
Wu Li Mei mengangkat hanfunya sambil berlari menuju paviliun putri, sang selir tak lagi menghiraukan banyak pasang mata yang melihatnya aneh. Jika sesuai dengan adab yang berlaku di istana, tentu saja para anggota kekaisaran diharuskan berjalan dengan pelan dan penuh wibawa. Sangat bertolak belakang dengan Wu Li Mei saat ini.
Tapi, persetan dengan semua itu, selir itu hanya ingin segera sampai di paviliun putri. Saat mendengar kabar dari Dayang Yi bahwa Zhou Xie Ling terbatuk hebat, bahkan sampai mengeluarkan darah. Wu Li Mei panik bukan main, apa yang ia takutkan makin memenuhi kepalanya.
"Ibu." lirih Zhou Fang Yin, sang putri yang pertama kali menyadari kedatangan Wu Li Mei.
Wu Li Mei mendadak kaku, hanya untuk melangkahkan kaki saja rasanya sangat berat. Sang selir membeku di ambang pintu, tatapannya tak lepas dari seorang putri kecil yang terbaring lemah di ranjangnya.
"Xiao Ling." panggilnya.
Zhou Xie Ling membuka matanya walau sangat sulit, tubuhnya lemas, dan memejamkan mata adalah hal yang mudah ia lakukan saat ini.
Usapan halus Wu Li Mei di puncak kepalanya membawa nyaman dan tenang untuk sang putri. Wu Li Mei tersenyum lembut, "Bukankah kau ingin melihat salju?" tanyanya.
"Apa mau melihat salju sekarang?"
"Di luar sedang turun salju sayang, kau ingin melihatnya?"
"Dayang Yi, ambilkan baju hangat untuk Xiao Ling!" titah Wu Li Mei pada sang dayang, Dayang Yi segera mengambilkan apa yang diminta oleh Wu Li Mei.
Semua yang ada di ruangan itu hanya terdiam, termasuk Kaisar Zhou yang baru saja datang. Sang kaisar menghampiri Zhou Ming Hao dan Zhou Fang Yin yang tak bisa lagi menahan air matanya untuk jatuh, Tabib Zhong dan Guru Zhang juga ada disana. Keduanya hanya menatap iba pada sang putri, karena semua yang mereka usahakan nyatanya tidak membuahkan hasil yang baik.
Sejak pagi Zhou Xie Ling terbatuk darah lagi, padahal beberapa hari lalu sudah mulai membaik. Sayangnya keadaan sang putri sudah sangat parah, sehingga obat yang ia konsumsi tak lagi menyembuhkan.
Tangan lemah itu menggenggam tangan Wu Li Mei pelan, "Bu?" panggilnya.
"Ya, sayang?"
"Aku ingin tidur."
Wu Li Mei menggeleng tegas, "Jangan, jangan tidur. Ayo melihat salju dengan ibu." ajaknya.
"Tapi.......aku sangat mengantuk." balas sang putri.
__ADS_1
Wu Li Mei merasakan kedua matanya mulai memanas, air mata pun jatuh dari pelupuk matanya. Ia menggenggam tangan sang putri tak kalah erat, "Jangan tidur dulu sayang, ku mohon jangan pejamkan matamu."
"Aku....menyayangi......ibu."
"Ibu juga menyayangimu, nak!"
Zhou Xie Ling merasakan napasnya yang mulai tercekat, pendengarannya pun berdengung kencang. Tapi, untuk meronta mengatakan rasa sakitnya, ia tak punya cukup tenaga. Sang putri hanya menatap langit-langit dengan kosong.
Detik selanjutnya, mata indah yang selalu kosong tanpa binar itu perlahan terpejam.
"Xiao Ling?"
"Xiao Ling, bangunlah!"
Wu Li Mei mengguncang kedua bahu sang putri, semula pelan lalu berubah menjadi lebih kencang karena tidak ada jawaban dari sang putri.
Wu Li Mei segera bangkit, tangannya terulur untuk memeriksa denyut nadi di leher Zhou Xie Ling, hasilnya nihil. Wu Li Mei pun memeriksa jalan napas dan ia tidak merasakan hembusan napas lagi.
"Xi....xiao....ling!"
Tanpa menunggu lagi, Wu Li Mei segera melakukan CPR dibantu dengan Tabib Zhong yang membuka jalan napas untuk sang putri.
