Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Menyusun rencana


__ADS_3

Pasukan musuh mulai terlihat berjaga di sekitar pelabuhan dan tempat-tempat penting di negeri selatan, semua aktivitas mereka bisa dilihat dengan mudah oleh para pasukan pengintai kekaisaran yang bersembunyi dari balik pepohonan rindang di bukit dekat negeri itu. Di balik bukit, pasukan kekaisaran tak kalah banyak, mereka membangun tenda-tenda dari perlatan seadaannya untuk tempat berlindung sementara dan menyusun strategi. Meskipun secara jumlah mereka sangat banyak dan masih akan bertambah dari berbagai negeri lain, tapi tetap saja menghadapi pemberontak bukan perkara yang mudah.


Kaisar dan Panglima Hao, juga para petinggi lainnya tengah mengadakan pertemuan guna membahas kelanjutan strategi yang akan mereka mainkan untuk memenangkan perang. Pasukan yang dipimpin oleh Zao ini sangat membabi buta dan merugikan, mereka membakar pasar dan pemukiman, mereka melakukan penjarahan dan kerusakan dimana-mana, dan lagi mereka menjadi para penduduk sebagai tawanan.


Bendera perang jelas sudah dikibarkan, dan untuk yang satu ini negosiasi tidak akan pernah mendapatkan hasil. “Bagaimana, Yang Mulia. Apakah kita langsung melanjutkan saja perjalanan atau langsung mengirimkan prajurit?” tanya Yang Zhe Yan, salah satu panglima tinggi dari klan Yang, dia ikut dalam berperang kali ini.


“Bagaimana kalau kita langsung menyerbu saja, Yang Mulia, toh pasukan Zao sedang bersantai-santai dan menikmati hasil jarahan mereka.” Ujar salah satu petinggi lainnya memberikan saran.


“Itu ide yang bagus.”


“Tapi, menurutku itu akan merugikan kita nantinya.” Balas yang lain.


Kaisar Zhou menganggukkan kepalanya, “Benar, kalau kita menggunakan taktik langsung menyergap, maka kemungkinan untuk menang sangat sedikit. Tidak ada yang tahu pasti berada jumlah pasukan musuh dan boleh jadi ini hanya tipuan saja.”


“Kita harus waspada, Yang Mulia.” Ujar Panglima Hao membenarkan, “Sebaiknya kita menyimpan pasukan bantuan yang banyak agar ada bala bantuan kalau nantinya kita terkepung.”


“Ya, itu jauh lebih masuk akal Panglima Hao.”


Perundingan itu mendapatkan hasil, pasukan kekaisaran tetap akan melakukan seperti yang seharusnya mereka lakukan dalam berperang sebelumnya. Bisa dibilang sangat jarang untuk berperang di tempat yang lapang dan mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki, karena bentang alam Negeri Ming yang kebanyakan perbukitan. Tidak masalah bagaimana metodenya, yang paling penting adalah pemberontakan bisa diatasi.


Semua petinggi meninggalkan salah satu tenda yang dijadikan tempat pertemuan mereka, hingga menyisakan Panglima Hao yang selalu setia mendampingi Kaisar Zhou. “Bagaimana panglima? Apa kau mendapatkan kabar tentang Mei’er?” tanyanya.

__ADS_1


Sang panglima menggeleng, “Kabar yang dikirimkan Tabib Zhong pagi ini masih sama seperti kemarin, tidak ada perubahan sama sekali dari Yang Mulia Selir Agung Wu. Dan belum ada tanda-tanda akan segera sadarkan diri.”


“Lalu siapa yang menemaninya?”


“Sejauh ini Putri Fang Yin telah melakukan yang terbaik.”


“Benarkah, itu bagus.” Jawab kaisar, pria dengan wajah tampan rupawan dan baju zirah sangat berat yang melekat di tubuhnya membuatnya semakin menawan. “Aku harap perang ini cepat berakhir, aku ingin melihat Wu Li Mei lagi dan aku merasa tidak tenang meninggalkannya sendirian.”


Panglima Hao terdiam, menatap sendu sang kaisar yang tengah dilanda kegelisahan. Selir terkasihnya sedang berjuang antara hidup dan mati, lalu dia harus pergi berperang mempertaruhkan hidup dan mati. “Bagaimana kalau anda kembali ke istana saja, Yang Mulia. Biar perang ini menjadi tanggung jawab saya saja, dan semuanya disini akan mempertahan negeri selatan dengan jiwa raga kami.”


