Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Pemeriksaan paviliun permaisuri


__ADS_3

Panglima Hao memimpin pemeriksaan di paviliun permaisuri karena berry liar yang tumbuh di halaman paviliun terjaga itu telah meracuni ibu suri, beruntung racun berry itu tidak sampai membuat ibu suri sakit parah. Dengan perawatan dan pengobatan dari Wu Li Mei, akhirnya kesehatan ibu suri perlahan pulih. Baru saja menginjakkan kaki di negeri tercinta, Wu Li Mei dan Kaisar Zhou harus dipusingkan dengan masalah yang muncul karena Yang Jia Li, permaisuri itu tidak pernah bosan untuk merusak ketenangan di dalam istana. Kali ini Yang Jia Li meracuni ibu suri, selanjutnya apa lagi yang akan dilakukan oleh permaisuri licik itu.


Dan berry liar itu ditemukan, tumbuh dengan subur di halaman belakang paviliun yang tidak terawat. Setelah dilihat lagi, ternyata paviliun megah itu tidak seindah yang terlihat dari luar, tidak ada bunga dan tanaman sayuran seperti paviliun selir agung. Satu-satunya yang membuat Wu Li Mei iri dengan paviliun itu adalah danau teratai tidak terawat yang ada disana, beberapa kali bahkan ia pernah mendengar ada ular yang masuk ke dalam ruangan dan asalnya dari danau.


Suatu hari nanti, jika Wu Li Mei berhasil menempati paviliun ratu. Ia akan mengubah danau itu menjadi indah dengan banyak bunga teratai dan ikan-ikan yang berenang lincah.


“Yang Jia Li terbukti bersalah?” tanya Wu Li Mei pada Dayang Yi.


“Saya belum tahu, Yang Mulia, penyelidikan masih terus dilakukan. Tapi kali ini sudah pasti permaisuri akan bersalah karena saya mendengar ditemukan berry liar itu dalam paviliun ratu.” Jawab Dayang


Yi.


"Jadi berry itu benar ada ya?”


“Benar, Yang Mulia, dan lagi berry itu dikabarkan jenis berry yang beracun.”


Wu Li Mei menerbitkan senyumnya, kali ini Yang Jia Li tidak akan bisa berkutik lagi, kesalahannya sudah jelas ada


di depan mata dan dia harus menerima hukuman atas apa yang ia perbuat. Lu Yan yang sedang memijit kaki sang selir hanya bisa saling tatap dengan Dayang Yi, Wu Li Mei tidak merespon lagi dan malah tersenyum puas. Sepertinya ada rencana yang terlintas dalam kepala sang selir agung untuk membalas perbuatan permaisuri.


“Maaf, Yang Mulia.” Panggil Lu Yan, kedua tangannya terus memijat kaki Wu Li Mei meskipun tatapan sang dayang terarah pada selir agung. “Apa anda tidak akan melakukan sesuatu untuk kali ini?”


“Maksudmu?”


“Seperti sebuah rencana?”


“Rencana untuk apa?”


Lu Yan terdiam, gelengan dari Dayang Yi membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya. “Maaf, Yang Mulia, saya hanya meracau.”

__ADS_1


“Tidak Xiao Lu.” Wu Li Mei terkekeh pelan, ia tahu apa yang dimaksud oleh Lu Yan adalah rencana untuk menyingkirkan Yang Jia Li, tapi sang selir ingin bermain-main dengan keberanian Lu Yan. “Ini kesempatan yang baik untukku bukan, aku tidak akan menyia-nyiakan ini. Yang Jia Li harus mendapatkan balasan atas apa yang ia lakukan. Kira-kira hukuman apa yang pantas untukmu?”


“Maaf, Yang Mulia, karena ini sepertinya tidak disengaja dan permaisuri tidak benar-benar berniat untuk meracuni ibu suri. Maka jika Ibu suri memaafkan, permaisuri tidak akan bersalah.”


“Kenapa begitu?”


“Karena hanya kesalahpahaman saja, Yang Mulia.” Jawab Dayang Yi.


“Lalu, menurutmu ibu suri akan memaafkannya?”


“Saya kurang tahu untuk itu, tapi jika ini benar hanya kesalahpahaman pasti ibu suri pun akan memaafkan permaisuri.”


Wu Li Mei menunduk lesuh, baru saja ia hendak bersorak karena Yang Jia Li akan dihukum tapi kini harapannya seolah sia-sia saja. “Tapi, anda bisa mencari cara untuk membuat permaisuri dipersalahkan, Yang Mulia.” Bisik Lu Yan pelan.


