Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Dayang Hong


__ADS_3

Wu Li Mei menatap bangunan kokoh di hadapannya itu dengan tatapan tak terartikan, wanita dengan hanfu jingga itu memasuki aula departemen kejaksaan bersama rombongan dayangnya.


Wu Li Mei berdiri di depan pintu masuk, ada dua pengawal menghadangnya. "Salam, Yang Mulia Selir Agung."


"Bangkitlah!"


"Aku ingin bertemu dengan kepala departemen kejaksaan." ujar Wu Li Mei tanpa basa-basi.


Kedua prajurit itu mengangguk, salah satu dari mereka memimpin jalan untuk Wu Li Mei. Hanya Wu Li Mei yang boleh masuk ke dalam, rombongan dayang dan prajurit yang mengawal harus menunggu di luar.


Saat kembali menginjakkan kaki di tempat itu, rasanya sangat aneh, seperti memori saat ia dipenjarakan dengan paksa terulang kembali. Ada secuil rasa takut, namun rasa marah jauh lebih dominan. Wu Li Mei berusaha mengendalikan diri, dulu ia pernah berkata pada dirinya sendiri untuk tidak pernah kembali ke tempat ini lagi. Tapi hari ini, ia justru datang dengan suka rela ke tempat terkutuk itu.


Wu Li Mei mengagumi bagaimana bersih dan rapinya ruangan di departemen kejaksaan. Ada banyak penghangat dan perapian, berbanding terbalik dengan penjaranya yang sangat dingin dan kotor. Sang pengawal berhenti di salah satu ruangan dengan pintu tertutup rapat, ruangan itu berada di pojok bangunan dan mengarah langsung pada penjara.


Tokk......Tokkk......Tok......


Sang pengawal mengetuk pelan pintu kayu berukiran indah itu, "Salam, Tuan Yang Jian Zhu. Ada yang ingin menemui anda."


"Siapa?" tanya suara berat dari dalam ruangan.


"Selir Agung Wu Li Mei."


Hening, tidak ada jawaban dari dalam ruangan untuk beberapa saat. Wu Li Mei dan sang pengawal pun saling tatap. Sang selir memberi kode kepada pengawal untuk mengetuk kembali pintu ruangan Yang Jian Zhu.


Tokk.....Tok....Tokk....


"Maaf, Tuan?"


"Y...ya...ya... biarkan Selir Agung Wu masuk!" titah sang kepala departemen dari dalam ruangan.


"Baik, Tuan."


Pengawal itu membuka pintu ruangan khusus untuk Yang Jian Zhu. Saat pertama kali masuk, hanya hening yang menyambut sang selir. Ia juga tak melihat Yang Jian Zhu di meja kerjanya, meja kerja yang penuh dengan lembaran kertas penting namun tetap rapi.


Wu Li Mei menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan saat ia masuk semakin dalam, wanita cantik itu berdiri dengan anggun di tengah-tengah ruangan.


"Salam, Yang Mulia." sapa Yang Jian Zhu.


"Bangkitlah!" titah Wu Li Mei.


"Mari, silahkan duduk." Yang Jian Zhu mempersilahkan sang selir agung untuk duduk di dipan kecil dengan meja di tengahnya. Setelah keduanya sama-sama duduk, Yang Jian Zhu kemudian menyeduh teh melati untuk tamu terhormatnya.


Yang Jian Zhu meletakkan cangkir kecil itu di hadapan sang selir agung.

__ADS_1


"Ada perlu apa anda menemuiku?" tanyanya datar.


Wu Li Mei menatap dingin cangkir teh di hadapannya itu, lalu beralih pada Yang Jian Zhu, "Aku ingin Dayang Hong dibebaskan segera."


"Dayang Hong?"


"Ya."


Yang Jian Zhu mengingat kembali nama itu, "Kepala dayang di paviliun putri?"


"Ya." jawab Wu Li Mei lagi, "Xiao Ling membutuhkan Dayang Hong, kesehatannya sangat buruk dan ia ingin bertemu dengan pengasuhnya." tambah sang selir merendah, prioritasnya adalah membebaskan Dayang Hong, bukan beradu mulut dengan Yang Jian Zhu.


"Maaf, tidak bisa semudah itu." ujar Yang Jian Zhu.


"Tolonglah! Demi putri kecilku, aku tidak tega melihatnya sedih karena merindukan Dayang Hong."


Yang Jian Zhu hanya bungkam.


"Jika perlu, tempatkan beberapa pengawal departemen kejaksaan untuk mengawasi Dayang Hong di paviliun putri." tawar Wu Li Mei lagi. "Putriku membutuhkan Dayang Hong."


"Kami masih melakukan proses menyelidikan untuk kasus ini." balas Yang Jian Zhu.


"Tapi, dia sudah terbukti tidak bersalah." sanggah Wu Li Mei.


