
Kembali ke toko obat setelah semuanya perlahan membaik, Wu Li Mei akhirnya bisa menghela napas lega karena wabah di kota sudah berhasil diatasi dengan baik berkat bantuan obat-obatan dari kekaisaran dan darinya sendiri. Musim perlahan mulai berubah menjadi lebih bersahabat sehingga rakyat tidak lagi mengeluh gagal panen. Tempat yang baru ini pun semakin membuat namanya terkenal hinggal ke pelosok negeri, setelah wabah di pusat kota mereda, kini giliran bagian negeri lain yang membeli obat kesana dan mereka juga mengatakan jika obatnya manjur.
Sepertinya Wu Li Mei harus melebarkan sayap, tapi bagaimana caranya karena langkahnya juga terbatas disini. Dia harus selalu menutupi identitasnya agar kekaisaran tidak tahu siapa pemilik toko obat yang sebenarnya.
Semakin tinggi pohon maka semakin kencang badai menguncang, itu benar adanya, dan Wu Li Mei tahu benar jika dia tidak punya kekuasaan sebesar itu untuk melindungi diri dan toko obat. Tapi semoga saja para dewa melihat ketulusannya dan memberikan jalan yang terbaik.
“Bu?”
“Ibu?”
“Eh, ya?” Wu Li Mei tersentak saat Zhou Fang Yin menepuk lengannya. Seperti orang linglung, Wu Li Mei mengerutkan keningnya dalam. “Kenapa, Xiao Yin?”
“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa ibu melamun?” tanyanya.
“Ibu? Ah, tidak, ibu tidak melamun.”
“Lalu?”
Sang putri bertopang dagu menatap ibunya yang sedang berkilah namun sudah tertangkap basah, karena hari ini bukan penghujung minggu, jadi Wu Li Mei hanya datang bersama kedua anaknya tanpa membuka praktek. Dia hanya datang untuk memeriksa stok obat yang sudah habis dan obat mana yang paling sering dibeli.
“Apa kalian sudah selesai?” tanya Wu Li Mei mengalihkan perhatian kedua anaknya.
Putra mahkota dan Zhou Fang Yin mengangguk, mereka memberikan catatan pengamatan yang sudah ditulis dengan rapi. Wu Li Mei menerimanya lalu membacanya sekilas, “Kalau begitu ibu akan memesan obat dulu di dermaga.” Ujar Wu Li Mei.
“Ibu pergi bersama siapa?” tanya Zhou Ming Hao, “Biar aku temani saja.”
“Tidak perlu, ibu akan pergi bersama Dayang Yi saja. Tabib Zhong sepertinya sudah menunggu di dermaga juga. Sebentar lagi kapal menuju negeri Hang akan segera berangkat, ibu tidak mau tertinggal memesan obat.”
Kedua anaknya mengangguk paham, Zhou Ming Hao merebahkan tubuhnya menatap langit-langit. “Ahh, aku jadi penasaran seperti apa Negeri Hang itu.” Gumannya tapi dapat didengar semua orang disana.
“Sangat indah, makmur, dan rakyatnya sejahtera. Negeri Hang adalah negeri besar yang maju dan ibu kagumi.” Jawab Wu Li Mei.
“Seandainya aku bisa pergi mengunjungi kakek dan nenek barang sekali saja seumur hidup ini, aku pasti akan datang kesana. Tapi kekaisaran selalu melarangnya.” Keluh Zhou Fang Yin.
“Bagaimana lagi, kita harus menerima takdir hidup sebagai penerus kekaisaran. Kalau terjadi sesuatu, maka negeri ini tidak akan memiliki penerus. Kalau boleh jujur, aku pun ingin pergi ke Negeri Hang untuk bertemu kakek dan nenek, tapi apa boleh buat saat kita hanya bisa bertukar kabar lewat pesan dan hadiah.”
Membayangkan seperti apa negeri lain selain negerinya, Zhou Ming Hao jadi bertanya-tanya apakah salahnya pergi mengunjungi kakek dan nenek. Tapi peraturan tetaplah peraturan dan tidak boleh dilanggar, dia tahu sebagai penerus dia tidak boleh terluka dan bepergian jauh meninggalkan istana. Kakek dan neneknya juga pasti tahu, karena itu mereka hanya bertukar kabar lewat hadiah yang dikirimkan melalui kapal yang menepi sebulan sekali.
Setiap pesan yang dikirim hari ini akan sampai dalam satu atau dua minggu, tergantung keberangkatan kapal dan tujuan kapal itu hingga sampai di negeri Hang yang adidaya.
__ADS_1
Zhou Fang Yin tersenyum membayangkan betapa indah negeri itu, “Aku mendapatkan lukisan negeri Hang dari nenek, dan itu sangat indah, yang asli pasti juga jauh lebih indah.”
“Benarkah?” tanya sang kakak.
“Iya.”
“Kenapa aku tidak dapat?”
