
“Uhhukk … Uhhukk … Uhukk … “
“Ahh, rasanya dadaku sesak sekali karena batuk ini, kenapa lagi aku ini. Bukankah kalian pikir akhir-akhir ini aku terlalu mudah sakit?”
Ketiga dayang yang bersimpuh di dekatnya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, salah satu dari mereka memberikan secangkir teh hangat untuk Yang Jia Li, tapi segera ditepih. “Kau ini sudah gila ya, aku batuk, seharusnya kau berikan aku air minum bukan teh!” sentaknya marah.
“Tapi … anda kan selalu minum teh ini Yang Mulia, anda bilang teh ini bisa membuat awet muda.” Balas Xing Yu, dia memberikan kembali secangkir teh yang tadi ditolak oleh Yang Jia Li. “Saya pasti tidak salah lihat kalau anda memang semakin hari terlihat lebih cantik, Yang Mulia.” Pujinya.
Xin mengangguk dua kali dengan tatapan takut-takut, dia tidak seberani kedua temannya dalam menghadapi Yang Jia Li. Sangat sering ia mengeluh saat harus menghadap sang junjungan karena dia begitu kasar dan cerewet. Tak berbeda dengan Xin, Lu Yi juga menganggukkan kepalanya, ia mengambil sisir dan cermin dari batu pualam yang diukir indah. “Benar, Yang Mulia, izinkan saya merapikan rambut anda sehingga anda akan jauh lebih cantik lagi. Ku dengar hari ini Tuan Yang Zuo dan Tuan Yang Jian Zhu akan datang berkunjung.”
“Tanyakan saja pada mereka, mereka pasti setuju kalau anda terlihat jauh lebih cantik.”
“Benarkah begitu?” tanya Yang Jia Li ragu.
“Benar, Yang Mulia.”
“Tapi kenapa aku selalu merasa lelah dan sakit, dadaku juga sakit dan terbatuk-batuk sampai berdarah hari itu. Apa mungkin teh itu tidak cocok untukku?”
Ketiga dayang muda itu saling lirik, mereka terdiam beberapa saat sebelum bereaksi lebih karena sepertinya Yang Jia Li mulai curiga dengan teh herbal yang biasa ia minum.
“Ah, mana mungkin Yang Mulia.” Sanggah Lu Yi seraya terkekeh pelan, kedua temannya pun menyambut. “Tuan Yang Zuo sendiri yang membawakan ini untuk anda, mana mungkin teh ini beracun. Teh ini baik untuk kesehatan dan kecantikan, saya mendengar rumor di pasar bahwa para putri dan nyonya bangsawan juga meminum teh ini.”
Xing Yu mengipas dengan tangannya agar asap yang mengepul dari seduhan teh itu menerpa Yang Jia Li, memang tidak bisa diragukan lagi jika teh itu rasanya sangat nikmat dan sekali mencium aromanya Yang Jia Li selalu ingin minum dan minum. Tak tega melihat teh itu ia tolak begitu saja, akhirnya sang ratu yang sedang diasingkan meraih cangkir itu dengan paksa dan menenggaknya hingga tandas.
Ia lalu melempar begitu saja cangkir teh itu hingga menggelinding di ubin, salah satu kebiasaan buruk Yang Jia Li adalah berlaku kasar dan seenaknya, sama seperti yang ia lakukan tadi. Ketiga dayang itu hanya bisa menghela napas diam-diam, sungguh bagi mereka baru pertama kali melayani seorang bangsawan yang tidak sama sekali berperilaku layaknya seorang bangsawan. “Ahh, senangnya hidup ini jika hanya dihabiskan untuk bersantai dan bersantai.” Ucap Yang Jia Li.
“Anda begitu beruntung, Yang Mulia.”
__ADS_1
“Beruntung apanya!” Jia Li dengan cepat menyela Xing Yu, “Aku adalah ratu yang diasingkan, apakah menurutmu ini adalah sebuah keberuntungan. Jika bukan karena wanita ular itu, aku pasti tidak akan ada disini!” kesalnya.
Xing Yu mengerutkan keningnya, “Wanita ular?”
“Wu Li Mei! Siapa lagi jika bukan dia, dia yang membuatku diasingkan seperti ini, aku harus membuatnya menderita sama sepertiku bahkan jauh lebih lagi.” Tekad Yang Jia Li. “Apa kalian belum mendengar kabar lagi?”
Ketiga dayang itu kompak menggeleng, “Kabar apa, Yang Mulia?”
“Kabar kematian Wu Li Mei.”
