
"Dayang Yi, apa kau yakin dayang kecil itu akan bekerja dengan baik. Apa kau yakin dia bisa diandalkan untuk ini?" tanya Wu Li Mei sembari melipat kedua tangannya, ia memperhatikan dari jauh seorang dayang berusia belasan tahun yang diutus untuk menyampaikan buku kepada Tabib Zhong.
Buku itu sangat penting, awalnya Wu Li Mei ingin mengutus Panglima Hao saja. Sayangnya sang panglima sedang berada di dalam tugas yang tak kalah penting dari kaisar.
"Ya, Yang Mulia, saya bisa menjaminnya." jawab sang sayang.
"Baiklah kalau begitu." wanita itu menganggukkan kepalanya, "Tapi kalau sampai buku itu tidak sampai kepada Tabib Zhong dan hilang, pastikan untuk menghukumnya."
"Baik, Yang Mulia."
Wu Li Mei melangkahkan kakinya untuk keluar dari paviliun, selama beberapa hari ia tidak pergi ke luar dan hanya berdiam di dalam paviliun. Kediaman selir agung itu sangat besar dan luas, belum lagi bangunan lain seperti paviliun raja dan aula. Bisa dibayangkan seluas apa istana kaisar yang megah itu, sungguh luar biasa.
Sang selir berhenti saat menatap taman mawar yang mulai kembali hidup setelah musim dingin yang panjang dan melelahkan, pasti peony pun akan segera bermekaran. Wu Li Mei harus mengirimkan rangkaian peony untuk sang putri kecil, atau sebaiknya ia membuat taman peony di dekat makam Zhou Xie Ling untuk mengenangnya. Wu Li Mei akan bertanya kepada kaisar untuk itu.
"Apa yang sedang dilakukan putra mahkota dan Putri Fang Yin hari ini?" tanya Wu Li Mei.
"Mereka sedang belajar bersama Guru Zhang, Yang Mulia."
"Guru Zhang sudah kembali?"
"Sudah, Yang Mulia. Kira-kira dua hari lalu Guru Zhang sudah kembali dari Negeri Hang di utara, untuk mengambil pedang yang dipesan kaisar khusus untuk putra mahkota. Kabarnya pedang itu sangat indah dan dibuat oleh pengrajin pedang yang paling baik di seluruh negeri."
Wu Li Mei mengerutkan keningnya setelah mendengar nama yang tak asing baginya, "Negeri Hang di utara? Tempat apa itu?" tanyanya.
Sang dayang sontak membulatkan mata menatap tak percaya, "A-anda lupa dengan Negeri Hang?"
"Memangnya ada apa dengan negeri itu?" tanya sang selir penasaran.
"Negeri itu seharusnya tidak terlupakan oleh anda, mengingat betapa anda sangat merindukan tempat itu dulu. Anda pernah menangis berhari-hari hanya karena merindukannya, tapi anda justru melupakannya." ujar sang dayang.
"Kurasa aku juga melupakannya." Wu Li Mei meringis.
"Negeri Hang adalah sebuah kekaisaran makmur di utara, Yang Mulia. Negeri itu adalah tanah kelahiran anda, kedua orang tua anda dan sanak saudara ada di negeri itu, anda tidak mengingatnya?"
__ADS_1
Wu Li Mei menggeleng dengan wajah polos, sebenarnya ia merasa tak asing dengan nama itu. Tapi sekeras apapun mencoba mengingat, tetap saja tidak ada apapun yang terlintas dari nama itu. Yang ada hanya perasaan tidak asing dan mengganjal. "Maaf Dayang Yi, sepertinya aku juga melupakan tempat itu. Oh, bagaimana aku bisa lupa dengan tanah kelahiranku sendiri?!"
"Tak apa Yang Mulia, anda memang melupakan banyak hal sejak tragedi---"
"Mei'er?
Suara berat yang mengalun dengan tegas membuat Wu Li Mei dan sang dayang menoleh cepat, mereka segera menunduk hormat saat Kaisar Zhou dan rombongan datang. "Salam, Yang Mulia."
"Bangkitlah!"
"Aku ingin menyampaikan sebuah undangan untukmu, Mei'er!" ujar kaisar lagi, tanpa berbasa-basi pria itu langsung menyerahkan sebuah gulungan kertas yang mulanya dibawa oleh Kasim Hao.
Wu Li Mei menerimanya dengan kening berkerut, sepanjang ia menjalani kehidupan sebagai selir agung. Ia belum pernah mendapatkan sebuah gulungan kertas yang sangat rapi dan bagus seperti itu. "Apa ini, Yang Mulia?"
"Itu adalah undangan untukmu, bukalah!"
