
Festival perahu hias di danau untuk pemujaan dewa yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk rasa syukur karena wabah sudah mereda dan perlahan hilang. Adanya festival itu membuat Zhou Fang Yin begitu bersemangat, sayangnya dia terlambat tahu karena ternyata festival sudah di mulai. Ada keramaian tapi kekaisaran tidak ikut ambil bagian, seharusnya kekaisaran tahu dan ikut menyemarakkan.
Nanti setelah kembali ke istana, dia akan mengatakan ini pada Wu Li Mei. Tapi untuk siang menuju sore yang terik ini, dia ingin menikmati waktu yang ada untuk bersenang-senang menonton festival.
Ramai sekali di tepi danau itu, pantas saja pasar tadi sangat lengang, ternyata kerumunan berpindah disana. “Wah, ramai sekali ya.”
“Ya, banyak orang akan menonton kali ini.”
“Apa festival seperti ini sering diadakan?” tanya Zhou Fang Yin.
Jing Xuan mengangguk, “Dua atau tiga kali setahun, tapi biasanya akan diadakan saat wabah penyakit sudah reda sebagai bentuk rasa syukur kepada para dewa.”
“Siapa saja yang ikut?”
“Semua orang boleh ikut, karena nantinnya perahu terbaik akan mendapatkan hadiah.”
“Apa hadiahnya?” tanya sang putri kekaisaran antusias.
Jing Xuan menunjuk ke sebuah panggung dengan tumpukan makanan dan buah-buah yang disusun seperti gunungan. “Itu dia, hanya makanan dan buah saja. Itu adalah hadiah untuk mereka yang menghias perahu paling indah. Tapi yaa, kita para bangsawan tidak akan ikut dalam festival ini karena hadiahnya sangat kecil.”
“Para bangsawan?” guman Zhou Fang Yin sedikit tidak suka saat mendengar kesombongan dalam kalimat yang baru saja diucapkan oleh Jing Xuan. “Memangnya apa bedanya bangsawan dengan rakyat biasa, kita kan sama-sama manusia juga.”
“Memang benar, Xiao Yin. Tapi kedua orang tua kami akan marah kalau sampai ada yang tahu kita ikut dalam festival.”
“Jadi, maksudmu festival ini hanya untuk rakyat biasa?”
Jing Xuan menghela napas dalam lalu mengangguk, “Begitulah, tapi ada festival lain yang jauh lebih besar dari ini sehingga kami para bangsawan akan ikut. Dan itu satu bulan lagi, festival menyambut musim gugur.”
“Festival apa lagi itu?”
“Hanya sebuah pasaraya yang menjual semua hal, dan puncak festival itu adalah perlombaan perahu hias juga, tapi kali ini jauh lebih besar dan akan dihadiri oleh banyak orang dari seluruh negeri. Kaisar konon memberikan sebongkah emas bagi pemenangkan, sehingga banyak orang akan ikut.”
Yang kali ini, Zhou Fang Yin sudah pernah mendengar sebelumnya, dan dia juga akan hadir disana sebagai putri kekaisaran mendampingi kaisar.
“Aku juga akan ikut nantinya, kau harus melihatku yaa, Xiao Yin.”
“Emm … bagaimana ya … “
“Harus! Kau harus melihatku.”
__ADS_1
“Baiklah.”
Senyuman yang begitu tulus dari Jing Xuan membuat sang putri tidak tega untuk menolak, tapi apa mau dikata karena mereka memang akan bertemu nantinya, meskipun mungkin Heng Jing Xuan akan dibuat terkaget dengan pertemuan mereka.
Zhou Fang Yin sedikit tersentak saat telapak tangannya digenggam erat oleh pemuda itu, Jing Xuan menatap ke depan dan menariknya, “Ayo, aku akan menunjukkan bagian terbaik dari festival ini.”
“Ta—tapi, Jing Xuan!!”
“Jing Xuan jangan berlari!”
“Jing Xuan!”
Jing Xuan menghentikan langkahnya yang ternyata terlalu bersemangat, dia tidak sadar telah menarik lengan gadis itu tanpa mendengarkan bahwa dia mungkin saja kepayahan menyamakan langkah. “Apa kau tidak pernah berlari, Xiao Yin?”
“Ti-tidak, huhh, kau ini!”
“Kau seperti putri kerajaan saja, Xiao Yin.”
Memang, Zhou Fang Yin ingin menjawab tapi apa daya karena dia tidak boleh membongkar identitasnya sekarang.
