
Menghela napas dengan sangat dalam dan penuh kemenangan, itu yang saat ini tengah Yang Jia Li rasakan. Dengan hanfu berwarna merah darah, ia melenggang membelah jalan menuju ke dalam istana. Tempat dimana dia seharusnya berada, dengan berani dan banyak pengawal berpakaian serba hitam di belakangnya. Yang Jia Li telah berdandan begitu cantik untuk menunjukkan bahwa dia adalah permaisuri dan pendamping kaisar yang sesungguhnya, tapi saat ini ia lebih tertarik untuk mengisi tahta yang sedang kosong. Kedatangannya adalah untuk merebut kembali istana ini dan menjadi wanita nomor satu di dalamnya, karena telah merasa berhasil menyingkirkan Wu Li Mei.
“Terima kasih paman, aku sangat menghargai bantuanmu!” guman Yang Jia Li dengan senyuman kecil saat seseorang yang telah membantunya untuk masuk ke istana mengintip dari balik tembok.
Yang Jia Li tahu itu adalah pamannya, orang dibalik kembalinya dia ke istana lagi. Yang Hong Hui, membantunya untuk masuk tanpa masalah, biar saja ini terdengar seperti menyusup tapi begitulah caranya agar bisa kembali.
Langkah sang permaisuri terhenti seraya mata indahnya menatap bangunan megah nan paling besar yang ada di istana itu, ialah paviliun utama kaisar, tempat dimana singgasana berada.
Kembali menghirup udara yang begitu segar, sinar matahari menyorot dengan begitu berani menerangi bumi pagi itu. Yang Jia Li mengangkat dagunya tinggi agar siapapun tunduk kepadanya.
“Yang Jia Li!!”
“Yang Jia Li!!”
Suara itu membuat sang permaisuri memutar bola matanya, lagi-lagi wanita tua itu. Seharusnya dia mati saja, dan Yang Jia Li lupa untuk menyingkirkannya lebih dulu.
“Apa yang kau lakukan disini, bukankah kau masih dalam masa pengasingan?!”
Ibu suri tergopoh-gopoh datang menghampiri Yang Jia Li dengan wajah pias nan merah menahan amarah, langkahnya ia paksa untuk cepat datang menghadang permaisuri licik itu. Mendengar kabar dari para dayangnya bahwa Yang Jia Li masuk ke dalam istana membuatnya begitu kesal dan marah, seharusnya Yang Jia Li tidak berada disini. “Kau seharusnya masih berada di pengasingan karena masa hukumanmu belum berakhir, beraninya kau menunjukkan wajahmu disini, sungguh tidak tahu diri bagi orang yang tidak patuh akan kehendak kaisar!” sarkasnya.
“Aku datang bukan tanpa alasan!” sentak Yang Jia Li. “Keadaan Negeri Selatan sedang sangat berbahaya, jadi aku sebagai permaisuri negeri ini harus berada di istana untuk menjaga seluruh negeri.” Dalihnya.
“Tidak perlu!”
Yang Jia Li menautkan keningnya, melihat wajah wanita tua itu membuatnya kesal ditambah lagi sekarang dia sedang mencoba menghalanginya. “Apa maksudmu Ibu Suri?! Apa kau berpikir akan menghalangi langkahku untuk kepentingan negeri ini, aku tahu kekaisaran sedang kosong karena Yang Mulia Kaisar pergi untuk berperang. Sudah menjadi tugas dan tanggungjawabku menjaga istana saat kaisar tidak ada!”
__ADS_1
Ibu suri kembali menggelengkan kepalanya dengan tegas, “Kau tidak perlu melakukan itu, cepat kembali ke Biara Heng Shui untuk menjalani pengasinganmu. Tidak ada yang membutuhkanmu disini!”
“Sombong dan sangat angkuh sekali kau ibu suri! Aku adalah ratu di negeri ini, beraninya kau memerintahku!” berkilat marah, Yang Jia Li menatap ibu suri penuh amarah.
“Seharusnya aku yang mengatakan itu, kau tidak tahu diri dan dengan berani melanggar perintah kaisar!”
“Haaaahh!! Aku tidak peduli!!”
Yang Jia Li dengan ringan tangan mendorong ibu suri hingga tersungkur ke tanah, beruntung para dayang yang setia menemaninya berhasil untuk menangkapnya sehingga ibu suri tidak jatuh terlalu mengenaskan. Tapi tetap saja wanita tua itu kaget bukan main akan tindakan yang begitu berani dilakukan oleh Yang Jia Li. “Beraninya kau!!”
Tanpa menghiraukan Ibu suri lagi, Yang Jia Li kembali melanjutkan langkahnya menuju aula utama. Sang permaisuri membuka pintu utama dengan hati yang begitu gembira akan kemenangannya, seketika saat cahaya dari luar ikut masuk menyinari ruangan besar itu, kedua matanya terbelalak.
