Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Arti bunga camelia


__ADS_3

“Ling Xi? Bagaimana kabarmu, ku dengar kau dikejar para bandit kemarin.” Yang Zhen langsung menemui si gadis cantik yang datang bersama sang kakak, wajahnya masih tampak murung dan tidak berseri.


Heng Jing Xuan juga menoleh, “Ku dengar para bandit itu dihabisi oleh seorang pemuda sebaya kita, siapa dia? Dan dari keluarga mana?”


“Hei, kalian!!” sentak Xu Ling Mei, “Sudah jangan penasaran, yang penting adikku baik-baik saja sekarang, kalian hanya menambah beban pikirannya saja.”


Dua tuan muda dari dua keluarga terpandang itu memutar bola matanya malas, padahal niat mereka hanya ingin mengabarkan karena satu kota sudah mendengar berita itu. Bandit yang mengejar sang nona muda sekarang dipenjara dan akan diasingkan jauh sekali dari kota, mereka akan mendapatkan masalah yang serius karena telah berani berurusan dengan gubernur kota ini, Xu Cheng Mo.


Pendidikan untuk para anak bangsawan ini baru usai beberapa waktu lalu, dan mereka bersiap untuk kembali ke rumah, atau menikmati waktu dengan berkeliling kota dan pasar. Sistem trata masih sangat kental hingga pendidikan hanya diberikan kepada anak bangsawan yang sanggup membayar seorang cendekiawan untuk mendidik anak-anak mereka. Ada yang didatangkan ke rumah, dan ada pula yang mengikuti pendidikan formal di bangsal belajar pusat kota. Salah satunya adalah mereka.


“Aku tidak bertanya kepadamu, aku bertanya kepada Ling Xi.” Ujar Yang Zhen seraya melipat kedua tangannya di depan dada, pendamping setianya selalu mengipasi sang tuan muda agar tidak gerah. “Kalau saja ada aku, sudah pasti ku hajar habis sampai tidak bisa bangun lagi.”


“Mereka sudah di penjara, kau tidak perlu menghajar mereka lagi.” Balas Jing Xuan.


“Agar mereka jera dengan apa yang mereka lakukan pada, Ling Xi ku tersayang.”


“Kau gila!”


Heng Jing Xuan menggelengkan kepalanya, nona muda Ling Xi menjadi incaran dari sahabatnya ini sejak lama. Bahkan tidak ada yang boleh menyukainya kecuali Yang Zhen, tapi justru gangguan itu datang dari kakaknya sendiri, Yang Chong Xi, saudara sepupu yang hendak dinikahkan dengan salah satu nona dari keluarga Xu.


Memang belum jelas antara Ling Mei atau Ling Xi, tapi Yang Zhen sudah sangat gundah memikirkannya.


Jing Xuan dan Ling Mei sama-sama menatap datar saat tuan muda Yang itu meraih tangan halus Ling Xi dan menggenggamnya erat, dia tidak lagi merasa malu dan segan karena mereka berada di tempat yang cukup ramai. “Xiao Xi, jangan terlalu memikirkan kemalangan kemarin ya, jangan sampai membuatmu sakit. Tidak apa-apa, syukurlah ada pemuda itu yang menolongmu sebelum semuanya menjadi masalah lebih besar.”


“Iya, terima kasih.” Jawab Xu Ling Xi.


“Tapi, apa kau terluka?”


Xu Ling Xi dengan ragu menggeleng, “Tidak terlalu parah, hanya tergores karena ranting dan semak belukar saja.”


Yang Zhen memberi kode kepada pendampingnya, lalu memberikan sebuah botol berisi minyak oles berwarna putih. “Ini untukmu Xiao Xi, ini adalah obat oles yang kubeli dari toko obat Nyonya Wu. Kau oleskan saja pada tubuhmu yang tergores, beberapa hari lagi luka itu akan membaik dan kembali seperti semula.”


Sang nona muda pun menerimanya, “Terima kasih banyak, tapi ini terlalu merepotkan kakak. Sebaiknya kau simpan sendiri saja untukmu.”

__ADS_1


“Tidak Ling Xi, aku memberikan ini untukmu.”


“Apa tidak masalah?”


“Ambil saja, Ling Xi.” Ujar Xu Ling Mei menengahi kebimbangan sang adik.


Obat oles itu pun disimpannya di saku hanfu, dan kembali menunduk untuk menjaga pandangan, gadis lembut itu selalu anggun dan bersahaja sekali. Itu lah yang membuat Xu Ling Xi begitu terkenal akan keanggunannya.


Jing Xuan menepuk bahu sang sahabat, “Sudah, ayo kita pergi ke pasar untuk makan. Kau sudah janji membelikan aku makanan sebagai hadiah.”


“Iya, iya, tapi sebentar dulu …. Ehhh, ehhh! Selamat tinggal Ling Xi!”