Bagian terbaik dalam festival ini adalah saat perahu-perahu itu telah berlayar melewati jembatan, dan sekarang mereka juga berada di jembatan itu bersama banyak orang lainnya untuk melihat lebih jelas. Jing Xuan menarik Zhou Fang Yin untuk berdiri di tepi jembatan, dia menumpukkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh si gadis untuk melindunginya dari orang-orang.
Diam-diam dia melirik Jing Xuan yang berdiri di belakangnya tanpa jarak, memerhatikan wajah tampan yang begitu mempesona itu. “Lihatlah ke depan Xiao Yin!” bisik Jing Xuan.
“Kenapa?”
“Jika kau terus menatapku, maka aku bisa menculikmu saat ini juga.” Bisik Jing Xuan lagi dengan jenaka.
***
“Tuan?”
“Xu Ling Xi?”
“Kebetulan yang indah sekali sampai kita bisa bertemu disini.” Ujar Xu Ling Xi, dia datang bersama pendampingnya. Sang nona bangsawan itu tersenyum sangat manis dan lega karena akhirnya bisa menemukan pemuda penolongnya di tengah kerumunan.
Cukup lelah rasanya mengejar pemuda itu, Xu Ling Xi harus berlari memutar untuk bisa menemuinya sekarang, setelah hampir kehilangan jejaknya berulang kali. Pendampingnya yang menjadi saksi, betapa sang nona amat sangat bahagia bertemu dengan Zhou Ming Hao.
“Aku hanya mampi untuk melihat festival, tak ku sangka kau pun juga datang.” Jawab Zhou Ming Hao.
__ADS_1
“Aku datang bersama Nuo, dia adalah pendampingku tuan.”
“Ah, begitu rupanya.”
Xu Ling Xi menoleh pada Nuo dan memberikan kode agar pendampingnya itu pergi, atau sekedar mengambil jarak dari mereka. Ling Xi ingin menghabiskan waktu berdua bersama pemuda itu saja, seperti permintaannya tempo hari di tepi sungai. “Apa kau keberatan jika aku menemanimu?”
“Dengan senang hati aku terima.”
“Tapi … “ Ling Xi sengaja menjeda kalimatnya sembari melirik pemuda gagah nan tampan itu, “Aku belum tahu siapa namamu.”
Zhou Ming Hao mengerutkan keningnya, nama ya, sayangnya dia tidak boleh mengatakan namanya kepada gadis ini atau siapapun agar identitasnya tidak diketahui banyak orang. “Namaku?”
“Tentu, tuan. Nama siapa lagi yang ingin kuketahui lebih besar dari namamu. Apa sampai nanti, aku harus memanggilmu tuan tanpa nama?” tanya si gadis lugu.
“Namaku … Wu … “
“Wu?”
Xu Ling Xi mengerutkan keningnya, belum pernah dia temui atau dengar seseorang bermarga Wu di negeri ini. Tapi mungkin juga karena dia tidak pernah tahu saja, Ling Xi tersenyum dan mengangguk. “Baik, aku akan memanggilmu Tuan Wu.”
“Ya, itu lebih baik.”
Tidak banyak yang mereka lakukan, hanya menonton festival kapal dan selanjutnya mereka hanya saling diam. Tapi kali ini, Xu Ling Xi banyak mengajukan pertanyaan, meskipun beberapa pertanyaan tentang asal usul pemuda itu sangat enggan untuk dijawab, tapi tidak masalah.
Xu Ling Xi si gadis lugu dan anggun, terkenal begitu cantik di kalangan para bangsawan. Dia sangat manis, tapi sayangnya Zhou Ming Hao tidak melihat hal yang lebih istimewa di dalam dirinya, nona bangsawan ini terlalu menahan diri dan berusaha terlihat baik dalam segala sisi.
“Apa kau punya adik tuan? Atau saudara perempuan?” tanya Xu Ling Xi lagi.
Zhou Ming Hao mengangguk, “Ya, aku punya saudara kembar, dan dia perempuan.”
“Wahh, benarkah itu? Seperti apa rasanya punya saudara kembar? Kau bilang dia perempuan kan, dia pasti sangat cantik yaa.”
Zhou Ming Hao mengangguk lagi.
“Dia mirip ibuku.”
“Siapa namanya?”
“Namanya … dia … Yin.” Jawab Zhou Ming Hao asal, pemuda itu enggan untuk menatap Xu Ling Xi karena takut ketahuan berbohong, dia memilih menyapukan padangannya para tempat yang begitu ramai itu.
__ADS_1
Hingga sorot mata tajam itu bertemu dengan sepasang mata yang juga menatapnya terkejut, cepat-cepat orang di seberang itu memutuskan kontak mata mereka. “Sial, adik kecilku sudah berani rupanya … “ gumannya lirih.