Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Hari-hari berbeda


__ADS_3

Musim dingin kali ini nampaknya akan lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya, hawa beku berkepanjangan ini akan semakin membekukan hari-hari pilu. Hari yang tak lagi sama karena waktu terus berputar, dan hidup harus terus berjalan. Meninggalkan dan ditinggalkan, seperti roda berputar silih berganti. Hari ini mungkin kita masih bersama orang terkasih, tapi esok hari atau lusa, atau mungkin beberapa jam lagi, tidak ada yang tahu kapan tepatnya waktu perpisahan terjadi.


Istana pun menjadi berbeda, semua orang masih dalam suasana duka. Perayaan menyambut musim dingin ditiadakan demi menghormati Putri Zhou Xie Ling yang telah berpulang.


"Setelah semuanya, ibu rasa hidup harus terus berjalan." ujar Wu Li Mei memecah hening kepada kedua anak tersayangnya. Sang ibu mencoba memberikan semangat baru agar mereka tidak terus meratapi duka.


"Ya, bu."


"Kalian mau makan kue?" tanya Wu Li Mei, "Xiao Yin, kau ingin makan kudapan?"


Zhou Fang Yin menggeleng.


Ia masih sangat berduka atas meninggalnya sang adik, putri itu masih tampak murung dan tidak seceria sebelumnya. Sang putri sangat menyesali sikap acuhnya pada adiknya dulu.


"Nanti saja, bu."


"Baiklah." Jawab Wu Li Mei.


"Apa salju mulai meleleh?" tanya Wu Li Mei lagi, melihat pelataran paviliunnya yang sudah tak lagi dipenuhi salju.


Zhou Ming Hao ikut menoleh, ia pun berpikir demikian bahwa musim dingin akan segera berganti. "Semoga musim dingin ini cepat berlalu, bu."


"Aku sangat menantikan musim semi." ujar Fang Yin dengan secercah senyuman.


"Ya, kita harus melakukan banyak hal bersama di musim semi nanti."


"Tentu, ibu."


Waktu kiranya cepat berjalan, sudah hampir seminggu lamanya sejak hari penuh duka itu. Kegiatan di istana sedikit demi sedikit mulai kembali normal, hanya paviliun putri yang tampak lengang.


Wu Li Mei menjentikkan jarinya saat terlintas sesuatu di benaknya, "Bagaimana dengan toko obat?" tanyanya.


Zhou Ming Hao dan sang adik saling tatap, mereka lalu menepuk kening mereka bersama-sama. Dulu memang mereka masih mengurus dan menerima laporan toko obat dari Lan Suo, sejak keadaan istana makin runyam. Yaitu Wu Li Mei ditangkap dan Zhou Xie Ling semakin memburuk, mereka tak lagi mengurus toko obat.


Sang putra mahkota menatap Wu Li Mei dengan penuh rasa bersalah.


"Maaf, bu, kami lalai menjaga toko." ucapnya.


Zhou Fang Yin pun ikut menunduk, "Terakhir kali kami menerima laporan, itu sudah satu bulan yang lalu. Saat itu semuanya masih baik-baik saja, tapi...."

__ADS_1


"Kami tak tahu lagi bagaimana kabar toko obat, bu." tandasnya.


Bukannya marah, Wu Li Mei justru tersenyum lembut kepada keduanya. Itu bukanlah kesalahan kedua buah hatinya, karena toko obat itu sepenuhnya adalah tanggung jawab dirinya. Wu Li Mei yang membangun toko itu dengan harta yang ia miliki.


Tawa renyah Wu Li Mei mengudara, "Kalian tidak salah, toko obat itu adalah tanggung jawab ibu."


"Seharusnya ibu berterima kasih karena telah banyak membantu ibu."


"Bagaimana kalau kita berkunjung esok hari? Bukankah besok adalah penghujung minggu."


"Apa tidak masalah meninggalkan istana sekarang?" tanya Zhou Fang Yin ragu.


"Tak apa, lagi pula kunjungan itu tak akan lama." jawab sang ibu.


...****************...


Keesokan harinya, Wu Li Mei sudah bersiap sejak pagi dengan hanfu sederhana dan cadar yang biasa ia kenakan. Kedua anaknya pun mengunjunginya pagi-pagi sekali.