***
Jika bukan karena paksaan dari sang ayah, tentu Yang Jian Zhu tidak akan repot-repot melakukan perjalanan melelahkan menuju Biara Heng Shui hanya untuk mengunjungi adik perempuan yang tak ubahnya penyihir itu. Entah apa lagi yang mereka rencanakan, yang pasti hari ini ia pasti akan mengetahui sesuatu. Cukup damai rasanya beberapa bulan ini berlalu di istana, dan pekerjaannya juga tidak terlalu menyibukkan sejak Yang Jia Li hengkang dari istana.
Tapi, adiknya itu tetaplah wanita keras kepala yang haus akan kekuasaan. Tentu saja dia akan mencari sejuta cara untuk kembali ke istana itu lagi. “Katakan kakak, apa kau membawa kabar baik untukku?”
“Ck, kau ini.”
“Memangnya apa?”
Jia Li merotasikan bola matanya, “Apa tidak ada kabar dari selir sialan itu?” sentaknya.
“Wu Li Mei maksudmu?”
“Siapa lagi.” Balas Yang Jia Li cepat, “Aku ingin mendengar kabar kematiannya dengan cepat, apakah tidak ada kabar itu? Atau kau sengaja tidak ingin memberitahuku dengan cepat.”
Kepala Departemen Kejaksaan itu terdiam sejenak, kabar bahwa Wu Li Mei jatuh sakit dan belum sadarkan diri hingga hari ini ditutup rapat oleh kekaisaran dan belum ada yang tahu selain anggota keluarga kekaisaran sendiri. Yang Jian Zhu juga mendengarnya dari mulut ke mulut, “Bagaimana kau bisa tahu?”
__ADS_1
“Ahhahahahahahahah … “
Tawa Yang Jia Li mengudara, disambut dengan senyuman licik sang ayah yang sejak tadi enggan untuk bergabung dalam obrolan mereka. Sesampainya mereka di Biara Heng Shui, bukannya menyapa para dewa dan berdoa, Yang Zuo justru langsung masuk dan bersantai di paviliun Yang Jia Li. “Kau ini, kakak, ayolah, apa kau lupa jika adikmu adalah aku, Yang Jia Li?!” sarkasnya.
“Jadi, semua ini campur tanganmu?”
“Tentu saja, balas dendam sudah dimulai dan aku tidak akan melakukannya dengan lembut kali ini. Aku ingin wanita itu mati dan benar-benar musnah.” Yang Jia Li mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya tercetak jelas, tatapan matanya begitu tajam dan penuh amarah. “Aku tidak akan pernah membiarkannya merasa menang karena hanya aku yang akan benar-benar menjadi pemenang. Setelah ini aku yakin, Wu Li Mei tidak akan bisa hidup lagi dengan normal.”
Kedua mata tajam Yang Jian Zhu terpejam erat merasakan perasaan tak karuhan, “Apa lagi kali ini yang kau lakukan kepadanya? Tidak bisakah kita hidup dengan damai?”
“Apa kau bilang?!”
“Kau dan Wu Li Mei, tidak bisakah kalian hidup dengan damai. Aku saja lelah dengan sikap kalian, Kaisar Zhou juga pasti begitu. Katakan! Kali ini apa lagi yang kau lakukan kepada Wu Li Mei?”
“Kau membelanya?”
“Tidak … maksudku bukan begi---”
Brrraaaakkk …
Meja yang semula diam dengan baik itu digebrak hingga beberapa isi di atasnya berhamburan, Yang Jia Li berdiri dengan marah. “Tidak tahu diri, kau ini selalu saja mempersulitku kakak. Ingat bahwa kau bisa ada di posisi ini karena aku, karena aku dan kekuasaanku. Jangan jadi tidak tahu diri, cukup diam dan lihat saja apa yang akan aku lakukan!”
“Kau telah salah dan aku ingin kau kembali ke jalan yang benar, Jia’er.” Ujar Jian Zhu dengan suara yang sama kerasnya, “Aku peduli kepadamu karena kau adikku, dan aku ingin kau menjadi permaisuri yang baik dan dihormati oleh rakyat. Kekuasaan ini tidak akan menjadi milikmu karena setelah ini Zhou Ming Hao akan berkuasa.”
“Semua ini tidak akan menjadi mudah kalau kau terus saja berpegang pada dendam dan kekuasaan.”
Yang Jia Li menatap sang kakak dingin, “Aku tidak peduli omong kosongmu, aku akan tetap membunuh Wu Li Mei dengan tanganku sendiri!”
__ADS_1