
Suasana hati yang semula berbunga bagai tumbuh benih cinta, kini berubah menjadi was-was dan bersalah. Entah tahu darimana, tapi sang ibu seolah bisa menebak apa yang ada di kepala anak-anaknya. Dan Wu Li Mei menatap mereka dengan wajah serius nan menyeramkan, sama seperti Wu Li Mei yang dulu. Yang tanpa banyak bicara bisa membuat mereka ketar-ketir sendiri. Hari benar-benar sudah petang, matahari mulai terbenam kembali ke peraduan, lalu kedua anak itu duduk tak nyaman di kamar Wu Li Mei.
Apakah mereka melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal? Lalu apa salahnya merasa penasaran akan dunia yang mereka selami ini? Terus terkunci di dalam istana juga tidak baik, bagaimana mereka mau mengenal dunia kalau tidak pernah melihat isinya.
Andai semua alasan itu bisa dijelaskan dengan mudah kepada sang ibu, pasti tidak akan terjadi kebisuan seperti ini.
Wu Li Mei kembali menuangkan teh bunga krisan ke cangkir porselen miliknya, “Jadi, kalian masih tidak mau menjawab?” tanyanya.
“Bu … kami bukan tidak mau menjawab.”
“Lalu apa?”
“Aku hanya---”
“Hanya apa?”
Wu Li Mei memijat pangkal hidungnya untuk meredakan pening yang tiba-tiba muncul, bukan sekali dua kali, setelah kaisar mengatakan anak-anaknya sering pergi ke luar. Sang selir agung pun diam-diam juga mengutus seseorang untuk mengawasi mereka, tujuannya agar dia tahu apa yang sebenarnya putra mahkota dan Putri Fang Yin lakukan di luar sana.
Dan ternyata, Wu Li Mei mendapati fakta bahwa anak-anaknya sekarang telah tumbuh dewasa sehingga mulai mengenal cinta. Ini pasti masa remaja yang indah bagi mereka, lalu apa yang harus dia lakukan sebagai ibu? Membiarkan saja atau melarang mereka?
“Ya Tuhan, rupanya aku terlalu menyayangi mereka hingga aku lupa bahwa mereka sudah remaja.” Guman Wu Li Mei.
“Bu, kami tidak seperti yang ibu pikirkan.” Ucap Zhou Fang Yin, ia menggenggam lengan sang ibu dengan kedua tanganya. Mata dan ekspresi wajahnya juga sangat jujur dan lugu, “Aku tidak pergi untuk melakukan hal buruk yang akan membahayakan diriku sendiri. Aku hanya pergi untuk mencari suasana baru di tengah pelajaran istana yang melelahkan.”
“Anggap saja aku hanya butuh hiburan.” Jawab sang putri.
“Hiburan apa, Xiao Yin? Kau pikir ibu tidak tahu kau pergi seharian bersama seorang pemuda?” Zhou Fang Yin langsung membeku di tempat, pertanyaan demi pertanyaan bersarang di kepala tapi dia sendiri bisa menebak darimana sang ibu tahu karena sudah pasti ada yang mengutitnya. “Atau Zhou Ming Hao yang berkuda membawa seorang gadis muda?!”
“Ibuuuu … “
__ADS_1
“Bagaimana bisa tahu?! Apa ibu benar menguntit kami?”
Hembusan napas sang selir agung tertahan di dadanya, mencoba tetap tenang tapi nyatanya dia sendiri sedang bingung dalam menghadapi situasi ini. Dimana anak-anak manjanya kini mulai melihat dunia yang jauh lebih luas dan tak berbatas padahal mereka tidak boleh sama sekali melakukan itu. Aturan istana sudah jelas bahwa putra mahkota dan putri kekaisaran tidak boleh keluar istana tanpa sebab yang jelas, dan tanpa pengawalan atau seizin kaisar.
Tatapan tajam Wu Li Mei mulai melunak, dia juga meminta pengertian kepada kedua anaknya lewat tatapan mata. “Benar, ibu menguntit kalian, dan ibu bersalah akan hal itu.”
“Ibu minta maaf, tapi kalian tahu bahwa ibu memang harus melakukannya untuk kebaikan kalian juga.” Jawab Wu Li Mei, “Kalau saja pergi dengan pendamping dayang atau kasim, tidak masalah, tapi kalian justru memilih untuk memisahkan diri dengan mereka. Semua itu berbahaya nak, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian? Dan bagaimana kalau hukuman istana jatuh kepada kalian karena melanggar aturan?”
