, hanya menyapa singkat karena harus melayani pelanggan.


"Bagaimana kabarmu, Xiao Lan?"


"Baik, nyonya. Lama tidak bertemu."


"Yaa." Wu Li Mei tersenyum simpul di balik cadarnya, "Banyak hal telah terjadi akhir-akhir ini."


Lan Suo pun mempersilahkan Wu Li Mei dan kedua anaknya untuk masuk. Toko obat itu masih sama sejak terakhir kali sang selir menginjakkan kaki disana. Yang berbeda hanya obat-obatan herbal yang mulai menipis, tapi, di ruang penyimpanan masih ada banyak stock obat.


Wu Li Mei pun mengerutkan keningnya, selama ia menjalani kehidupan istana yang berat belakangan ini. Ia sama sekali tidak memerintahkan Suo bersaudara untuk membeli bahan obat.


Wu Li Mei menatap kedua anaknya, "Kalian yang membeli bahan obat baru?"


Sang putra mahkota menggeleng, "Tidak, bu, kami tidak melakukannya."


"Lalu siapa?"


"Tabib Zhong, nyonya." jawab Lan Suo, ia mengambil obat dan tak sengaja mendengar percakapan sang nyonya. Selama ini memang Tabib Zhong banyak membantu toko obat, seperti memeriksa stocl obat dan membeli bahan. Tabib Zhong juga yang memberikan upah kepada Suo bersaudara dan mengelola keuntungan toko untuk membeli bahan baru.


Lan Suo pun menceritakan dengan rinci mengenai apa saja yang terjadi di toko selama Wu Li Mei tidak hadir.


Wu Li Mei menggangguk paham, ia harus memberikan sebuah hadiah untuk Tabib Zhong karena telah banyak membantunya. Sang selir bersyukur masih ada banyak orang baik di sekitarnya.


"Bu, apa kau jadi membuka praktek?"


"Praktek?"


Zhou Fang Yin mengangguk, "Bukankah kau ingin membuka praktek. Seperti konsultasi kesehatan dengan tabib, kan?"


Wu Li Mei baru teringat dengan rencana besarnya untuk mengabdi sebagai dokter di negeri itu. Apakah mungkin sekarang saatnya, tapi wanita itu sangsi apakah keterampilannya sebagai dokter masih tajam atau tidak. Tapi, tidak ada yang tahu jika tidak dicoba bukan, penyakit yang umum di masyarakat hanya membutuhkan diagnosis ringan dan tidak membutuhkan laboratorium serta pemeriksaan lanjutan.


Wanita itu menuju salah satu ruangan yang memang ia khususkan untuk ruang praktek, disana ada meja, kursi, dan sebuah ranjang untuk pemeriksaan. Wu Li Mei meraih rompi putih yang sedikit berbeda dengan milik Suo bersaudara, dan mengenakannya. Rompi ini sedikit mengingatkannya pada jas putih kebanggaannya dulu.


Sang selir agung menghela napas, ia harus bersiap praktek dokter pertamanya. Rasanya berdebar, sama seperti saat pertama kali bekerja di rumah sakit.


"Xiao Ming, Xiao Yin?" panggil Wu Li Mei.


"Ya, ibu?"

__ADS_1


"Ada apa, bu?"


Kedua anak itu segera menghampiri sang ibu, mereka saling tatap setelah diberi sebuah rompi putih yang senada dengan milik Wu Li Mei.


Zhou Ming Hao mengerutkan keningnya menatap Wu Li Mei, "Apa ini?"


"Bukankah Suo bersaudara sudah cukup untuk menjaga toko obat?" tanya Fang Yin.


"Kalian tidak akan menjadi penjaga toko." jawab Wu Li Mei.


"Lalu?"


Sang selir agung tersenyum cerah di balik cadarnya, "Ibu akan membuka praktek, dan ibu membutuhkan asisten."


"Asis...ten? Apa itu asisten?"


