
Merendahkan harga diri dengan cara yang elegant, Wu Li Mei memutuskan untuk melakukan segala cara agar Yang Jia Li mendapatkan hukuman berat. Paling tidak wanita licik itu harus mendapatkan balasan dari apa yang telah dilakukannya kepada ibu suri. Wu Li Mei tidak akan tinggal diam kali ini, sudah cukup Zhou Xie Ling menjadi korban, tidak lagi ibu suri atau kedua anak-anaknya. Wu Li Mei melangkahkan kaki tanpa ragu menuju paviliun kaisar, sudah dipastikan pria itu ada di dalam dan tidak ada yang bisa mengganggu rencananya. Wu Li Mei menghela napas dalam sebelum merubah ekspresi wajahnya menjadi sedih dan tak berseri, kali ini ia harus bisa membuat kaisar berpihak kepadanya.
“Apa aku sudah terlihat sedih?” tanya Wu Li Mei kepada Dayang Yi dan Lu Yan.
“Kurang sedikit lagi, Yang Mulia.” Lu Yan menunjukkan wajah sedihnya dan ingin menangis, “Anda harus terlihat lebih sedih lagi dari ini. Tunjukkan kalau anda benar-benar merasa khawatir dan prihatin terhadap ibu suri.”
“Seperti ini?”
Wu Li Mei menujukkan wajah sedihnya lagi, kali ini versi yang lebih memelas. “Begini?”
“Jangan, Yang Mulia, anda harus tetap terlihat elegant.”
“Mungkin anda bisa mengubah tatapan anda menjadi lebih hampa dan kosong.” Ujar Dayang Yi, “Maaf untuk mengatakan ini, tapi mengingat hal-hal sedih mungkin bisa membantu, Yang Mulia.”
“Hal-hal sedih?”
“Ya, seperti berpisah dengan orang terkasih.”
“Ah … seperti mengingat Xiao Ling ya.”
“Maaf, Yang Mulia.” Dayang Yi menunduk dalam, sebisa mungkin ia tidak mengingatkan sang junjungan pada gadis kecil itu. Tapi kali ini ia harus melakukannya, karena setelah itu Wu Li Mei mendapatkan apa yang ia mau.
Mengingat putri kecilnya membuat Wu Li Mei tidak lagi merasa sedih, tapi rasa bersalah dan tidak mampu untuk melindunginya. Lebih pada rasa malu terhadap dirinya sendiri. Wu Li Mei harus membalaskan apa yang telah diperbuat oleh Yang Jia Li, dia harus membuat permaisuri licik itu merasakan apa yang dirasakan putri kecilnya selama ini.
Sang selir agung memantapkan langkah, ia masuk ke dalam ruang utama di dalam deretan paviliun yang megah itu. Dayang Yi dan Lu Yan menunggu di luar, karena selain keperluan mendesak mereka tidak boleh masuk.
“Salam Yang Mulia Selir!” sapa Kasim Hao.
__ADS_1
“Bangkitlah!”
“Apa kaisar ada di dalam?” tanya Wu Li Mei.
Kasim Hao mengangguk, “Ada, Yang Mulia.”
“Aku ingin bertemu dengannya, tolong pastikan tidak ada yang mengganggu.”
“Baik, Yang Mulia.”
Sang kasim segera membuka pintu dan mempersilahkan selir agung untuk masuk, lalu menutup pintunya untuk memastikan tidak ada yang masuk. Melihat wajah cantik yang begitu sendu, Kasim Hao sudah tahu jika ini pasti tidak akan baik-baik saja. Jika membaca situasi yang terjadi, boleh jadi ada satu hal buruk terjadi entah pada ibu suri atau Yang Jia Li.
Suara langkah kaki mengganggu ketenangan sang kaisar yang harus fokus membaca satu demi satu gulungan berisi laporan dari berbagai wilayah di Negeri Ming.
Pekerjaannya menjadi sangat menumpuk setelah kunjungan ke Negeri Hang. Banyak hal yang harus ia susun kembali agar tugasnya sebagai kaisar tidak bertumpuk-tumpuk. Tapi, kedatangan Wu Li Mei berhasil mengambil perhatian kaisar sepenuhnya, pria itu meletakkan gulungannya dan menatap sang selir.
“Salam, Yang Mulia.”
