
Angin dingin kembali berhembus, pelan dan sejuk, menerbangkan helaian rambut sang putri cantik Kekaisaran Ming. Zhou Fang Yin merapikan kembali hanfu berwarna jingga yang ia kenakan, khusus untuk hari ini, ia memilih setelan hanfu terbaik yang ia punya. Sedikit terlalu mewah memang, tapi biarlah, orang yang akan ia kunjungi ini sangat menyukai kemewahan. Sang putri menatap ke depan dan berjalan dengan anggun, memasuki pelataran paviliun ratu.
Kedatangannya kali ini disambut oleh para dayang di paviliun ratu, Dayang Yue menundukkan kepala saat Zhou Fang Yin dan rombongan tiba di hadapannya, "Salam, Yang Mulia."
"Bangkitlah!" titahnya.
"Aku ingin mengunjungi Ibu Permaisuri."
"Baik, Yang Mulia."
"Apa Ibu ada di dalam?" tanya sang putri.
Dayang Yue mengangguk, "Ada, Yang Mulia. Silahkan masuk."
Dayang Yue dan beberapa dayang lain memberikan jalan, mereka menuntun sang putri ke tempat permaisuri berada. Zhou Fang Yin tersenyum dalam hati, benar dugaannya, sang permaisuri sedang berada di kamarnya. Tak sia-sia ia berkunjung pagi hari, karena kamar sang permaisuri memanglah tujuannya.
Zhou Fang Yin menunduk hormat saat tiba di hadapan sang ibu, "Salam, Ibu Permaisuri."
"Bangkitlah!" titahnya. Yang Jia Li mengerutkan keningnya melihat kehadiran putri Wu Li Mei itu. "Ada apa kau kemari?"
"Maaf mengganggu waktu Ibu."
Zhou Fang Yin memanggil salah satu dayang yang mendampinginya, "Saya ingin meminta diajari menyulam, saya selalu kesulitan untuk membuat sulaman yang indah seperti Ibu Permaisuri."
Yang Jia Li mengangguk-anggukkan kepalanya, sang permaisuri menjadi senang dan berbangga hati mendapat pujian itu. Menyulam memang menjadi salah satu keahliannya, salah satu yang bisa ia banggakan juga. Kepiawaiannya dalam menyulam tak perlu diragukan lagi, para gadis bangsawan memang selalu dibekali dengan keterampilan tangan, menyulam salah satunya.
"Baiklah." putus sang permaisuri.
"Lagipula aku tidak memiliki rencana apapun hari ini."
"Terima kasih, Ibu."
Zhou Fang Yin membawa peralatan yang ia gunakan untuk menyulam, gadis muda itu menatanya di meja.
"Bagaimana kalau kita menyulam di pondok saja, ada banyak benda yang bisa dijadikan inspirasi." tanya Yang Jia Li, wanita itu memang selalu menyulam di pondok dekat kolam teratai miliknya. Mendengar gemericik air akan lebih membantu untuk tenang, menyulam membutuhkan kesabaran dan ketenangan batin.
Zhou Fang Yin melirik ke kanan dan kiri, "Begitukah?"
"Ya!" balas sang ibu, "Dayang, kemasi peralatan menyulam Putri Fang Yin, dan pindahkan ke pondok." titah sang permaisuri.
Para dayang pun bergegas melakukan tugasnya, mereka mengemasi peralatan menyulam sang putri.
__ADS_1
"Tunggu!!" sentak Zhou Fang Yin.
"Tidak, jangan Ibu." sang putri tersenyum cerah, "Aku ingin disini saja, di luar terlalu dingin."
"Aa..aku.....aku merasa sedikit demam hari ini." Zhou Fang Yin menyentuh dahinya dengan telapak tangan, "Aku takut angin dingin akan membuatnya lebih parah."
"Oh, baiklah kalau begitu."
"Cuaca memang semakin dingin, aku tidak sabar menantikan salju pertama turun." tambah Yang Jia Li.
Yang Jia Li pun mengalah, ia memerintahkan para dayangnya untuk mengambil peralatan menyulam milik sang permaisuri.
Dua wanita kekaisaran itu duduk di kursi saling berhadapan, mereka mengambil sehelai kain dan mulai membuat pola. Yang Jia Li membuat sulaman dengan gambar burung phoenix dan sang putri menyulam motif bunga.
Tiga puluh menit pun berlalu dengan kesengsaraan bagi sang putri, Yang Jia Li terlalu bersemangat hingga permaisuri itu asik menyulam sendiri daripada mengajarinya. Zhou Fang Yin diam-diam merotasikan bola matanya saat sang ibu permaisuri kembali memuji hasil sulaman miliknya sendiri.
