Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Nasib malang


__ADS_3

Derit pintu terdengar nyaring di ruangan gelap nan dingin itu, saat pintu terbuka secercah cahaya masuk bersama dua orang lainnya. Satu orang laki-laki dan satu lagi perempuan dengan hanfu berwarna jingga. Ada empat tusuk konde bergambar naga di riasan sanggulnya, wanita itu melangkah masuk dengan penuh keanggunan.


Zhou Xing Huan, sang pangeran malang, menutup matanya dengan tangan untuk mengalau cahaya yang menyilaukan. Pria itu meringkuk di dalam penjara menunggu waktu eksekusi, yang hanya tersisa lima hari lagi. Zhou Xing Huan dijatuhi hukuman mati dengan cara meminum racun, dan masa itu akan tiba hitungan hari lagi.


Sang pangeran menatap marah saat dua orang yang ia kenali itu datang menghampirinya, dengan susah payah ia bangkit, mencoba meraih sang wanita tapi terhalang jeruji besi. "Sialan kau!" umpatnya.


"Seharusnya kau yang berada di sini, bukan aku!"


"Yang Jia Li, cepat bebaskan aku dari sini!"


"Dasar licik!"


Xing Huan meronta di dalam penjaranya, dengan wajah merah padam penuh amarah ia menatap tajam Yang Jia Li. "Semua ini adalah rencanamu, wanita licik, cepat lepaskan aku!"


"Melepaskanmu?" tanya Yang Jia Li. Wanita itu lalu menggeleng pelan dengan wajah bersalah, "Maafkan aku, Xing Huan. Aku tidak bisa melepaskan pengkhianat sepertimu."


"Pengkhianat katamu?"


"Ya, pengkhianat!"


"Kau lah yang mengkhianatiku, Yang Jia Li." balas sang pangeran geram. "Kau menjadikan aku kambing-hitam untuk menyelamatkan hidupmu sendiri, padahal semua ini bukan hanya kesalahanku, kau lebih bersalah daripada aku."


Yang Jia Li merapikan baju hangat yang membungkus tubuhnya sambil menghela napas jengah, ia menatap rendah Zhou Xing Huan. "Kau sangat tidak tahu diri, Xing Huan. Seharusnya kau tidak menyeret namaku saat kau dituduh oleh putra mahkota, maka dengan begitu aku bisa menyelamatkanmu. Tapi kau justru memilih berkhianat karena kau berpikir kau akan aman, heh! Kau salah Zhou Xing Huan."


"Akan aku ingatkan kembali bahwa ini adalah istana."


"Siapa yang berkuasa, dialah yang ditaati." lanjut Yang Jia Li.


"Kau seharusnya tetap diam dan bersembunyi seperti pengecut, daripada keluar sebagai pecundang." tandas Yang Jia Li.


Kedatangan wanita nomor satu di Kekaisaran Ming itu tidak lain adalah untuk mengucapkan selamat tinggal pada Zhou Xing Huan, hanya itu, karena sang permaisuri tidak berniat sedikitpun untuk membebaskan pria itu dari sana. Untuk apa? Zhou Xing Huan sudah terbukti tidak berguna. Yang Jia Li butuh orang-orang yang benar-benar mampu untuk menjalankan rencana jahat yang mereka susun dengan baik. Pria lembut seperti Zhou Xing Huan hanya akan menyusahkan dirinya saja, sudah selayaknya pangeran itu berkorban untuk sang permaisuri.


Yang Jian Zhu memberikan kode agar sang adik segera keluar, waktu mengunjungi tahanan tidak boleh terlalu lama. Terutama untuk tahanan kelas berat seperti Zhou Xing Huan, atau itu akan menimbulkan kecurigaan. Karena untuk kasus ini tidak hanya Departemen Kejaksaan yang turun tangan, tetapi juga pasukan gabungan yang dipimpin oleh Panglima Hao. Kaisar Zhou telah banyak membatasi gerak Klan Yang dimulai dari Departemen Kejaksaan saja.


"Omong-omong."

__ADS_1


Zhou Xing Huan mendongak, "Sebaiknya kau pergi saja!"


"Tunggu dulu pangeran bernasib malang, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Dua hal yang sangat penting." ujar Yang Jia Li.


