
“Bukankah itu Jing Xuan?”
Seorang gadis muda yang merupakan nona di sebuah keluarga bangsawan kaya menoleh ke kanan, tepatnya pada seorang pemuda yang ia kenali bersama seorang gadis. Dari hanfu sutra berwarna biru yang ia kenakan, dan semua aksesoris mahal itu menandakan bahwa dia memiliki strata yang tinggi.
Di sampingnya ada seorang pemuda lagi yang juga menoleh ke arah kanan, “Itu benar Jing Xuan, ternyata dia datang ke festival juga ya.”
“Jing Xuan suka rakyat biasa, dia pasti datang ke acara-acara seperti ini.” Ujar si gadis.
“Dia akan marah kalau dia dengar kau bicara begitu.”
“Biar saja!” Si gadis membuka kipasnya, “Ayo kita hampiri dia!”
“Jing Xuan?!”
Jing Xuan menoleh saat namanya dipanggil oleh seseorang, orang yang tidak tepat yang tidak dia harapkan untuk datang dan mengganggu. Sial, kenapa mereka harus datang disaat yang tidak tepat begini. Baru saja dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Xiao Yin.
Tautan tangannya dengan si gadis cantik tak ia lepas barang sedikitpun, sekalipun Xiao Yin mencoba untuk melepasnya karena merasa canggung dan malu.
Yang Zhen datang bersama Xu Ling Mei, mereka juga menghadiri festival padahal mereka bilang mungkin tidak akan datang karena ini bukan festival besar. Tatapan mereka sangat menggambarkan tidak suka sekaligus penasaran dengan siapa yang sedang digandeng oleh Jing Xuan, tapi mereka pernah bertemu sebelumnya. “Siapa dia? Bukannya kita pernah bertemu saat itu?” tanya Xu Ling Mei.
“Dia, temanku.” Jawab Jing Xuan.
“Apa aku sudah bertanya siapa namanya dan darimana dia berasal?” Xu Ling Mei mendekat untuk melihat lebih dekat siapa gadis itu, dia cantik, memang sangat cantik tapi sayangnya dia terlihat berasal dari kalangan biasa.
“Kau tidak perlu tahu.”
“Baiklah.” Jawab Xu Ling Mei.
“Ayo pergi ke bangsal pendidikan, Jing Xuan, guru ingin bertemu denganmu!” ajak Yang Zhen, dia memang mendapatkan mandat dari guru besar mereka bahwa mereka ingin bertemu dengan Jing Xuan.
“Guru besar sudah datang?” tanya Jing Xuan berbinar.
“Ya, baru saja. Karena itu aku datang untuk mencarimu juga.”
__ADS_1
Guru besarnya telah datang, dan Jing Xuan harus menemuinya sesegera mungkin karena buku yang dia pesan pasti sudah dapat. Tapi, dia tidak bisa meninggalkan Xiao Yin sendirian disini, apalagi bersama dengan kedua temannya itu. Hanya mengambil buku saja, itu pasti tidak akan lama, lagipula mungkin Xiao Yin juga ingin melihat bangsal pendidikan yang banyak ia ceritakan kepadanya.
Jing Xuan menoleh kepada si gadis cantik, “Bagaimana kalau kau ikut denganku ke bangsal pendidikan, apa kau keberatan?”
“Aku … apa aku boleh ikut? Apa kau akan lama? Aku harus segera kembali sebelum petang.” Jawab Zhou Fang Yin.
“Tidak lama.”
“Baiklah.”
“Tunggu!” tahan Xu Ling Mei, “Kau akan mengajaknya juga? Tapi dia bukan bagian dari bangsal pendidikan, dia juga … sepertinya dia bukan dari kalangan bangsawan.” Ujarnya merendahkan.
“Itu tidak menjadi masalah, bangsal belajar tidak melarang manusia manapun untuk datang kesana!” tegas Heng Jing Xuan.
“Tapi, dia kan—”
“Sudah, Ling Mei!” Yang Zhen mengikuti langkah Jing Xuan yang pergi ke tempat tujuan mereka, bersama dengan gadis cantik bernama Xiao Yin, kalau tidak salah Jing Xuan memanggilnya begitu.
Xu Ling Mei semakin terbakar api cemburu, dia sudah menyukai Jing Xuan sejak lama tapi gadis biasa itu justru dengan mudah mengambil hatinya. “Cih, apa dia buta sampai harus digandeng begitu!”
