
"Sudah cukup, Yang Mulia. Sudah cukup latihan untuk hari ini."
"Tapi guru, aku belum mau berhenti." ujar sang putra mahkota seraya mendesah jengah. Baru saja berapa waktu berlalu ia belajar berpedang, tapi kini Guru Zhang sudah menghentikan latihannya. Jujur saja dia sangat suka berpedang dan berkuda, jadi latihan kali ini sangat dinikmati oleh Zhou Ming Hao.
Tapi sang guru tetap pada pendiriannya karena dia merasa sudah cukup, memang putra mahkota belum lelah karena setiap jiwa muda selalu saja membara. Sakit dikemudian hari adalah yang paling Guru Zhang takutkan, karena dia yang bertanggungjawab atas putra mahkota. "Tidak, Yang Mulia, ini sudah cukup. Anda sudah lebih dari mampu untuk bertarung dengan pedang. Kalau anda mau, anda bisa berlatih sendiri dengan pedang kayu."
"Tidak ada lawan, tidak menarik guru."
"Sebaiknya anda istirahat saja, atau pergilah ke paviliun selir agung karena mungkin Selir Agung Wu membutuhkanmu disana."
Kening Zhou Ming Hao berkerut, "Ibu membutuhkanku? Untuk apa?" tanyanya.
Sang guru hanya melenggang pergi tanpa menjawab pertanyaan putra mahkota, ada beberapa hal yang harus dia lakukan hari ini dan melatih putra mahkota juga bagian dari kesibukannya. "Entahlah, Yang Mulia. Pergilah saja menemuinya, nanti kau akan tahu."
"Oh iya, selama seminggu ke depan tidak ada latihan bersamaku karena aku akan pergi ke negeri selatan untuk memeriksa sesuatu."
"Negeri selatan? Satu minggu?" Zhou Ming Hao menghampiri sang guru dan menyimpan kembali pedang miliknya dengan aman. Pedang dengan besi berkilat tajam dan gagang berwarna hitam berukiran naga, sangat indah dan juga mematikan. "Kenapa lama sekali guru, apa yang akan ku lakukan selama seminggu ke depan jika kau tidak ada? Aku bisa pusing jika hanya belajar di perpustakaan sendirian. Jangan pergi selama itu guru!"
"Maafkan aku, putra mahkota, tapi ini perintah dari kaisar."
"Lalu dengan siapa aku harus berlatih?"
"Bersamaku, Yang Mulia."
Zhou Ming Hao menoleh dan mendapati Panglima Hao berjalan tegas ke arahnya. Berlatih bersama Panglima Hao? Yang benar saja, dia tidak akan sanggup dengan pelatihan keras ala prajurit itu. Sang panglima memang hebat, ada banyak ilmu berpedang yang bisa dia ambil nantinya. Tapi, kalau harus melakukan pelatihan sekeras prajurit dia tidak akan sanggup.
Ingin menolak, tapi putra mahkota segan dengan Panglima Hao. "Panglima Hao, kenapa harus dengan anda? Bukannya anda sangat sibuk?"
"Tidak, Yang Mulia, aku akan meluangkan waktu untuk melatihmu berpedang. Guru Zhang bilang kau sangat suka berpedang dan berkuda ya, nanti kita akan latih lagi pertarunganmu di medan perang sambil berkuda."
__ADS_1
Sang panglima semilirik Guru Zhang singkat dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, dan putra mahkota menduga bahwa ada yang mereka sembunyikan dari pelatihan ini. Menolak tidak ada pilihan, maka Zhou Ming Hao mengangguk dengan lesuh, "Baiklah, aku mau tapi ada syaratnya."
"Syarat?"
"Iya."
"Syarat apa yang harus dipenuhi? Bukannya ini juga bagian dari pelatihan anda menjadi kaisar nantinya, Yang Mulia. Kenapa harus ada syarat?"
"Iya, panglima." Ming Hao mengangguk tegas, dia melipat kedua tangannya di dada dan membuang pandangannya. "Aku tidak mau menjalani pelatihan seperti para prajurit, itu terlalu melelahkan. Panglima, kau tidak tahu ya jika aku terlahir tidak dengan tubuh yang tidak bisa sakit. Aku mau berlatih, tapi bukan dengan dipaksa seperti tempo hari."