“Aku ingin mengatakan sesuatu, Yang Mulia. Aku ingin meminta satu hal kepadamu.” Ujar Wu Li Mei langsung pada intinya.
“Permintaan?”
“Ya.”
“Aku penasaran dengan permintaan itu, sepertinya bukan satu hal yang baik?”
Wu Li Mei mendongak, tatapan sendunya menatap Kaisar Zhou dalam-dalam. Semua hal yang ingin ia sampaikan sudah terangkai jelas di dalam benaknya. Kali ini tidak boleh sampai gagal, bagaimana pun caranya ia harus bisa membujuk kaisar untuk menjalankan rencananya.
__ADS_1
Wu Li Mei jatuh bersimpuh, ia menunduk dalam-dalam, dari lengan hanfunya ia mengeluarkan setangkai peony yang telah layu. Berwarna merah muda pudar dan mengering, “Kau sudah menutup mata dengan kematian anakku karena racun merkuri itu, pelaku yang sebenarnya sudah ada di depan mata tapi kau menoleh seolah tidak melihatnya.”
“Aku merasa sangat kecewa dan penuh dendam, tapi aku tetap diam karena aku percaya keajaiban akan datang kepadaku suatu hari nanti. Jadi, aku membiarkanmu terus menutup kematian Zhou Xie Ling sebagai kesalahan Zhou Xing Huan, padahal kau tahu sendiri bukan hanya dia yang bersalah.”
“Ini terlalu menyedihkan, dahulu kau begitu tak berdaya akan permasuri licik itu bukan?”
Wu Li Mei mendongak, menatap sang kaisar dengan tatapan dingin penuh dendam dan amarah. “Jika Zhou Xie Ling bukan satu hal yang berharga bagimu, kali apakah ibu suri juga begitu?” tanyanya.
“Mei-er, apa yang sedang kau bicarakan?!”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti.”
“Sebenarnya apa kau inginkan? Katakanlah!”
“Aku kau bisa mengabulkannya kali ini? Seperti aku itu aku juga bersimpuh menangis sendu di hadapanmu berharap kau menghukum Yang Jia Li atas kesalahannya tapi apa, kau tetap menutup mata dan telingamu!” balas Wu Li Mei berapi-api.
“Kali ini kau pasti akan tetap menutup matamu atas tindakan jahat Yang Jia Li, bahkan tidak berharga bahwa dia ibumu. Kau akan terus memihak kepadanya bukan?”
“WU LI MEI!”
Selir agung tersentak saat kaisar membentaknya, ia bisa melihat raut wajah yang damai itu berubah jadi kaku. Gemeritik gigi yang beradu membuat rahang sang kaisar mengeras. Tapi tidak sama sekali Wu Li Mei merasa gentar dengan kaisar, Wu Li Mei justru menantikan saat ini, saat dimana kaisar merasa diremehkan dan dia sudah pasti akan terpengaruh dengan apa yang dikatakan olehnya. Kedua tangan Kaisar Zhou mengepal kuat-kuat, wajahnya merah padam menahan amarah yang bersiap untuk meledak. Baru kali ini ia melihat ekspresi lain dari wajah damai itu. Terlihat sangat bengis dan kejam.
“Aku tidak pernah memihak kepada siapapun, Wu Li Mei.” Ujar Kaisar Zhou, “Tidak kepadamu atau kepada siapapun, aku hanya memihak pada kebenaran.”
“Bohong!”
“Apa maksudmu!” Kaisar Zhou menatap sang selir nyalang.
__ADS_1
“Pembohong!” sumpah Wu Li Mei, “Kau tidak menepati ucapanmu sendiri, wahai kaisar. Jangan pernah mengatakan kau memihak kebenaran jika kau justru menutupi kebenaran itu sendiri. Buka matamu dan lihat bahwa kau bukan yang paling baik disini! Seseorang yang menutup mata dan membiarkan kejahatan itu terjadi, lebih jahat dari penjahat itu sendiri.”
“Buktikan kalau kau benar berpihak pada kebenaran, saat semua kesalah ini ada di depan mata. Yang Jia Li sudah terbukti bersalah, jika kali ini kau menutupi kesalahannya lagi, maka aku sendiri yang akan memberikan wanita licik itu pelajaran. Jangan salahkan aku jika kali ini akan jadi pertarungan berdarah antara aku dengannya!”