Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Herbal untuk sang nyonya


__ADS_3

"Siapa yang mengirimkan semua ini?" tanya Wu Li Mei setelah sampai di toko obat barunya dan menyadari ada beberapa karung tanaman herbal kering yang tidak ia tahu dari siapa berasal. Pasalnya tanaman herbal kering yang ia pesan baru akan datang dua hari lagi, itu pun perkiraan paling cepat karena datangnya dari negeri yang jauh.


Tiba-tiba mendapati banyak sekali tanaman herbal di toko obatnya membuat Wu Li Mei bingung sendiri. Sang nyonya yang memakai cadar untuk menutupi identiasnya itu memeriksa lagi dan lagi, herbal itu sangat baik dan kualitasnya juga baik.


"Ya, nyonya?"


"Dari siapa ini?" tanya Wu Li Mei lagi.


"Itu kiriman dari istana, Nyonya Wu!" jawaban Lan Suo berjalan tergopoh menghampiri Wu Li Mei, "Baru saja para pengawal kekaisaran mengirimi banyak sekali tanaman herbal kering untuk diracik dan dijadikan obat."


"Dari istana?"


"Tabib Zhong ya?" Wu Li Mei mengerutkan keningnya bingung, dan satu nama yang terlintas di kepalanya hanya sang tabib paruh baya dengan wajah teduh itu."Kenapa harus repot seperti ini Tabib Zhong, padahal mereka sangat dibutuhkan di lingkungan istana."


"Bukan Tabib Zhong nyonya, tapi dari Yang Mulia Kaisar Zhou."


Wu Li Mei membeku di tempat, ia mengerjap pelan mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Lan Suo. "Ka-kaisar?"


"Iya, nyonya. Para pengawal bilang ini untuk anda, sebagai hadiah atas kerja keras anda dalam menyediakan obat untuk rakyat dan lagi sebagai bentu empati karena toko obat kita terbakar. Pagi tadi mereka datang mengantarkannya dan meninggalkan pesan untuk anda saja."


"Utusan kaisar seperti apa orangnya?"


"Emm ... " Lan Suo mencoba mengingat kembali perawakan seseorang yang mengaku dari istana tadi. "Dia tinggi, kurus, mengenakan hanfu yang mahal dan tampak berwibawa. Seusia Tabib Zhong."


"Oh, pasti Kasim Hao."


"Kasim Hao? Siapa dia, nyonya?"


"Dia utusan kaisar, kau tidak perlu tahu karena dia jarang pergi dari istana. Ku pikir Panglima Hao yang akan mengantarnya kemari."


Lan Suo menyampaikan apa yang dikatakan oleh utusan pengawal kekaisaran tadi, mereka datang pagi sekali dengan kereta kuda dan mengantarkan beberapa karung obat herbal milik pusat kesehatan istana. Awalnya dia juga bingung karena herbal yang dipesa Wu Li Mei baru akan sampai beberapa hari lagi, tapi istana mengirimi mereka herbal kering yang sangat banyak. Ini cukup untuk persediaan satu bulan lebih dalam keadaan wabah seperti ini. Lan Suo menunduk takut saat Wu Li Mei mulai diam dan menatap tanpa ekspresi, entah apa yang dipikirkan sang nyonya hingga begitu serius.

__ADS_1


Istana mengirimkan herbal kering dalam jumlah yang banyak sekali, jika ini bukan rencana Tabib Zhong, maka kaisar lah orangnya. Bagaimana harus berterima kasih nantinya, dan apakah mungkin dia sudah tahu jika selir agung yang memiliki toko obat ini.


"Sudahlah, lupakan saja Wu Li Mei!" ujar sang selir pada dirinya sendiri, setelahnya dia melakukan sedikit peregangan guna meluruskan otot yang kaku. "Kita harus fokus pada obat-obat ini, sepertinya hari ini hari yang sibuk dan bisa jadi tidak akan selesai dalam waktu satu hari."


"Bagaimana nyonya?" tanya Lan Suo.


"Aku merasa sangat berterima kasih kepada Kaisar Zhou, tapi sekarang yang paling penting kita harus membungkus obat-obat ini sehingga siap untuk dijual kepada rakyat. Tapi sepertinya kita membutuhkan tenaga yang sangat banyak."


"Kami siap membantu, bu!"


Wu Li Mei berbalik dan mendapati kedua anaknya, Dayang Yi dan Lu Yan datang bersama. "Kami akan membantu ibu, jadi jangan khawatir ya."


"Bagaimana kalian bisa kesini? Bagaimana dengan Jiang Wu?"


"Dia bersama dengan dayang pengasuhnya, Yang mu--- maksud saya nyonya." Lu Yan menepuk mulutnya sendiri karena hampir saja lupa bahwa mereka berada di luar lingkungan istana.


