
Zhou Xiu Huan terbangun di sebuah ruangan gelap, bau menyengat baru saja menyadarkannya dari pingsan. Tapi dimana dia sekarang? Kedua matanya mengerjap pelan dan dia memahami bahwa kedua tangannya tengah terikat pada sebuah kursi yang sekarang tengah ia duduki.
Sang kaisar baru ingat bahwa pertarungannya bersama para prajurit kekaisaran telah berlangsung satu hari satu malam lamanya, dan masih terus berjalan hingga para prajurit bantuan datang dan Dinasti Ming memenangkan kembali tanah selatan.
Tapi, ruangan gelap itu akhirnya dibuka paksa hingga bunyi pintunya nyaris seperti hendak hancur. Tiga orang berpakaian baju zirah datang dengan tatapan bengis, mereka langsung masuk dan menatap tajam sang kaisar.
"Sang kaisar ... " ucapnya dengan nada remeh, tapi terselip rasa marah dan takut di dalamnya.
"Pasukanmu memang telah menang, tapi tidak bisa disebut kemenangan jika mereka harus kehilangan raja mereka." tambahnya.
"Akan ku biarkan kalian menguasai tanah tidak berguna itu, tapi sebagai balasannya aku berhasil membunuhmu!!"
Salah seorang yang terus berbicara itu namanya Zao, dia adalah pemimpin kaum pemberontak yang sebagian besar berhasil ditumpas oleh pasukan kekaisaran. Menyisakan segelintir orang yang tetap bertahan, dan merek menculik kaisar.
Sang kaisar sama sekali tidak gentar, dia terus diam dengan wajah dingin menatap Zao.
"Kenapa kau diam saja, kaisar??"
"Ku pikir kau punya mulut untuk berbicara!!"
"Apa kaisar di negeri ini adalah orang yang bisu, dia tidak bisa bicara dan hanya menjadi boneka permaisurinya?? Ahahahahah ... lucu sekali sebuah ironi ini, aku ingin tertawa tapi,"
Zao menjeda kalimatnya, tatapan berubah menjadi sangat tajam dan bengis. Satu tangannya ia tumpukan pada sandaran kursi kaisar sehingga mereka bisa bersitatap dengan sangat dekat. Saling memancarkan aura dominasi dan kemarahan di dalamnya. "Setelah aku berhasil membunuhmu." pungkas Zao.
Pria berbadan tambun berperawakan tinggi besar itu rupanya adalah pemimpin mereka, ada luka di wajahnya dan pelipis akibat dari banyaknya perang dan pertarungan yang telah dilewati. Zao menatap kedua bawahannya, "Kalian pastikan dia tidak kabur dari sini!" titahnya seraya melangkah menuju pintu.
"Apa hanya itu tuan?" tanya salaj seorang dari dua orang yang masih tinggal, mereka tampak tengil dan kira-kira seusia dengan Yang Zhe Yan. "Ayolah, apa kita boleh melakukan penyiksaan?!"
"Atau boleh lansung dibunuh saja?!"
"Tuan??"
"Jangan gila, Mo Ye! Dia adalah kaisar negeri ini, tujuan awal kita bukan untuk itu." tegur yang satu lagi, dia bernama Han.
Mo Ye menggeleng tegas, "Aku tidak gila, dia adalah orang yang membuat kita menderita asal kau tahu. Apa kau bisa menerima jika dia tetap hidup dengan baik sedangkan kita sengsara. Andai Negeri Ming tidak menyerang desa kita untuk memperluas wilayah mereka, pasti ayah dan ibuku masih ada!!" ujar Mo Ye menggebu.
"Bukan hanya kau yang membencinya, aku juga. Tapi kalau kita membunuhnya sekarang maka kita tidak akan dapat apa-apa?"
__ADS_1
"Kau hanya memikirkan itu saja, aku tapi juga memikirkan dendamku!!" sentak Mo Ye tidak ingin kalah.
"Kita tidak bisa membunuhnya sebelum.kita mendapatkan apa-apa."
"Kau! Kau sangat mata duitan ya!! Ap----"
"DIAM!!"
Mo Ye dan Han langsung terdiam begitu Zao berteriak pada keduanya, ternyata sang tuan masih disana dan mengamati pertikaian mereka. "Membunuhnya hanya akan dilakukan olehku, dan cepat atau lambat tetap akan kulakukan!"
