Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Dayang pengkhianat


__ADS_3

Sekantung koin emas itu dilempar dengan angkuh, seseorang yang melemparnya duduk manis seraya menyilangkan kakinya. Menatap rendah seorang gadis muda yang bersimpuh di kakinya, ia tersenyum miring kala gadis itu dengan cepat mengambil kantung kecil itu dan menyembunyikannya. Uang selalu punya kekuatan, dan Yang Jia Li baru saja membeli sebuah kesetiaan. Ia menatap buku yang ada ditangannya dengan senyum kemenangan penuh bangga, sekalipun ia kalah cepat untuk mendapatkan buku itu di perpustakaan. Tapi ia berhasil mendapatkan buku itu pada akhirnya, tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga tentu saja.


“Baguslah, tidak sia-sia aku menjadikanmu dayang di paviliun Wu Li Mei. Kau ternyata bisa diandalkan juga gadis kecil.” Ujar sang permaisuri, wanita cantik itu memakai cadar untuk menutupi wajahnya.


“Ta-tapi bagaimana kelanjutan hidup saya, Yang Mulia? Sa-saya tak-takut selir agung akan membunuh saya.”


“Kau tidak perlu khawatir, gunakan uang itu untuk pergi dari sini dan membangun hidupmu sendiri. Kau sudah tidak bisa lagi digunakan sebagai alat mata-mata karena kau pasti akan tertangkap, sebaiknya kau pergi atau aku akan membunuhmu untuk menghilangkan jejak. “


Dayang itu semakin menunduk hingga keningnya menyentuh ubin kayu, ia bersimpuh dengan serendah-rendahnya selayaknya budak di hadapan Yang Jia Li. Dayang itu memegang kaki sang permaisuri untuk memohon pengampunan. Jika saja Yang Jia Li, dua orang pengawal yang kini menghunuskan pedang ke arah dayang muda itu pasti sudah menebasnya. “Ja-jangan, jangan bunuh saya Yang Mulia. Saya punya keluarga dan orang tua, jangan bunuh saya! Ampuni saya Yang Mulia, ampuni saya!”


Yang Jia Li menaikkan alis kanannya, ia terkekeh mendengar permohonannya. “Ampuni? Bagaimana mungkin aku bisa mengampuni seorang… pengkhianat!”


“Ta-tapi, saya bekerja untuk anda.”


“Lalu?” tanya sang permaisuri, “Apa itu artinya aku akan mengampunimu? Tidak ada ampunan bagi seorang pengkhianat asal kau tahu, dayang naif sepertimu hanya akan berakhir menjadi budak, bahkan kau telah mengkhianati tuanmu demi sekantung emas.”


Sang dayang hanya bisa tertunduk sambil berlinang air mata, kedua matanya terkepal dari balik lengan hanfu. Apa yang baru saja dikatakan oleh permaisuri adalah kegilaan, dia rela mengkhianati Wu Li Mei demi mengabdi kepadanya, tapi ia justru dihina sebagai pengkhianat. “Saya bukan pengkhianat.”


“Lalu apa?”

__ADS_1


Sang dayang kecil terdiam.


“Cepat bunuh dia!”


“Ampun, Yang Mulia! Ampuni saya.”


“Beraninya kau menyentuhku, pergi atau aku akan membunuhmu?!” sentaknya, ia menyentakkan kakinya hingga gadis itu tersungkur pada ubin kayu yang kotor itu.


Jika saja bukan untuk mengambil buku tua yang kotor dan bau itu, Yang Jia Li tidak akan sudi bersusah payah menemui dayang muda itu di luar istana. Belum lagi mereka harus bersembunyi ditempat yang lembab dan gelap seperti ruangan penyimpanan berat itu. Dan, tanpa berpikir panjang, sang dayang segera pergi seribu langkah untuk melarikan diri dari hadapan Yang Jia Li. Dia harus pergi dari tempat ini menuju desa terpencil menggunakan perahu, Yang Zuo sudah menyiapkan perahu untuknya dan semoga saja ia masih bisa menggunakannya untuk lari. Tidak ada pilihan untuk tetap tinggal, karena jika bukan Yang Jia Li, pasti Wu Li Mei pun akan memenggal kepalanya.


Yang Jia Li menyerahkan buku tua itu kepada Dayang Yue, mereka segera pergi dari tempat itu sebelum ada yang melihat mereka. “Berikan buku itu kepada ayahku, Dayang Yue. Katakan juga kepada tabib itu untuk meracik racun paling mematikan, jika dia gagal, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya.”