Pagi ini matahari bersinar jauh lebih hangat, udara juga mulai menghangat. Salju-salju yang menutupi sebagian jalanan mulai meleleh. Di sepanjang perjalanan menuju ke pasar, ketiganya saling bercerita dan mendengar banyak hal terjadi. Salah satunya adalah penyakit deman dan ruam yang banyak menyerang penduduk di musim dingin kali ini.


Berita tentang toko obat pun sampai di telinga mereka, seorang pria tua dengan pakaian lusuh datang mengabarkan di sepanjang jalan menuju pasar.


"Iya, demamku hilang dalam sehari setelah meminum obat dari toko obat di pasar." ujar pria tua itu.


"Kalau begitu aku harus membelinya, anakku demam sejak dua hari lalu." ujar seorang pria penjual sapu.


Beberapa orang yang berkumpul untuk mendengar cerita pria tadi pun saling tatap, "Apakah obat itu harganya mahal? Aku tidak punya cukup uang untuk membelinya. Lihatlah, daganganku belum laku sejak kemarin." ucap seorang wanita sedih.


Pria tua itu pun terdiam sejenak, "Obat itu tidak mahal, hanya saja aku harus membayar dengan semua keping yang ku punya."


"Memangnya berapa?"


"Tiga keping logam."


Wanita itu pun menunduk lesuh, jangankan tiga keping logam, satu saja ia tidak punya. "Kurasa aku harus menunda untuk membeli obat, aku tak punya cukup uang."


"Mengapa mahal sekali?!" keluh seorang wanita lagi.


"Hey! Obat itu sama sekali tidak mahal, semua orang akan melakukan apapun untuk bisa sehat, bukan?"

__ADS_1


"Tapi aku sangat miskin dan tidak punya uang."


"Apa tidak boleh ditukar dengan barang saja, contohnya tembikar ku ini." seorang pedagang tembikar menunduk lesuh, ketiga anaknya di rumah menderita demam dan ruam selama empat hari belakangan. Toko obat di pasar bagai secercah harapan untuknya, tapi apa mau dikata karena ia pun tidak punya uang sekeping pun.


Hati sang selir agung mencelos, mendengar keluhan dari rakyatnya yang berada di dalam garis kemiskinan. Mereka bersusah-payah menyambung hidup, dan kini harus membayar obat yang harganya mahal.


Wu Li Mei merutuki dirinya sendiri karena menetapkan harga yang terbilang mahal untuk mereka. Satu ikat racikan obat yang bisa diminum 5 - 7 kali, diberi harga satu keping logam.


"Apa aku keterlaluan?" guman Wu Li Mei.


"Bu?" panggil Zhou Fang Yin, sang ibu pun menghentikan langkahnya sejenak.


Wu Li Mei menatap sang putri, "Ada apa, Xiao Yin?"


"Bagaimana kalau kita menurunkan sedikit harga obat?" tawarnya.


"Maksudmu?"


"Bagaimana kalau kita tukar dengan suatu barang sebagai alat pembayaran?" Wu Li Mei mengangguk-angguk, yang dimaksud sang putri pastilah sistem barter. Dimana barang ditukar dengan barang atau jasa. Itu ide yang baik tentu saja, tapi apakah nantinya toko obat itu akan memiliki keuntungan?


Wu Li Mei menggeleng keras guna mengusir pikiran gila dari otaknya, kehadirannya disini bukan untuk meraup uang dan bermegah dengan harta. Wu Li Mei datang ke negeri ini adalah untuk kebajikan. Lagipula, harta sang selir agung tidak akan habis dengan cepat.


"Ide yang bagus, putriku." puji Wu Li Mei.


"Terima kasih, bu."


Mereka bertiga pun melanjutkan perjalanan, hingga tibalah mereka di sebuah toko obat di pasar yang ramai. Ada beberapa orang yang datang untuk membeli obat, tapi tak sedikit yang hanya melihat dari luar.


Wu Li Mei menepuk bahu salah seorang pria tua yang membawa ikan-ikan kering untuk dijual.


"Ya, nyonya?"


"Apakah anda ingin membeli obat?" tanya Wu Li Mei.


Pria tua itu mengangguk, "Iya."


"Mengapa tidak masuk ke dalam?"


"Saya tidak punya uang, nyonya." ujar pria itu sedih. "Dagangan saya belum laku."

__ADS_1


Wu Li Mei tersenyum lembut di balik cadarnya, "Kalau begitu kau bisa menukar obat itu dengan ikan mu."


__ADS_2