
Semua orang berbondong-bondong turun ke jalanan untuk melihat arak-arakan kaisar baru mereka, wajah penuh senyum kepalsuan itu menatap sekeliling dengan damai sambil melambaikan tangan. Tapi, Wu Li Mei justru menatap mereka tanpa minat sedikitpun, sang selir hanya melirik dengan culas dan kembali menyendok sup rumput lautnya. Kaisar tak luput mengamati bagaimana wajah cantik itu tampak sangat tak menyukai mereka yang sedang duduk di tandu sembari melempar uang koin emas kepada para penduduk.
Kaisar hanya diam dan mengamati untuk beberapa saat, terlebih saat Wu Li Mei berdecih dan terus mengaduk makanannya. “Sebenarnya apa yang mengganggumu, Mei’er? Kau tidak suka melihat mereka?” tanya kaisar.
Wu Li Mei memaksakan kedua sudut bibirnya untuk tersenyum, “Apakah itu terlihat sangat jelas?”
“Ya, kau tak pandai berbohong sejak dulu.”
“Aku memang tidak menyukai mereka, aku yakin orang-orang itu juga tidak akan suka jika tahu siapa orang yang sedang mereka agung-agungkan itu.” Wu Li Mei menoleh pada rombongan Wu Zhen yang berhenti dan menyampaikan pidato di depan para rakyatnya.
Kedai makan yang dipilih oleh kaisar kali ini adalah bangunan besar dengan dua lantai, dan mereka berada di lantai atas yang dikhususkan untuk para bangsawan. Dari atas sini, pemandangan memuakkan bagi Wu Li Mei terlihat dengan jelas. Wu Zhen dan permaisuri baru itu diarak mengelilingi kota dan menyampaikan pidato di beberapa pusat keramaian, semua orang sontak bersorak dan memuja-muja kaisar baru mereka. “Tidakkah seharusnya kita pergi? Aku muak dengan mereka.”
“Baiklah, jika itu yang kau inginkan.”
Kaisar Zhou mengeluarkan kantung uang dari lengan hanfunya, ia meletakkan beberapa keping logam emas untuk membayar makanan mereka. Tanpa menunggu lagi mereka segera pergi dari kedai itu. Tujuannya bukan tempat itu, mereka hanya mampir untuk mengisi perut karena hari masih sangat pagi saat mereka pergi untuk mengunjungi kota secara sembunyi-sembunyi. Menyamar adalah hal yang biasa mereka lakukan, tidak sulit sama sekali untuk menyesuaikan diri dengan rakyat biasa disana. Sebenarnya hanya ada satu tempat yang sangat ingin dikunjungi oleh Wu Li Mei yaitu balai pendidikan. Sebuah bangunan berukuran sedang tanpa pintu dan jendela, hanya ada ubin kayu dan rak berisi buku-buku. Di bagian paling depan ada sebuah papan dan alat tulis yang terbuat dari kapur sederhana.
Balai Baca Tulis, begitulah papan nama itu menamai tempat ini. Tak hanya Wu Li Mei, tapi kaisar pun dibuat ternganga dengan para anak-anak berpakaian compang-camping dan tampak kusut sedang belajar membaca huruf dan angka di dalam balai itu. Ada satu cendekiawan yang bertugas untuk mengajari mereka, dengan sabar dan penuh ketekunan.
__ADS_1
“Apa ini?” tanya kaisar masih sangat kebingungan.
Wu Li Mei menunjuk ke papan, “Balai baca tulis, ini adalah tempat untuk belajar membaca dan menulis.”
“Tapi… mereka rakyat biasa.”
“Itulah keunggulan negeri ini, Yang Mulia, ehh!” Wu Li Mei menepuk bibirnya saat tak sengaja memanggil kaisar di depan umum, untung saja tidak ada orang yang mencurigai mereka. “Ini adalah salah satu keunggulan negeri ini, rakyatnya bisa membaca dan menulis, paling tidak hampir semua penduduk bisa mengerti huruf dan angka. Pendidikan sangatlah penting, suatu negeri bisa menjadi makmur karena rakyatnya pandai membaca dan menulis.”
