Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Bertemu dengan selir


__ADS_3

Yang Jian Zhu mendorong sang adik cukup keras hingga permaisuri itu terjatuh dari meja, sebelumnya ia menyentak tangannya kasar untuk terlepas dari cekalan tangan Yang Jia Li dari bagian tubuhnya, yang tidak sepantasnya ia sentuh. Setelah ini ia harus mencuci tangannya hingga bersih, jika perlu sampai tujuh kali.


Wanita itu memang gila, seharusnya Jian Zhu tahu jika adiknya itu tidak punya akal sehat. Syukurlah ia masih punya akal sehat untuk mengendalikan nafsunya, ia bergidik ngeri membayangkan keberingasan Yang Jia Li yang.


"Pergi!" usir Jian Zhu. "Kau sungguh keterlaluan, dimana rasa sopanmu sebagai adik. Asal kau ingat jika aku ini masih kakakmu, sekalipun kau bilang jabatanku lebih rendah darimu."


"Tapi setidaknya, aku tidak menjijikan seperti."


"Kau sangat tidak tahu malu. Bagaimana kalau sampai ada yang melihat, bagaimana jika itu kaisar? Bukan hanya kau yang akan dihukum, tapi aku juga akan dihukum mati."


"Sial!"


Yang Jian Zhu memilih pergi, darahnya telah mendidih hanya dengan kedatangan Jia Li untuk merusak harinya. Ada banyak gulungan surat yang harus ia baca dan pelajaran, tapi wanita licik itu datang untuk mengganggu.


Jian Zhu butuh kesegaran, untuk mendinginkan kepalanya yang nyaris pecah.


Sang permaisuri menatap kepergian sang kakak dengan penuh rasa kesal, ia masih terduduk di ubin dan menatap nyalang punggung tegap itu. Cepat-cepat ia merapikan kembali hanfunya dan menyusul keluar dari ruangan itu.


Wajahnya memerah padam bak menunggu waktu untuk meledak, ia berjalan angkuh menyusuri lorong sambil mengucapkan sumpah serapah.


"Ada apa, Yang Mulia? Apa terjadi sesuatu yang buruk? Anda tampak kacau." tanya Dayang Yue khawatir.


"Tidak ada."


"Tapi wajah anda terlihat sangat merah, apakah anda merasa sakit?"


"Tidak apa-apa." jawab Yang Jia Li ketus.


"Anda yakin, Yang Mulia? Mau saya panggilkan tabib?"


"Sudah ku bilang aku tidak apa-apa dayang! Apa kau tuli dan tidak bisa memahami perkataanku!!" bentak Yang Jia Li, Dayang Yue hanya mampu terdiam dan menunduk dalam. Seharusnya ia tidak terlalu ikut campur karena ia pun tahu Yang Jia Li tidak suka itu.

__ADS_1


Sang dayang dan rombongan mengikuti Yang Jia Li berjalan cepat untuk kembali ke paviliun ratu. Wanita istana itu kesal bukan main karena dengan terang-terangan telah dihina oleh sang kakak yang tidak tahu diuntung. Sudah bagus ia memberikan jabatan ini pada si tak berguna Jian Zhu, tapi apa balasan yang ia dapat. Kakaknya itu memberontak dan selalu menolak titahnya. Jika sudah begini, satu-satunya kunci adalah sang ayah.


"Salam, Yang Mulia Permaisuri."


Yang Jia Li menoleh saat suara mendayu itu masuk ke indera pendengarnya, pantas saja merasa tak asing. Ternyata yang sempat ia cari sebelum ke departemen kejaksaan telah ada di hadapannya. Selir agung itu berjalan dengan anggun sambil mengangkat dagunya dengan elegan, datang menghampirinya bersama seorang pemuda yang permaisuri kenali.


Jia Li mengerjap, asik mengumpat dan mengucapkan sumpah serapah untuk Yang Jian Zhu membuatnya tidak sadar bahwa langkah kaki sampai di aula barat.


"Salam Yang Mulia."


"Bangkit---" Tunggu! Apa yang terjadi saat ini, mengapa ia melihat wajah yang ia kenali tengah bersama dengan Wu Li Mei. Dia adalah pemuda tampan dengan baju zirah, Yang Zhe Yan. Apa-apaan ini?! Mengapa pelayan setianya, termasuk pelayan nafsunya itu bersama Wu Li Mei. "Apa yang kau lakukan disini, Zhe Yan?"


"Panglima Zhe Yan hanya kebetulan bertemu saya saat ia hendak pergi ke aula berlatih." jawab Wu Li Mei.


"Kami hanya sekedar mengobrol, karena Yang Zhe Yan akan segera dipindahkan untuk mengurus para prajurit di perbatasan." tambahnya.


