
Wu Li Mei melangkahkan kakinya, lupa juga kapan terakhir kali ia mengunjungi sang ibu suri. Wanita itu sudah tua dan sering mengeluh padanya tentang sakit lulut, tapi kini tak lagi. Berkat herbal yang rutin ia kirimkan untuk ibu suri.
Semoga saja, wanita tua itu akan menjadi lebih sehat. Kaisar masih membutuhkannya untuk memperkuat kekuasaan, dan seperti kaisar, Wu Li Mei juga membutuhkannya. Wu Li Mei butuh ibu suri berada di pihaknya, maka dengan demikian semuanya akan jadi lebih mudah.
"Salam, Yang Mulia Selir Agung."
Seorang dayang menyambutnya, kepala dayang paviliun ibu suri lebih tepatnya. Wu Li Mei mengenalnya karena selalu berada di samping ibu suri. "Bangkitlah!" titah sang selir.
"Aku mencari ibu suri."
"Beliau ada di pondok lotus, Yang Mulia." balas sang dayang. "Mari saya antarkan."
Sang dayang membawa Wu Li Mei menyusuri pelataran paviliun ibu suri. Kompleks bangunan ini ternyata sangat megah, jauh lebih besar daripada paviliunnya. Awalnya, ia berpikir semua paviliun atau tempat tinggal anggota kekaisaran itu sama. Tapi, nyatanya tidak begitu.
Bangunan itu kebanyakan memiliki cat berwarna merah, warna keberuntungan yang dipercayai masyarakat Dinasti Ming. Pondok lotus berbeda dengan pondok teratai, ya seperti namanya, kolam di bawah pondok itu hanya diisi bunga lotus yang mulai bermekaran.
Wu Li Mei terpaku pada setangkai bunga lotus paling besar yang letaknya di tengah-tengah kolam luas itu. Warnanya senada dengan hanfu yang ia kenakan, berwarna merah muda dengan semburat putih halus. Tidak mencolok memang, karena yang serupa itu tak hanya satu, tapi bunga itu seolah punya magnet untuk menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.
"Sangat indah bukan?"
Wu Li Mei terhenyak, ia menoleh cepat dan tepat di sampingnya ibu suri berdiri ikut memandang hamparan lotus. "Salam, Ibu suri."
"Bangkitlah, Mei-mei."
"Mengapa kau di luar? Ku dengar kau tidak sehat, ibu."
Ibu suri mengangguk, ia menunjuk bunga lotus yang tadi mencuri perhatian Wu Li Mei. "Aku ingin melihat lotusku mekar dengan indah, lagipula aku sudah membaik berkat herbal yang kau kirimkan kepadaku. Ketahuilah, Mei-mei, aku sangat rajin meminumnya pagi dan malam sebelum tidur."
"Oh, rasanya tubuhku kembali bugar."
__ADS_1
Wu Li Mei tersenyum menanggapinya, ikut senang melihat wanita senja itu merasa lebih baik. "Syukurlah ibu jika semuanya berjalan baik."
"Aku penasaran dengan bunga lotus di kolam, kata dayang sangat indah. Bukankah itu benar?"
Sang selir mengangguk, "Benar, tapi tidak lebih indah dari peony."
"Kau merindukan peonymu?"
"Sangat merindukannya." Wu Li Mei menarik napas dalam, meresapi rasa rindu yang bersarang di dadanya. "Tidak ada hari yang ku lewatkan tanpa merindukannya."
"Ku yakin dia sudah bahagia di tempat terbaik bersama para dewa." ujar ibu suri, ia mulai melangkahkan kakinya menyusuri pinggiran kolam, diikuti Wu Li Mei di belakangnya. "Kita seharusnya ikut bahagia, karena putri Xie Ling tidak lagi merasa sakit."
"Ya, kau benar, Ibu."
Wanita tua itu menoleh, "Mei-mei?"
"Ya."
Wu Li Mei mengerjap pelan, masih berusaha mencerna apa maksud dari pertanyaan itu. Seperti yang diketahui, tidak ada yang benar-benar tulus di dalam istana. Wu Li Mei pun selalu berhati-hati sekalipun ia merasa ibu suri bukan ancaman, tapi tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan.