Wu Li Mei merotasikan bola matanya, ia tahu semua ini tidak akan berhasil. Yang Jian Zhu adalah pendukung sang permaisuri jadi ia tidak akan mau menurutinya. "Para dayang di paviliun putri sudah terbukti tidak bersalah kecuali Yang Li."


"Hakim Agung sudah memutuskan bahwa Permaisuri Yang Jia Li dan Pangeran Timur lah terbukti bersala--"


"Tapi hakim tidak memutuskan para dayang tidak bersalah." sela Yang Jian Zhu tak kalah meninggi.


Wu Li Mei menghembuskan napas kasar, ia menatap sang kepala departemen dengan tajam. "Beraninya kau menyela ucapanku." ujar Wu Li Mei dengan nada dingin.


"Maaf, Yang Mulia."


"Aku hanya ingin kau membebaskan Dayang Hong untuk Zhou Xie Ling, apakah sesulit itu?"


Yang Jian Zhu hanya diam, membebaskan Dayang Hong sama saja dengan memihak pada Wu Li Mei. Ia tidak siap jika sang ayah mengamuk memaki-maki sikapnya yang membela musuh. Dayang Hong masih menjadi kunci untuk kasus ini, karena Yang Jia Li membutuhkannya sebagai kambing hitam. "Mari saling menghargai dan menghormati tugas masing-masing, Yang Mulia. Tugasku adalah melakukan penyelidikan untuk kasus racun merkuri ini."


"Saling menghargai dan menghormati?" Wu Li Mei tersenyum miring. "Apa aku harus menghargai orang yang sama sekali tidak menghargaiku?"


"Keadaan putriku sangat tidak baik, bisa saja ini adalah permintaan terakhirnya. Tidak bisakah kau mewujudkannya?"


"Paling tidak, pertemukanlah ia dengan Dayang Hong, satu jam saja jika kau sangat keberatan."

__ADS_1


Yang Jian Zhu menggeleng lagi, "Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa."


Wu Li Mei menatap sang kepala departemen kejaksaan dengan sorot mata yang mampu menusuk relung hati Yang Jian Zhu, sorot tajam dan penuh amarah juga rasa kecewa. Pria itu sampai memalingkan pandangannya.


"Ku rasa kau tidak akan menurutiku karena kau adalah anjing peliharaan Yang Jia Li."


Mendengar itu, Yang Jian Zhu langsung menatap marah sang selir. "Tolong jaga ucapan anda!"


"Apa?" tantang Wu Li Mei. "Aku tidak salah menilaimu wahai kepala departemen kejaksaan. Lihatlah kini, sikap setiamu yang berlebihan itu, telah membutakan hati nuranimu."


"Jika kau tidak percaya padaku, cobalah buktikan! Lihatlah bagaimana putriku begitu menderita karena ulah adikmu."


Wu Li Mei berdiri dengan perasaan marah dan kecewa. Ia tetap tidak bisa mengendalikan emosinya, padahal sejak tadi sudah mati-matian menahan diri. "Apa mau dikata, sekeras apapun aku memohon kau akan tetap bergeming. Tapi akan kupastikan kau tidak akan bergeming, saat sesuatu yang buruk terjadi pada putriku." ancam Wu Li Mei.


"Yang Mulia Kaisar, datang!"


Wu Li Mei mengerutkan keningnya saat mendengarnya, kaki yang awalnya hendak melangkah pergi pun menjadi urung. Keduanya saling tatap saat sang kaisar masuk ke dalam ruangan.


"Mei-er?" tanyanya. "Apa yang kau lakukan disini?"


Yang Jian Zhu segera bangkit, ia menghadap kaisar sambil menunduk hormat. "Salam Yang Mulia, semoga kaisar hidup seribu tahun."


"Bangkitlah!" titah Kaisar Zhou.


Kaisar Zhou menatap Wu Li Mei cukup lama, tapi wanita itu terus saja menundukkan pandangannya. "Apa yang dilakukan selir agung disini?"


"Maaf, Yang Mulia?" tanya Yang Jian Zhu.


"Apa yang dilakukan selir agung disini?" ulang kaisar lebih tegas.


Yang Jian Zhu terdiam sejenak, "Selir agung meminta pembebasan untuk Dayang Hong."


"Dayang Hong?"


"Kepala dayang di paviliun putri."


Sang kaisar mengangguk-angguk, pria dengan hanfu bermotif burung phoenix itu menatap Yang Jian Zhu. "Kalau begitu turuti dia!" titahnya.


Wu Li Mei dan Yang Jian Zhu mendongak, menatap sang kaisar dengan lekat. "Ma...maaf.. Yang Mulia?"


"Ku perintahkan kau membebaskan Dayang Hong, segera!"


"Baik, Yang Mulai Kaisar."

__ADS_1


__ADS_2