Jia Li mengerutkan keningnya, "Kau berpindah tugas?"


"Ya, Yang Mulia."


"Saya mendapat perintah langsung dari kaisar, Yang Mulia permaisuri."


"Mengapa kau tidak mengatakan kepadaku sebelumnya? Aku bisa meminta pada kaisar untuk tetap menugaskanmu di dalam istana saja, Zhe Yan." ujar Yang Jia Li, ia takut jujur saja, jika tidak ada Zhe Yan maka ia tak punya lagi korban pelepasan, bagaimana jika ia ingin bercinta, sangat tidak mungkin menunggu kaisar yang tidak mau menyentuhnya.


Oh, apa lagi ini, setelah Jian Zhu, kini Zhe Yan ingin merusak harinya juga.


Yang Zhe Yan menggeleng pelan, "Tidak Yang Mulia, saya pikir tugas kali ini akan baik untuk saya. Saya senang mencoba hal baru sekalipun itu sangat sulit, tapi menjadi prajurit perbatasan akan menambah pengalaman dan keterampilan saya sebagai prajurit."


"Kalau begitu saya pamit permaisuri, selir agung!" ujar pemuda itu, "Masih banyak yang harus saya siapkan untuk pindah tugas esok hari."


"Esok hari?"

__ADS_1


"Ya, Yang Mulia Permaisuri."


"Bagaimana kau bisa pergi tanpa persetujuanku? Tidak kau tidak boleh pergi." kesal Jia Li, ia mulai merasakan di bawah sana berdenyut mendamba sentuhan Zhe Yan, tapi pemuda itu justru akan pergi esok hari.


Yang Zhe Yan menunduk hormat, "Kepindahan tugas saya sudah disetujui oleh Menteri Yang Hong Hui, Yang Mulia."


"Maaf kalau ini mengecewakanmu, tapi saya mohon undur diri."


"Ya, Zhe Yan, pergilah, pasti banyak yang harus kau persiapkan untuk keberangkatanmu." ujar Wu Li Mei.


Permaisuri sampai melupakan bahwa musuh abadinya ada disana tadi, ia terlalu terpaku pada Zhe Yan, yang sudah berani membantahnya.


Kedua wanita itu sama-sama menatap ke satu titik, dimana Zhe Yan mulai melangkah pergi. Wu Li Mei menoleh sambil menaikkan alis kanannya, "Apa kau takut, Yang Mulia?" tanyanya.


"A-aku ta-takut? Hei, apa yang kau bicarakan?"


"Mungkin saja kau takut akan kepindahannya." Wu Li Mei mengendikkan bahu.


Jia Li menggeleng cepat, tatapan tajam matanya menatap lekas Wu Li Mei dengan wajah yang kembali memerah padam. Wu Li Mei sangat angkuh, ia bersedekap dan melangkah lebih dekat pada sang permaisuri. "Ku yakin kau takut." ujar Wu Li Mei lagi, kini pelan dan penuh penekanan.


"Apa yang kau bicarakan, Li Mei! Jaga bicaramu." desisnya.


"Ups! Apa aku terlihat takut? Sayang tidak."


"Sialan kau!"


"Ahahahah." Wu Li Mei tertawa sumbang, raut kesal itu kini begitu menyenangkan untuk dilihat. Mungkin setelahnya ia akan lebih sering membuat Jia Li merasa kesal. "Ku yakin kau akan merasa takut, Jia Li. Kau takut tidak mendapatkan belaian dari panglima kecil itu, kan?"


"Ah, aku yakin tebakanku benar. Yang Zhe Yan itu gundikmu bukan? Ku rasa mulai hari ini kau harus mencari gundik yang baru."


"Sialan kau!!"

__ADS_1


Tangan Yang Jia Li melayang, bersiap mengambil ancang-ancang untuk menampar pipi putih sang selir agung. Tapi sayangnya tidak semudah itu, Wu Li Mei tangkas dan menangkapnya. Ia menggenggam lengan Jia Li dengan erat, nyaris saja membuat tulang-tulang ringkih itu retak. "Kau pikir kau bisa menamparku lagi? Sayangnya tidak semudah itu, dasar licik."


"Ini masih belum apa-apa, Yang Jia Li. Kau harus tetap membayar untuk nyawa anakku." ancam Wu Li Mei, sambil menyentak kuat lengan sang permaisuri. Jika tidak ingat ada para dayang, pasti Wu Li Mei dengan senang hati mendorongnya ke danau. Sama seperti yang dilakukan Jia Li kepadanya dulu. Tapi tidak semudah itu, Wu Li Mei masih ingin memberikan siksaan pedih sebelum permaisuri menjemput ajalnya.


__ADS_2