"Maksud ibu?"
Ibu suri mengendikkan bahu dengan senyum yang tak dimengerti sang selir. "Zhou Ming Hao adalah putra mahkota, tidakkah kau sebagai ibu kandungnya merasa ini tidak adil?"
"Seharusnya kau yang menjadi permaisuri dan selanjutnya menjadi ibu suri."
"Jika kau hanya puas menjadi selir agung, ketahuilah Mei-mei, selir agung dan yang lainnya hanya akan disingkirkan ketika kaisar baru naik tahta."
"Dulu aku juga seorang selir agung yang mencintai kaisar terdahulu dengan sepenuh hati."
__ADS_1
Ibu suri menerawang jauh pada hari pertamanya menginjakkan kaki di istana, kala itu ia hanya seorang anak bangsawan biasa yang diberi undangan untuk mengikuti pemilihan selir kaisar. Bersama banyak gadis lainnya, sang ibu suri bersaing untuk menjadi selir kekaisaran.
Merebut gelar selir saja sangat sulit, apalagi menjadi permaisuri. Istana baginya adalah sebuah permainan, menang dan kalah tergantu seberapa keras kita berusaha.
Zhou Huan Zhong, kaisar terdahulu memilih selirnya karena ia tidak puas hanya dengan sang permaisuri. Ia meminta dicarikan selir yang cantik untuk menemani tidurnya setiap malam. Ibu suri terpilih, ia menjadi salah satu selir kesayangan kaisar hingga akhirnya diangkat menjadi selir agung.
"Bukankah kau ingin membalas perbuatan Yang Jia Li terhadap peonymu?"
"Itu pasti ibu, tapi aku masih memikirkan bagaimana caranya. Aku takut caraku akan membuatnya semakin menyakiti anak-anakku yang lain." balas Wu Li Mei berpura-pura meragu, nyatanya ia sudah meracik lebih dari lima racun untuk Yang Jia Li.
Tapi wajah sendunya berhasil mengambil simpati ibu suri, wanita tua itu menggenggam jemari dingin Wu Li Mei. "Kau tidak perlu takut, Mei-mei."
"Aku tidak punya dukungan ibu, aku datang dari negeri lain dan sendirian disini." ujar Wu Li Mei merasa ragu. "Permaisuri punya banyak dukungan dari ayahnya dan pamannya."
"Kau tidak perlu khawatir, aku yang akan menjadi pendukungmu."
Wu Li Mei mengulas senyum cerah, akhirnya ia berhasil mengambil hati ibu suri tanpa bersusah payah. Wanita tua dengan kekuasaan melimpah itu akan sangat menguntungkan jika berada di pihaknya, ia pasti tak segan memberi dukungan penuh terhadap semua rencananya.
"Tapi Mei-mei,"
Sang selir agung menaikkan alisnya, menunggu apa yang akan disampaikan ibu suri selanjutnya. "Kau juga harus membuat kaisar berpihak kepadamu."
Sorot mata penuh binar itu meredup, Wu Li Mei menunduk dengan tatapan datar. Kaisar Zhou sangat tidak berguna, apa yang bisa ia lakukan untuk membantunya. "Untuk apa ibu? Kaisar diam saja saat dia tahu bahwa Yang Jia Li bersalah, dia juga diam saja saat Xiao Ling ku meregang nyawa."
"Aku tahu Mei-mei." Ibu suri mengangguk paham, "Tapi kau tetap membutuhkannya, jika ia tidak berguna maka kau harus membuatnya menjadi berguna. Sekalipun tidak bisa mengambil langkah, tapi kekuasaannya akan sangat membantumu."
"Kau harus naik tahta Wu Li Mei, buat kaisar tunduk dibawah kendalimu, maka ia akan melakukan apapun untukmu."
"Dekati dia, rayu hatinya, buat dia mencintaimu setengah mati. Baru setelahnya kau bisa mengendalikan sang kaisar sesuai dengan keinginanmu!"
__ADS_1
Ide licik itu sangat masuk akan, jika dipikirkan lagi, tidak ada cara yang lebih baik selain kaisar berada di sisinya. Wu Li Mei tersenyum simpul, ia menganguk pada ibu suri. "Kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan."
"Aku mengerti, ibu."