Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)

Back In Time (Reinkarnasi Selir Kejam)
Pemberontakan Negeri Selatan


__ADS_3

Suara gaduh dari luar membuat Kaisar Zhou yang sedang membaca laporan dari berbagai negeri menghentikan kegiatannya, tepatnya pada laporan yang dibuat oleh negeri selatan dimana terjadi penjarahan dan pemberontakan yang dipimpin oleh seseorang bernama Zao. Entah tikus mana lagi yang mencoba menggeronggoti kerajaannya, yang pasti ini tidak bisa dianggap sepele.


Kaisar Zhou bangkit dari singgasananya dan keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar, dia mengerutkan keningnya melihat seorang prajurit dengan baju zirah yang sudah tidak berbentuk dan luka di sekujur tubuhnya bersimpuh di halaman istana. Panglima Hao ada disana dan menopang tubuh lemah sang perwira, “Hei, apa yang terjadi prajurit!?” tanya sang panglima tegas.


“Tolong saya panglima … tolong kami … to-tolong kami panglima … “ ucapnya dengan suara lirih hampir tak terdengar oleh Panglima Hao.


“Apa yang terjadi?”


“Banyak hal telah terjadi, dan negeri selatan kini telah hancur!”


“Hancur?”


“Semuanya mati … semuanya hancur … semuanya darah!” racau prajurit itu, usianya masih tergolong muda sehingga kemungkinan dia bukan prajurit perang tapi regu pengirim pesan. “Tolong … kami semua sekarat panglima, mereka semua mati disana, tolong … “


“Mereka datang, lalu mereka membakar seisi kota dan menyandera semua orang!”


“Mereka biadab dan tak berhati … mereka menyiksa para gadis dijalanan dan melecehkan mereka begitu saja, mereka tak segan membunuh rakyat dan semua prajurit telah mati … tolong … tolong kami … kirimkan bantuan … tolong panglima … “


Kerah hanfu sang prajurit digenggam erat oleh Panglima Hao, “Katakan dengan jelas apa yang terjadi disana!!” sentaknya.


Karena kegaduhan yang terjadi, semua petinggi istana pun ikut menuju halaman istana utama untuk melihat apa yang terjadi. Tak terkecuali Kaisar sendiri bersama kasimnya yang juga ikut melihat prajurit itu, mendengar sendiri pernyataannya membuat darah sang kaisar serasa mendidih, dia harus cepat memikirkan langkah selanjutnya yang akan diambil untuk menumpas pemberontakan dengan cepat sehingga Negeri Selatan bisa selamat.


“Pemberontakan panglima! Pemberontakan besar-besaran membuat prajurit kekaisaran tidak bisa menahan lagi dan hanya tersisa beberapa saja, sehingga saya bisa melapor kemari. Negeri selatan benar-benar telah hancur dan kini rakyat disandera dan dijadikan budak oleh mereka.” Jelas prajurit itu terbata-bata, “Tolong kami, Kaisar, tolong kami, Yang Mulia!”


Tak hanya Panglima Hao atau para petinggi kekaisaran yang merasa was-was dan takut, tapi Kaisar Zhou pun merasakan hal yang sama. Pemberontakan dan peperangan memang tidak pernah bisa dielakkan lagi dalam upaya perebutan dan mempertahankan kekuasaan.


Negeri Selatan bukankah negeri yang makmur karena sebagian besar lembah disana kering dan gersang, tidak teraliri air sehingga masyarakatnya banyak membangun pemukiman di pesisir pantai saja. Pusat kota itu menjadi pelabuhan yang terkenal dan banyak pedagang dari berbagai belahan dunia mampir kesana, selain pengamanan tidak terlalu ketat, letaknya yang cukup jauh dari istana kekaisaran membuat Negeri Selatan sedikit liar dan banyak terjadi pemberontakan.


Setelahnya, pertemuan para petinggi kekaisaran dilaksanakan dengan cepat dan tanpa banyak basa-basi mereka semua sepakat untuk menuju medan perang membawa serta prajurit dalam jumlah banyak dan menyusun strategi perang. Pengaman di berbagai negeri diperketat, terutama di dalam wilayah istana dan pusat kota.

__ADS_1


***


“Bagaimana Tabib Zhong?”


Sang tabib masih menggelengkan kepalanya, “Belum ada tanda-tanda Yang Mulia Selir akan bangun, putra mahkota. Dia masih memejamkan mata, tapi saya bersyukur karena ramuan herbal yang diberikan ternyata dapat membantu sang banyak. Kini selir agung tidak dingin lagi, dia sudah berangsur normal.”