Si adik merotasikan bola matanya, “Memangnya kau pernah berkirim pesan dengan nenek dan kakek. Kau selalu memintaku untuk menuliskan kabar kita berdua dan ibu, sejak dulu selalu begitu.”
“Lalu apa saja yang kau tulis disana, Xiao Yin?” tanya Wu Li Mei ikut penasaran.
“Banyak hal, aku menceritakan semua hal yang menarik dan setiap harinya sehingga punya pesan yang dikirim untuk kakek nenek setiap bulannya, bu. Seperti kakak yang meminta busur panah, dan aku yang meminta lukisan.”
“Apa kalian sering berkabar?”
Sang putri mengangguk, “Selalu, setiap bulannya, dan itu sudah kami lakukan sejak kecil. Ibu sendiri dulu yang mengajari kami untuk mengirim pesan kepada kakek dan nenek, ibu juga meminta pelukis istana untuk melukis kami tiap tahun dan akan mengirimkan kepada kakek dan nenek.”
Wu Li Mei mengangguk paham, jadi ini alasan dimana paviliunnya di istana Hang terbingkai banyak lukisan mereka dari tahun ke tahun. Wu Li Mei dan kedua anaknya, juga banyak lukisan negeri ini dan kaisar. “Oo, jadi begitu ya, ya sudah, kalau begitu ibu pergi dulu.”
“Apa kami boleh pergi juga?” tanya Zhou Ming Hao.
“Hanya berkeliling pasar saja.”
“Tapi kalian harus kembali sebelum petang.”
Kedua anak remaja yang sedang tumbuh dewasa itu langsung berbinar, “Baik, bu!”
***
“Hmmmm … cerahnya hari ini.”
“Ini terik bukan cerah.” Ujar si adik yang mengeluh karena cuaca sangat terik. Telapak tangannya ia letakkan di atas kepala untuk menghalau sinar matahari yang kian membuatnya pusing.
“Apa kau akan terus mengikutiku, Xiao Yin?”
“Lalu? Apa aku harus pergi sendiri.”
Sang kakak mengangguk dua kali, “Tentu saja kau harus pergi sendiri, aku ingin pergi menemui seseorang jadi kau sebaiknya jangan mengikutiku.” Larang sang kakak.
__ADS_1
“Bertemu siapa?”
“Rahasia.”
“Seorang wanita?”
Zhou Ming Hao enggan menjawab dan itu sudah cukup menjadi sebuah jawaban, “Kalau begitu aku ikut, aku juga ingin mengenal wanita mana yang berhasil memikat hati kakakku sendiri. Apa dia gadis yang baik atau bukan.”
“Enak saja, dia gadis baik-baik, cantik dan lembut.”
“Cantik siapa aku dengan dia?”
Sang putra mahkota hanya bisa tersenyum dan mengusap pipi adiknya yang memerah disengat teriknya matahari. Selalu lucu sekali saat ia sedang merajuk, “Tidak ada yang menandingi kecantikanmu, adikku sayang, aku bersumpah kau gadis tercantik di negeri ini karena kau sangat mirip dengan ibu.”
Kalimat itu berhasil menjadi penghibur, tapi tetap saja setelahnya dia ditinggalkan. Zhou Fang Yin menatap punggung sang kakak yang mulai menjauh dan hilang di antara orang-orang. Sudah waktunya sang kakak melihat dunia yang tidak hanya diisi oleh dia dan ibunya saja, ada banyak gadis cantik di kota dan pasti salah satu dari mereka telah berhasil memikat hati Zhou Ming Hao. Dia sebenarnya sangat penasaran, tapi apa boleh buat karena sang kakak enggan memberitahunya.
Lalu?
Sekarang kemana dia harus pergi?
Zhou Fang Yin mendongak saat terik matahari tidak lagi terasa menyengat kepalanya, sebuah payung berada di atas kepalanya. Dan saat ia menoleh, wajah tak asing menyapanya. “Kita bertemu lagi, Xiao Yin.”
“Jing Xuan?”
“Ya, ini aku.”
“Bagaimana bisa? Bukannya kau seharusnya sedang belajar?”
Jing Xuan mengangguk dua kali, “Hari ini tidak ada belajar karena sedang ada festival.”
“Festival?”
“Iya.”
“Festival apa? Dimana? Kenapa aku tidak mendengar kalau ada festival ya.”
Zhou Fang Yin berbinar mendengar adanya festival karena dia tidak pernah menonton festival sebelumnya. Sedangkan Jing Xuan hanya bisa mengerjap gugup saat gadis cantik yang begitu cantik itu terus menatapnya, sial, debaran jantungnya kian menggila saja. “Ah, itu … festival perahu rakyat, bukan festival besar jadi wajar jika kau tidak tahu. Tapi kalau kau ingin melihatnya, aku dengan senang hati mengajakmu untuk pergi, di danau yang waktu itu.”
“Aku mau!” jawab sang putri.
__ADS_1
“Kalau begitu ayo!”