"Maafkan saya, Yang Mulia." Panglima Hao menunduk dan meminta maaf dengan tulus karena telah melukai hati putra mahkota hanya dengan pelatihan yang dia bilang terlalu berat untuknya. Dahulu, memang Panglima Hao menerapkan pelatihan prajurit kepada putra mahkota agar dia belajar untuk hidup dengan tangguh. Tak disangka itu membuat trauma tersendiri bagi calon kaisar era baru itu, tapi tetaplah harus dilakukan karena panglima dan Guru Zhang sudah sepakat untuk menerapkan pelatihan itu lagi.
***
Sore yang damai di paviliun selir agung, dan Zhou Ming Hao terdiam kaku di depan pintu saat ia melihat seorang bayi laki-laki merangkak melewati kakinya. Suara gelak tawa bocah kecil yang tergopoh mengambil mainan dari kayunya itu terdengar begitu nyaring, di dekatnya ada Zhou Fang Yin yang begitu mencurahkan kasih sayangnya kepada Zhou Jiang Wu. Bayi laki-laki kecil yang diasuh Wu Li Mei karena Selir Ho Xin Xin ditangkap.
"Apa yang kau lakukan disini, Xiao Yin?" tanyanya.
Sang putri kekaisaran memutar bola matanya, "Kau tidak lihat? Aku bermain bersama Jiang Wu seharian."
"Memangnya ibu kemana?"
"Ibu pergi untuk melihat toko baru bersama Panglima Hao dan Tabib Zhong." jawab Zhou Fang Yin sembari bermain dengan sang pangeran kecil. Sesekali ia mencubit pelan pipinya atau menguyel-uyel karena terlalu gemas.
Putra mahkota ikut duduk di pelataran paviliun itu, biasanya mereka bermain dengan Jiang Wu di pondok tapi hari ini sepertinya bocah kecil itu sudah bosan. Ikut menjaga bayi ternyata butuh kesabaran dan sangat tidak menyenangkan, tidak semudah itu karena tidak boleh lengah dan harus menjaga suasana hati bayi agar tetap baik. "Panglima Hao sudah kembali."
"Ah, sepertinya ibu tetap disana bersama Tabib Zhong untuk mengurus sesuatu, ibu bilang akan mengganti semua benda yang ada di toko lama karena sudah jadi arang. Mungkin ibu akan sangat sibuk, jadi kita harus menjaga Jiang Wu dulu."
"Kau saja, aku mau kembali ke paviliunku saja."
__ADS_1
"Tidak bisa!!" Zhou Fang Yin menahan lengan sang kakak agar tidak pergi, "Aku titip dia sebentar karena ada urusan yang harus kuselesaikan segera."
Sang kakak mengerutkan keningnya, dari gelagat si adik dia bisa mengerti bahwa ada urusan alam yang harus diselesaikan oleh si adik. Dengan jengah ia pun menganggukkan kepala, "Ya sudah cepat!!"
"Terima kasih, kakak."
Di tempat itu hanya tersisa Zhou Ming Hao dan bayi kecil yang terduduk menatapnya dengan ekspresi yang sulit dimengerti, dia memberikan mainannya kepada sang putra mahkota tapi enggan untuk segera di terima. Bahkan sampai berkali-kali dan berganti-ganti mainan.
Putra mahkota melipat kedua tangannya dan menggeleng, "Tidak, aku tidak mau."
"Nyanyanyaaaa.. nyah!"
"Kau bicara apa? Aku tidak mengerti." jawab putra mahkota.
"Nyah ... iiiinyaaa."
"Inya apa? Oh, Dewa, aku mana paham dengan anak kecil itu." keluh Zhou Ming Hao, dia sungguh tidak ahli dalam hal ini. Menjaga anak kecil dan mengerti mereka adalah satu hal yang sulit untuk dilakukan. "Kau bermain sendiri saja, aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
Mainan yang berserakan itu dipungut satu persatu dan di dekatkan kepada Jiang Wu, tapi bayi kecil itu segera melemparnya kembali. "Ayayaaaaaya ... "
"Aku tidak tahu apa yang katakan."
"Dia mau minum susu."
Sang putra mahkota menoleh, mendapati sang ibu sudah kembali dengan pakaian sederhana dan cadar di wajahnya. "Ibu sudah kembali rupanya, kalau begitu ibu jaga dia ya."
"Kau saja dulu, ibu harus berganti baju."
"Ibuuuu!" keluh pemuda itu.
__ADS_1