"Wooooaaaamm!" Yang Jia Li menguap lebar, menyulam membuatnya mengantuk padahal hari masih pagi.
Sang permaisuri melirik hasil sulaman Zhou Fang Yin, sulaman yang buruk rupa pikirnya. Yang Jia Li bangkit, "Ku rasa kau memang tidak berbakat, putri."
"Kau harus belajar lebih keras."
Zhou Fang Yin celingukan ke arah pintu, pintu itu tertutup dan tidak ada dayang yang mengawasinya. Kali ini, para dewa pasti sedang memihak padanya.
Sang putri cepat-cepat menggeledah isi kamar Yang Jia Li, mulai dari rak buku, laci, meja rias, hingga ke tempat tidurnya. Berharap ada sesuatu yang bisa ia dapatkan disana, sesuatu yang berguna untuk membebaskan Wu Li Mei dari penjara departemen kejaksaan.
"Isshhh...... mengapa tidak ada apapun disini." gerutu sang putri, rak buku milik Yang Jia Li hanya berisi buku-buku tua yang tidak pernah tersentuh.
"Apakah ada sesuatu disini?"
"Di laci! Apa sudah ku periksa."
"Isshh..... tidak ada apapun."
Zhou Fang Yin mencari sambil terus menggerutu, karena tidak ada hal yang mencurigakan yang ia dapatkan disana.
Sang putri berdiri di tengah, mengabsen satu persatu benda yang belum ia jelajahi. Pandangannya tertuju pada satu titik yang belum ia sentuh, laci kecil di dekat tempat tidur sang ibu permaisuri.
Zhou Fang Yin tersentak saat ia mendengar derap langkah yang mulai mendekat, apakah Yang Jia Li sudah kembali?
Sang putri segera berlari menuju sisi ranjang Yang Jia Li, ia membuka satu persatu ambalan di laci itu. Ternyata disanalah tempat penyimpanan barang-barang berharga sang permaisuri.
__ADS_1
"Dayang Yue! Apa kau melihat pernak-pernik ku?"
Suara sang permaisuri menggema di lorong paviliunnya, sepertinya Yang Jia Li berada tepat di depan pintu kamarnya.
"Dayang Yue?"
"Ya, Yang Mulia."
"Ambilkan aku pernak-pernik, aku ingin memasangnya di sulamanku."
Sial, seperti Yang Jia Li hendak kembali ke kamarnya. Zhou Fang Yin mencari dengan tangan gemetar, tapi nihil.
"Issshh..... aku tidak bisa pergi dari sini tanpa membawa apapun!"
"Oh, ayolah, aku harus menyelamatkan ibu."
"Oh, dewa, tolong aku kali ini saja."
Selembar kertas yang terselip di dalam lembaran buku terjatuh, lembaran itu terlihat seperti dokumen penting. Zhou Fang Yin mengulurkan tangan untuk meraihnya, itu adalah tanda bukti pembelian merkuri.
Di lembaran kertas itu terdapat catatan pembelian yang lengkap mulai dari penjual, pembeli, hingga penerima. Zhou Fang Yin mengerutkan keningnya, ia merasa tak asing dengan cap stempel yang ada di lembaran itu.
Sang putri menjentikkan jarinya, "Dinasti Su!" pekiknya.
Pintu kamar terbuka, Yang Jia Li membulatkan matanya. "Apa yang kau lakukan disana?!!" sentaknya.
Permaisuri itu masuk ke dalam kamarnya, ia sampai mengangkat hanfunya untuk segera sampai di hadapan Zhou Fang Yin.
"Apa yang kau lakukan disini?!"
Zhou Fang Yin melirik ke kanan dan kiri sambil menelan ludah kasar, gawat, apa yang harus ia katakan.
"Apa yang kau sembunyikan di belakangmu?!" Yang Jia Li melihat gelagat aneh yang ditunjukkan sang putri, Zhou Fang Yin berdiri membeku dan kedua tangannya disembunyikan di belakang.
Geram, Yang Jia Li menarik kedua tangan Zhou Fang Yin.
"Ma... maaf Ibu, aku tak sengaja melukai. jariku."
Berhasil, sang putri berhasil mengelabuhi permaisuri. Yang Jia Li tidak melihat lembaran kertas yang ia sembunyikan di balik lengan hanfunya, tapi sebagai gantinya ia harus rela menusukkan jarum ke jari telunjuknya hingga berdarah.
"Obati lukamu!" perintahnya.
__ADS_1