Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Meminta bantuan


__ADS_3

Wu Li Mei tidak berpikir bahwa bertemu dengan ayah akan menjadi semendebarkan ini, ayahnya yang dulu sangat dan senang bergurau. Tapi sepertinya ayah sang selir yang asli tidak semenyenangkan itu, terbukti sejak beberapa menit lalu mereka berjalan bersama menikmati angin sore yang sejuk, sang kaisar tidak mengajaknya berbicara terlebih dahulu. Haruskah dia yang memulai pembicaraan itu? Tapi apa yang mau dibicarakan dengan sang ayah, dia tidak pernah terpikir untuk berbicara dengan ayah yang seorang kaisar. Pasti akan canggung dan penuh tatap krama.


Sang selir membasahi bibirnya yang terasa kering sembari meremas jemarinya, tangannya terasa dingin dan beku padahal matahari musim semi bersinar dengan hangat. Istana megah itu sedang sangat sibuk, banyak dayang dan pengawal berlalu lalang dengan sibuk. Mereka tengah mempersiapkan penobatan putra mahkota Wu Zhen yang akan menjadi kaisar selanjutnya dengan segala persiapan yang sangat banyak. Akan ada pesta rakyat dan sebagainya yang turut memeriahkan penobatan kaisar baru.


Mencoba menarik napas sedalam mungkin untuk mengusir rasa gugup, Wu Li Mei terhenti di sebuah pot besar dengan bunga peony bermekaran indah. “Ayah, apa kau tahu putriku sangat menyukai peony?” Wu Li Mei melirik dengan takut, takutnya sang ayah tidak tertarik dengan pembicaraan yang coba ia buka.


“Benarkah? Kalau begitu aku akan mengirimkan banyak peony untuk Zhou Fang Yin.” Jawabnya.


“Bukan, bukan Xiao Yin. Xiao Yin lebih suka bunga melati yang berbau harum ayah, yang menyukai peony adalah putriku yang lain.” Wu Li Mei terdiam menatap peony merah muda itu cukup lama, hatinya masih saja merasa sendu tiap kali ia mengingat tentang sang putri kecil.


“Lalu siapa lagi? Bukankah putrimu hanya Zhou Fang Yin?”


Wu Li Mei tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya, “Aku punya satu putri sambung ayah, dia adalah anak yang cantik berusia tujuh tahun. Sayangnya sejak kecil ia mengalami banyak gangguan kesehatan, sehingga sangat sering mengalami sakit. Aku sangat menyayanginya sama seperti anakku sendiri, tapi dia meninggalkanku musim dingin lalu.”


Kaisar Wu menatap raut sendu sang putri dengan gamang, banyak sekali yang berubah dari putri kecilnya dulu. Insiden tenggelamnya Wu Li Mei di danau dan mengalami hilang ingatan, rupanya telah merubah banyak sekali hal yang baru dalam diri sang putri bungsu. Dulu, karena dia adalah si bungsu, dia yang berkuasa atas apapun. Kedua orang tuanya selalu menurut dan kakak-kakaknya selalu mengalah, hingga rasanya sangat mustahil melihat Wu Li Mei bisa mencintai orang lain dengan tulus, terlebih dia bukan darah dagingnya. “Apa dia sakit?”


“Tidak, dia tidak sakit.” Jawab Wu Li Mei tegas, kilatan amarah itu tersirat jelas di kedua mata jernihnya. “Dia diracuni dengan merkuri.”

__ADS_1


“Siapa yang tegas melakukannya, Mei-mei?!” tanya Kaisar Wu, racun merkuri sudah sangat terkenal mampu membunuh dengan cepat. Peredarannya selalu diawasi agar tidak kembali disalahgunakan, tapi kini seorang putri bisa terbunuh karenanya. Kaisar sampai menghentikan langkahnya dan menatap sang putri mencari jawaban. “Bagaimana bisa merkuri sampai meracuni putrimu, bukankah semuanya dijaga dengan baik oleh kekaisaran?”


“Semuanya dijaga dengan baik ayah, aku pun menjaganya dengan baik. Tiap hari dia selalu sendu dan menangis kesakitan, aku sudah memberikan banyak obat herbal dan dia kembali membaik, tapi keceriaan itu harus musnah saat merkuri meracuni makanannya.”


“Kau tahu siapa dalangnya?”


Wu Li Mei mendongak sembari menatap lekat sang ayah, “Pelakunya adalah Yang Jia Li, sudah pasti dia dan sasarannya adalah aku.”