Lima menit berlalu, tapi tidak ada hasil.
Tabib Zhong pun memeriksa denyut nadi sang putri, dan tidak lagi menemukannya walau lemah. Sang tabib menunduk dalam-dalam, hatinya ikut hancur mendapati Zhou Xie Ling tak lagi bernyawa. "Maaf, Yang Mulia. Putri Xie Ling sudah tiada, saya sudah tidak merasakan detak jantungnya lagi." ujarnya penuh sesal.
"Kita harus merelakan putri, Yang Mulia. Dia sudah tidak lagi merasa sakit, sang dewa pasti menjaga putri di langit."
Wu Li Mei akhirnya menyerah, kedua tangannya gemetar dan dingin. Ia tak lagi bisa berpikir jernih, saat rasa itu datang lagi, bahkan aroma rumah sakit kembali tercium di indra penciumannya. Wu Li Mei harus kembali menyapa kegagalan untuk menyelamatkan satu nyawa yang berharga.
Melepas empati adalah hal yang sulit, dulu setiap satu nyawa yang gagal untuk ia selamatkan pergi. Wanita itu begitu terpukul, tapi lambat laun ia mulai terbiasa. Saat ini, salah satu nyawanya sebagai selir agung telah pergi. Gadis kecil yang sangat ia kasihi telah pergi untuk selamanya.
"Tidak!" Wu Li Mei menggeleng, wanita itu menangis tersedu sambil menggenggam tangan sang putri.
__ADS_1
"Tidak!!"
"Tidak boleh!!!"
"Bangunlah sayang! Kau tidak boleh pergi, ayo buka matamu. Ku mohon....." pinta Wu Li Mei pilu, sang selir agung terduduk di sisi ranjang sambil terus menangis. Tak sanggup untuk menahan sesak yang bersarang di dada nya, Zhou Xie Ling sangat berarti dalam setiap harinya di negeri ini. Karena sang putri juga lah, Wu Li Mei tergerak untuk membuka toko obat.
Tapi apa mau dikata, sekeras apapun Wu Li Mei memohon, mata cantik tanpa binar itu tak lagi mau terbuka. Wajah tanpa seri itu kini telah kehilangan cahayanya untuk selamanya, Wu Li Mei dapat merasakan tangan sang putri yang berangsur dingin.
"Xiao Ling."
Semua orang berduka, Zhou Fang Yin pun sudah menangis pilu di dalam dekapan sang kakak. Adik yang sangat ia kasihi telah pergi untuk selamanya, padahal masih sangat banyak yang belum mereka lakukan bersama.
"Bangunlah sayang!"
"Bukankah kau ingin melihat salju bersama ibu?"
"Ayo bangun dan melihat salju bersama." racau Wu Li Mei.
Kaisar Zhou melangkah mendekati sang selir, ia turut bersimpuh di dekat Wu Li Mei. Tangannya terulur menyentuh bahu bergetar nan rapuh Wu Li Mei, seperti ibu yang kehilangan putri kecilnya. Kaisar pun dapat merasakan kesedihan yang tengah Wu Li Mei rasakan.
Kaisar Zhou menutup selimut hingga membungkus keseluruhan tubuh sang putri kecil, "Semoga dewa menjaga Xiao Ling dengan baik."
Sang kaisar beralih menatap wanita cantik yang tengah hancur itu, ia bergerak untuk merengkuh tubuh lemah Wu Li Mei. Tidak ada penolakan, tapi Wu Li Mei juga tidak membalasnya.
"Kita harus merelakannya, Mei-er."
"Semua sudah terjadi sesuai kehendak dewa, kita harus menerimanya."
Kaisar mengurai pelukannya, "Bersiaplah untuk upacara pemakaman."
"Aku tahu ini berat, tapi semua ini sudah menjadi takdir Xiao Ling."
"Takdir?" tanya Wu Li Mei dingin, sang selir mendongak dengan tatapan penuh amarah dan dendam. "Takdir kata mu?"
__ADS_1
"Mei-er?"
Wu Li Mei meremas hanfunya kuat-kuat hingga buku jarinya tercetak jelas, tatapannya lurus pada manik hitam sang kaisar. "Yang Jia Li harus membayar atas apa yang ia lakukan pada putriku."