“Tapi kenapa belum juga membuka mata?”


“Saya juga tidak tahu Yang Mulia, saya tidak bisa berbuat apapun selain memberi obat dan menunggu Yang Mulia Selir bangun dengan sendirinya.


“Ini sudah lama sekali.”


“Bersabarlah Yang Mulia, pasti dewa telah memberikan jalan yang terbaik.” Ujar sang tabib, “Saya pamit dulu Yang Mulia, pasti sebentar lagi Putri Fang Yin akan datang dengan obat. Cara meraciknya masih sama, tapi kali ini berikan sedikit saja.”


“Ya, tabib!”


Zhou Ming Hao menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menggenggam tangan sang ibu semoga saja bisa memotivasinya untuk berjuang keras melawan penyakitnya. Helaan napas lelah begitu kalut dan bingung dalam satu waktu sehingga untuk menghela napas rasanya begitu sesak. Penyakit aneh yang belum diketahui sebab dan obatnya, bahkan Tabib Zhong sendiri juga bingung.


“Ku dengar ada pemberontakan.” Zhou Fang Yin yang baru datang dari mengambil obat untuk Wu Li Mei langsung mengatakan apa yang baru saja dia dengar kepada sang kakak. Saat di perjalanan, tidak sengaja ia mendengar para prajurit sedang mempersiapkan diri untuk pergi ke negeri selatan.


“Pemberontakan apa?”


Zhou Ming Hao menyambut dengan kening berkerut, terlalu larut menunggu Wu Li Mei sadar membuatnya tidak sadar akan apa yang terjadi di luar.


“Di negeri selatan.”


“Negeri selatan?”


“Iya.”

__ADS_1


“Bagaimana bisa?”


Si adik mengendikkan bahunya, “Aku tidak tahu pasti, coba saja kau cari tahu dulu. Tapi aku tadi mendengar para prajurit bersiap, karena Negeri Selatan berada dalam bahaya oleh pemberontak. Banyak orang menjadi sandera, kota dibakar dan semuanya dijarah.”


“Lalu apa yang akan dilakukan kekaisaran?”


“Tentu saja pergi berperang.”


Dua anak itu terkesiap saat mendapati sang ayah mengenakan baju zirah lengkap dengan sebilah pedang di pinggangnya. Mereka mendunduk hormat dan memberi salam, mereka memberikan jalan untuk Kaisar Zhou yang sepertinya ingin melihat keadaan Wu Li Mei sebelum pergi berperang.


Tangan sang kaisar mengelus pelan kening dari wajah pucat yang masih setia memejamkan mata padahal sudah tiga hari berlalu tanpa sadar sedikit pun dari Wu Li Mei, nafasnya masih ada sehingga Wu Li Mei belum bisa dikatakan meninggal dunia. Tubuhnya yang semula dingin, kini berangsur normal hanya saja belum membuka matanya. “Aku pergi dulu, Mei’er. Berjanjilah setelah aku kembali, kau sudah bangun dan menyambutku dengan senyuman manismu.”


Dikecupnya kening sang selir agung, sebelum dengan berat hati meninggalkan Wu Li Mei dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. “Aku akan pergi berperang, putra mahkota, Putri Fang Yin!” ujar kaisar.


“Apa anda benar-benar harus pergi, Yang Mulia?”


“Lalu siapa lagi jika bukan aku yang ikut? Tugasku adalah melindungi negeri ini, dengan darah dan keringat akan kubela negeri ini anak-anakku.”


“Lalu, bagaimana dengan ibu?” tanya Zhou Fang Yin lemah seraya menunduk.


Kaisar menyentuh bahu dua anak kembar tersayangnya dan mengulas senyum, “Kalian akan menemani ibu sampai ayah kembali, pastikan dia baik-baik saja sehingga ibu akan cepat sembuh dan sadar kembali.”


Zhou Ming Hao bersimpuh, “Ayah, izinkan aku saja yang menggantikan bertempur di medan perang. Disini tidak ada siapapun yang bisa mengendalikan kekaisaran dan menjaga istana. Ayah tidak perlu pergi dan biarkan aku menggantikanmu!”


“Kau yang akan menggantikanku.”


“Aku bersedia ayah, aku akan turun ke medan pertempuran.”


“Bukan!”

__ADS_1


Zhou Ming Hao mendongak, “Maksud ayah?”


“Kau yang akan menggantikanku menjaga istana dan memimpin kekaisaran.”


__ADS_2