“Permaisuri Ming?”


“Iya, siapa lagi yang sanggup melakukannya jika bukan seseorang yang memiliki kekuasaan.”


“Karena dia ingin membunuhku ayah, permaisuri licik itu ingin membunuhku untuk menghilangkan musuh abadinya. Dengan cara menyakitkan lewat putri tersayangku.”


Kaisar Wu menghela napas dalam sembari memejamkan matanya erat-erat, persaingan kekuasaan antara permaisuri dan selir selalu saja terjadi dimana pun itu. Monarki selalu berujung pada hilangnya nyawa yang tidak berdosa, contohnya adalah putri Wu Li Mei itu, dia menjadi korban perebutan kekuasaan yang seharusnya tidak ia tanggung.


Tangan Wu Li Mei terus saja membelai kelopak peony itu, dia tidak akan memetiknya karena takut keindahannya layu dengan cepat. Di istana ini ada banyak pot besar dari tembikar yang sengaja ditanami bunga-bunga dengan indah, kalau saja Zhou Fang Yin ikut serta, dia akan sangat bahagia melihat melati bermekaran di pelataran istana. Ah, bagaimana kabar mereka disana, semoga saja semuanya akan baik-baik saja.

__ADS_1


“Apa permaisuri dihukum?”


Wu Li Mei menggeleng, “Tidak, karena dia melimpahkan kesalahannya pada Zhou Xing Huan, suadara kaisar yang diasingkan oleh istana. Hukum tidak berlaku untuknya karena dia adalah penguasa hukum itu, tapi aku tidak akan membiarkan hal ini terus terjadi.”


Wu Li Mei meraih lengan sang ayah dan menggenggamnya erat, “Ayah, aku membutuhkan dukunganmu untuk menjadi Permaisuri Ming. Maukah ayah membantuku untuk naik tahta secepatnya, aku harus membunuh Yang Jia Li karena nyawa harus dibayar dengan nyawa.” Ujar sang selir bersungguh-sungguh, tidak ada kebohongan yang tersirat dari dalamnya. Ambisi, amarah dan pembalasan dendam itu sangat nyata.


Sang kaisar terdiam untuk memikirkan permintaan sang putri, dia memang akan segera turun jabatan, tapi kaisar tetap memiliki pasukan setia dan harta tak terhitung jumlahnya. Sang kaisar sangat ingin menghabiskan hari-hari tuanya tanpa memikirkan politik dan peperangan, di sebuah lembah yang nyaman bersama ibu suri nantinya. Kesehatannya semakin memburuk dan ia membutuhkan ketenangan untuk berdoa pada dewa. Wu Li Mei meminta sebuah bantuan, itu artinya ia ingin bersekutu dengan Kekaisaran Hang. Ambisi itu rupanya masih sama, sang putri tetap sama seperti yang dulu, dia selalu memiliki ambisi yang kuat dan mati-matian untuk mewujudkannya.


“Bagaimana ayah? Kau mau kan membantuku? Berikan saja aku beberapa pasukanmu dan wilayah kekuasaan, jika saja aku tidak berhasil membunuhnya, aku akan menyiksanya di pengasingan.”


“Sabarlah Mei-mei, semuanya tidak semudah yang kau pikirkan nak, ayah harus memikirkan hal ini dengan matang. Mengapa kau tidak meminta kakakmu untuk membantu saja?” tanya kaisar.


“Berarti ayah tidak mau membantuku.” Wu Li Mei menarik kembali tangannya, dia menunduk dengan sedih karena penolakan itu. Wu Li Mei harus bisa memenangkan hati sang ayah bagaimana pun caranya, dia butuh prajurit dan wilayah kekuasaan agar tetap bisa bertahan. Dan seperti Yang Jia Li, dia ingin memanfaatkan kekuasaan sang ayah.


Wu Li Mei berpura-pura menyeka air matanya, “Maafkan aku ayah, aku sudah sangat lancang dengan meminta bantuanmu untuk melengserkan Permaisuri Ming, aku memang tidak pantas memintanya darimu.”


“Maksudku bukan begitu, Mei-mei.”

__ADS_1


Sang selir agung menggeleng, “Tidak ayah, ini salahku, sebaiknya lupakan saja permintaanku tadi.”


“Baiklah, ayah setuju untuk memberimu pasukan dan wilayah.”


__ADS_2