Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Kekecewaan


__ADS_3

Wu Li Mei menatap dingin Yang Jia Li yang tengah dibopong oleh beberapa prajurit. Wu Li Mei tahu jika permaisuri licik itu hanya berpura-pura, tentu saja, itu adalah keahliannya. Netranya tak sengaja bertemu dengan Zhou Xing Huan, pangeran itu kembali meronta saat para prajurit menggiringnya kembali ke penjara. Ada rasa iba melihatnya harus menanggung kesalahan Yang Jia Li dengan nyawanya, tapi itu adalah hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Sekalipun Wu Li Mei tahu jika Zhou Xing Huan hanya dimanfaatkan dalam situasi ini, pangeran muda yang polos dan naif itu pasti hanya termakan hasutan Yang Jia Li.


Wu Li Mei mengepalkan tangannya, kali ini permaisuri licik itu berhasil lolos lagi. Padahal ia sudah mati-matian mengungkap kebenaran tentang Yang Jia Li. Wu Li Mei berdiri, ia hendak melayangkan protes pada kaisar. Tapi, kedua anaknya datang menghampiri bersama ibu suri. Wu Li Mei terpaksa menahan diri.


"Bu, apa-apaan ini!" adu Zhou Ming Hao.


"Bagaimana bisa lolos semudah itu?" tambah Zhou Fang Yin tak habis pikir, kedua saudara kembar itu melihat upacara pengadilan dari awal sampai akhir. Mereka tentu saja merasa kecewa dengan keputusan yang dibuat oleh kaisar. Mereka sudah mati-matian mengumpulkan bukti tapi hasil yang didapat sangat tidak sesuai.


Ibu suri menatap rombongan yang membawa sang permaisuri dengan kesal, "Kita sudah punya cukup bukti, harusnya cukup untuk menghukum Yang Jia Li."


Zhou Fang Yin mengangguk, "Ya, nenek. Tapi pendukung ibu permaisuri sangat kuat, apa yang harus kita lakukan?"


Para pendukung Yang Jia Li sudah bukan rahasia lagi jika mereka sangat terang-terangan mengendalikan kekaisaran, banyak anggotan Klan Yang menjadi pejabat tinggi di kekaisaran. Oleh karenanya, Yang Jia Li tidak perlu merasa khawatir dengan tingkah yang ia perbuat. Contohnya saja masalah kali ini, ia dengan mudah lolos berkat campur tangan Yang Hong Hui dan Yang Jian Zhu. Dua orang yang menjadi pilar penopang kekuasaan Yang Jia Li.


"Bu, ayo lakukan sesuatu!"


"Aku tidak bisa menerima keputusan ini."


"Bu, kita harus melakukan sesuatu sebelum terlambat." desak Zhou Ming Hao. Sang putra mahkota kesal sendiri melihat rombongan Yang Jia Li, mungkin mereka terlihat kacau dan kalut karena sang junjungan tak sadarkan diri. Tapi dalam hati pastilah mereka tengan bersorak kegirangan.


Wu Li Mei mengangguk, ia memegang pundak kedua anaknya. "Ibu akan bicara dengan kaisar, kalian tunggulah di paviliun Xiao Ling. Kita akan menyusun rencana selanjutnya disana, jagalah Xiao Ling untuk sementara waktu."


Sang selir melirik lewat ekor matanya kaisar hendak pergi, cepat-cepat ia mengikutinya. Langkahnya membawa wanita itu ke deretan ruangan yang ada di belakang pelataran aula. Rupanya, Kaisar Zhou pergi menuju ruangan khusus di aula penyiksaan. Apa yang sedang dilakukannya, Wu Li Mei tak tahu pasti, yang pasti ruangan-ruangan ini mungkin gudang menyimpanan senjata.


Wu Li Mei menunggu dari balik pintu saat kaisar masuk ke dalam sebuah ruangan yang tersembunyi, wanita itu lebih memilih menunggu saat yang tepat untuk bicara. Ia diam sambil memilin jari-jari lentiknya mengusir bosan.


"Mei-er?"


Wu Li Mei menoleh, tapi selir itu hanya diam tanpa berniat menjawab apapun. Tatapan matanya dingin dan datar, sekilas tatapan itu sama persis dengan Wu Li Mei yang dulu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya kaisar lagi.

