
Sudah tiga minggu berlalu sejak hakim agung memutuskan sang permaisuri dan pangeran bersalah atas racun merkuri yang menimpa Zhou Xie Ling, tapi selama itu pula, belum ada titik terang perihal siapa yang akan diadili. Lagi-lagi departemen kejaksaan yang dipimpin oleh Yang Jian Zhu mengulur waktu, sepertinya ada yang telah mereka rencanakan. Jika dilihat dari situasi saat ini, Yang Jia Li dinilai tidak bersalah karena masih berpura-pura tidak tahu menahu dan mengatakan bahwa ini adalah sebuah jebakan untuknya.
Sekalipun bukti tentang perhiasan giok itu telah mutlak, pihak Yang Jia Li membantah, mereka mendatangkan beberapa dayang paviliun ratu untuk bersaksi bahwa sang permaisuri telah kehilangan perhiasannya jauh sebelum ada racun merkuri.
Wu Li Mei menunggu dengan harap-harap cemas, berdasarkan kabar yang ia terima, peradilan akan dilaksanakan hari ini. Setelah melalui proses yang sangat panjang dan alot, atas perintah Kaisar Zhou lah akhirnya peradilan itu dipercepat.
Wu Li Mei menoleh pada Dayang Yi yang berjalan di sampingnya, "Dayang Yi?"
"Ya, Yang Mulia?"
"Apa kau yakin hari ini?"
"Tentu saja, Yang Mulia." sang dayang mengangguk dua kali, "Saya mendapatkan kabar dari Panglima Hao. Kemarin, Yang Mulia Kaisar Zhou mendesak departemen kejaksaan untuk segera melakukan peradilan."
"Benarkah?"
"Ya."
"Sudah lebih dari tiga kali peradilan itu ditunda, semoga saja hari ini mereka benar-benar diberikan balasan yang setimpal." ujar Wu Li Mei, wanita itu mempercepat langkahnya menuju ke aula penyiksaan.
Sang selir agung mengepalkan tangannya di balik lengan hanfu, tepat saat ia memasuki aula penyiksaan. Yang Jia Li dan Zhou Xing Huan juga masuk.
"Dasar licik!" gumam Wu Li Mei. Selir itu duduk dengan anggun di singgasana yang dulu ditempati oleh sang permaisuri, tatapannya begitu tajam dan mengarah pada Yang Jia Li.
Wu Li Mei memutar bola mata melihat Yang Jia Li hari ini, wanita dengan hanfu putih itu terlihat pucat dan lemah. Tapi, Wu Li Mei yakin itu hanya tipu muslihat untuk menarik simpati orang-orang.
Yang Jia Li duduk di kursi kayu khusus yang disediakan untuk peradilan. Ia terus menunduk sambil memasang wajah merana, sengaja ia meminta para dayang untuk membubuhkan lebih banyak bedak agar ia terlihat sakit.
Yang Jia Li mengedarkan pandangannya, dan seketika itu juga netranya langsung bertemu dengan Wu Li Mei, musuh abadinya.
"Sial!" gumam Yang Jia Li, ia bisa melihat bagaimana Wu Li Mei duduk di tempat yang seharusnya menjadi miliknya.
Hakim agung telah bersiap, tapi seperti halnya pengadilan. Para tersangka boleh melakukan pembelaan, dan itu jugalah yang akan Yang Hong Hui lakukan hari ini. Salah satu petinggi Klan Yang, dan pendukung setia Yang Jia Li.
Yang Hong Hui melangkah mendekati para hakim, tapi sebelum itu ia memberi hormat pada kaisar terlebih dahulu.
__ADS_1
"Salam, Yang Mulia. Semoga kaisar hidup seribu tahun."
"Bangkitlah!"
"Izinkan saya memberikan pembelaan untuk permaisuri atas tuduhan racun merkuri."
Kaisar Zhou terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk.
Beberapa orang dayang dari paviliun ratu, termasuk Dayang Yue memasuki aula penyiksaan setelahnya. Masing-masing dari mereka memberikan kesaksian tentang perhiasan giok milik Yang Jia Li yang ada di tangan si penjual merkuri. Mereka mengatakan bahwa mereka melihat Zhou Xing Huan mengambil perhiasan itu dari kamar permaisuri. Mereka juga mengatakan jika sang pangeran kerap berkunjung tanpa alasan yang jelas.
"Tidak!" tolak Zhou Xing Huan. "Itu bohong, mereka berbohong. Permaisuri sendiri yang memberikannya padaku."
"Apa pangeran memiliki bukti?" tanya hakim agung.
Zhou Xing Huan terdiam, "Tapi, mereka juga tidak punya bukti jika aku mengambilnya."
"Ada." Yang Hong Hui melangkah mendekati hakim, ia memberikan tusuk konde emas dan perhiasan mutiara milik Yang Jia Li. "Penyelidikan departemen kejaksaan menemukan ini di paviliun Pangeran Zhou Xing Huan."