"Tutup mulutmu, Yang Jia Li." sentak sang pangeran. Jika saja ia bisa keluar dari kurungan itu, ia pastikan untuk mencekik Yang Jia Li dengan kedua tangannya sendiri. Seharusnya dari awal memang ia tidak boleh mempercayai wanita itu. "Hentikan semua omong kosongmu dan pergilah, wanita sialan!"


Yang Jia Li tersenyum miring, ia maju selangkah untuk lebih mendekat. "Pertama, kuucapkan selamat kepadamu!"


"Selamat?"


"Ya."


"Untuk apa?"


"Karena kau berhasil membunuh keponakanmu sendiri."


Sang pangeran mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?!"


"Zhou Xie Ling telah mati, gadis cantik itu tidak bisa bertahan dengan racun merkuri yang kau berikan kepadanya."


"Apa?!"


Yang Jia Li bertepuk tangan, "Luar biasa bukan?"


"Racun yang seharusnya diberikan untuk Wu Li Mei, justru harus membuat Xiao Ling tewas."


"Ingatlah bahwa kau yang mengubah rencana ini dulu." peringat Yang Jia Li.


Target awal mereka sebenarnya bukan Zhou Xie Ling, tapi langsung pada Wu Li Mei. Hingga sang pangeran memberikan saran untuk membuat Wu Li Mei menderita dulu lewat anak yang paling selir agung itu kasihi, Xiao Ling.


Hal yang tidak mereka ketahui adalah dampaknya bisa seburuk itu hingga menyebabkan kematian, padahal niat mereka adalah menggertak Wu Li Mei saja. Tak disangka putri kecil tak berdosa itu harus meregang nyawa, Yang Jia Li pun sama terkejutnya saat pertama kali mendengar kabar itu.


Sang permaisuri mendengus, "Kau menyesalinya?"


"Apa maksudmu!" Zhou Xing Huan menatap lekat sang permaisuri. "Anak itu tidak bersalah, bagaimana mungkin dia yang harus jadi korban?! Tidak, itu tidak mungkin."

__ADS_1


Yang Jia Li mengendikkan bahunya, "Ya, terserah saja jika kau tidak percaya."


"Yang kedua,"


"Apa lagi sekarang?!" kesal Zhou Xing Huan.


"Tenanglah, ini yang terakhir."


Yang Jia Li bersedekap, ia mengambil napas sejenak sebelum akhirnya membuka suara. Wanita itu mencoba merasakan kembali hatinya, adakah sedikit saja niat untuk menyelamatkan Zhou Xing Huan? Sayangnya tidak ada, ia tidak ada niat untuk menyelamatkan Zhou Xing Huan dari hukuman.


"Yang kedua dan terakhir, aku ingin mengucapkan selamat tinggal karena ajalmu sudah semakin dekat." ujarnya disertai senyuman miring.


"Sialan kau!"


"Sayang sekali, tapi aku memang tidak ada niat untuk menyelamatkanmu pangeran!"


"Dasar licik, kau bajingan Yang Jia Li." ujar Zhou Xing Huan marah, kedua tangan pemuda itu terulur untuk meraih leher sang permaisuri dan mencekiknya kuat. Sontak, hal itu membuat permaisuri meronta-ronta dan kehabisan napas.


Brakkk.....


Yang Jian Zhu memukul kedua tangan Zhou Xing Huan dengan sebilah kayu, dan cekikan itu berhasil terlepas. Wajah Yang Jia Li sudah pucat pasi, wanita itu segera menghirup udara dengan rakus.


Sang kepala departemen kejaksaan bergerak cepat untuk mengamankan sang adik sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Ia berteriak memanggil para pengawal yang berdiri di balik pintu.


"Beraninya kau!" pekik Yang Jia Li.


"Lepaskan aku!"


"Lepaskan aku dari sini, kau yang seharusnya mendekam disini!"


"Lepaskan aku!"


Dua orang pengawal masuk setelah mendapatkan panggilan dari Yang Jian Zhu, ia takut jika Xing Huan melakukan hal-hal yang lebih gila. "Pergilah sebelum kau mati disini." ujar Yang Jian Zhu pada sang adik.


Permaisuri itu mendelik, "Jika aku mati disini, kau pun akan ikut mati juga."

__ADS_1


"Dasar kakak tidak tahu diri!" umpat wanita itu kesal.


Yang Jia Li segera melangkah pergi, wanita itu mengangkat hanfunya sambil berjalan angkuh. Meninggalkan Yang Jian Zhu yang menatapnya kesal.


__ADS_2