Wu Li Mei mengangguk dua kali, dia paham bahwa Zhou Jiang Wu tidak lagi rewel dan lebih mudah untuk diasuh setelah bersamanya. Anak itu aktif tapi tidak menyusahkan orang lain, sehingga para dayang pasti bisa mengasuhnya dengan baik. Yang paling penting adalah dia aman selama berada di paviliun selir agung. "Syukurlah kalau dia berada di tangan yang benar."


"Anda bisa percaya, nyonya. Dayang pengasuh itu sudah mengasuhnya sejak bayi." jawab Dayang Yi.


"Tenang saja bu, Guru Zhang pergi untuk beberapa waktu jadi kami punya banyak waktu luang selain belajar." jawab Zhou Ming Hao, sang putra mahkota mengenakan cadar sehingga tidak ada yang mengenalinya.


Si adik yang cantik jelita mengangguk dua kali, "Iya ibu, kami sangat ingin membantu jadi kami datang kesini. Ibu pasti akan membutuhkan bantuan jadi kami bersedia untuk membantu."


Kalau begitu lengkap sudah apa yang kurang hari ini, dengan personil ini Wu Li Mei yakin mereka bisa membungkus obat yang cukup untuk beberapa hari ke depan. Paling tidak saat toko buka nanti, mereka sudah punya stok obat sehingga rakyat tidak perlu menunggu lagi. Wabah penyakit yang melanda Negeri Ming masih belum juga usai, tidak parah sampai menelan banyak korban jiwa, tapi tetap saja hampir semua orang terjangkit membuat Wu Li Mei khawatir.


***


"Dimana?"


"Ya sebentar lagi ketemu, aku yakin kau akan suka makan disana."

__ADS_1


Zhou Fang Yin menghembuskan napas lelah, sudah jauh mereka berjalan bahkan beberapa kali memutar jalan karena sang kakak sangat ingin makan kue bakpao di suatu kedai. Tapi sepertinya Zhou Ming Hao lupa dengan tempat itu karena sejak tadi mereka belum juga sampai disana, "Kau yakin itu enak?"


"Dengan Xiao Yin, aku sudah pernah makan disana. Kau tenang saja karena sudah pasti enak."


"Tapi kita tidak bisa meninggalkan toko terlalu lama, ada banyak pekerjaan disana, kakak."


"Iya aku tah--- itu dia!!"


Pekik sang putra mahkota seraya berjalan lebih cepat untuk menghampiri kedai penjual kue bakpao yang sangat ramai, beberapa orang yang mengantre disana juga sangat antusias karena bakpao itu uapnya sampai mengepul ke udara. Beruntung antrean tidak terlalu panjang, jadi mereka bisa langsung membeli.


"Permisi bu, aku ingin membeli bakpao!"


Zhou Ming Hao langsung memilih bakpao yang ingin dia beli, sang kakak mengambil peran karena awalnya memang dia ingin pergi sendiri dan Zhou Fang Yin mengikuti dengan alasan ingin melihat pasar. Ya, gadis cantik jelita itu nyaris tidak pernah meninggalkan istana sebelumnya, baru saja ia berani pergi karena membantu Wu Li Mei, dan kehidupan terasa benar-benar hidup disini.


Di sela-sela menunggu, Zhou Fang Yin menatap iba pada sekumpulan anak-anak dengan pakaian compang camping tengah mengorek tempat sampah untuk mencari makanan. Mereka ada tujuh orang, tiga dari mereka masih sebaya dengan Zhou Xie Ling, dan ada satu lagi bayi kecil yang digendong kakaknya.


"Ayo, Xiao Yin!"


Sang putra mahkota menepuk bahu si adik, ia memamerkan bakpao yang dibungkus dengan keranjang dan bersiap untuk membawanya kembali ke toko obat.


Si adik tersenyum manis, "Kakak duluan saja, aku ingin membeli untuk anak-anak itu."


Zhou Ming Hao mengikuti arah telunjuk sang adik, dan ia menemukan anak-anak yang sedang mengorek tempat sampah, tampilan mereka sangat lusuh dan kotor. "Anak gelandangan itu? Kau yakin bisa kembali sendiri? Aku sudah sangat lapar, dan antreannya begitu panjang Xiao Yin."


"Aku bisa sendiri, sudah, kau kembali saja."


"Baiklah."


Sepeninggal Zhou Ming Hao, nyatanya mengantre untuk mendapatkan bakpao tidak semudah itu. Gadis cantik itu harus berdesakan dengan banyak orang yang juga ingin membeli bakpao, mereka semua saling mendorong karena semakin ramai.


"Awhhh!!"

__ADS_1


Pekik sang putri karena dia terjatuh saat tidak sengaja terdorong beberapa orang yang mengantre, mengaduh karena tubuhnya menyapa tanah yang sedikit berbatu. Sang putri menepuk telapak tangannya yang penuh debu, "Butuh bantuan, nona?"


Sebuah tangan terulur kepadanya dan saat ia mendongak, dia mendapati seorang pemuda tampan dengan hanfu hitam mencoba membantunya. "Terima kasih, tuan." ucap sang putri seraya menyambut uluran tangan itu.


__ADS_2