Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Buku yang sama


__ADS_3

Pertemuan mengharukan itu berlanjut hingga keesokan harinya, dimana sang ibu dari Wu Li Mei sungguh terlihat sangat menyayanginya. Sang ibu meminta waktu khusus untuk menghabiskan hari bersamanya pagi ini, Liu Yang Li mengatakan bahwa ia ingin mengingatkan Wu Li Mei pada kenangan masa kecilnya. Dan disinilah sang selir agung berada, di sebuah paviliun yang masih sangat terjaga sekalipun tidak ada penghuninya, paviliun itu dulunya milik Wu Li Mei dari kecil hingga beranjak remaja.


Istana Kekaisaran Hang jauh lebih besar dari istananya, dan paviliun ini juga jauh lebih indah, ada banyak taman dan rak penuh buku-buku. Salah satu yang paling menarik perhatiannya adalah buku-buku tanaman herbal dan teknik penyembuhan yang ada di rak paviliun itu, rupanya sang pemilik raga sudah menyukai ilmu pengobatan sejak kecil. Buku itu menjadi buktinya, beberapa sudah usang dan merupakan buku lama yang tidak dituliskan lagi, dia tahu karena pernah membeli buku bersama Tabib Zhong. Tangan wanita cantik itu meraih sebuah buku besar yang tampak usang, lembarannya menguning dan saat buku itu terbuka, aroma khas buku lama sangat menyengat. Pasti sudah sangat lama tidak dibuka lagi.


“Apa aku menyukai ilmu pengobatan, Bu?”


Liu Yang Li menoleh cepat, ia menghampiri sang putri yang berdiri di dekat rak buku. “Iya sayang, sejak lama kau menyukai buku tentang herbal dan pengobatan. Lebih tepatnya kau sangat suka membaca buku, Mei-mei.”


“Benarkah?” tanya Wu Li Mei heran, “Tapi bukankah seorang putri biasanya melatih keterampilan seperti menyulam, merajut, atau bermain kecapi?”


“Kau berbeda, Mei-mei. Kau tidak sama dengan para putri kekaisaran lainnya. Bahkan dengan kakak-kakakmu pun kau sangat berbeda. Dahulu, kau jauh lebih dekat dengan mendiang Kaisar Wu Ming Hao, sehingga dia banyak mengajarimu membaca dan mempelajari keterampilan seorang cendekiawan alih-alih merajut dan menyulam.” Liu Yang Li menerawang pada masa dimana sang putri bungsu masih sangat kecil, kenangan bersama Wu Li Mei terasa jauh lebih terkenang karena dia adalah si bungsu tersayang.


Liu Yang Li tersenyum lembut sembari mengusap surai halus sang putri, “Kaisar Wu Ming Hao banyak mengajarimu ilmu tentang pengobatan dan tata pemerintahan, sehingga kau tumbuh menjadi sosok yang penuh ambisi dan haus akan ilmu pengetahuan.”


“Kaisar Wu Ming Hao?”


“Ya, dia adalah kakekmu, kaisar terdahulu yang bijaksana. Padahal kaisar adalah orang yang paling kau hormati dan rindukan, sampai-sampai kau memberi nama putramu dengan namanya. Apa kau tidak mengingatnya?”

__ADS_1


Wu Li Mei menggeleng dengan sendu, jika sang kaisar adalah sosok yang mengambil peran besar dalam pembentukan sifat dan pola pikirnya, seharusnya ada sedikit kenangan yang tersisa. Sayangnya tidak ada sama sekali.


“Tak apa Mei-mei, nanti kita akan mengunjungi tempat peristirahatannya bersama. Dia pasti merindukanmu juga.”


Wu Li Mei mengangguk dan kembali menelisik buku-buku yang ada di rak itu, akan sangat bagus kalau saja ia bisa membawa semua buku ini kembali ke paviliunnya. Pasti banyak ilmu yang akan ia dapatkan dari buku-buku itu, terlebih ada banyak buku tentang pengobatan era dinasti ini yang akan berguna untuknya. Wu Li Mei mulai memikirkan banyak cara, mengapa tidak bisa, bukankah ia sangat kaya raya. Tapi sepertinya tidak akan semua juga dibawanya, hanya beberapa yang penting saja. Langkahnya terus berjalan mengelilingi rak-rak berisi buku yang tersusun dengan rapi itu.


Hingga langkah sang selir terhenti pada satu buku yang cukup familiar, dia seperti pernah melihatnya tapi entah dimana. Wu Li Mei meraihnya, dan ia membulatkan mata seketika saat membaca judulnya. Demi dewa yang ada di langit, Wu Li Mei sampai tak berkedip menatapnya. Ini adalah buku serupa dengan buku yang diambil oleh Yang Jia Li, buku tentang pembuatan racun dan herba beracun. Beberapa buku lain yang tertumpuk bersamanya juga buku penting tentang pembuatan penawar racun, sungguh ini adalah sebuah keajaiban. Sang selir agung meraihnya dan menyimpannya di meja. “Emm… bu, bolehkan aku membawa beberapa koleksi buku ini?” tanya Wu Li Mei sambil menunjuk tumpukan buku itu.