Tubuh tegap penuh wibawa itu berbalik, senja rupanya telah membuatnya mengingat Wu Li Mei terlalu dalam hingga membagi perhatiannya pada satu hal yang sangat penting saat ini. Perang ini bukan hanya tentang negerinya, tapi juga hidup dan mati manusia, martabat kekaisaran dan tahtanya sebagai kaisar juga dipertaruhkan. Kaisar menggeleng, “Tidak panglima, aku sudah bertekad untuk berperang merebut tanah selatan dan aku tidak akan mundur begitu saja.”


“Wu Li Mei akan baik-baik saja, tidak ada yang akan terjadi kepadanya karena dia adalah wanita yang kuat.” Ujar Kaisar Zhou penuh keyakinan akan kesembuhan sang selir, “Maafkan aku karena aku telah membuatmu khawatir dengan sikapku, tidak seharusnya aku mengingat Wu Li Mei di saat-saat genting seperti ini.”


“Baik, Yang Mulia.”


Sang panglima segera melangkah setelah pamit, tidak tahu menahu baginya tentang apa yang sedang ramai dalam benak Kaisar Zhou. Menjadi sebuah pekerjaan paling berat karena harus memikul tahta yang besar, belum lagi saat ada yang ingin menggeronggoti.


Sebenarnya Panglima Hao sudah mendengar kabar terbaru bahwa Yang Jia Li dengan lancang kembali ke istana entah untuk apa, yang pasti dia segera diusir karena hadirnya sangat tidak tepat. Tapi masih harus dipastikan lagi akan Yang Jia Li benar pergi kembali ke biara Heng Shui atau tidak. Yang Jian Zhu menawarkan diri untuk mengantar adiknya kembali ke pengasingan, tapi langkah kepala departemen pun selalu saja dipengaruhi oleh permaisuri dan klannya.


“Panglima!”

__ADS_1


“Yang Zhe Yan?”


Panglima Hao menghentikan langkahnya, menoleh menatap pemuda tampan dengan senyuman ramah di wajahnya. Bagaimana wajah sedamai itu memilih untuk melanjutkan pengabdian di barisan prajurit, alih-alih berkecimpung di dalam petinggi utama kekaisaran. “Ada apa?”


“Mengenai permaisuri.”


“Kenapa?”


“Aku mendengar dia sudah dibawa oleh kepala departemen, sayangnya tidak ada yang tahu apakah benar diantar kembali ke Biara Heng Shui atau tidak.”


Panglima Hao mengerutkan keningnya, apakah tidak salah bagi seolah Klan Yang membeberkan rahasia klannya sendiri. Tidak pernah ada kepercayaan yang dipupuk oleh Panglima Hao kepada anggota dengan nama depan Yang, karena mereka sudah pasti jahat sekalipun sangat sering bertemu. “Mengapa kau katakan itu kepadaku?” tanya Panglima Hao berpura-pura lugu.


“Agar kau bisa mempercayaiku panglima, aku sungguh ingin menjadi prajurit yang hebat.” Jawab Yang Zhe Yan, “Aku tahu kau tidak akan pernah mempercayaiku karena aku bagian dari mereka, desas desus tang berhembus pun mengatakan jika pemberontakan ini juga salah satu dari klan Yang. Sayangnya aku benar-benar tidak tahu apa-apa akan semuannya.”


“Percayalah, Panglima!”


Panglima Hao menatap lurus ke depan, dimana langit senja mulai menguning mengantarkan surya menuju peraduannya. Kicauan burung dan aroma bunga sedap malam yang mulai tercium membuat senja kali ini begitu indah untuk ditatap. “Burung kecil pun tidak pernah mempercayai dahan yang setiap hari menjadi temannya, dia percaya pada kedua sayapnya.”


“Tapi apa salahnya mempercayai dahan? Boleh jadi jika tidak ada dahan maka burung tidak akan bisa bertengger untuk beristirahat.”


“Siapa yang tahu jika dahan itu berduri, sehingga tajamnya bisa melukai.”

__ADS_1


Yang Zhe Yan menghela napas, mendapatkan sebuah kepercayaan adalah satu hal yang paling sulit untuknya. Dia memang menjadi panglima tinggi, tapi kehadirannya selalu dipandang sebelah mata karena posisinya hanya didapatkan atas peran Yang Jia Li.


Sekuat apapun membuktikan kemampuan, tetap saja Yang Zhe Yan tidak diperhitungkan dalam perang. Kali ini pun harus dia yang memaksa untuk ikut ke negeri selatan, jika tidak pasti dia sudah diminta untuk berjaga di istana saja. “Satu-satunya yang mengetahui jika dahan itu berduri adalah burung itu sendiri. Dia yang bisa menentukan akan tetap memilih dahan yang mana.”


__ADS_2