
“Sepertinya banyak yang harus dijelaskan disini.”
Zhou Fang Yin sontak menoleh saat sebuah suara yang ia kenali mengalun melewati indera pendengarnya dengan tegas, siapa lagi pemilik suara itu jika bukan sang kakak sendiri. Di perjalanan pulang yang larut ini, Zhou Fang Yin memilih untuk pulang sendiri padahal Heng Jing Xuan memaksa untuk mengantarnya. Atau paling tidak, ada utusan yang menjaganya.
Sialnya hari bahagia ini, dia justru bertemu dengan kakaknya sendiri, yang juga sedang berkencan dengan seorang gadis bangsawan dari Keluarga Xu bernama Xu Ling Xi. “Kau sendiri bagaimana? Tidakkah kau ingin mengatakan siapa gadis Xu itu.” Jawabnya.
Sang putra mahkota menatap adiknya sengit, “Hei, jangan membalikkan pertanyaan seperti itu Xiao Yin. Kalau sampai istana tahu jika kau menjalin hubungan asmara dengan Heng Jing Xuan, apa kata mereka. Kau ini, bukannya ibu juga sudah peringatkan untuk berhati-hati. Bagaimana kalau gosip tersebar nantinya.”
“Kenapa hanya aku yang salah?!”
“Lalu siapa lagi?”
“Kau!”
Zhou Fang Yin menunjuk sang kakak, “Kau kan juga menjalin hubungan dengan Xu Ling Xi, aku tahu kau sering pergi meninggalkan istana untuk bertemu dengannya kan.”
“Jangan membalikkan fakta.” Jawab putra mahkota berdalih, sekalipun apa yang dikatakan adiknya tidak meleset sama sekali. Dia sering meninggalkan istana hanya untuk bertemu dengan Xu Ling Xi, atau memandangnya dari jauh untuk mengobati perasaan aneh yang enggan ia namai dengan rindu.
Gerbang belakang istana menjadi tempat keduanya bertemu kembali setelah di bangsal pendidikan dan bertemu dengan Guru Zhang juga, tidak tahu apa yang sang guru pikirkan nantinya. Tapi mereka tidak mempermasalahkan hukuman, barangkali Guru Zhang mengatakan itu pada Kaisar Zhou atau ibu suri, mereka jauh lebih takut akan hal itu.
“Tidak, itu adalah faktanya.”
Kedua kakak beradik itu saling menatap sengit di bawah sinar rembulan, mereka sudah tertangkap satu sama lain, dan apalagi yang bisa diperbuat untuk menyelamatkan diri.
Si adik lebih dulu memutus kontak mata, wajah cantik jelita itu menjadi muram seketika karena ancaman yang entah serius atau tidak dari sang kakak. “Apa salahnya jatuh cinta.” Cicitnya.
“Kau menyukai Heng Jing Xuan?” tanya Zhou Ming Hao.
__ADS_1
“Ya.” Jawab sang putri tanpa ragu, dia menganggukan kepalanya dua kali dan menatap sang kakak serius. “Ku pikir aku menyukainya, hanya perasaan suka biasa, kami pun tidak pernah saling bersentuhan. Aku tahu batasanku dan aku tahu hubungan ini mungkin tidak akan berjalan, karena itu aku merahasiakan namaku.”
“Jing Xuan adalah hal baru untukku, dan aku bisa melihat ketulusan ada padanya meskipun dia tidak menyukaiku.”
“Sebaliknya … “ sela Zhou Ming Hao.
“Maksudmu?” sambung Xiao Yin cepat.
Zhou Ming Hao menghembuskan napasnya cepat, “Aku laki-laki, dan aku tahu bagaimana perangai laki-laki saat menyukai seorang perempuan. Jing Xuan jelas juga menyukaimu, tapi jangan terlalu percaya diri karena Heng Jing Xuan kabarnya sudah dijodohkan dengan Xu Ling Mei.”
“Xu Ling Mei?!!”
Kedua mata indah sang putri kekaisaran itu terbelalak tapi dengan cepat meredup, sorotnya syarat akan rasa tahu diri dimana dia sadar bahwa dia tidak akan bisa bersama dengan Jing Xuan lebih lama lagi. Bukan hal yang baru bagi para bangsawan untuk menjodohkan anak-anak mereka dengan keluarga bangsawan lain yang mempunyai kekuasaan tinggi, dengan begitu mereka akan menjadi keluarga yang disegani.
