
Terputus.
Akhirnya tali yang mengikat kedua tangan kaisar berhasil terputus, berkat ketekunan yang luar biasa padahal kaisar hanya berbekal dengan kepingan logam dari baju zirahnya yang sengaja ia lepas. Butuh waktu yang sangat lama memang, bahkan dua ora pemuda yang bertugas menjaganya sampai tertidur.
Han dan Mo Ye tertidur di tumpukan jerami berjarak dua meter dari kaisar, mereka terlihat begitu kelelahan karena berperang dan lari dari pasukan kekaisaran yang datang mengejar.
Dengan gerakan pelan nan halus, sebisa mungkin kaisar mengurai tali yang mengikat kedua lengannya dan bangkit, berjalan mengendap menuju pintu.
Beruntung pintu tidak terkunci, dia bisa pergi dengan mudah dari sama.
Di waktu yang sama, namun di tempat yang sedikit berjauhan. Panglima Hao dan Yang Zhe Yan berhasil masuk ke dalam markas Pemberontak Zao. Mereka mengendap melewati tempat yang lengang dari penjagaan agar bisa fokus dalam menemukan kaisar.
"Kemana, panglima?" tanya Yang Zhe Yan berbisik.
Sang panglima mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya ke kanan dan ke kiri saat mereka tiba di persimpangan. "Baik." jawab Yang Zhe Yan.
Rupanya markas Pemberontak Zao ini adalah bekaa rumah bordil yang memiliki banyak ruangan kosong karena sudah tidak terpakai lagi.
"Hei!! Siapa disana!!"
"Sial!" desis Yang Zhe Yan.
Telah tertangkap oleh salah seorang prajurit yang ada disana, Yang Zhe Yan segera berlari. Tunggang langgang mencari tempat yang aman, hingga yang semula hanya satu kini ada banyak prajurit pemberontak datang mengejarnya.
"Heii!!"
"Berhenti kau!!!"
"Ada penyusup!!!"
Yang Zhe Yan berhenti di persimpangan jalan, dia bimbang antara memilih kanan atau kiri. Persetan, dia sudah terkepung dan hanya ada jalur kiri yang bisa dia ambil.
"Panglima Hao!! Kaisar Zhou!!"
Yang Zhe Yan terperanjat tapi dia dengan cepat menyatu dengan Panglima Hao dan Kaisar Zhou yang juga sudah terkepung di tengah pelataran rumah bordil itu.
Para pemberontak tersenyum iblis menatap remeh ke arah mereka, masih ada puluhan orang yang tersisa, dan lawan tiga, itu mustahil.
Ketiga pria yang sudah terkepung itu saling beradu punggung menatap penuh waspada pada lawannya.
Prokk... prokk..... prokkk....
Suara tepuk tangan datang dari Zao, pemimpin mereka. "Baguslah, kalian sudah masuk sendiri ke dalam perangkap tanpa perlu diminta."
"Aku tidak perlu susah-susah untuk menggiring kalian semua kesini."
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sudah siap dihabisi?"
"Jangan banyak bicara!"
"Apa kau berani kaisar? Kau telah kalah jumlah."
Kaisar menyeringai, dia membuka pedang yang tersemat di pinggangnya. "Kami saja sudah cukup untuk melawan kalian semua!"
"Sombong sekali!"
Pertarungan tak terelakkan lagi, kaisar dan dua prajurit gagah berani itu bertarung sekuat tenaga untuk menumpas para pemberontak itu tanpa pandang bulu. Kejahatan demi kejahatan mereka sudah terlalu banyak hingga mereka harus dibunuh dengan sangat sadis. Terutama Zao yang beradu pedang dengan kaisar begitu sengit, tubuh tambunnya tak kalaj gesit untuk memaikan pedang.
Dalam pertarungan kali ini hanya adalah suara pedang dan rintihan para prajurit Zao yang meronta minta pertolongan. Kali ini hasrat membunuh dari ketiga ksatria itu tidak terbendung lagi.
Prraaanggggg!!!
Bunyi dua pedang saling beradu kekuataan terdengar nyaring di tengah-tengah pertempuran sengit. "Kau tidak akan bisa membunuhku!" desis Kaisar Zhou.
"Kita lihat saja siapa yang menang!!"
"Baik!"