Zao berlalu setelah memberikan ultimatum kepada kedua pemuda itu.
"Aku tidak takut, justru nyawa kalian lah taruhannya." guman kaisar sambil berharap bala bantuan cepat datang.
***
"Mari membuat kesepakatan, Zhou Ming Hao. Jadikan aku ibu suri maka aku tidak akan menyentuh adik dan ibumu, selamanya."
"Aku bersumpah!"
Kalimat Yang Jia Li terus saja berputar di otaknya, tanpa jeda dan sangat mengganggu. Goyah, tentu saja pemuda yang baru beranjak dewasa itu tengah bimbang. Pendiriannya terombang ambing oleh permaisuri terbuang yang tiba-tiba datang tanpa bisa dicegah.
Kabar kemenangan kekaisaran berhasil membuatnya bernapas lega sebelum akhirnya datang lagi kabar bahwa kaisar diculik dan disekap oleh para pemberontak.
Ini seperti kemenangan yang melenakan.
"Apa kau sedang kau pikirkan kakak?"
Zhou Ming Hao tersentak pelan dari lamunannya, dan ia segera menggeleng kaki kepada si adik yang baru datang. "Kau jelas memikirkan sesuatu hingga tidak menyadari kedatanganku yang sudah berdiri beberapa menit di depan pintu."
"Ah, benarkah?" tanya Zhou Ming Hao.
"Kau sedang cemas atau bimbang?"
Putra mahkota menghela napas, "Kau selalu tepat menebakku."
"Tentu karena aku adalah saudarimu!" jawab Zhou Fang Yin, gadis cantik itu naik satu undakan dan berhenti sebelum sampai di singgasana raja. "Apa yang membuatmu merasa bimbang, kakak?"
__ADS_1
"Apa kau tahu ibu begini karena Yang Jia Li?"
Akhirnya Zhou Ming Hao menyerah untuk menyimpan semuanya seorang diri.
"Aku sudah menduga ini, dan sudah pasti benar jika dalang dibalik semua ini adalah ibu permaisuri." jawabnya.
"Dia mengatakan akan berhenti mengganggu kita jika aku menjadikannya sebagai ibu su---"
"Tidak!!!!"
"Tidak akan pernah!!!"
Tolak sang adik mentah-mentah bahkan sebelum sang kakak menyelesaikan kalimatnya.
Zhou Fang Yin menatap kakaknya dengan tatapan tajam dan marah, kedua tangannya terkepal kuat hingga wajah cantiknya merah padam. Sang putri yang cantik jelita begitu berbeda ketika marah. "Jika kau sampai berpikir begitu, maka aku adalah orang pertama yang akan memukulmu hingga sadar!"
"Dia adalah orang jahat, dia tidak pasta berada di istana ini. Selamanya tidak pantas!"
"Kita seharusnya memikirkan cara terbaik untuk melenyapkannya selamanya, kakak, bukan memberinya kesempatan!!"
"Dia melukai ibu, dia mendorongku ke danau, dia membunuh Zhou Xie Ling, dan dia mencelakai ibu suri!!"
"Akan hancur negeri ini jikan berada di tangan orang yang salah."
Suara Zhou Fang Yin menggelegar di setiap sudut aula besar itu. Dan semua yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran, sang putri lalu melangkah menuju singgasana untuk menemui sang kakak.
"Jika kakak merasa ragu, maka jangan pernah menyimpannya sendiri. Aku akan kembali menyakinkanmu untuk tetap berada di jalan kebenaran."
"Tahta ini adalah milikmu, jangan biarkan permaisuri jahat itu mengambilnya."
Sang putri mengeratkan genggaman tangan kepada putra mahkota, dia berjanji untuk dalam hati untuk terus mendukungnya.
"Baiklah, aku berjanji akan menjaga amanah ini dengan baik." ucap putra.mahkota, tatapannya sendu dan penuh rasa bersalah karena telah goyah untuk beberapa saat. "Aku minta maaf karena telah mengatakan omong kosong."
Zhou Fang Yin membalas dengan senyuman.
Brraaakkkkkkk ....
__ADS_1
Seorang prajurit datang dengan tergopoh, dia langsung bersimpuh di hadapan putra mahkota dan Zhou Fang Yin.
"Maaf, Yang Mulia. Selir agung ... selir agung ... "