Sang tuan muda sengaja berteriak karena lengannya ditarik paksa oleh Jing Xuan, memang temannya itu tidak bisa melihatnya bahagia barang sedetik saja, menyebalkan sekali. Tapi tak urung, langkahnya terus mengikuti Jing Xuan masuk ke dalam pasar, tempat dimana mereka akan membeli makanan.


Sebenarnya, kedatangan Jing Xuan ke dalam pasar bukan serta merta hanya untuk makan, tapi juga mencari gadis cantik yang dulu ia temui di kedai bakpao. Tuan muda Heng itu melirik ke kanan dan ke kiri memindai seisi pasar untuk mencarinya tapi tidak juga bertemu, “Kau mengajakku ke pasar hanya untuk membeli bakpao? Astaga, Jing Xuan, aku bisa menyuruh pelayan di rumahku saja untuk membuatkan bakpao.” Keluh Yang Zhen.


“Bakpao disini enak.” Jawabnya.


“Enak sekali.”


“Baiklah, Jing Xuan.” Yang Zhen menganggukkan kepalanya karena dia juga tergiur dengan asap yang mengepul dari kumpulan bakpao yang baru saja matang itu. “Ayo, Pao Pao, kita membeli bakpao disana!” ujarnya kepada pemuda yang setia mendampinginya, panggilan yang dia berikan adalah Pao Pao karena dia suka makan bakpao.


Jing Xuan juga memberikan uang kepada Long Bao, “Belilah bakpao itu untukmu dan untukku juga, aku harus pergi ke suatu tempat.”


“Kenapa, tuan?”


“Ada.”


“Tuaan!!”


Long Bao hanya bisa mendesah pasrah, sang tuan muda sering sekali pergi begitu saja bahkan tanpa pendampingan darinya. Takutnya kalau sampai ketahuan oleh sang nyonya Heng, bisa-bisa dia ikut dihukum.


***

__ADS_1


Memilih aksesoris untuk hanfunya di pasar adalah sebuah hal yang menyenangkan, hari ini Zhou Fang Yin sengaja untuk menyelinap dan pergi ke pasar. Menggunakan hanfu sederhana tapi tetap anggun, sang putri bercadar memilah dan memilih mana yang ingin ia beli.


“Nona, hiasan ini cocok untuk anda, coba pakai lah.”


Zhou Fang Yin mendongak, “Tusuk konde ini?”


“Iya, pakailah.” Ujar si penjual, “Tusuk konde bunga tulip, melambangkan kecantikan dan keanggunan.”


Sang putri tersenyum dan menatap tusuk konde sederhana berbentuk bunga tulis berwarna putih dan merah muda itu, tampak sangat cantik nan elegan, tapi dia sudah punya yang hampir mirip dengan ini dari batu giok dan emas murni, pemberian dari Kaisar Wu di Negeri Hang, pamannya sendiri.


Dua tahun lalu dia juga mendapatkan kiriman hadiah dari sang kakek kaisar terdahulu Kekaisaran Hang, banyak sekali perhiasan yang terbuat dari permata dan emas murni. Belum lagi hadiah dari sang ayah dan ibunya sendiri.


Tapi, kali ini sang putri ini memiliki perhiasan yang sederhana tapi cantik, barangkali ia bisa menggunakannya ketika sedang menyamar di pasar.


“Ini cantik, tapi aku sepertinya sudah punya yang lain … “


“Apa tidak ada yang lain?”


“Ku pikir yang ini jauh lebih cantik dan cocok denganmu!”


Zhou Fang Yin menoleh mendengar ada yang berbicara dengannya dari arah sampingnya, sang putri sontak membulatkan mata. “Astaga!” pekiknya.


Tersentak akan kehadiran seseorang yang sedang ia hindari, tapi sepertinya garis takdir dewa telah menggariskan mereka kembali bertemu. Zhou Fang Yin tak bisa mengalihkan tatapannya dari pemuda dengan hanfu berwarna biru tua itu, jantungnya berdebar hebat dan desiran aneh terasa lagi kala menatap wajah rupawan sempurna ini.


“Senang bertemu denganmu lagi, Xiao Yin.”


Pemuda berdarah bangsawan itu mengangkat tangannya untuk membuka cadar yang menutupi wajah cantik yang mempesona dari gadis muda di depannya ini, kecantikan yang sanggup memikat hati siapapun yang melihatnya, tak terkecuali penjual dan orang-orang di sekitar juga berdecak kagum.


“Akhirnya aku berhasil menemukanmu lagi.”


Heng Jing Xuan tersenyum tulus dengan perasaan yang sangat berbunga, berseri bagai musim semi datang kepadanya. Bertemu kembali dengan gadis manis rendah hati yang berhasil memikat hatinya. Dia memberikan tusuk konde berbentuk bunga camelia yang indah. “Ini jauh lebih cocok untukmu.”


“Apa kau tahu arti bunga camelia?”

__ADS_1


__ADS_2