
Wu Li Mei terjaga semalaman, matanya tidak mampu terpejam barang semenit saja. Kecamuk di kepalanya serasa ingin meledak, apa yang harus ia lakukan sekarang. Sang fajar sudah terbit, dan waktu eksekusinya akan segera tiba.
Benar dugaannya, para prajurit departemen kejaksaan datang. Mereka berpakaian lengkap dengan baju zirah dan sebilah pedang.
Pintu penjara terbuka, salah satu dari mereka masuk menghampiri Wu Li Mei. Pengawal itu menunduk hormat, "Salam, Yang Mulia."
"Waktu eksekusi akan segera tiba, Yang Mulia."
"Para dayang akan membantumu bersiap." tunjuk sang pengawal pada dua dayang yang membawa hanfu berwarna putih.
Wu Li Mei menghembuskan napasnya berat, sang selir mengikuti arahan para prajurit dan dayang dengan pasrah.
"Mari, Yang Mulia."
"Ya."
Salah satu dayang membimbingnya menuju sebuah ruangan khusus di departemen kejaksaan. Seperti yang seharusnya mereka lakukan, kedua Dayang itu segera melepaskan hanfu yang dipakai oleh Wu Li Mei. Hanfu itu akan diganti dengan hanfu berwarna putih polos dan pucat, sebagai tanda duka dan berkabung.
Tidak ada riasan apapun, Wu Li Mei hanya mengenakan tusuk konde polos untuk mengikat gelungan rambutnya.
Pelataran aula penyiksaan sudah penuh dengan prajurit dan para petinggi kekaisaran yang hendak melihat eksekusi, sebuah tiang dengan dua penyangga di bangun di tengah lapangan. Disana terpasang seutas tali, untuk tempat hukuman gantung yang dijatuhkan pada Wu Li Mei.
Udara pagi ini benar-benar dingin, kabut tebal menyelimuti seluruh negeri.
"Sepertinya, alam pun akan ikut berduka." ujar salah satu petinggi kekaisaran, seorang pria paruh baya dari Klan Zhang, ia duduk di kursi paling depan sambil menatap langit.
Pria di sampingnya mengangguk, sambil ikut mengamati awan mendung dan kabut yang menyelimuti angkasa. "Kau benar, mungkin salju akan turun untuk mengantarkan kepergian selir agung."
"Padahal, sang selir begitu baik setelah insiden di danau. Tak ku sangka dia tega meracuni anaknya sendiri."
"Hei!" salah satu petinggi dari Klan Hong menyentak, "Apa kau yakin, selir agung yang bersalah?"
"Sudah jelas bukan, departemen kejaksaan sendiri yang memutuskan."
"Oh, ayolah, siapapun tahu jika itu hanya akal-akalan saja."
"Stttttt!" bisik petinggi Klan Zhang, "Jaga ucapanmu, lihatlah disana, ada para petinggi dari Klan Yang."
Ketiga pria paruh baya itu langsung diam melihat petinggi dari Klan Yang, Klan sang permaisuri mulai memasuki aula penyiksaan. Mereka datang beriringan dengan Yang Jia Li.
Yang Jia Li mengerutkan keningnya saat tak mendapati satu pun anggota kekaisaran yang hadir, apakah ia datang terlalu pagi atau mereka yang memutuskan untuk tidak datang. Sang permaisuri langsung duduk dengan angkuh di singgasananya, akan jauh lebih baik jika tidak ada anggota kekaisaran lain yang datang. Jadi ia bisa memastikan eksekusi Wu Li Mei berjalan dengan semestinya.
__ADS_1
Yang Jia Li menoleh ke arah gerbang, disana ada Wu Li Mei yang dikawal oleh para prajurit departemen kejaksaan. Dari awal masuk hingga sang selir sampai di tempat eksekusinya, Yang Jia Li tidak pernah melepaskan pandangannya.
"Salam, Yang Mulia Permaisuri!" Yang Jian Zhu datang memberi hormat.
"Bangkitlah!"
"Eksekusi Selir Agung Wu Li Mei akan dilaksanakan hari ini." ujarnya.
Yang Jia Li mengangguk, "Laksanakan!"
"Baik, Yang Mulia."
"Tunggu!!" seru hakim agung. Pria tua nan bijaksana dari Klan Hao. Ia sudah menjadi hakim agung sejak kaisar terdahulu. "Ibu Suri, Putra Mahkota, dan Putri Fang Yin belum hadir, Yang Mulia."
Yang Jia Li merotasikan bola matanya, "Kita bisa melanjutkan ini tanpa mereka."
"Tapi apa tidak sebaiknya kita menunggu mereka?" ujar hakim yang lain.
"Ya, Yang Mulia." tambah hakim agung.