"Sebuah undangan?"
Wu Li Mei membuka gulungan itu perlahan, membaca apa yang tertulis di dalamnya tanpa ada yang terlewat. Undangan itu dari Kekaisaran Hang di utara, tempat kelahirannya yang baru saja ia bicarakan dengan Dayang Yi.
Disana tertulis sebuah undangan untuk menghadiri penobatan kaisar yang baru, dan perayaan tahunan untuk memperingati tahun kesuburan dengan persembahan dewa naga.
Wu Li Mei tidak terlalu mengerti, jika undangan ini untuknya mengapa di gulungan itu tertulis untuk kaisar. "Kurasa anda salah, namaku tidak tertulis disini."
Kaisar tersenyum tipis, "Tentu saja itu juga untukmu, mengundangku sama artinya dengan mengundangmu Mei'er. Mereka mengharapkanmu hadir untuk penobatan kakakmu sebagai kaisar yang baru."
"Ya, kakakmu. Wu Zhang Zu, dia akan segera naik tahta menggantikan ayahmu. Kau harus hadir untuk melihatnya, ibum pasti sangat bahagia karena kau pulang setelah sekian lama."
"Benarkah begitu?"
"Mengapa? Kau tidak senang untuk pulang?" tanya kaisar.
Wu Li Mei menggeleng dengan cepat, "Bukan, bukan itu maksudku, aku senang bisa bertemu keluargaku lagi. Tapi ini sudah terlalu lama, akan sangat aneh rasanya jika aku pulang." jawabnya meragu.
__ADS_1
Jujur saja ia tidak tahu bagaimana rupa kedua orang tua sang selir agung, apakah sama dengan ayah dan ibu Marissa, ataukah berbeda. Jika wajah mereka sama, bisa dipastikan bahwa dia akan menangis memeluk mereka dengan penuh kerinduan. Ia rindu dengan ayah dan ibunya, pasti mereka marah karena Risa tidak mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi untuk selamanya. Ditambah lagi ia belum menunjukkan piagam dokter terbaik tahunan kepada mereka.
"Mei'er?"
"Mei'er?!"
"Ya!" Wu Li Mei tersentak, panggilan dari kaisar berhasil menariknya dari lamunan. "Ya, Yang Mulia?"
"Mengapa kau melamun, Mei'er?" tanya Kaisar Zhou dengan nada khawatir, "Apa kau sedang tidak enak badan?"
"Tidak... aku... aku hanya merindukan orang tuaku."
Sang kaisar mendekat, ia menarik Wu Li Mei ke dalam pelukannya, memberikan dekapan hangat yang menenangkan. Wu Li Mei hanya diam dan menerima pelukan itu tanpa membalas, tapi ia menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh sang kaisar. "Tak apa Mei'er, kita akan segera bertemu dengan mereka."
"Perjalanan menuju Dinasti Hang di utara tidak akan terlalu jauh karena kita akan menggunakan kapal. Mereka pasti akan menyambutmu dengan penuh suka cita, percayalah, orang tuamu sangat menyayangimu."
Sebelum menjadi selir agung, Wu Li Mei adalah putri bungsu Kekaisaran Hang yang sangat disayangi dan dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Ia bagaikan mutiara indah yang dijaga dengan segenap jiwa dan raga, kecantikkannya tersohor hingga banyak putra mahkota, pangeran, bahkan kaisar datang untuk melamarnya. Semua itu ditolak, karena Wu Li Mei telah buta oleh cintanya kepada Zhou Xiu Huan, kaisar Dinasti Ming.
Sang selir mendongak, "Dengan siapa aku akan pergi kesana?"
"Tentu saja denganku." jawab kaisar.
"Hanya berdua? Apa salah satu anakku tidak akan ikut?"
Kaisar menggeleng dengan tegas, "Ming Hao harus tetap berada di istana dan Fang Yin harus belajar dengan tekun, jika kita berempat pergi, maka istana bisa diserang dari dalam."
"Benar juga," wanita dengan hanfu jingga itu mengangguk-angguk, "Kalau begitu kita hanya akan pergi berdua?"
"Siapa lagi jika bukan kita berdua?"
"Tapi tidak bisa pergi berdua saja, itu akan..." Wu Li Mei merasa bimbang jika harus pergi berdua saja dengan kaisar.
Kaisar menyeringai tipis melihat perangai wanita itu yang seolah enggan untuk pergi menemaninya, ia mendekatkan bibirnya ke telinga sang selir lalu berbisik dengan jahil. "Apa kau takut aku akan menerkammu jika kita hanya berdua? Ku pastikan kau akan terus terjaga saat malam, Mei'er."
__ADS_1