Prraaaangggg... sreeeehh... praanggg
Pedang sang kaisar terpelanting lepas dari genggamannya, kaisar hendak mengejar tapi Zao lebih dulu menahannya. Alhasil ia memanfaatkan bilah bambu di dekatnya untuk mempertahankan diri, sembari berusaha keras meraih kembali pedangnya.
Hanya tersisa satu kibasan pedang terakhir, dan Zao akan memenangkan pertempuran. Pria bertubuh tambun itu mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya, pedang terayun ke arah sang kaisar.
Prraaaanggg.... Jlebb!!
***
"KAISAR!!!"
"KAISAR!!!"
Panglima Hao dan Yang Zhe Yan terhenyak mematung di tempat, mereka melihat sendiri bagaimana Pemberontak Zao mengayunkan pedangnya.
Tapi beberapa saat kemudian, justru dia yang ambuk bersimbah darah di samping kaisar Zhou.
Rupanya di detik terakhir yang begitu menengangkan itu, kaisar berhasil meraih pedangnya kembali. Dan ia menusukkannya ke tepat di dada kiri Zao sebelum pria tambun itu berhasil melukainya.
Melihat pemimpin pemberontak itu telah mati, prajurit lain yang masih tersisa segera dihabisi oleh Panglima Hao dan Yang Zhe Yan dengan membabi buta. Tak tersisa satu pun dari mereka masih bisa bernapas lega.
"Apa kau baik-baik saja, Yang Mulia?" tanya Panglima Hao.
__ADS_1
Kaisar Zhou menggeleng kecil, "Aku baik-baik saja, hanya beberapa luka kecil yang masih bisa ku tahan. Kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri panglima."
"Tidak, tugasku adalah untuk menjagamu, Yang Mulia."
"Benar, Yang Mulia." tambah Yang Zhe Yan.
"Sebaiknya kita segera kembali."
Tempat dimana kaisar disekap rupanya tidak berjarak jauh dari negeri selatan. Hanya saja letaknya terpencil dan aksesnya sulit karena membelah hutan, dulunya ada pemukiman kecil disana, tapi sekarang sudah ditinggalkan.
Berjarak beberapa meter dari tempat penyekapan, mereka bertemu dengan para prajurit yang datang menyusul setelah mengamankan negeri selatan dan membebaskan penduduk yang disandera.
"Salam, Yang Mulia!"
"Salam, panglima!"
Kaisar Zhou menganggukkan kepalanya dua kali, "Ayo kembali ke negeri selatan, kita harus segera mengamankan negeri itu dan kembali ke istana."
"Baik, Yang Mulia." ujar salah seorang dari prajurit itu. "Pasukan bantuan dari kekaisaran juga sudah sampai, Yang Mulia."
"Baguslah!"
Perjalanan untuk kembali ke negeri selatan yang hanya tinggal beberapa langkah itu dilanjutkan. Dan kedatangan kaisar disambut penuh suka cita oleh rakyat negeri selatan, kekaisaran telah bekerja keras hingga kaisar turun tangan ikut dalam peperangan melawan pemberontak.
"HIDUP KAISAR ZHOU!!"
"HIDUP KAISAR ZHOU!!"
"HIDUP DINASTI MING!!"
Sorak sorai penuh kebahagiaan dan kelegaan itu telah bergema di negeri yang semula mencekam karena adanya pemberontak.
Kaisar Zhou tersenyum lega, dan berbalik menatap Yang Zhe Yan. "Ku tunjuk Panglima Yang untuk tetap berjaga di negeri selatan sampai keadaan benar-benar aman."
"Baik, Yang Mulia."
"Lalu bagaimana dengan anda? Apa anda akan segera kembali ke istana?"
Kaisar mengangguk dua kali, "Ya, sudah terlalu lama aku meninggalkan istana dan entah apa yang terjadi disana. Aku harus segera kembali dan melihat apakah selir agung sudah membuka kedua matanya."
Sorot mata tajam itu meredup, teringat kembali akan nasib dari Wu Li Mei yang belum kunjung membaik. Semoga setelah ia kembali nanti, Kaisar Zhou bisa melihat senyuman manis di wajah cantik itu lagi.
"Tapi, luka anda bagaimana, Yang Mulia?" Yang Zhe Yan mengingatkan kembali pada luka memar dan lecet di lengan dan kakinya meskipun tertutup baju zirah.
"Tinggallah untuk semalam saja Yang Mulia, obati dulu luka anda baru kembali." saran panglima yang lain.
__ADS_1
"Tidak, aku akan tetap kembali ke istana."