Seseorang telah duduk di tahta dengan banyak petinggi kekaisaran yang juga menatapnya kebingungan, bisikan demi bisikan dari orang-orang itu bersahutan dengan wajah pias Yang Jia Li.
“Apa yang ibu permaisuri lakukan disini? Bukankah kau seharusnya masih dalam masa pengasingan?”
“Apa yang ibu permaisuri lakukan disini? Bukankah kau masih dalam masa pengasingan?” tanya putra mahkota lagi.
“Ak—aku … “ lidah Yang Jia Li mendadak kelu.
“Kami sedang mengadakan pertemuan dan sangat tidak sopan untuk mengganggu begitu saja.” Ujarnya lagi, pemuda itu meletakkan gulungan kertas yang sedang ia baca ke atas meja. “Pengawal! Cepat bawa ibu permaisuri kembali ke Biara Heng Shui!”
“Hei!! Apa-apaan ini!! Lepaskan aku!!”
Yang Jia Li meronta dan memberontak keras saat kedua lengannya dicekal oleh para prajurit yang sialnya menuruti perintah dari Zhou Ming Hao, bukannya berhasil menduduki tahta dia justru dipermalukan di depan banyak orang. “Sial, lepaskan aku! Aku datang untuk membantu kaisar, seharusnya kau yang menjaga negeri ini menggantikan kaisar yang pergi berperang!!
__ADS_1
“Sial, lepaskan aku!!”
Zhou Ming Hao menatap permaisuri yang tengah meronta itu dengan malas, kunjungan tak terduga yang dilakukannya nyaris membuat jantung sang putra mahkota melompat dari tempatnya. Dia tidak bisa membayangkan jika Yang Jia Li datang dengan para pendukungnya dan berniat untuk menggulingkan tahta, sungguh satu hal yang begitu menakutkan. Tapi sebelum itu semua terjadi, Zhou Ming Hao harus menyelamatkan tahta dan juga dirinya, dia telah mendapatkan mandat langsung dari kaisar dan disaksikan oleh banyak orang serta para petinggi. Tentu ini sudah menjadi tanggungjawabnya dan tidak bisa diganggu lagi.
“Keluarlah ibu, sedang ada pertemuan dan kami tidak akan melibatkanmu. Jika kau memang mau mengurus sesuatu, tunggulah di luar sampai pertemuan ini usai.”
“Tapi sebaiknya tidak perlu mengurus apapun karena seharusnya kau tetap berada di pengasingan!”
“Tindakanmu ini bisa disebut dengan pengkhianatan karena telah melanggar perintah dari kaisar, sesuai dengan peraturan yang tertulis seharusnya hukumanmu ditambah. Tapi biarlah kaisar sendiri yang memutuskan itu! Sebaiknya kau kembali ke Biara Heng Shui, ibu permaisuri!”
Dengan dagunya, putra mahkota memerintahkan para prajurit untuk membawa pergi Yang Jia Li dari ruang rapat. Sungguh pemandangan yang tidak terduga-duga dan sangat berani, dua orang yang penuh kekuasaan sedang mempertahankan kekuasaan masing-masing yang sama kuatnya. Ruangan seketika menjadi hening dan bertambah hening, setelah pintu kembali tertutup hanya ada suara putra mahkota yang menginterupsi untuk melanjutkan rapat. Pada awalnya, banyak yang meremehkan putra mahkota sebagai kaisar sementara, tapi langkah-langkah dan wibawanya sungguh membuat siapa saja tunduk kepadanya.
Di luar, Yang Jia Li terus meronta. Para pengawal yang tadi mengikutinya tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka telah dikepung dari berbagai arah oleh pengawal kekaisaran yang berjaga.
“Sial!! Lepaskan aku!!”
“Lepaskan!!!”
“Apa kalian tuli, cepat lepaskan aku!!”
“Lepaskan dia!” suara bariton yang mengalun tegas itu membuat prajurit dan Yang Jia Li berhenti, “Biar aku yang bertanggungjawab untuk mengantar permaisuri kembali ke pengasingan.”
“Baik!”
Para prajurit itu pergi, meninggalkan Yang Jia Li bersama kepala departemen kejaksaan dan pengawalnya. Yang Jian Zhu menatap sang adik dengan begitu kesal, kilatan marah dan malu menjadi satu di dalam sorot tajam itu. “Bagaiman perasaanmu telah mempermalukan diri di hadapan anak seumur jagung?!” sarkas Jian Zhu.
__ADS_1
“Sudah ku bilang kau tidak perlu banyak tingkah, Jia Li.” Tambahnya lagi, “Ayo, sebaiknya kau kembali ke Biara Heng Shui untuk merenungi kesalahanmu.”
“Tidak sudi!!” tolak Yang Jia Li mentah-mentah.