"Emmmmh.... itu adalah seseorang yang bertugas membantu tabib. Kita akan melakukan sebuah pekerjaan mulia di setiap penghujung minggu, jadi, mau atau tidak?"


Kedua anaknya membeo, mereka pun memakai rompi yang diberikan Wu Li Mei dengan antusias. "Tentu saja kami mau."


"Jadi, apa pekerjaan pertama kami?"


"Apa yang harus kami lakukan?"


...****************...


Matahari sudah semakin meninggi, dan hari ini sinarnya sudah jauh lebih hangat. Semoga musim dingin yang penuh duka ini, akan segera berganti musim semi dengan harapan baru.


Pasar mulai ramai, sekalipun di beberapa tempat masih tertutup salju yang tebal.


Pelanggan di toko obat kali ini jauh lebih banyak berkat kabar burung yang beredar tentangnya, tapi yang menjadi ironi adalah lebih banyak dari kalangan bangsawan yang memadati pelataran toko. Rakyat miskin justru lebih memilih menepi karena mereka tidak punya cukup uang.


Wu Li Mei menoleh saat mendengar tangisan seorang anak berusia sekitar empat tahun yang tengah digendong sang ibu, anak itu penuh ruam di wajahnya yang putih.


"Kenapa dia?" tanya Wu Li Mei datang menghampiri wanita dan anak itu.


"Dia sakit, sudah tiga hari nyonya." jawab sang ibu.


"Oh benarkah?"


Tangan sang selir agung terangkat untuk memeriksa suhu tubuh di dahi anak itu, benar, tubuhnya panas seperti sedang demam tinggi.

__ADS_1


Wu Li Mei pun memeriksa ruam yang ternyata memenuhi keseluruhan tubuhnya.


"Ayo, aku akan memeriksanya lebih lanjut di dalam." ajak Wu Li Mei.


"Ayo!"


Wanita itu bergeming.


"Ada apa?"


"Maaf, nyonya, saya tidak punya cukup uang." ujarnya sedih.


Wu Li Mei kembali menghampirinya dengan senyuman, "Tak apa kau bisa membayar saat kau punya uang."


"Tapi, saya tidak tahu kapan saya punya uang nyonya."


Wanita itu terus mencoba menenangkan anaknya yang kembali menangis, ia adalah seorang kuli pengangkut barang dagangan para saudagar di pasar. Ia hanya hidup dengan anaknya, karena suaminya meninggal akibat penyakit. Wanita itu harus menghidupi anak yang tengah ia gendong dan tiga anak lainnya di rumah.


Ia hendak berbalik, meraih kembali tembikar yang belum laku ia jual pagi ini.


"Tunggu!" ujar Wu Li Mei. "Apakah itu daganganmu?" tunjuknya pada dua tembikar yang dibawa wanita itu.


"Iya, nyonya."


"Kalau begitu, kau bisa membayar dengan itu."


"Benarkah, nyonya?" tanyanya penuh binar.


Wu Li Mei mengangguk, ia menatap sekeliling. Banyak orang-orang yang melihat percakapannya dengan wanita tadi di pasar itu, akan menjadi saat yang tepat untuk menyampaikan sebuah pengumuman.


Tenggg....... Tengggg..... Tengggg......


Zhou Ming Hao memukul sebuah lonceng besi dengan keras guna mengundang orang-orang dan membuat mereka diam, sejak tadi ia berdiri bersama sang ibu. Dan ia paham jika Wu Li Mei ingin menyampaikan sesuatu tapi keadaan terlalu ramai.


"Silahkan, ibu."


"Terima kasih, Xiao Ming."


Wu Li Mei pun mengambil tempat di tengah-tengah kerumunan. "Mohon beri aku waktu sejenak untuk berbicara."


"Aku adalah Nyonya Wu, pemilik toko obat ini. Dan, aku akan menyampaikan beberapa pengumuman."

__ADS_1


Orang-orang pun antusias untuk mendengarkan, beberapa dari mereka rela menghentikan aktivitas dan memilih ikut berkumpul di depan toko obat.


__ADS_2