"Benarkah?" tanya hakim agung pada Yang Jian Zhu.
Yang Jian Zhu mengangguk, "Benar, kami menemukan itu saat melakukan penggeledahan di kamar pangeran."
Zhou Xing Huan mengepalkan kedua telapak tangannya penuh amarah, "Berani-beraninya kalian, aku tidak pernah mengambil apapun dari permaisuri. Tidak! Ini semua adalah jebakan."
"Ini bukan jebakan, ini adalah kebenaran." balas Yang Hong Hui.
"Kebenaran apa?!"
"Kebenaran anda yang mengkambing-hitamkan permaisuri untuk menutupi kesalahan anda."
"Itu tidak benar, dia juga terlibat dalam semua ini." sanggah Zhou Xing Huan.
"Baiklah kalau begitu." ujar Yang Hong Hui. "Izinkan saya memberikan bukti terakhir bahwa permaisuri memang tidak bersalah." Pria paruh baya itu menerima sekumpulan surat dari bawahannya, lalu memberikan pada hakim.
Sang hakim agung menerimanya dengan kening berkerut, "Apa ini?"
__ADS_1
"Itu adalah surat yang dikirim Pangeran Zhou Xing Huan untuk penjual merkuri dari Negeri Su, surat itu telah dikirim berbulan-bulan lamanya. Ternyata kepindahan pangeran kembali ke istana adalah untuk menghancurkan kekaisaran lewat Putri Zhou Xie Ling."
"Seperti yang tertera disana, pangeran masih menyimpan dendam karena pengasingan yang ia terima."
Para hakim agung pun mulai kembali berdiskusi, mereka memeriksa kembali bukti-bukti dan saksi yang dibawa untuk pembelaan sang permaisuri. Hingga keputusan yang alot pun akhirnya didapat, Hakim Agung Hao membawa putusannya yang tertulis di selembar kertas kepada kaisar. Bagaimana pun, keputusan tetap berada di tangan sang kaisar.
Wu Li Mei menunggu keputusan akhir dengan cemas, di seberang sana ia dapat melihat Yang Jia Li tersenyum miring kepadanya. Wanita licik itu memang pandai bermain peran.
Kaisar Zhou membawa selembar kertas itu di tangannya, ia berdiri dengan tegas ke arah dua orang yang tengah diadili.
"Dengan ini aku memutuskan permaisuri tidak bersalah atas tuduhan racun merkuri berdasarkan pembelaan yang telah diberikan."
"Aku menetapkan Pangeran Zhou Xing Huan bersalah sepenuhnya atas tindakan kejahatan yang melibatkan Putri Xie Ling. Sebagai hukuman, gelar pangeran akan dilepas secara tidak terhormat, dan Zhou Xing Huan harus menjalani hukuman meminum racun."
Mendengar putusan itu, Wu Li Mei merasa seakan tengah disambar petir. Ia marah dan kecewa dengan keputusan yang dibuat untuk Yang Jia Li, bagaimana bisa padahal bukti kuat mengarah kepadanya.
"Tidak!" tolak Zhou Xing Huan. "Aku tidak bisa menerima ini."
"Aku tidak sepenuhnya bersalah, Yang Jia Li ikut ambil bagian dalam rencana ini."
"Semua ini kebohongan!"
Zhou Xing Huan meronta-ronta, ia tidak terima untuk dipersalahkan sendirian. "Dia wanita licik, dialah otak dari semua ini."
"Kau wanita licik, semua ini adalah kesalahanmu. Dasar bajingan!" maki pria itu pada Yang Jia Li.
Para prajurit segera melakukan tugasnya, mereka melepaskan ikatan tali di kursi kedua orang itu. Tapi, bedanya, Zhou Xing Huan langsung dicekal sedangkan Yang Jia Li dibebaskan.
"Kau wanita murahan, wanita licik! Katakan yang sebenarnya bahwa ini adalah rencanamu, Yang Jia Li."
"Tidak! Kau lah yang bersalah, kebenaran telah menunjukkan segalanya. Kau tidak bisa menyalahkanku atas kesalahan yang tidak ku perbuat." Yang Jia Li menangis tersedu-sedu, ia berucap dengan pilu untuk mengais simpati.
"Aku tidak mungkin meracuni putri, dia sudah seperti anakku sendiri."
"Aku juga merawatnya sejak kecil."
__ADS_1
"Kau lah yang bersalah!" tunjuk Yang Jia Li pada sang pangeran, "Kau harus merasakan apa yang putriku rasakan." ujarnya penuh tangis.
Detik selanjutnya, Yang Jia Li limbung ke tanah, beruntung ada prajurit yang dengan sigap menangkapnya. Ini adalah bagian dari drama yang tengah ia mainkan, ia harus berpura-pura pingsan, dan dengan begitu akan mempercepat kemenangannya.