“Baik, Yang Mulia.” Dayang Yue menunduk untuk memberi hormat dan segera pergi, mengambil arah yang berlawanan dengan sang junjungan.


Meja kayu dengan ukiran indah itu menjadi bergetar bersamaan dengan bunyi yang memekak telinga, meja itu baru saja menjadi sarana melepaskan emosi yang meluap setelah mendengar bahwa buku yang ia kirimkan tidak sampai di tangan yang tepat. Napas sang selir agung tersengal dengan tatapan berkilat marah, wajah cantiknya merah padam menahan gejolak emosi.


Melihat itu, Dayang Yi segera bersujud menempelkan dahinya pada kaki sang selir agung. “Ampuni saya, Yang Mulia. Ampuni saya, saya tidak tahu jika dayang itu ternyata seorang pengkhianat, ampuni saya!”


“Tolong jangan bunuh saya, Yang Mulia, tolong ampuni saya!” sang dayang memohon dengan sangat, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan dan air mata sudah membanjiri wajahnya yang pucat pasi.

__ADS_1


“Tolong ampuni saya, Yang Mulia!”


“Mengampunimu?” tanya Wu Li Mei dengan sarkas, ia menatap penuh amarah kepada sang dayang yang sedang bersujud memohon ampunan darinya. “Apa kau pikir buku itu akan kembali jika aku mengampunimu?”


“Ampuni saya, ampuni saya, Yang Mulia. Semua ini adalah kesalahan saya, dayang hina ini tidak punya otak sehingga melakukan kesalahan yang fatal. Maafkan saya, Yang Mulia. Mohon ampun!” Dayang Yi tidak berdalih, semua ini adalah kesalahannya, sejak awal dia yang menyarankan dayang itu untuk mengantar buku penting kepada Tabib Zhong. Dia pun tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini, dayang itu terlihat baik, tangkas dan bisa dipercaya. Sehingga sang dayang terkecoh dengannya.


Wu Li Mei memejamkan matanya, semuanya menjadi sangat rumit sekarang. Bagaimana Yang Jia Li bisa tahu jika ia mengambil buku itu, oh tidak! Lebih tepatnya, bagaimana ia bisa kecolongan dengan dayang sialan yang ternyata seorang mata-mata itu.


“Arghh!” Wu Li Mei berteriak marah, ia kembali menggebrak meja, membuat semua orang yang ada di ruangan itu bergetar ketakutan. Wu Li Mei yang asli seolah telah kembali, tatapan tanpa pengampunan itu tersorot jelas di matanya. “Sialan! Bagaimana aku bisa menjadi sangat bodoh sehingga ada mata-mata di paviliunku.”


“Apa yang harus aku lakukan sekarang, buku itu sangat penting dan sekarang menjadi sangat berbahaya jika jatuh ke tangan Yang Jia Li.”


“Keberangkatanku esok hari, apa sebaiknya aku tidak usah pergi.” Guman Wu Li Mei, ia sibuk berdialog dengan dirinya sendiri. Mencari solusi yang paling masuk akal untuk menyelesaikan masalah ini, ingin sekali ia marah kepada sang dayang yang ceroboh, tapi tidak bisa. Tentu saja tidak bisa, jasa Dayang Yi terlalu besar untuk hidupnya dan kesalahan kecil tidak akan sanggup menandinginya.


Wu Li Mei menatap sang dayang dengan perasaan marah, tapi sekuat mungkin coba ia tekan. Sampai-sampai kepalanya pening karena terlalu memikirkan ini. “Pergilah Dayang Yi, aku tidak ingin melihatmu untuk saat ini! Aku ingin sekali menghukummu tapi aku masih membutuhkanmu esok hari. Pergi dan renungkan kesalahanmu, perintahkan semua dayang dan prajurit paviliun untuk mencari dayang itu sampai ketemu!”


“Ba-baik, Yan-yang Mulia.” Dayang Yi terbata, ia lega masih diberi pengampunan untuk saat ini, tapi juga takut setengah mati karenanya.


“Katakan pada Panglima Hao untuk mencari dayang itu juga, katakan bahwa ini adalah perintahku! Cari dia sampai ketemu dan penggal kepalanya, aku ingin dia mati karena telah berkhianat kepadaku.”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia.”


“Ingat Dayang Yi, cari dia sampai ketemu apapun caranya, bahkan jika perlu cari dia sampai ke pelosok negeri ini. Aku yakin dia sedang melarikan diri saat ini.” Ujar Wu Li Mei, mata tajamnya menatap ke arah sang dayang dengan kilat amarah yang sangat mengerikan. “Jika dayang itu tidak ketemu, kau yang akan menggantikannya!”


__ADS_2