
Wu Li Mei membuka kedua matanya perlahan, menyesuaikan cahaya temaram yang masuk ke retinanya. Ia mengerjap lagi, tempatnya sekarang ini, apakah ia masih Wu Li Mei, ataukah raga yang lain?
Sejujurnya wanita itu masih berharap besar di dalam hatinya, suatu saat nanti terbangun dengan aroma rumah sakit yang menyengat. Tak masalah dengan banyaknya selang yang terpasang di tubuhnya, bunyi pip monitor, atau teman dan keluarga yang menangis dari jendela kaca ICU. Semua itu pasti terasa seperti bangun dari sebuah mimpi yang sangat panjang.
Sang selir berusaha bangkit walau sulit, tubuhnya lemas tak bertenaga dan kepalanya terasa sangat pening. Wu Li Mei terduduk sambil memegangi kepalanya, wanita cantik itu lalu melihat sekeliling. Kamarnya masih sama, semua ornamen dan aroma terapi sedap malam ini pun sama.
Terakhir yang ia ingat adalah kejadian tak terduga di pelataran aula penyiksaan, Yang Jia Li ditangkap dan ia dibebaskan. Setelahnya ia tak ingat apapun lagi.
"Ibu!!"
Wu Li Mei menoleh saat pintu kamarnya terbuka, beberapa orang masuk ke dalam, salah satunya adalah gadis muda yang berlari menghampiri Wu Li Mei. Zhou Fang Yin memeluk sang ibu pelan, takut jika tindakan cerobohnya akan melukai Wu Li Mei.
"Ibu, apa ibu baik-baik saja?" tanyanya, gadis itu duduk di dekat Wu Li Mei.
"Mana yang sakit, bu?"
Wu Li Mei hanya tersenyum lembut sambil menggeleng pelan.
"Oh, seharusnya ibu duduk bersandar." sang putri dengan cekatan membantu Wu Li Mei untuk bersandar di kepala ranjang. "Apa ibu ingin segelas air?"
"Sebentar biar aku ambilkan."
"Aku akan meminta dayang untuk menyiapkan hidangan juga."
"Ibu, tunggu sebentar ya."
Zhou Ming Hao hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kehebohan sang adik, ia tahu sendiri bagaimana Zhou Fang Yin sangat menghormati dan menyayangi Wu Li Mei. Saat selir itu tak sadarkan diri pun, putri Kekaisaran Ming itu tetap setia di sisinya.
Zhou Ming Hao mengambil tempat saat sang adik berlalu meninggalkan ruangan, pemuda itu memeluk erat sang ibu.
"Apa ibu benar baik-baik saja?"
"Aku sangat takut tidak bisa menjalankan rencanamu dengan baik."
Wu Li Mei mengusap puncak kepala sang putra, "Tak apa, kau sudah melakukan segalanya dengan baik."
Zhou Ming Hao tersenyum, ia mengangguk pelan. "Aku tahu ini akan berhasil, aku hanya takut terlambat, dan semuanya akan sia-sia."
__ADS_1
"Xiao Ming, kau sudah melakukan yang terbaik." ujar Wu Li Mei, suara wanita itu pun masih halus dan lemas. Ia memaksakan untuk bicara karena menghargai kerja keras sang putra.
"Terima kasih, bu."
"Aku yang seharusnya berterima kasih."
"Tidak." Zhou Ming Hao menggeleng, "Ini sudah tugasku untuk melindungi ibu."
Sang putra mahkota menggenggam erat.kedua tangan Wu Li Mei, "Percayalah bu, aku akan selalu melindungimu dalam keadaan apapun. Jadi, ibu bisa mengandalkanku. Aku adalah putra ibu, mintalah aku melakukan ini itu. Aku jauh lebih bisa diandalkan daripada Xiao Yin, percayalah bu."
Mendengar itu, Zhou Fang Yin hanya merotasikan bola matanya sambil menghela napas. Ya, apapun keadaannya, dimana pun itu. Sang kakak akan selalu mengibarkan bendera persaingan dengannya.
"Baiklah! Baiklah!!"
Sang putri dengan sengaja menarik Zhou Ming Hao untuk bangkit, "Baiklah, putra.mahkota yang bisa diandalkan. Ibu masih harus istirahat dan mengisi tenaganya, jadi bisakah kau pergi dulu?"