Sayangnya, sang putri tidak punya kuasa untuk mempertahankan cinta yang masih seumur jagung itu. “Tidak masalah kalau begitu, dia berhak bahagia dengan wanita pilihannya.”
“Cihh, kau sangat naif.”
“Hei, jangan merajuk begitu.”
“Jangan mengikutiku!!”
“Xiao---”
Langkah Zhou Fang Yin terhenti di tempat sebelum ia sampai menyentuh gerbang belakang istana untuk masuk ke dalam, “Salam Yang Mulia, Selir Agung Wu dalam bahaya.”
***
__ADS_1
Tidak ada perasaan yang jauh lebih kacau dari semua ini, bagaimana bisa dalam satu hari semuanya berubah begitu saja. Sang ibu masih baik-baik saja saat mereka bertemu kemarin, dia masih tersenyum manis dengan lembut seperti biasanya.
Lalu mengapa sekarang Wu Li Mei terbaring dengan wajah pucat dan bibir nyaris membiru, Tabib Zhong yang sedang memeriksanya mendadak jadi menghela napas dalam. “Kenapa Tabib Zhong? Katakan jika ibu baik-baik saja, jangan diam saja begitu.”
“Katakan jika ibu baik-baik saja kan!”
“Zhou Fang Yin!”
“Maaf, ayah.”
Kaisar Zhou mengusap bahu sang putri untuk memberikan ketenangan karena semua orang tengah kalut dengan keadaan Wu Li Mei yang berubah dalam satu malam. Sebelum semua ini terjadi, Kaisar Zhou sempat bertemu dengan sang selir dan semuanya masih baik-baik saja.
Dari Dayang Yi, dia mengatakan kalau dia menemukan Wu Li Mei tergeletak tak berdaya dengan wajah pucat di danau utara dekat aula bersama Zhou Jiang Wu yang menangis di sampingnya. Kaisar sudah memerintahkan Panglima Hao dan para prajurit untuk berjaga dan memastikan apakah ada penyusup yang senjaga melukai Wu Li Mei, tapi sayangnya tidak ditemukan bekas luka pada tubuh Wu Li Mei. Ini sangat aneh dan janggal, pergerakan di dalam istana juga tidak ada yang mencurigakan.
Sang tabib menatap para junjungannya dengan perasaan bersalah, “Saya menduga Yang Mulia Selir terkena racun, tapi saya tidak tahu apa yang salah karena tidak ada racun yang bisa bereaksi secepat ini sebelumnya. Saya akan meracik obat untuk Selir Agung Wu, saya mohon izin Yang Mulia.”
“Tabib Zhong!”
“Bagaimana keadaan ibu sekarang? Semuanya akan baik-baik saja kan?”
“Yang Mulia Selir masih belum sadarkan diri mungkin dalam waktu semalaman, demamnya juga masih tinggi jadi kita hanya bisa menunggu Putri Fang Yin.”
Raut wajah khawatir itu semakin menjadi, semua kalimat yang dikatakan sang tabib rasanya hanya menambah kekalutan pada Zhou Fang Yin dan Zhou Ming Hao, kedua anak itu tidak beranjak dari sisi Wu Li Mei, mereka terus berada di dekatnya dan memanjatkan doa. Begitu pula dengan Dayang Yi dan Lu Yan, yang diam-diam menahan pedih air mata melihat Wu Li Mei terbaring tak berdaya.
Dengan tangan bergetar dan berderai air mata, Zhou Fang Yin menggenggam tangan sang ibu yang dingin dan pucat, “Ibu pasti baik-baik saja bukan, tapi kenapa ibu jadi sangat dingin begini. Kasihan ibu!”
“Bukankah Tabib Zhong bilang ibu demam, kenapa tangan ibu sangat dingin?”
__ADS_1
Giliran Zhou Ming Hao yang dibuat semakin panik, ketika ia menyentuh tangan Wu Li Mei yang sedingin es. “Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu?”
“Apakah ada orang yang berniat jahat dengan ibu lagi?”