"DIAM!!!!" bentak Yang Jia Li, "Aku adalah permaisuri negeri ini. Saat kaisar tidak ada, maka akulah yang menggantikannya mengurus istana. Selir agung sudah terbukti bersalah, jadi untuk apa kita menunda eksekusinya."
Permaisuri menatap sang kepala departemen, ia mengangguk singkat sebagai isyarat.
"Dengan ini aku menyatakan bahwa Selir Agung Wu Li Mei bersalah atas tindakan kejahatan memberikan racun merkuri pada Putri Zhou Xie Ling."
"Sebagai hukuman yang pantas untuk diberikan pada Selir Agung adalah hukuman gantu--------"
"TUNGGU!"
Semua orang menoleh ke arah pintu gerbang aula penyiksaan, Zhou Ming Hao datang bersama Guru Zhang.
"Kita tidak bisa melanjutkan eksekusi tanpa kaisar!" ujarnya tegas.
"Apa maksudmu?!" Yang Jia Li mengetatkan rahangnya, "Kaisar sedang pergi ke negeri utara, jadi aku yang menggantikannya."
"Tidak!" tolak Zhou Ming Hao, "Dengan segala hormat, Ibu Permaisuri, tapi kau tidak bisa melanjutkan ini tanpa persetujuan kaisar."
"Mengapa tidak? Jelas aku bisa."
"Kaisar adalah satu-satunya yang berhak memutuskan hukuman untuk Ibu Selir."
__ADS_1
"Diam kau!!" Yang Jia Li mengepalkan kedua tangannya, ia semakin marah saat prajurit putra mahkota mulau memasuki aula penyiksaan. "Apa maksudnya ini? Kau menantangku."
Zhou Ming Hao menatap tegas sang permaisuri, ia berdiri tegap tanpa rasa takut. "Eksekusi tidak akan berjalan tanpa persetujuan kaisar." ujarnya mutlak.
Para prajurit kekaisaran segera membentuk formasi mengelilingi aula penyiksaan, dibawah perintah Zhou Ming Hao dan Guru Zhang.
"Sialan!" desis Yang Jia Li, putra mahkota dengan terang-terangan telah menentangnya.
"Berani-beraninya kau, Putra Mahkota!!"
Zhou Ming Hao tak menghiraukan sang permaisuri, ia berjalan dengan berani menuju para hakim. Putra Mahkota Kekaisaran Ming itu menghadap tepat pada hakim agung. "Bukankah setiap tuduhan kejahatan, ada pembelaan?"
"Ya, kau benar, Yang Mulia." jawab hakim agung.
"Aku menyiapkan pembelaan terhadap Ibu Selir Agung." ujarnya mantap.
Para hakim pun saling tatap satu sama lain, pembelaan tentu boleh dan bisa dilakukan sesaat sebelum eksekusi. Jika pembelaan itu diterima, maka pelaku akan dibebaskan. Namun, jika pembelaan itu tidak diterima, maka pelaku akan dihukum sesuai ketetapan.
Setelah berdiskusi cukup lama, para hakim pun setuju. "Baiklah, Yang Mulia. Kau bisa melakukan pembelaan terhadap selir agung."
Mendengar itu, Yang Jia Li sontak membulatkan matanya. "Apa-apaan ini!!!"
Sang permaisuri bangkit dari singgasananya, ia berjalan cepat menghampiri Zhou Ming Hao dan para hakim.
"Tidak ada pembelaan untuk Wu Li Mei lagi, dia sudah terbukti bersalah."
"Pembelaan tetap boleh untuk dilakukan, Yang Mulia." balas hakim agung.
Yang Jia Li menggeleng, ia menolak dengan tegas pembelaan terhadap Wu Li Mei. "Tidak! Aku tidak setuju."
"Aku setuju."
Yang Jia Li menoleh, Ibu Suri Yang Agung memasuki pelataran aula penyiksaan bersama Zhou Fang Yin. Wanita tua itu langsung duduk di singgasanany, "Aku setuju untuk mendengarkan pembelaan selir agung." ujarnya.
"Tapi, Ibu Suri.... "
Ibu Suri menoleh, "Setiap pengadilan boleh melakukan pembelaan. Itu adalah hak dasar manusia untuk membela diri, permaisuri."
"Lagipula, seperti tradisi eksekusi terdahulu, kita harus menunggu kedatangan Kaisar Zhou untuk memutuskan hukuman pada selir agung. Hukuman itu sudah menjadi tradisi, dan ada cara-caranya untuk melakukan itu. Kau tidak bisa berbuat semaumu. Apa gunanya ada para hakim jika semua keputusan ada di tanganmu."
"Kau tidak memiliki kuasa untuk menentukan hidup dan mati anggota kekaisaran,sekalipun sang kaisar tidak berada di istana, jaga batasanmu Yang Jia Li."
__ADS_1
"Permaisuri tidak punya kuasa untuk itu, kau harus mengerti pada posisimu."