Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Kepergian permaisuri


__ADS_3

Rombongan yang akan mengantar Yang Jia Li menuju Biara Heng Shui telah sampai, sang permaisuri yang gelarnya sedang ditangguhkan itu hanya bisa tertunduk lesuh menerima nasibnya. Hanfu putih lusuh nan sederhana menjadi temannya dalam menjalankan hukuman. Tidak ada lagi kemewahan dengan tusuk konde bertingkat dan hanfu sutera lembut, semuanya akan menjadi berbalik mulai sekarang.


Sebenarnya ini tidak cukup, Wu Li Mei ingin sesuatu yang lebih daripada ini menimpa permaisuri. Balasan untuk kejahatan yang selama ini dilakukan, hanya pengasingan saja rasanya tidak cukup. Paling tidak ia juga harus merasakan apa yang mendiang Putri Xie Ling rasakan.


"Apa ibu baik-baik saja?"


Wu Li Mei mengangguk sekalipun ia terlihat seperti seseorang tengah gundah. Seharusnya ia senang karena Yang Jia Li diasingkan, tapi Wu Li Mei justru merasa tidak puas.


"Ibu terlihat pucat."


"Tidak, ibu baik-baik saja. Jangan khawatir!" jawab Wu Li Mei mencoba lebih meyakinkan.


"Bu, apa kita harus menyapa permaisuri untuk yang terakhir?" tanya Zhou Ming Hao, ia berdiri di samping sang ibu dan Zhou Fang Yin. Menatap dari jauh rombongan Panglima Hao yang sedang bersiap.


Wu Li Mei menggeleng, "Tidak perlu, untuk apa kita menyapa wanita itu sebelum dia pergi. Dia hanya akan marah dan muak melihat kita, nanti akan ada drama yang ia mainkan untuk menggagalkan pengasingan ini. Dan ibu tidak mau itu terjadi."


"Sudah diputuskan, mana mungkin bisa dicurangi bu?" tanya sang putri.


"Bisa saja." Wu Li Mei mengangguk dua kali, "Dia tetap berkuasa atas banyak hal sekalipun sudah ditangguhkan sebagai permaisuri. Yang Zuo dan Yang Jian Zhu masih kuat menjadi benteng untuk kekuasaan Yang Jia Li."


"Setelah ini apa lagi bu? Apa kita tetap diam saja? Kalau sampai permaisuri kembali maka kita akan dibuat menderita lagi. Itu pasti!" ujar sang putra mahkota.


Wu Li Mei menggeleng tegas, "Kita tidak bisa diam saja, kita harus buat dia menderita dan tidak kembali lagi."


"Tapi bagaimana caranya?"

__ADS_1


Keberangkatan rombongan Yang Jia Li dengan tandu dan pasukan berkuda mengalihkan perhatian mereka, Yang Jia Li menunduk lesuh dan tidak bersemangat, beberapa kali ia menyeka air matanya sebagai drama agar orang-orang memberikan belas kasihan.


Tapi itu jelas tidak mempan untuk Wu Li Mei, langkah wanita cantik itu lurus menyanding Kaisar Zhou dan mengamit lengannya.


"Mei-er?" sang kaisar menoleh cepat, ia menatap Wu Li Mei kaget. “Ada apa?”


"Terima kasih untuk semuanya, kamu akhirnya memilih pilihan yang tepat untuk semua orang." ucap Wu Li Mei.


Sang kaisar tersenyum penuh arti lalu menganggukkan kepalanya dua kali, tangannya yang bebas terangkat untuk mengelus puncak kepala sang selir agung. “Semua hukuman didasarkan pada kesalahan yang telah diperbuat, kali ini kupastikan Yang Jia Li tidak akan menyakiti siapapun lagi. Dia harus diberi pelajaran agar mengerti arti kehidupan yang sebenarnya.”


“Seandainya aku menggantikan dia untuk sementara, apa itu bisa terjadi?”


“Sayangnya tidak Mei-er, Yang Jia Li tetap menjadi permaisuri sekalipun gelarnya ditangguhkan, tapi jika kau memang menginginkan posisi itu maka bertarunglah untuk mendapatkannya. Posisi itu memang sedang kosong, dan kau pasti tahu bagaimana caranya untuk menjadi ratu.” Ujar sang kaisar penuh perhitungan, rangkaian kalimat itu memang terdengar seperti sebuah adu domba, tapi itu adalah kenyataan yang harus dijalani jika ingin menjadi pemenang di dalam istana. Siapa yang tidak mau menjadi wanita nomor satu di kekaisaran.