Para dayang masuk ke dalam kamar Wu Li Mei untuk menyiapkan hidangan ringan, karena sepertinya Wu Li Mei masih enggan untuk makan terlalu banyak. Sekalipun hidangan di meja itu terlihat menggoda, tapi selir itu sedang kehilangan nafsu makannya. Ia hanya meminta Dayang Yi untuk mengambilkan beberapa makanan saja, sisanya Wu Li Mei lebih banyak menenggak air karena mulutnya terasa sangat kering.
...****************...
"Lepaskan aku!!!"
"Hei kau! Cepat lepaskan aku."
Yang Jia Li mengamuk di dalam penjaranya, sejak masuk, wanita cantik itu tidak mau tenang sebentar saja. Ia sibuk memaki dan berteriak minta dilepaskan. Ia jelas tidak sudi untuk mendekam di penjara yang dingin ini, apalagi Wu Li Mei pernah berada disini. Yang Jia Li masih menemukan tusuk konde miliknya dulu, yang mengaja ia lempar pada Wu Li Mei tapi tidak berhasil
Sang permaisuri mendelik tajam saat seseorang masuk ke dalam ruang tahanan. Orang itu berjalan dengan tegap menghampirinya, sorot mata tajam itu tak kalah garang dari Yang Jia Li.
"Sialan kau!!" umpat sang permaisuri.
"Cepat lepaskan aku dari sini!"
"Aku tidak mau ada disini!"
Melihat orang itu hanya bergeming, Yang Jia Li menjadu semakin marah. Ini adalah penghinaan terbesar baginya, bagaimana bisa seorang permaisuri ditahan di dalam penjara departemen kejaksaan.
Yang Jia Li mengepalkan tangannya, buku-buku jarinya pun sampai tercetak dengan jelas. "Kau adalah orangku, mengapa kau malah menuruti titah kaisar sialan itu untuk menahanku?! Bodoh, kau selalu bodoh dan tidak bisa diandalkan. Jika saja bukan karena ayah yang memintaku, kau pasti tidak akan menjadi kepala departemen kejaksaan."
__ADS_1
"Apa lagi yang kau lihat, cepat lepaskan aku dari dalam penjara ini."
Yang Jian Zhu mengepalkan kedua tangannya di balik hanfu, selalu saja penghinaan yang ia dapatkan saat bertemu dengan sang adik, Yang Jia Li. Wanita itu selalu merasa paling tinggi dan paling berkuasa, dan Yang Jian Zhu tak bisa melakukan apapun untuk melawannya.
"Aku bisa membebaskanmu dari penjara ini, tapi kau tidak boleh keluar dari departemen kejaksaan."
Sang permaisuri mengerutkan keningnya, "Maksudmu?"
Kedua tangan Yang Jian Zhu bergerak untuk membuka gembok yang terpasang di pintu penjara. "Departemen kejaksaan harus mematuhi perintah kaisar."
"Sialan!" Yang Jia Li mengibaskan hanfunya, agar debu di dalam penjara itu tidak ikut menempel di hanfu mahal miliknya. "Mengapa aku harus, aku mau pergi dari sini."
Langkah Yang Jia Li terhenti saat dua pengawal menutup akses menuju ke luar, "Menyingkirlah, aku mau pergi!"
"Kau tidak bisa pergi!"
Yang Jian Zhu menghampiri sang adik dengan langkah pelan penuh intimidasi, wajah datar dan dingin itu berubah menjadi senyuman licik. "Departemen kejaksaan ditunjuk langsung oleh kaisar untuk melakukan penyelidikan terhadap racun merkuri dan orang-orang yang terlibat di dalamnya."
"Menurutlah!" titah Yang Jian Zhu.
"Aku tidak bisa membiarkanmu keluar dari tempat ini, tapi sebagai gantinya, kau tinggalah di ruangan itu."
Yang Jia Zhu menunjuk salah satu ruangan di pojok kanan, itu adalah ruangan kecil untuk berdiskusi. Disana sudah disiapkan alas tidur tanpa ranjang dan meja kecil.
Yang Jia Li berdecak, "Yang benar saja kau
, ruangan sempit ini tidak bisa ditinggali."
"Aku tidak mau ada disini!"
"Apa kau bodoh? Apa kau tuli? Kau tidak dengar dengan apa yang aku sampaikan?"
"Aku ini permaisuri Dinasti Ming!"
"Dasar tidak berguna! Kau adalah kakak yang paling memalukan di dunia."
"Aku malu mempunyai kaka sepertimu."
__ADS_1
Umpatan demi umpatan, makian demi makian, dan hinaan demi hinaan terlontar keras dari Yang Jia Li.
Dan mirisnya, Yang Jian Zhu hanya bisa terdiam mendengarnya.