Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Kaisar kembali


__ADS_3

Buah persik di istana sudah semakin banyak berbuah, bahkan beberapa hanya terjatuh tak bersalah karena terlalu masak. Sepertinya para tupai mulai kewalahan memakan semua persik itu, dan disini lah Wu Li Mei dan para dayangnya berada. Memetik semua persik yang telah masak di pohon. Rasanya tidak adil jika hanya para tupai yang merasakan manis dan segarnya buah itu, lagipula sekalipun sang selir sudah memetik hampir dua bakul besar, sisa buah yang belum masak juga masih sangat banyak.


Jika diamati lagi, lingkungan istana pun sama dengan jalanan pulang yang ia lewati sehabis mengunjungi toko obat. Ada banyak pohon persik berbagai jenis yang ditanam disana. Sepertinya Kaisar Zhou sangat menyukai buah itu.


Musim semi memang selalu menyenangkan, angin dingin sisa musim dingin berhembus sepoi berpadu dengan hangatnya mentari. Setelah dirundung oleh musim dingin yang panjang dan penuh duka, berselimut salju dan dipeluk beku. Kini menyambut musim semi layaknya menyambut semangat hidup yang baru. Kehidupan ini harus tetap berjalan sekalipun tidak lagi sama seperti sedia kala.


Wu Li Mei menghela napas, ia tersenyum menatap buah persik di tangannya. Jika sang putri kecil masih bersamanya, ia pasti bahagia memetik persik bersama-sama.


"Yang Mulia? Apa semua buah ini belum cukup?" tanya Dayang Yi.


Wu Li Mei menoleh, ia melihat dua bakul itu sudah terisi penuh. "Ya, sudahi saja, itu sudah cukup."


"Baik, Yang Mulia."


Sang dayang segera memberi kode kepada dayang lain dan beberapa penjaga istana yang tengah memanjat pohon untuk turun. Mereka harus menyudahi karena perintah dari Wu Li Mei, "Maaf, Yang Mulia, memangnya semua persik ini untuk apa? Apa anda bisa menghabiskan semua ini sendiri?" tanya Lu Yan, sambil memilah buah yang ternyata busuk.


"Ya, Yang Mulia, manisan persik yang anda buat di awal musim dingin masih tersisa sedikit." tambah Dayang Yi.


"Tidak ada."


"Tidak ada?" tanya sang dayang lagi, "Maksud anda? Kita hanya memetiknya begitu saja."


"Ya." Wu Li Mei mengangguk, "Aku hanya tidak mau melihat para tupai menghabiskan buah segar ini sendirian."


Dayang Yi dan Lu Yan saling tatap, mereka terdiam dengan ekspresi wajah yang sangat lucu, hingga Wu Li Mei tidak tahan untuk tidak tertawa. "Ahahahha, aku hanya bercanda dayang!"


"Eh?"

__ADS_1


"Aku memetik semua ini untuk dibagikan kepada para dayang dan pengawal di paviliun selir agung." terang sang selir agung, "Aku hanya akan mengambil beberapa untuk diriku sendiri, dan sisanya kalian bagi dengan merata. Kalau kurang, petiklah lagi."


"Kata siapa kau boleh memetik sesuka hati, selir agung?!"


Wu Li Mei menoleh, ia sedikit terhenyak lalu segera menunduk hormat diikuti dayang-dayangnya. "Salam, Yang Mulia. Semoga kaisar hidup seribu tahun."


"Bangkitlah!"


Kaisar Zhou mendekat bersama rombongannya, sebelumnya pria itu memberikan kode kepada dayang dan pengawal, untuk meninggalkan mereka sendiri.


"Saya tidak tahu anda sudah kembali, maaf karena tidak menyambut."


"Tak apa, permaisuri sudah menyambutku.tadi."


"Baik, Yang Mulia."


"Eh?!"


"Tidakkah kau merasa bersalah karena tidak menyambutku?" tanya sang kaisar, "Selir agung hendaknya memberikan penyambutan untuk kembalinya kaisar dari negeri lain."