“Itu tidak akan terjadi, bu.” Jawab sang putra mahkota.
“Kakak benar, kami bisa menjaga diri dengan baik bu, jangan terlalu khawatir. Dan lagi, tidak ada yang berbahaya disana, sama sekali tidak.”
“Kalian tidak tahu, nak.”
“Bu, percayalah, kami hanya ingin ibu percaya saja.” Zhou Ming Hao ikut menggenggam erat tangan sang ibu, dan mengelusnya dengan sayang.
Kedua anak itu sontak kelimpungan sendiri, mereka tidak tahu kalau sang ayah juga ikut mengawasi dari jauh. Tapi itu akan lebih baik, karena sebaiknya mereka tetap takut akan aturan dan kaisar. “Tidak hanya kalian, tapi ibu juga akan dihukum kalau sampai kalian membuat masalah di luar sana, entah di pasar atau di belahan kota lainnya.”
“Kalau begitu kami harus bagaimana?” tanya Zhou Fang Yin, “Bu, tolong jangan beritahu ayah dulu ya, aku hanya mencari suasana baru saja dan pengalaman bertemu banyak orang, bukan bermaksud ingin melakukan keburukan atau membahayakan diri.”
“Hm, ada satu hal yang bisa kalian lakukan kalau ingin pergi keluar.” Ujar Wu Li Mei.
Si kembar langsung menatapnya penuh binar, “Apa itu bu?”
“Apa itu, ibu?”
Wu Li Mei sengaja menunggu beberapa saat sampai anak-anaknya benar-benar penasaran, ia melipat kedua tangannya di depan dada yang menatap mereka bergantian. Ia lalu mencondongkan tubuhnya untuk berbisik, peka dengan itu anak-anak juga ikut merapat. “Kalian harus pergi bersama ibu.” Bisiknya.
“Yaaaaah, ibuuu.”
__ADS_1
“Itu sama sajaaaaa … “
***
Jamuan makan diadakan di paviliun Yang Jia Li, dan mengundang para pemuda yang ia temui di mata air tadi untuk makan malam. Yang Jia Li benar-benar membuat ketiga dayang baru itu sibuk menyiapkan makanan karena mereka harus menyajikan banyak sekali hidangan untuk jamuan. Hanya ada Yang Jia Li dan lima pemuda, tapi semua bahan makanan yang mereka miliki selama seminggu ke depan sudah dimasak seluruhnya.
Mengadakan jamuan makan di paviliun yang berdekatan dengan Biara Heng Shui, mungkin jika bukan Yang Jia Li, tidak ada orang waras yang akan melakukannya, terlebih sambil bertukar cangkir anggur yang memabukkan.
“Ahahahahaha, benarkah? Astaga aku tidak tahu tentang cerita itu.” Tawa Yang Jia Li begitu lepas di hadapan kelima pemuda yang sampai sekarang belum di ketahui namanya itu.
“Benar, nyonya.”
“Benar sekali, kami bahkan pernah mendapati gadis yang masih perawan di rumah bordil nyonya.” Jawab yang lain.
Xing Yu yang sedang menyajikan makanan hanya bisa mengerutkan kening mendengar sekilas apa yang mereka bicarakan.
“Lalu, kau jadi tidur dengannya?”
Si pemuda yang ditanya menggeleng, “Tentu tidak, aku memang bukan pria yang suci, tapi aku juga tidak akan menodai apa yang masih terjaga.”
“Wah, kau hebat sekali bisa menahan nafsu.” Puji Yang Jia Li, dia menyuruh Lu Yi untuk menuangkan anggur kembali.
Mau tak mau Lu Yi juga melakukannya, mengisi satu persatu gelas yang sudah tandas meskipun dia sangat takut jika para dewa melihat perbuatannya yang mendukung Yang Jia Li mabuk itu. Sungguh, sang permaisuri sudah minum banyak sekali anggur dan ini belum cukup. Napas yang terhembus darinya saja sangat kental akan minuman memabukkan itu, “Ceritakan lagi! Ceritakan lagi bagaimana kalian semua hidup.”
“Kami hidup untuk uang, nyonya.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya, kami juga bisa melayani anda jika anda bersedia membayar.” Jawab salah satu dari mereka, seringai tipis itu bisa dibaca oleh Lu Yi dan sepertinya ini bukan pertanda baik.
__ADS_1