Sang ibu menoleh dan mengangguk tanpa ragu, “Tentu saja boleh, semua ini milikmu Mei-mei. Kau boleh mengambilnya atau memberikannya kepada perpustakaan istana saja, beberapa waktu lalu ibu berpikir untuk memindahkannya ke perpustakaan istana atau perpustakaan rakyat.”


“Perpustakaan rakyat?” tanya Wu Li Mei cepat.


“Apakah hal semacam itu ada, bu? Maksudku apakah rakyat bisa… membaca?”


Liu Yang Li terkekeh, wanita berusia senja itu tersenyum hingga kerutan di sekitar matanya tercetak dengan jelas. “Tentu saja Mei-mei, untuk kaum bangsawan sudah tentu mereka bisa membaca dan menulis. Tapi untuk rakyat biasa, mereka tidak buta huruf meskipun tidak terlalu pandai bersastra. Kaisar memberikan rakyat pendidikan dalam membaca dan menulis, karena kekaisaran menyadari pentingnya baca tulis untuk menunjang kehidupan rakyat menjadi lebih baik.”


Wu Li Mei cukup terkesan dengan pernyataan itu, pendidikan memanglah sangat penting untuk suatu kaum. Dan salah satu langkahnya adalah baca tulis, jika rakyat bisa membaca dan menulis, tentu semuanya akan menjadi lebih baik. Wu Li Mei jadi penasaran dengan sendi kehidupan di negeri ini secara lebih mendalam, mungkin lain waktu ia akan meminta kaisar untuk menemaninya berkeliling. Kaisar harus tahu dan belajar dari negeri besar ini, jika sistem pemerintahan yang baik bisa berjalan di Negeri Ming juga. Pasti semuanya akan sangat bagus.

__ADS_1


“Bu, bagaimana sistem pendidikan disini?” tanya Wu Li Mei, wanita itu mulai meletakkan bukunya kembali dan menyerahkan semua atensi kepada sang ibu. Mereka duduk di pelataran paviliun sembari menikmati hembusan angin sejuk dan gemericik air kolam.


“Emm… ibu tidak yakin bisa tahu banyak hal tentang itu, mungkin kau bisa bertanya dengan ayahmu. Tapi sejauh yang ibu tahu, kekaisaran membuat sekolah untuk anak-anak untuk bisa membaca dan menulis, sehingga saat mereka bertumbuh dewasa tidak buta huruf.”


“Apakah itu seperti sekolah?”


“Sekolah?” Liu Yang Li mengerutkan keningnya, “Apakah itu seperti pusat membaca dan menulis?” tanyanya.


Wu Li Mei mengangguk, “Ya, pusat memperoleh pendidikan.”


“Ku rasa seperti itu juga ada di negeri ini, di setiap distrik kaisar membangun balai khusus yang bertugas mengajari anak-anak atau pun orang dewasa yang ingin bisa membaca dan menulis dengan gratis, tanpa dipungut biaya sama sekali. Tapi syaratnya mereka harus memelihara balai itu dengan baik beserta buku-buku di dalamnya.” Liu Yang Li melanjutkan penjelasannya, itu pun hanya sejauh yang ia tahu. Tugas permaisuri tidak sampai sejauh itu, meskipun beberapa kali ia terlibat dalam pemerintahan dan sistem kelola yang baru.


“Bu, apakah kaum bangsawan dan kaum… biasa juga mendapatkan pendidikan yang sama?”


Sang ibu menggeleng dengan senyum sendu, itu merupakan satu hal yang masih belum bisa dilaksanakan dengan baik di negeri ini, apa lagi jika bukan kesetaraan. Praktik perbudakan masih menjadi hal yang lumrah dan jurang pemisah si kaya dan si miskin sangat luas dan dalam, memperoleh pendidikan dan bisa baca tulis tidak membuat rakyat menjadi setara dengan kaum bangsawan yang selalu mengangkat derajatnya seolah lebih tinggi. Dan beberapa memang mendukung ketimpangan itu. “Sayangnya tidak Mei-mei, kaum bangsawan mempunyai balai pendidikannya sendiri, mereka lebih unggul dalam segala hal dan lebih terdidik. Sementara rakyat biasa hanya bisa mengenal huruf, membaca, dan menulis seadanya. Seperti pendidikan dasar saja. Rakyat biasa tidak punya cukup uang untuk membeli buku dan tinta, sehingga mereka hanya menulis di pelepas lontar dan media lainnya.”


“Tapi ku pikir itu sudah sangat baik bu, paling tidak rakyat sudah mengenal huruf. Itu merupakan langkah yang baik, dan aku merasa itu harus diterapkan di negeri ku juga.” Balas Wu Li Mei penuh kekaguman.

__ADS_1


“Bu, bisakan kau ceritakan lagi tentang negeri ini?”


__ADS_2