Ah! Benar juga, ia lupa jika mengantar kepergian dan menyambut kepulangan kaisar adalah tugas selir. Lagipula di dalam kekaisaran ini, selir atau pun permaisuri tidak memilih banyak hal untuk dilakukan dan dijalani. Memang bersantai setiap hari itu menyenangkan, jadi sebagai bagian dari kesibukan rumah sakit, kepalanya mendadak p


Wu Li Mei hanya menunduk hormat, ia masih terkejut melihat Kaisar Zhou ada disini. Bukankah pria itu berada di bagian negeri lain? Tapi mengapa cepat sekali kembali, biasanya jika kaisar pergi mengunjungi negeri, ia membutuhkan waktu paling cepat satu minggu.


"Kau memetik persik lagi?"


"Iya, Yang Mulia."

__ADS_1


"Apa manisanmu sudah habis? Dulu aku sengaja menanam persik disini untuk dimakan para dayang dan pengawal sepuas mereka." ujar sang kaisar, ia menatap pohon persik yang berdiri kokoh. Tak hanya daun, tapi buahnya pun rimbun. "Cepat sekali waktu berlalu, aku menanam persik ini saat kau mengandung putra mahkota dan putri Fang Yin, apa kau tidak ingat?"


Wu Li Mei mengerjap saat Kaisar Zhou menoleh ke arahnya, dia bukan sang selir yang sesungguhnya dan ia tidak tahu apa-apa. Wu Li Mei terhenyak saat kedua telapak tangannya digenggam erat oleh kaisar, pria itu berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang tak lepas sedikit pun. "Aku tahu kau belum memaafkanku untuk mendiang Putri Xie Ling, tapi izinkan aku berusaha memperbaiki kesalahan."


"Tapi, itu tidak akan membuatnya hidup kembali."


"Tidak ada yang bisa lolos dari maut, Mei-er. Semua yang terjadi ini pasti sudah kehendak dewa."


"Memangnya apa yang akan kau lakukan, kaisar?" Wu Li Mei menatap lurus pada manik hitam sang kaisar, semoga tatapan itu akan mengatakan seberapa bencinya ia kepada sang permaisuri.


Sang selir agung melepaskan tangannya, "Jika kau bahkan tidak bisa menghukum permaisuri, yang jelas-jelas bersalah untuk kematian putriku."


"Buktikan jika kau bisa membuatnya merasakan apa yang dirasakan putriku!" tantang Wu Li Mei pada kaisar.


Melihat pria itu hanya terdiam, sang selir tersenyum miris. Mungkin benar seperti dugaannya bahwa sejak awal kaisar tidak bisa melakukan apa-apa, padahal semua bukti sudah di depan mata. Wu Li Mei mengepalkan tangannya di balik lengan hanfu, "Aku tahu kau tidak akan bisa, kaisar!"


"Mei-er..."


"Tak apa!" potong Wu Li Mei cepat, "Jika kau tidak bisa melakukannya maka aku akan menghukumnya dengan caraku sendiri."


Tekad Wu Li Mei sudah bulat, biarlah ia sama dengan permaisuri karena memiliki sifat pendendam dan menghalalkan segala cara untuk menang. Wanita itu tidak peduli jika dirinya telah berubah menjadi sang selir yang dulu.


Niat awlanya dulu memang ingin menjalani kehidupan sebagai Wu Li Mei dengan penuh ketenangan, tapi apa mau dikata kalau Yang Jia Li sendiri yang mengibarkan bendera perang. Dia tidak takut! Tidak sedikit pun gentar! Dia hanya tidak ingin membuat masalah di kehidupan keduanya ini.


Tapi kali ini berbeda, hutang nyawa dibalas dengan nyawa. Ia bersumpah akan membuat Yang Jia Li membayar atas nyawa tak berdosa itu. Ia akan menghukum Yang Jia Li sama sakitnya dengan sang putri.


"Yang Jia Li bukan sembarangan orang, dia punya banyak orang berpengaruh di belakangnya. Kekaisaran bisa hancur jika permaisuri mengerahkan pengikutnya untuk menggempur istana, Mei-er."

__ADS_1


"Aku tidak peduli." balas Wu Li Mei tak kalah tajam. "Jika kau takut istanamu akan runtuh, maka aku tidak takut dengan apapun. Lindungi istanamu, akan ku bunuh Yang Jia Li dengan caraku."


__ADS_2