Sang kaisar dibuat terdiam, pria itu menatap Wu Li Mei dan balai itu bergantian. Setelah di telisik lebih dalam pun, benar apa yang dikatakan sang selir. Balai ini dibuat khusus untuk para rakyat belajar membaca dan menulis, tak hanya anak-anak tapi juga orang dewasa yang ikut dalam kegiatan belajar. “Apa hal semacam ini bisa dilakukan? Hanya mereka dari kaum bangsawan yang boleh mendapatkan pendidikan Mei’er, bukankah mereka sudah lancang? Kenapa kekaisaran tidak menghukum mereka saja.”
“Buku-buku itu adalah saksinya!”
“Itu sangat tidak masuk akal.” Sanggah kaisar.
“Tidak masuk akal? Bagaimana bisa? Aku sendiri yang bertanya kepada ayah dan ibuku tentang balai ini, bagimana kau bisa mengatakan ini tidak masuk akal.” Wu Li Mei berkacak pinggang menatap sang kaisar sama galaknya, “Coba sekarang pikirkan pentingnya pendidikan bagi manusia, jika kau sebagai kaisar tidak bisa membaca dan menulis, apa yang akan terjadi? Tentu saja kau akan menjadi bodoh dan mudah dicurangi bukan. Sama saja dengan para rakyat itu.”
“Beraninya kau menyamakan aku dengan mereka, jelas tidak akan bisa dibandingkan!”
__ADS_1
Wu Li Mei memutar bola matanya malas, kaisar tampak tidak bisa menerima jika rakyat biasa juga mendapatkan pendidikan sama seperti kaum bangsawan. Hidup di lingkungan istana yang menjunjung tinggi harkat dan martabat, Kaisar Zhou tumbuh menjadi seseorang tinggi hati karena sejak kecil telah diajari untuk menjunjungi tinggi derajat mereka sendiri. “Tapi lihatlah lagi bagaimana negeri ini begitu maju, papan pengumuman ada dimana-mana, banyak penulis picisan, serta banyak karya sastra hebat dan ada disini. Tidakkah itu sangat hebat? Negeri Ming pasti bisa menjadi lebih hebat dengan sistem yang baru ini.”
“Mengapa kau tidak membangun satu balai pendidikan untuk rakyat biasa di kota dulu? Aku bersedia menjadi pembimbing jika para cendekiawan tidak ada yang mau.”
Kaisar Zhou melengos lalu berbalik, “Sudahlah Mei’er, simpan saja mimpimu itu, rakyat jelata tidak akan bisa membaca dan menulis. Mereka telah terlahir menjadi budak dan pekerja rendahan, tidak akan ada yang berubah jika pun mereka bisa baca tulis.”
“Ada!” Wu Li Mei menahan lengan kaisar yang hendak pergi, “Aku yakin ada, aku akan membuktikannya, Yang Mulia!”
“Simpan saja mimpimu itu karena aku tidak akan melakukannya.”
“Kalau begitu aku yang akan membuatnya!” tantang sang selir agung, wanita itu berkacak pinggang dan menghentikan langkahnya. Dia menatap punggung kaisar yang perlahan mulai berbalik, “Jika kau tidak mau, maka itu tidak jadi masalah, aku akan membangunnya sendiri dengan semua hartaku. Jangan sangat kau menyesalinya, Yang Mulia, pendidikan sangat penting bagi suatu peradaban, jika kau berani meniru kebijakan yang baik ini maka hasil yang memuaskan akan kau raih.”
“Kau hanya pergi percaya bahwa ini akan berhasi, mungkin di awal tidak akan berjalan baik tapi semua itu adalah proses.”
“Aku sungguh memikirkan kehidupan para rakyat, sayang sekali kau tidak mau menerima ideku.” Ujar Wu Li Mei.
Sang selir agung mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan kedua tangan terlipat, Wu Li Mei seperti enggan untuk pergi dan ini akan sangat merepotkan. Mengingat bagaimana keras kepalanya selir agung, kaisar menghela napas dalam-dalam. “Baiklah jika itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya, Mei’er.”
__ADS_1