Wu Li Mei mengangguk, “Aku siap kalau harus bertarung dengan Yang Jia Li, sejak awal pun kalau aku ingin aku bisa saja mengambil apa yang dia miliki.”


“Tunggu dan lihatlah, siapa yang berhasil menang di akhir nanti.” Jawab Wu Li Mei, ia tersenyum begitu manis dan cantik kepada sang kaisar, seolah pembicaraan mereka begitu baik. Terlebih saat rombongan Permaisuri Yang datang.


Yang Jia Li tentu tahu maksud dari itu semua, di balik tandu ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, wajahnya yang putih bersih berubah menjadi merah padam menahan amarah. “Sial! Lihat saja kau Wu Li Mei, aku akan membuatmu menderita.” Sumpahnya dalam hati.


Yang Jia Li keluar dari dalam tandu untuk memberikan penghormatan kepada kaisar dan beberapa anggota kekaisaran yang datang untuk mengantarnya. “Salam Yang Mulia, semoga kaisar hidup seribu tahun.”


“Bangkitlah!” titah Kaisar Zhou, “Berangkatlah menuju biara Heng Shui, abdikan hidupmu dengan tulus disana dan sesali semua perbuatan jahatmu kepada semua orang yang telah kau buat menderita.”


“Baik, Yang Mulia.” Jawab Yang Jia Li.

__ADS_1


Panglima Hao datang dan membawa Yang Jia Li kembali ke dalam tandunya, tandu sederhana dan tidak ada kereta kuda. Sungguh sebuah kemalangan yang paling dibenci oleh sang permaisuri, sialnya ia tidak bisa menyanggah dengan apapun karena semuanya terjadi begitu mendadak. Ayah dan kakaknya malah tidak tahu dimana berada, jadi siapa yang bisa menolongnya.


Dari kejauhan, Yang Jia Li melihat barisan para menteri. Dan salah satunya adalah Yang Hong Hui, pamannya sendiri sekaligus orang yang berpengaruh di dalam istana. Yang Hong Hui memberikan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh Yang Jia Li.


Yang Jia Li membuka jendela di dalam tandu itu, “Dayang Yue?!” panggilnya setengah berteriak.


“Dayang Yue!!”


“Dayang Yue!!”


Sang dayang yang dipanggil tiga kali itu tergopoh-gopoh berlari menuju ke tandu, “Ya, Yang Mulia?”


“Kemana saja kau ini? Kau seharusnya tetap berada di sampingku.”


“Maaf, Yang Mulia. Tapi saya dan dayang lainnya harus berjalan di belakang.” Jawab Dayang Yue sambil menunduk takut.


Permaisuri Yang melipat kedua tangannya dengan angkuh, “Hallah, alasan saja kau ini. Sebaiknya kau cepat ambilkan aku minum karena aku haus.”


“Minum?” beo sang dayang.


“Iya! Apalagi, kamu tidak tuli kan Dayang Yue. Hentikan rombongan ini karena aku sangat haus. Bawakan aku satu cawan besar jika perlu, aku haus sekali! Cepat tunggu apa lagi!!” bentak Yang Jia Li begitu kasar.


Dayang Yue tidak bisa menyanggah lagi, ia segera berlari menyusul Panglima Hao dan mengatakan jika Yang Jia Li ingin minum. Sang panglima mengangguk dan menghentikan perjalanan, menunggu sampai sang dayang mengambil persediaan dan memberikan segelas air kepada Yang Jia Li.


Di dalam tandunya, wanita cantik itu mengeluarkan sebuah herba dari dalam lipatan bajunya yang tersembunyi. Hanya sebuah herba kecil yang tidak sampai sebesar jari kelingking, tapi ia yakin bahwa herba beracun ini akan membuatnya sakit selama berhari-hari. Tujuannya sudah jelas agar kaisar berempati dan memulangkannya atau paling tidak ia disuruh berdiam saja di paviliun.

__ADS_1


Yang Jia Li cepat-cepat mengunyah herba pahit sampai ke pangkal lidah itu, ia menelannya susah payah padahal rasanya sangat ingin muntah.


“Ini min---” belum sempat sang dayang menyelesaikan ucapannya, air di dalam gelas yang ia bawa itu sudah direbut paksa oleh Yang Jia Li. Ia menenggaknya hingga tandas seperti orang yang tidak minum berhari-hari.


__ADS_2