“Kau berasal darimana, nona?” tanyanya kepada Zhou Fang Yin.
“Aku berasal dari tempat yang jauh.” Jawabnya.
“Dimana itu?”
“Maaf, aku tidak bisa memberitahumu.”
“Sombong sekali.” Guman Xu Ling Mei lirih, “Kalau begitu siapa namamu? Marga keluargamu apa? Dan apa hubunganmu dengan Jing Xuan?”
“Xu Ling Mei!” sentak Jing Xuan, nona Xu itu langsung mendapatkan lirikan tajam. “Jangan penasaran dan terlalu banyak bertanya, ini bukan urusanmu.”
“Apa salahnya? Aku hanya bertanya saja.”
__ADS_1
Zhou Fang Yin tersenyum ramah pada gadis muda yang terlihat sangat tidak menyukai dirinya itu, “Kalau kau sangat ingin tahu namaku, kau bisa memanggilku Xiao Yin saja nona.”
“Kalau begitu perkenalkan, aku Xu Ling Mei, putri tertua Keluarga Xu. Kau pasti tahu bahwa ayahku adalah gubernur kan, yaa, aku adalah anak gubernur. Jadi jangan macam-macam denganku atau kau akan merasakan akibatnya sendiri.”
Sepertinya menyombongkan diri adalah tabiat dari anak-anak bangsawan yang dibesarkan dengan cara yang sedikit keliru. Banyak bangsawan yang mendoktrin anak-anaknya untuk bersikap tinggi hati, kasar dan semena-mena kepada rakyat biasa terutama rakyat jelata yang tidak punya tempat tinggal. Ironisnya, mereka adalah orang-orang terdidik yang tahu akan pendidikan tapi justru bersikap layaknya orang yang tidak menyentuh pendidikan.
Tak mau menanggapi Xu Ling Mei terlalu larut, Zhou Fang Yin memilih untuk menatap ke depan dan melanjutkan perjalanan mereka. Dia juga penasaran dengan tempat yang selalu diceritakan oleh Jing Xuan sebagai bangsal pendidikan dan tempat untuk belajar.
“Itu dia guru besar!” tunjuk Yang Zhen.
“Kau tunggulah disini dulu ya.” Ujar Jing Xuan kepada Zhou Fang Yin, si gadis hanya mengangguk dua kali sebagai jawaban.
Baguslah, rupanya dia ditinggalkan hanya bersama dengan Yang Zhen dan Xu Ling Mei. Dua orang yang begitu penasaran akan jati dirinya tapi dilarang Jing Xuan untuk mencari tahu lebih dalam, “Kau datang darimana, nona? Kenapa aku benar-benar tidak pernah melihatmu sebelumnya, padahal kita berada di dunia yang sama.”
“Aku datang dari jauh.”
“Ya, dimana?” tanya Xu Ling Mei sedikit kesal.
“Untuk apa kalian begitu penasaran denganku, sementara aku sama sekali tidak merasa penasaran dengan kalian. Akan selalu ada yang tidak bisa kalian ketahui dengan mudah, dan salah satunya aku.” Jelas Zhou Ming Hao.
“Kau sombong sekali!” maki Xu Ling Mei terang-terangan, “Kau hanya rakyat biasa dan bukan dari kalangan bangsawan kan, itu sebabnya kau tidak mau menyembutkan marga keluargamu dan asalmu. Kau pasti malu dengan dirimu sendiri, ingat ya! Kau hanya dijadikan budak saja oleh Jing Xuan, bukan berarti dia suka kepadamu, nona sombong!”
“Ehheemm …. “
Xu Ling Mei dan Yang Zhen langsung menunduk penuh hormat saat guru besar mereka datang bersama Jing Xuan, suara khas dari pria tua dengan rambut yang sudah memutih itu langsung membuat mereka bergidik.
Mata tajamnya menatap ketiga remaja itu dan dia membeku mendapati wajah yang dia kenali bersama dengan muridnya, “Ya---”
Kalimatnya terjeda saat gadis cantik dengan hanfu sederhana itu meletakkan telunjuknya di depan bibir sebagai tanda untuk diam.
Sang guru berdehem marah, “Ucapan bisa menjadi pedang yang akan melukai tanpa menyentuh, sebaiknya kalian berhati-hati untuk memelihara lisan agar tidak menyesal di kemudian hari.”
“Baik, Guru Zhang!”
__ADS_1