“Dipersalahkan?”


“Ya.”


“Dengan keputusan dari kaisar, sebelum ibu suri bisa bangun dan memutuskan untuk memaafkan permaisuri. Anda bisa membuat kaisar memutuskan bahwa permaisuri bersalah, bukan?” tutur Lu Yan, rencana licik kali ini memang masuk akal. Meskipun strateginya kali ini terbaca tapi tidak masalah, menggunakan cara licik untuk membalas kelicikan Yang Jia Li.


Wu Li Mei mengangguk dua kali, “Kau benar, tapi bagaimana meminta kaisar untuk menghukum Yang Jia Li?”


“Itu mudah saja, Yang Mulia.” Jawab Dayang Yi.


“Bagaimana?”


“Anda pasti tahu bagaimana caranya.”


***

__ADS_1


Memantapkan langkah, kali ini Wu Li Mei mengikuti saran dari para dayang setianya. Dia harus membuat Yang Jia Li mendapatkan hukuman alih-alih berpangku tangan menunggu takdir berjalan. Kali ini memang harus sedikit nekat, biar saja, Yang Jia Li juga tidak kalan nekat.


Di tangannya, Wu Li Mei membawa nampan berisi mangkuk kecil dengan ramuan herbal racikan di dalamnya. Akan ia berikan pada ibu suri agar wanita itu cepat sehat, tapi bukan hanya itu tujuannya untuk datang. Wu Li Mei mempersiapkan senyuman paling manis dan anggun yang bisa ditampilkan wajah jelita itu, wajah cantik milik sang selir agung yang awet muda dan sangat terawat. Sampai di dalam kamar, Wu Li Mei langsung masuk dan menuju ranjang tempat ibu suri berbaring, demam tinggi dan ruam di kulit wanita tua itu sudah mulai membaik. “Bu, aku membawakan obat!” ujar Wu Li Mei.


“Mei-mei?”


“Ya, ini aku.”


“Kau tidak perlu repot-repot, ada dayang dan tabib yang akan menyiapkan obat.”


“Aku tidak repot, bu, aku justru ingin melihat dan memastikan jika ibu sudah membaik.”


Ibu suri tersenyum, bersusap payah terduduk dan bersandar pada kepala ranjang. “Aku sudah baik, semuanya karena obat yang kau berikan kepadaku langsung membuatku sembuh. Kau memang sangat hebat Wu Li Mei, aku tidak tahu jika kau punya keahlian seperti itu.”


Wu Li Mei memberikan mangkuk berisi obat itu dan disambut dengan senang hati oleh sang ibu, semua obat terasa pahit dan benar saja jika obat itu juga tidak manis saat melewati tenggorokan. Bau menyengat saat cairan berwarna pekat itu masuk ke dalam tubuh membuat pening di kepala ibu suri perlahan menghilang. Setelah menenggaknya hingga tandas, ibu suri mengembalikan mangkuk itu pada Wu Li Mei.


“Aku senang karena ibu sudah membaik.”


“Terima kasih, ini juga karena bantuanmu, Mei-mei.”


“Aku senang bisa membantu, bu.” Ucap Wu Li Mei penuh ketulusan, rasanya seperti mengulang kembali ingatan Risa tentang para pasiennya. Mereka juga selalu mengucapkan terima kasih atas dedikasi Dokter Risa mengobati mereka. Pekerjaan menjadi seorang dokter itu sangatlah berat, tapi di satu sisi juga pekerjaan yang sangat mulia. “Apa yang terjadi sebenarnya bu? Kenapa ibu bisa keracunan berry?”


“Berry?”


Ibu suri mengerutkan keningnya, “Berry apa?”


“Lho, bukannya ibu jatuh sakit setelah memakan berry liar di paviliun permaisuri?”


“Tidak, Mei-mei, aku sama sekali tidak memakan berry. Aku justru berbelok untuk melihat danau, dan aku tiba-tiba terjatuh karena pandanganku berkunang-kunang. Padahal saat ini aku baru saja menyantap hidangan kecil jamuan Yang Jia Li.”

__ADS_1


Kening sang selir agung berkerut, jadi bukan karena berry? Ah, kalau begitu sudah pasti lewat makanannya. Sepertinya Wu Li Mei harus memastikan lagi, barangkali memang ibu suri tidak memakan berry atau ibu suri sendiri lupa jika memakan buah kecil beracun itu. “Bu, makanan apa yang ibu santap di peviliun ratu?”


__ADS_2