__ADS_1


"Saya ingin bicara."


Kaisar Zhou mengerutkan keningnya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang mencuri dengar. "Haruskah disini?"


"Ya."


"Baiklah, katakan!"


Wu Li Mei menatap lekat manik hitam yang menghanyutkan itu, tidak ada lagi kekaguman untuknya, yang ada hanya rasa kecewa. "Mengapa kau meloloskan permaisuri?" tanya Wu Li Mei langsung.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku?" sang selir menghela napas jengah. "Apakah ini adalah keputusan yang adil?"


"Yang Jia Li jelas-jelas terlibat dalam racun merkuri itu, tapi kau justru menjatuhkan hukuman hanya pada Zhou Xing Huan. Ini tidak adil bukan? Lihatlah apa yang telah ia lakukan pada putriku. Dia meracuninya dengan sengaja."


"Zhou Xie Ling hampir mati karena racun itu, dan kau malah membebaskan permaisuri kali ini."


Kaisar Zhou menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka, ia pun sudah menduga jika Wu Li Mei adalah orang pertama yang akan marah dengan keputusannya. Tapi apa mau dikata, bukti untuk menjerat Yang Jia Li masih kurang, bahkan hakim agung pun menerima pembelaan dari Klan Yang.


Kaisar tentu saja bisa menolak hasil putusan, tapi kemungkinan untuk tetap menyalahkan Yang Jia Li atas masalah ini sangat kecil. Mereka masih belum punya bukti kuat untuk itu.


"Kita belum punya bukti yang kuat untuk menghukum permaisuri."


"Bukti yang kuat?!" ulang Wu Li Mei. "Oh, astaga! Yang benar saja, apa bukti-bukti yang kita punya semuanya belum cukup kuat."


"Bukti-bukti itu lebih merujuk pada Zhou Xing Huan, Mei-er."


"Lalu?" Wu Li Mei menaikkan alis kanannya, "Apakah itu alasan yang tepat untuk meloloskannya? Bagaimana dengan hiasan giok?"


Kaisar Zhou menghela napas pelan, ia meraih kedua telapak tangan Wu Li Mei.dan menggenggamnya. Tangan lentik itu terasa dingin, bercampur dengan suhu musim dingin yang beku. "Kita harus mengalah untuk lebih mempersiapkan diri, Mei-er. Yang Jia Li bukanlah orang sembarangan, ia tidak bisa dihancurkan dengan mudah. Ada banyak pendukung setianya di belakang, jika ingin menjerat Yang Jia Li, kita butuh jebakan yang kuat."

__ADS_1


Wu Li Mei menyentak kedua tangannya, "Kau salah! Kita bukan mengalah, kita kalah." balasnya.


Wu Li Mei mengalihkan pandangannya saat kedua matanya mulai mengabur, lagi-lagi ia lemah, kecewa, dan marah. Tapi ia tak bisa melampiaskan emosi di kepalanya saat ini.


"Aku memang tidak bisa mengandalkanmu." ujar Wu Li Mei pelan dan dingin.


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak bisa mengandalkanmu." ulang sang selir agung.


Kaisar Zhou menajamkan matanya, menghunus tepat di manik sang selir. "Kau meragukanku?"


"Setelah semua ini, mustahil aku masih mempercayaimu."


"Aku masih punya rencana, Mei-er. Ini masih bel-----"


"YANG MULIA!"


"YANG MULIA!"


Wu Li Mei dan kaisar kompak menoleh pada satu titik, Dayang Yi. Sang dayang nampak tergopoh-gopoh berjalan menghampiri Wu Li Mei.


Dayang Yi segera menunduk hormat, wanita paruh baya itu mengatur napasnya yang tersengal.


"Sa..sa...salam, Yang Mulia."


"Bangkitlah!" titah Wu Li Mei.


"Putri......putri Xie Ling!"


"Ada apa dengan Xiao Ling?!" Wu Li Mei tanpa sadar meninggikan nada bicaranya, jika sudah menyangkut dengan sang putri kecil, Wu Li Mei selalu was-was.

__ADS_1


"Putri batuk hebat, Yang Mulia."


__ADS_2